Sabtu, 11 Desember 2010

Masjid Jami' Baiturrahman Permata Cikarang Timur

Masjid Jami' Baiturrahman komplek perumahan Permata Cikaran Timur.
Masjid ini masih gres alias masih baru sekali, minggu lalu saat mampir kesana karena tertarik dengan masjid yang baru ini ketika melintas disana, masih tersisa sedikit bau cat di bagian dalam. Siapa gerangan yang membangun masjid ini ?. Tak ada jemaah disana yang bisa di ajak ngobrol karena memang bukan waktu sholat.

Beruntung kesana disana ada seorang bapak yang sedang sibuk membenahi tanaman yang baru ditanam disekitar masjid, menurut beliau masjid memang belum ada namanya, makanya belum ada papan namanya, beliau juga menjelaskan bahwa masjid baru ini dibangun oleh pengembang kawasan perumahan tersebut untuk warga muslim yang tinggal disana dan warga sekitar tentunya.

Masjid Jami' Baiturrahman Komplek Perumahan Permata Cikarang Timur
Warga muslim perumahan ini benar benar warga yang beruntung, di beberapa perumahan yang lain jangankan untuk dibangunkan sebuah masjid, untuk mengurus ijin penggunaan lahan fasos/fasum saja butuh waktu begitu lama dengan birokrasi yang berbelit belit.

Pengalaman penulis sendiri ketika tinggal di salah satu perumahan di Cikarang ini beberapa tahun lalu, panitia pembangunan masjid bahkan butuh waktu sampai tiga tahun untuk sekedar mendapatkan ijin pendirian masjid, yang awalnya tentu saja adalah mendapatkan surat izin penggunaan lahan fasos/fasum dari pihak pihak terkit. Sementara di perumahan ini warga tinggal menikmati bangunan masjid yang cukup megah dan besar di lapangan fasos/fasum yang juga begitu luas,

Lokasi Masjid Perum Permata Cikarang Timur

Lokasi masjid ini berada di tengah tengah perumahan Permata Cikarang Timur, di dalam wilayah kecamatan CIkarang Timur. Perum Permata Cikarang Timur sendiri dapat di akses dari ruas jalan Citarik yang membentang dari Citarik hingga ke jembatan Delta Mas di Tegal Danas, Kali Malang Cikarang, dan sebaliknya. bila ingin menggunakan angkutan umum dapat menggunakan Angkot bernomor K52 dari terminal Cikarang. Sekedar catatan : Sampai saat artikel ini dimuat) di Google Maps dan Google Earth perumahan ini masih belum eksis termasuk masjid nya sendiri, Map ditambahkan kemudian.





Semoga saja masjid besar nan megah ini benar benar makmur oleh jemaah dan syiar Islam, dan memberikan maslahat yang maksimal bagi warga setempat dan barokah bari pengembang. Amin. (last updated : 20-02-2020).

Foto foto Masjid Jami' Baiturrahman Perumahan Permata Cikarang Timur


Atap limas bersusun khas Indonesia.
Pepohonan yang baru ditanam.
Di jalan Kristal.
Diantara atap atap rumah di komplek perumahan yang juga masih tampak baru.
Dari teras masjid.
Dari kejauhan.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca juga Artikel Masjid Masjid Cikarang Timur Lain-nya

Jumat, 10 Desember 2010

Masjid Jamie Al-Ma'mur Kalijaya, Cikarang

Masjid Jami' Al-Ma'mur Kalijaya.

Lokasi Masjid Jamie Alma'mur Kalijaya ini tak jauh dari Terminal Baru Cikarang, dari terminal dapat dijangkau dengan berjalan kaki melewati sederetan kios kios asesoris motor di bawah rindang pepohonan mahoni yang berjejer di sepanjang jalan Hos Cokroaminoto Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Letaknya disebelah kiri memudahkan untuk dijangkau oleh pengendara kendaraan bermotor yang melintas di jalur ini yang memang satu arah menuju ke arah pasar lama Cikarang.

Masjid Jamie Alma'mur Kalijaya juga berada di jalur utama yang menghubungkan kota Bekasi  ke Kota Karawang, membuat jalur ini cukup Cikarang ramai oleh pengguna jalan. Ketiadaan jembatan penyeberangan ataupun sekedar zebra cross di depan masjid ini cukup menyulitkan untuk menyeberang jalan. Tak mengherankan bila kemudian sekolah Islam di komplek Masjid Jamie Alma'mur Kalijaya ini kemudian menyiapkan petugas satuan pengamanan untuk membantu pengendara ataupun penyeberang jalan yang akan masuk ke area masjid ini di jam jam operasional sekolah.

Masjid Jamie Al-Ma'Mur Kalijaya
Jl. HOS Cokroaminoto 9 Desa Kalijaya
Kecamatan Cikarang Barat
Kabupaten Bekasi, Jawa Barat
Indonesia





Arsiterktur Masjid


Arsitektur masjid ini cukup unik karena memadukan berbagai seni arsitektur. Kubah bawang berwarna emas di atap masjid dan di dua menaranya itu merupakan budaya islam emperium Mughal di India, ditambah dengan 4 hiasan 4 menara kecil disekeliling kubah utama memberikan kesan yang kuat pengaruh arsitektur Mughal di Masjid ini. sementara penggunaan kolom kolom besar di teras masjid merupakan ciri arsitektur Eropa. Atap masjid ini menggunakan atap joglo dengan satu kubah bawang di bagian puncak nya. Masuk kedalam masjid kita akan mememukan 6 tiang utama dari beton di dalam masjid yang menyangga lantai dua bangunan ini. lantai dua dipakai untuk jemaah laki laki hanya pada saat sholat jum’at.

Bangunan utama masjid ini berukuran lebar sekitar 12 meter dan panjang nya lebih kurang 14 atau 15 meter. Di kiri dan kanan masjid sudah dibangun bangunan tambahan dengan rancangan yang sama sekali berbeda dengan bangunan utama. Tempat wudhlu di masjid ini cukup luas untuk melayani jemaah masjid. Tempat wudhlu ini terhubung langsung dengan ruang sholat di bangunan tambahan sebelah utara masjid.

Untuk akses ke lantai dua disediakan tangga beton di sebelah selatan masjid. Sementara akses ke lantai dua dari dalam masjid harus melalui tangga kayu kecil yang dipasang merapat ke dinding bagian dalam sisi utara ruang utama. Tak keseluruhan masjid ini ditutup oleh lantai dua, disisakan sekitar 5 meter dibagian depan menjadi ruang terbuka, untuk memberikan ruang bagi jemaah di lantai dua terhadap imam dan Khatib.

Mimbar kayu berukir dengan tangga yang rendah ditempatkan di ruang mihrab. Mimbar ini digunakan untuk khatib menyampaikan khutbah dan tidak dilengkapi dengan podium, karena fungsi mimbar sebenarnya adalah untuk memberikan tempat yang lebih tinggi bagi khatib pada saat menyampaikan Khutbahnya, agar dapat dilihat dan didengar oleh makmum di shaf belakang.

Gerbang Masjid

Satu hal yang unik di masjid ini adalah gerbang utama masjid, yang dibuat sebagai bangunan beratap tersendiri. Gerbang seperti ini sudah sangat jarang di jumpai di masjid masjid Indonesia saat ini. Gerbang yang mirip seperti gerbang ini masih dipelihara dengan baik di Masjid Sigi Lamo - Masjid Kesultanan Ternate, di kota Ternate dan Masjid Jami’ Tidore yang juga merupakan masjid kesultanan Tidore, di kota Tidore, Propinsi Maluku Utara. Hanya saja gerbang masjid Kesultanan Ternate dan Tidore masih befungsi sebagai tempat menyimpan beduk, hingga dilengkapi dengan tangga bagi takmir yang akan membunyikan bedug. Tapi di Masjid Jamie Alma'mur Kalijaya ini gerbang hanya berfungsi sebagai penanda akses utama menuju masjid.

Mihrab

Mihrab Masjid  Jamie Alma'mur Kalijaya dihias dengan ornamen kubah masjid dalam dominasi warna hijau kontras dengan latar belakangnya yang berwarna putih. Lengkap dengan kaligrafi dua kalimat Sahadat di atasnya. Ketika mampir ke masjid ini untuk sholat zuhur beberapa hari lalu, muazin masjid ini tidak berpanjang panjang dalam melafalkan azan. Dan iqomahnya dilantunkan oleh muazin tak jauh dari pintu masuk utama. Tujuan nya adalah untuk memastikan sudah tidak ada lagi jemaah yang masih melaksanakan sholat sunnah, dan juga untuk mengingatkan jemaah yang masih berada di luar masjid bahwa sholat berjamaah akan segera dilaksanakan.

Halaman depan masjid ini sudah di tutup dengan keramik dan penanda shaf, difungsikan sebagai tempat sholat tambahan saat sholat jum’at dan dua hari raya. Di hari biasa halaman tersebut malah dipakai untuk parkir kendaraan roda dua para jamaah masjid. Di samping masjid ini (di sisi selatan) berdiri sekolah Islam yang halamannya biasanya dipakai sebagai lahan parkir jemaah di hari jum’at dan pada acara acara peringatan hari besar Islam di masjid ini.

Foto Foto Masjid Jamie Alma'mur Kalijaya - Cikarang


Interior Masjid Jami' Al-Ma'mur Kalijaya.
Masjid Jami' Al-Ma'mur Kalijaya.
Masjid Jami' Al-Ma'mur Kalijaya.
Menara tertinggi Masjid Jami' Al-Ma'mur Kalijaya.

Kubah utama Masjid Jami' Al-Ma'mur Kalijaya.

Kamis, 09 Desember 2010

Masjid Besar Almukarromah Cikarang

Sisi depan Masjid Besar Al-Mukarromah yang menghadap ke jalan raya.

Cikarang, tempat dimana kini penulis menjadi bagian dari warganya sejak belasan tahun lalu. Cikarang menjadi salah satu kota penyanggah ibukota Jakarta dengan bertaburnya kawasan industri di kota ini sampai sampai disebut sebagai kota dengan kawasan Industri terluas di Asia Tenggara. Maraknya kawasan industri yang kemudian menggerakkan perekonomian Cikarang dan Kabupaten Bekasi, provinsi Jawa Barat.

Sebelum menggunakan nama Cikarang, dulunya wilayah Cikarang terdiri dari wilayah kecamatan Cibitung dan Lemah Abang, wilayah tersebut kemudian dilebur dengan menggunakan nama Cikarang menjadi : kecamatan Cikarang Utara, Selatan, Timur, Barat dan Cikarang Pusat. Komplek pemerintahan Kabupaten Bekasi sendiri terletak di wilayah Kecamatan Cikarang Pusat.

Selasar masjid besar Al-Mukarromah.
Selain menjadi rumah bagi berbagai kawasan industri, Cikarang juga bertabur Masjid dan Mushola, maklum Kabupaten Bekasi memang bervisi sebagai kabupaten yang Islami. Selanjutnya Masjid Masjid dan Mushola Mushola di wilayah Cikarang ini akan menjadi salah satu topik utama di blog ini. Untuk posting kali ini saya akan memulainya dengan Masjid Besar Almukarromah Cikarang.

Lokasi Masjid Besar Almukarromah Cikarang

Lokasi Masjid Besar Almukarromah Cikarang Cikarang ini tak jauh dari Pasar Baru Cikarang dan Mall Sentara Grosir Cikarang (SGC), dapat dicapai dengan berjalan kaki beberapa menit dari dua tempat tersebut. Lokasi masjid ini juga tak jauh dari terminal baru Cikarang, juga masih layak untuk dicapai dengan berjalan kaki. Tapi karena pengaturan lalu lintas yang hanya satu arah, maka bila anda membawa kendaraan, dari terminal baru Cikarang anda harus membawa kendaraan anda berputar melewati pasar lama ke arah Mall SGC lalu kembali ke arah terminal, Masjid Besar Almukarromah Cikarang terletak disebelah kanan jalan. Untuk lebih jelas, pelajari google map berikut.




Sesuai dengan namanya masjid ini memang memiliki ukuran cukup besar. Dilengkapi dengan dua plaza di bagian depan (sebelah timur) dan di bagian samping masjid (sebelah selatan) kedua plaza ini sudah dilapis dengan keramik untuk mengantisipasi membludaknya jemaah saat sholat jum’at dan dua hari raya. Halaman parkirnya yang dibangun menggunakan konblok juga cukup luas, lengkap dengan penjaga parkir. 

Tempat wudhlu di masjid ini sudah dipisahkan antara tempat wudhlu untuk pria dan wanita. Disamping masjid berdiri Taman Pendidikan Alqur’an untuk kanak kanak. Rencananya masjid ini juga akan mendirikan gedung sendiri untuk Taman Kanak Kanak Islam dan Sekolah Dasar Islam Terpadu di lahan kosong disamping masjid, seperti tertulis pada papan pengumuman yang terpasang disana. Semoga lekas terwujud.

Interior Masjid Besar Al-Mukarromah

Arsitektur Masjid Besar Almukarromah Cikarang

Melihat wujud nya Masjid Besar Almukarromah Cikarang ini memadukan budaya Nusantara, Timur Tengah dan arsitektur bangunan moderen. Bentuk atap masjid yang berbentuk limas (joglo) merupakan warisan budaya asli Nusantara sejak jaman Majapahit. Sedangkan kubah yang dipasang di puncak atap, tentu saja adalah ciri khas gaya masjid timur tengah. Kubah warna biru yang bagian bawahnya dibuat sedikit melebas diatas atap memberkan nuansa manis dan feminis kepada masjid ini. Sentuhan modern terlihat pada ornamen pada kubah yang dipasang di atap masjid dan kubah di ujung menara. Kubah yang dibangun dari elemen elemen kecil yang kemudian disatukan menghasilkan bentuk mozaik yang cukup unik dan indah.


Bentuk bangunan masjid dengan atap joglo tapi dipadu dengan kubah seperti yang digunakan pada Masjid Besar Almukarromah Cikarang Cikarang ini sepertinya memang sedang menjadi trend bagi bangunan bangunan masjid baru di tanah air. Seakan tak ingin kehilangan budaya asli tapi juga tetap menggunakan kubah yang sudah menjadi ikon bangunan masjid secara universal.

Informasi lain

Hampir seluruh area masjid ini merupakan area suci, alas kaki hanya diperkenankan dipakai di area parkir, selebihnya alas kaki harus dibuka. Tak usah risau karena disana tersedia penitipan alas kaki, dan juga ada anak anak kecil yang menyediakan jasa semir sepatu dan sendal dengan tarif wajar.  Bila halaman parkir di pekarang masjid sudah penuh, masih tersedia areal parkir di luar pagar yang memang sudah disiapkan sebagai areal parkir tambahan. Sejarah, data teknis (ukuran, biaya pembangunan, lama pembangunan dan lain lain) belum di dapat oleh penulis.

Foto Foto Masjid Besar Almukarromah - Cikarang

Sisi selatan masjid
Halaman depan.
Dari celah ventilasi.
Sesuai dengan namanya, masjid ini memang cukup besar dan megah.
Puncak menara tunggal di masjid besar Al-Mukarromah.
Pintu Selatan.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------


Baca juga Masjid Masjid Cikarang Utara Lain nya

Rabu, 08 Desember 2010

Langgar Nurul Iman, Kelurahan Gelumbang

MASJID MASJID DI TANAH BELIDA

Langgar Nurul Iman Keluarahan Gelumbang, diantara rumah penduduk. (lihat di Panoramio)

itu Kampungku, sebuah kelurahan di sekaligus ibukota dari kecamatan Gelumbang, kabupaten Muara Enim, provinsi  Sumatera Selatan. Langgar dalam bahasa melayu berari Mushola. Jangan marah kalau kemudian keluar guyonan serius ::: sholat itu nomor dua, itupun boleh di LANGGAR ::: nomor dua maksudnya bahwa sholat itu rukun Islam ke dua, Langgar yang dimaksud adalah…..Langgar yang mushola itu.

Tak ada yang ingat persis kapan pertama kali Langgar ini dibangun, namun menurut penuturan ibundaku dan Pengurus Langgar Nurul Iman, yang rumahnya bersebelahan dengan Langgar tersebut, dan beliau juga adalah Uwak ku (karena beliau adalah Abang kedua dari Ibuku), Langgar Nurul Iman ini dibangun di atas lahan hibah dari suami istri Bapak Dulasik dan Ibu Jerona. Suami Istri yang beramal jariah itu adalah juga kakek dan Nenek dari Ibuku.



Semasa kecil dulu, Langgar ini belum seindah sekarang. Aselinya adalah rumah panggung dari kayu berdinding papan beratap genteng kampung, dengan tiang setinggi lebih kurang satu meter saja, dilengkapi tangga pendek di sisi kiri dan kanan. Di bagian dalam ada para-para (atau Mezanin sederhana) tempat menyimpan kitab suci al-qur’an, juz amma, kitab kuning, perukunan melayu, regal (tatakan untuk membaca Al-qur’an) dan lain lain. Sementara beduk digantungkan di bawah atap bagian luar Langgar. kala itu Langgar ini dikelola oleh (alm) kakeku Idrus bin Topa beserta sahabat sahabat seperjuangannya termasuk (alm) Khatib Yuri dan lain lain.

Tahun 1978, langgar kayu itu di bongkar bersamaan dengan renovasi total Masjid Jami Babussalam Gelumbang Bangunan langgar yang awalnya merupakan bangunan kayu berbentuk rumah panggung, kemudian dirobohkan dan dibangun kembali dengan  bangunan berdinding tembok, bukan berbentuk rumah panggung. Dengan luas yang tak jauh berbeda dengan bangunan awalnya. Lengkap dengan dua pintu akses di kiri dan kanan nya.

Gang Langgar. Dari ruas jalan Stasiun dari arah simpang empat ke arah stasiun KA, gang Langgar Nurul Iman yang merupakan akses menuju ke Langgar ini berada di sisi kanan jalan. bangunan Langgar-nya tepat berada di belakang rumah panggung disebelah kiri foto, berhadapan dengan rumah ber cat kuning itu.

Seiring dengan perkembangan kampung yang sudah berubah menjadi kelurahan dengan penduduk sekitar yang semakin padat Langgar ini kembali di renovasi sekitar tahun 2008-2009 lalu. Bangunan diperlebar dan atap lebih ditinggikan. Sumber pembiayaan pembangunan berasal dari sumbangan jemaah, tokoh masyarakat, pengusaha setempat dan dermawan dermawan luar daerah yang dengan sengaja datang ke Langgar ini untuk menyumbang.

Dengan tenaga tukang yang men-sedekah-kan tenaga mereka untuk pembangunan Langgar ini, dibantu para jemaah. Kepala tukang yang mengomando pembangunan Langgar ini Cukup unik, beliau tetap menjaga profesionalitasnya dengan tetap menentukan tarif jasa nya tapi kemudian setiap sen yang diterima-nya dikembalikan lagi ke pengurus langgar sebagai sedekah.

Beduk yang dulunya sering hilang. hmmm, beduk itu masih berada di lokasi yang sama sejak pertama kali ku ingat dari sejak bangunannya masih barupa bangunan kayu, rumah panggung setengah tiang, di renovasi pertama hingga saat ini. Saat masih kecil dulu, Pak khatib Yuri (seangkatan dengan Kakek-ku) yang rumahnya tepat dibelakang Langgar ini seringkali kehilangan beduk menjelang sahur. Kok Bisa ?, karena beduknya sudah kami angkut dengan gerobak lalu digebuk keliling kampung buat membangunkan orang sekampung untuk sahur. heheheh. . . lama lama dia hafal, tak perlu nyari dan mukul beduk menjelang sahur, pasti sudah di angkut oleh cucu cucu nya Idus. (lihat foto di Panoramio)

Tradisi Cawisan

Kini bangunan Langgar Nurul Iman sudah cukup lega dan megah di tengah tengah Kampung Dua atau kampung Derat (kampung darat) Kelurahan Gelumbang. Selain menyelenggarakan sholat wajib lima waktu Langgar ini juga menyelenggarakan pendidikan Alqur’an untuk kanak kanak, pengajian rutin ibu ibu majelis ta’lim (dalam bahasa setempat disebut Cawisan).

Cawisan atau majelis ta’lim ini merupakan tradisi turun temurun yang tetap lestari hingga kini. Majelis ta’lim atau cawisan ini diselenggarakan oleh ibu ibu sekali dalam sepekan setiap hari Jum'at (dulunya setiap hari Kamis) bakda Zuhur hingga Asyar. Acara cawisan di isi dengan pengajian dan siraman rohani oleh para ustadzah dari lingkungan sendiri maupun dari luar daerah. Cawisan ini melibatakan ibu ibu hingga remaja putri jemaah Langgar dari semua kalangan. Istri istri dan putri pejabat kelurahan hingga Muspika pun turut serta dalam cawisan.

Langgar Nurul Iman dari jendela rumah pengurus Langgar (rumah bercat kuning dalam foto kedua di-atas). Aku juga sudah tidak ingat lagi bentuk atap bangunan Langgar paska renovasi kedua dulu. (Lihat fotonya di panoramio)

Sholat jum’at dan dua sholat hari raya tidak diselenggarakan di Langgar Nurul Iman [karena memang statusnya yang bukan Masjid Jami] Tapi diselenggarakan di  Masjid Jami Babussalam Gelumbang. Selain dari dari itu Langgar Nurul Iman ini juga senantiasa dijadikan tempat penyelenggaraan akad nikah putra putri warga sekitar. Sholat tarawih di Langgar Nurul Iman diselenggarakan dengan 20 rekaat plus 3 rekaat witir (dua rekaat + satu rekaat).

Persatuan Kematian

Selain Cawisan, di Langgar ini juga dibentuk Persatuan Kematian Jemaah Cawisan yang dikelola oleh jemaah sendiri. Nama persatuan-nya sendiri yang ada kata kematian nya itu bisa jadi membuat sebagian orang agak merasa seram ya. Persatuan kematian ini memang sudah diselenggarakan sejak pertama kali Langgar ini berdiri seumur dengan tradisi cawisan itu sendiri.

Pintu Timur. Lokasi Langgar Nurul Iman Gelumbang ini memang berada ditengah Kampung dengan suasana yang masih asli, di lingkungan awal Kampung Derat Kelurahan Gelumbang, Diantara  rumah rumah penduduk yang sebagian besar masih berbentuk rumah panggung seperti dilatar belakang foto di atas.

Berdasarkan berkas catatan awal setoran jemaah untuk persatuan kematian ini di tahun 60-an, setoran masing masing anggota hanya sebesar Rp. 1.5. bandingkan dengan sumbangan saat ini yang mencapai Rp. 3000 per orang per bulan. Penentuan angka Rp. 3000 tersebut didasarkan kepada kemampuan terendah dari jemaah yang datang dari berbagai kalangan.

Persatuan kematian ini mengelola dana ummat untuk penyelenggaraan Jenazah anggota cawisan yang meninggal dunia termasuk anggota keluarganya, persatuan ini yang kemudian menyediakan semua kebutuhan bagi penyelenggaraan jenazah termasuk penyediaan kain kafan, sumbangan duka, minyak wangi, cendana dan sebagainya. 

Cikal Bakal BKMT 3 Kecamatan

Di Langgar ini menjadi saksi sejarah cikal bakal pendirian BKMT (Badan Kontak Majelis Ta'lim) Gelumbang dan sekitarnya yang dirintis oleh Ibu Betty Wati binti Idrus bin Topa (beliau masih keturunan langsung dari pendiri langgar ini) beserta keluarga. Bermula sejak tahun 2005 lalu, pelan tapi pasti usaha yang gigih selama 7 (tujuh) tahun masuk keluar kampung hingga ke pelosok tepian Sungai Kelekar dan Sungai Belida. Kini, Alhamdulillah anggota pengajian ini telah berkembang pesat hingga ke wilayah tiga kecamatan sekaligus yakni : Kecamatan Gelumbang, Kecamatan Kelekar & Kecamatan Lembak.

Usaha tersebut dilakukan beliau bersama putri putri beliau yakni Yati Agustina (biasa dipanggil Upik) dan Budi Astuti ::: yang semasa remajanya aktif di Remaja Masjid Agung [RISMA] Bandung ::: beserta ibu ibu 'cawisan' di Langgar Nurul Iman, usaha untuk membentuk BKMT ini di ilhami dari pengajian Ibu Nani Rohaeni di Ogan Ilir tempat dimana Upik :: putri beliau :: yg memang sejak di bangku kuliah giat dalam aktivitas dakwah di kampusnya menjadi salah satu jemaah disana berujung kepada perkenalan dengan Ibu Tuti Alawiyah di Jakarta. 

Bukan bangunan mewah, sama seperti kebanyakan Mushola dan masjid masjid kampung di seantero tanah air dengan bentuk bangunan segi empat, atap limas bersusun dan mihrab sederhana. Dan dilengkapi dengan tiga pintu akses.

Dan sejak itu usaha merintis pendirian BKMT di wilayah kecamatan Gelumbang gencar dilaksanakan sampai ahirnya berbuah manis dengan berkembang pesatnya jemaah BKMT disana. Ibu Betty Wati Juga yang menjadi ketua pertama, kemudian diteruskan oleh putri beliau, Yati Agustina. 

Kini setelah BKMT berkembang, tersisa satu satu harapan beliau agar BKMT tetaplah sebagai sebuah majelis taklim tempat ummat menimba ilmu agama tidak dibawa atau terbawa bawa oleh oknum manapun ke kancah politik praktis, beliau juga berharap agar siapapun yang kemudian memegang kendali organisasi agar tidak memanfaatkan BKMT untuk kepentingan pribadi dan golongan, dan senantiasa siap mengabdikan diri bagi kepentingan ummat.

Bila kebetulan melintas di kelurahan Gelumbang di jalur tengah lintas sumatera antara kota Prabumulih dan Kota Palembang, anda akan bertemu dengan Simpang 4 Gelumbang, disana berdiri  Masjid Jami Babussalam Gelumbang  yang kini sedang kembali direnovasi total, dari sana belok ke arah timur, ke arah stasiun Gelumbang, sekitar seratus meteran anda akan menjumpai langgar ini. Silahkan Mampir.

(updated : 1-April-2012 | 12-Januari-2013 | 29-Januari-2016)

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca Juga




Jumat, 27 Agustus 2010

Saat Masjid Al-Aqsha Dibakar, 41 Tahun Lalu

21 Agustus 2010, tepat 41 tahun sudah sejak seorang Yahudi Australia, Dennis Michael, membakar Masjid Al-Aqsha, dengan dukungan penuh kelompok-kelompok pemukim Yahudi di kota Al-Quds.


Api yang disulut tepat 41 tahun lalu sudah padam, tapi hingga kini penjajahan atas Masjid Al-Aqsha, penembakan atas kaum Muslimin dan bangsa Arab di Palestina, pembuatan galian-galian terowongan yang diniatkan untuk meruntuhkannya, pengepungan masjid tersebut dengan pendirian sekitar 100 rumah-rumah “ibadah” dan pusat-pusat kegiatan agama Yahudi, masih terus berlanjut.


Pada 21 Agustus 1969, segera setelah Michael menyulut api di dalam Masjid Al-Aqsha, api pun membubung tinggi menjilat-jilat bagian-bagian masjid yang terbuat dari kayu, dinding dan mimbar Shalahuddin Al Ayyubi, salah satu mimbar yang terdapat di dalam Masjid Al-Aqsha.


Mimbar bersejarah tersebut diletakkan di sana oleh pemimpin dan pahlawan umat Islam, Shalahuddin Al Ayyubi, untuk berkhutbah pada hari kemenangan Islam di bawah kepemimpinannya yang sekaligus merupakan hari pembebasan Baitul Maqdis (Al-Quds).


Tak hanya Masjid Al-Aqsha yang menjadi korban kebejatan Michael dan para pemukim Yahudi itu. Masjid Umar bin Al Khaththab, Mihrab Zakaria dan sebidang tanah di mana terdapat 43 makam yang membujur dari bagian utara ke selatan di dalam kawasan Masjid Al-Aqsha pun menjadi sasaran api.


Bersamaan dengan itu penjajah Zionis berusaha keras merealisasikan ambisinya, membangun apa yang mereka klaim sebagai kuil mereka di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsha. Dalam proses merealisasikan “mimpi” itu, penjajah Zionis secara bertahap melakukan proses yahudisasi serta terus “menancapkan kukunya” di Masjid Al-Aqsha.


Syaikh Kamal Al-Khatib, wakil ketua Gerakan Islam di Tanah Palestina 1948, dalam kesempatan peringatan peristiwa itu menegaskan bahwa “api” yang berkobar 41 tahun yang lalu itu belum padam sampai sekarang.


Penggalian-penggalian terowongan di bawah masjid tersebut untuk meruntuhkannya dari bawah, blokade, serangan-serangan serta pelarangan mengunjungi Masjid Al-Aqsha yang diberlakukan penjajah Zionis Israel masih berlangsung hingga saat ini.


Syaikh Kamal juga menegaskan bahwa peringatan peristiwa memilukan tersebut bukan untuk menangisi nasib umat Islam karena peristiwa itu, akan tetapi untuk semakin menguatkan tekad perjuangan. Beliau menekankan bahwa “api” yang terus-menerus disulut Zionis terhadap Masjid Al-Aqsha sampai sekarang ini akan segera dipadamkan –insya-Allah- dengan tangan-tangan kaum muslimin sendiri.


Ia menambahkan, “Rakyat Palestina sangat mengerti jalan hidup mereka sendiri dan mengetahui ke mana mereka harus melangkah. Sungguh kami sekarang ini telah melihat fajar baru yang sedang menyingsing dalam kehidupan kami. Di balik pintu-pintu Masjid Al-Aqsha yang penuh berkah itu sekarang ini ada putra-putra Palestina yang memiliki loyalitas tinggi terhadap agama yang karena merekalah akan terus terpelihara kemuliaan Masjid Al-Aqsha.”


Republika