Minggu, 05 April 2020

Masjid Bandara Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Madinah

Masjid Bandara Internasional Madinah, tidak ada nama khusus bagi masjid ini. 

Masjid megah satu ini berdiri tepat di depan terminal bandara internasional Madinah atau Bandara Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz di kota Madinah. Lokasinya berada di halaman parkir di depan terminal bandara.

Gaya bangunannya terutama jejeran pilar pilarnya itu dibangun senada dengan pilar pilar bangunan di gedung terminal bandara yang dirancang menyerupai pohon pohon kurma dengan pelepah pelepah kurma menjadi penyangga. Kami mendarat di Madinah malam hari dan diluar waktu sholat sehingga belum sempat singgah ke masjid ini.


Menurut berbagai informasi masjid ini dibangun bersamaan renovasi Bandara Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Madinah, sekitar tahun 2015 lalu. Waktu buka masjid ini dibatasi, tidak di buka 24 jam. Ruang dalam masjid akan ditutup setelah sholat Isya’ sekira pukul 22.30 Waktu setempat dan akan dibuka kembali pada pukul 03.45 jelang sholat subuh.

Semoga ada “lain kali” untuk mampir kesana.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 04 April 2020

Masjid Al-Qiblatain Madinah

Masjid Al-Qiblatain.

Masjid Al-Qiblatain bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Masjid Dua Kiblat, hal ini merujuk kepada peristiwa sejarah yang terjadi ditempat ini pada masa Rosulullah . Masjid ini menjadi tempat turunnya wahyu yang berisi perintah untuk mengalihkan kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke Ka’bah di kota Mekah.  

Sebelum peristiwa tersebut masjid ini dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena memang dibangun diatas bekas rumah Bani Salamah. Lokasinya berada di atas bukit kecil di Harrah Wabrah sekitar 7 kilometer dari Masjid Nabawi. Muatan sejarah di masjid ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para Jemaah dari berbagai Negara untuk datang mengunjunginya.


Masjid AL-Qiblatain berada sisi ruas Jalan Khalid ibnu Al-Walid di lingkungan yang juga bernama Al-Qiblatain di dalam kota Madinah provinsi Madinah, Arab Saudi. Sebelumnya masjid ini memiliki ciri khas dua kiblat atau memiliki dua Mihrab (ruang imam / pengimaman / bagian bangunan yang menonjol keluar menunjukkan arah kiblat) masing masing mengarah ke Baitul Maqdis – Palestina di sisi utara dan satu lagi mengarah ke Ka’bah di kota Mekah pada sisi selatan.

Masjid bersejarah ini telah berkali kali dipugar dan direnovasi diantaranya oleh Sultan Sulaiman pada tahun 893 H atau 1543 M. Dan terahir kali dibangun ulang oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi di tahun 1987 dimasa Raja Fahd, yang melakukan perluasan dan pembangunan konstruksi baru di masjid ini.

Pembangunan terahir ini tidak lagi menampilkan dua mihrab masjid secara utuh di dua sisi bangunan masjid yang berseberangan, namun berfokus kepada satu mihrab yang mengarah ke Ka’bah. Dapat dikatakan bahwa di Masjid Al-Qiblatain saat ini hanya ada satu mihrab bukan dua mihrab lagi seperti sebelumnya.

Namun demikian, sebagai pengingat sejarah, sebuah replika mihrab berukuran kecil ditempatkan di sisi utara di dalam ruangan masjid dibagian atas pintu utama dibawah kubah utara, berseberangan dengan mihrab utama yang menghadap ke kiblat ke Ka’bah. Jemaah yang ingin melihat replika mihrab tersebut memang harus mendongak (melihat ke atas) ke bagian atas pintu utama dibawah kubah utara.

Bangunan baru Masjid Al-Qiblatain ini dilengkapi dengan dua kubah besar yang berjejer utara dan selatan. Dua menara tinggi menjulang dibangun mengapit bangunan masjid di sisi sebalah utara. Lantai bangunan masjid ini dibangun cukup tinggi dari permukaan tanah sekitarnya, membuatnya tampak begitu megah dengan balutan warna putih bersih di sekujur bangunan-nya.

Masjid Al-Qiblatain.

Sejarah Perpindahan Arah Kiblat

Di awal risalah Rosulullah , kiblat sholat ummat Islam adalah mengarah ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqso) di Palestina. Hal tersebut menjadi salah satu sumber cemooh dari kaum Yahudi dan Nasrani dan orang-rang kafir bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah itu hanya menyontoh dan mengikuti ajaran nenek moyang mereka. Cemoohan yang dikaitkan dengan arah kiblat ke Baitul Maqdis, sehingga Rasulullah berdoa dan meminta agar arah kiblat dipindahkan.

Pada tahun ke 2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab, 17 bulan setelah Rosulullah hijrah ke Madinah, saat itu Rosulullah sedang mengimami sholat Dzuhur di masjid Bani Salamah dan baru selesai dua roka’t tiba-tiba turunlah wahyu surah Al Baqarah ayat 144, perintah dari Allah untuk memindahkan arah Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah di Kota Mekah

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allahnya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (Al-Baqarah: 144).

Seketika itu juga Rosulullah mengubah arah kiblat sholatnya menghadap ke Ka’bah dengan berbalik arah 180° dengan terus melanjutkan sholat hingga selesai. Lokasi Baitul Maqdis di Palestina berada di utara kota Madinah sedangkan Ka’bah di kota Mekah berada di sebelah selatan kota Madinah.

Sehingga pada saat wahyu pemindahan arah kiblat tersebut turun, Rosullah berbalik arah dari mengarah ke utara lalu mengarah ke selatan, di ikuti oleh para sahabat yang bermakmum, kemudian beliau berpindah tempat ke sisi selatan mengambil tempat di depan para makmum dan melanjutkan sholat dhuhur hari itu hingga selesai.***

-----------------------------------
Like & Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  
------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 29 Maret 2020

Masjid Al-Jum’ah Madinah

Masjid Al-Jum'ah Saudi Arabia.
Masjid Al-Jum’ah adalah salah satu masjid bersejarah di kota Madinah, Arab Saudi. Lokasi masjid ini sekitar 1,1 km sebelah utara Masjid Quba atau sekitar 4 km disebelah selatan dari Masjid Nabawi, dan menjadi salah satu masjid yang tempatnya berdiri berkaitan langsung dengan sejarah Islam khususnya sejarah hijrahnya Rosulullah dari kota Mekah ke kota Madinah. Kini kawasan di lingkungan masjid ini dinamai dengan Al-Jumu’ah.

Jemaah haji ataupun Jemaah umroh dari berbagai Negara termasuk Jemaah dari Indonesia biasanya akan di ajak oleh biro wisatanya untuk berkunjung atau sekedar melintas di depan masjid ini sembari dijelaskan sejarahnya oleh pemandu wisata di dalam bis selama perjalanan, karena rute perjalanan ke masjid ini memang akan dilalui pada saat akan menuju ke Masjid Quba dari Masjid Nabawi.

Masjid Al-Jum’ah
Lingkungan Al-Jumu’ah, Kota Madinah, Provinsi Madinah, Arab Saudi


Sejarah Masjid Al-Jum'ah Madinah:

Masjid Al-Jum’ah dibangun di lokasi yang diyakini sebagai tempat dimana Rosulullah dan para sahabat menunaikan sholat jum’at berjamaah untuk pertama kali dalam perjalanan hijrah dari kota Mekah ke kota Madinah.

Disebutkan bahwa ketika Rasulullah berhijrah, beliau masuk di perbatasan Madinah pada hari Senin, Rabiul Awwal 1 H. Saat itu beliau singgah di Quba selama empat hari hingga Jumat pagi, bertepatan dengan tanggal 16 Rabiul Awwal pada tahun yang sama.

Beliau kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Tidak jauh dari Quba, waktu shalat Jumat telah masuk. Beliau pun shalat di Wadi Ranuna. Di tempat shalat Jumat Rasulullah itu kemudian dibangun Masjid Al-Jum’ah (Jumat), bikan dibangun oleh Rosulullah tapi dibangun oleh pemerintahan setelah beliau.

Pertama kali dibangun dari pecahan pecahan batu dan hancur beberapa kali dan direnovasi.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang kemudian melaksanakan renovasi. Renovasi dilakukan lagi pada masa Kekhalifahan Abbasiyah antara tahun 155 - 159 Hijriah. Lalu di akhir abad ke-9 Hijriah, direnovasi oleh Syamsuddin Qawan. Renovasi pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah (Turki Usmani) dipimpin oleh Sultan Bayazid.

Masjid Al-Jum'ah dari balik jendela bis wisara.
Renovasi oleh Sayyid Hasan Asy-Syarbatli pada pertengahan abad ke-14 Hijriah. Masjid Jum'at sebelum renovasi terakhir memiliki panjang 8 meter, lebar 4,5 meter, tinggi 5,5 meter dan 1 kubah yang terbuat dari bata merah, serta di sebelah timurnya terdapat halaman dengan panjang 8 meter dan lebar 6 meter.

Renovasi pada tahun 1409 Hijriah oleh Kementerian Wakaf Arab Saudi, atas perintah Pelayan Dua Tanah Suci Raja Fahd bin Abdul Aziz dengan menghancurkan bangunan lama, dan membuat bangunan baru, termasuk tempat tinggal untuk Imam, Muadzin, Perpustakaan, Madrasah Tahfidz al-Qur'an, Tempat salat untuk perempuan dan kamar mandi.

Pada tahun 1412 Hijriah, Masjid Jum'at dibuka untuk umum dengan kapasitas 650 jamaah, memiliki 1 kubah utama dan 4 kubah kecil. Pembangunan terahir ini selain membangun fasilitas pendukung juga meningkatkan daya tamping masjid dari sebelumnya hanya mampu menampung 70 jemaah diperluas hingga mampu menampung sekitar 700 jemaah.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 28 Maret 2020

Masjid Quba vs Masjid Dhirar

Masjid Quba.

Membahas tentang Masjid Quba di Madinah rasanya kurang lengkap bila tidak sekaligus membahas tentang Masjid Dhirar (dibaca Diror) yang notabene sengaja dibangun oleh para pembangunnya sebagai tandingan bagi masjid Quba, sebagai salah satu tujuannya. Dua masjid ini terkait dengan ayat yang sama di dalam Al-Qur’an, yakni di surah At-Taubah QS 9:107-108.

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin) dan karena kekafiran(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS 9:107)

Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS 9:108)

Dua masjid ini mendapatkan derajat yang bertolak belakang dari Allah Subhanahuwata’ala. Allah ‘memuji’ masjid Quba dan orang orang yang sholat di dalamnya serta ‘melaknat’ masjid Dhirar dan para pembangunnya dan Allah bersaksi atas kedustaan mereka dalam sumpahnya kepada Rosulullah ﷺ.

Masjid Quba.

Abu Amir Ar-Rahib dan Masjid Dhirar

Sebelum Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, di kota Madinah ada seorang lelaki dari kabilah Khazraj yang dikenal dengan nama Abu Amir Ar-Rahib. Sejak masa Jahiliah dia telah masuk agama Nasrani dan telah membaca ilmu ahli kitab. Ia melakukan ibadahnya di masa Jahiliah, dan ia mempunyai kedudukan yang sangat terhormat di kabilah Khazraj.

Ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah untuk berhijrah, lalu orang-orang muslim berkumpul bersamanya, dan kalimah Islam menjadi tinggi serta Allah memenangkannya dalam Perang Badar, maka Abu Amir Ar-Rahib mulai bersikap oposisi, memusuhi Nabi Muhammad ﷺ secara terang-terangan.

Pada mulanya Rosulullah ﷺ telah menyerunya untuk menyembah Allah [sebelum ia melarikan diri] dan membacakan Al-Qur’an kepadanya, tetapi ia tetap tidak mau masuk Islam, dan membangkang. Maka Rosulullah ﷺ mendoakan kecelakaan bagi Abu Amir Ar-Rahib, semoga dia mati dalam keadaan jauh dari tempat tinggalnya dan terusir. Dikemudian hari do’a Rosulullah ﷺ itu dikabulkan Allah.

Detil salah satu menara Masjid Quba
Abu Amir Ar-Rahib kemudian melarikan diri dari Madinah setelah gagal mempengaruhi kaum muslimin Madinah untuk memerangi Rosulullah ﷺ, ia kemudian bergabung dengan orang-orang kafir Mekah dari kalangan kaum musyrik Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rosulullah ﷺ.

Maka bergabunglah bersamanya orang-orang dari kalangan Arab Badui yang setuju dengan pendapatnya, lalu mereka datang pada tahun terjadinya Perang Uhud. Dalam perang tersebut Abu Amir Ar-Rahib berhasil mencelakai Rosulullah ﷺ yang sempat terperosok ke dalam lubang lubang yang dibuat oleh Abu Amir Ar-Rahib

Setelah perang Uhud dan kedudukan kaum muslimin Madinah semakin kokoh, Abu Amir Ar-Rahib semakin marah dan dia pergi menemui Kaisar Romawi, Hiraklius, untuk meminta bantuan memerangi Nabi Muhammad ﷺ. Kaisar Romawi memberikan janji dan harapan kepadanya, lalu ia bermukim di kerajaan Romawi.

Diantara kepakan sayap merpati.

Peran Abu Amir Ar-Rahib di Masjid Dhirar

Dari Romawi Abu Amir Ar-Rahib menulis surat kepada segolongan kaumnya dari kalangan Anshar Madinah yang tergabung dalam golongan orang-orang munafik lagi masih ragu kepada Islam. Dia menjanjikan dan memberikan harapan kepada mereka, bahwa kelak dia akan datang kepada mereka dengan membawa pasukan Romawi untuk memerangi Rosulullah ﷺ dan mengalahkannya.

Abu Amir Ar-Rahib menganjurkan orang-orangnya untuk membuat suatu benteng yang kelak akan dipakai untuk berlindung sekaligus akan menjadi tempat pengintaian baginya kelak di masa depan bila ia datang kepada mereka. Maka orang-orang Abu Amir Ar-Rahib di Madinah mulai membangun sebuah masjid yang letaknya berdekatan dengan Masjid Quba.

Masjid tersebut baru selesai di saat Sebelum Nabi Muhammad ﷺ hendak pergi ke medan perang Tabuk. Lalu para pembangunnya datang menghadap Rosulullah ﷺ dan memohon agar beliau sudi melakukan shalat di masjid mereka. Tujuan mereka adalah untuk memperoleh bukti melalui sholatnya Nabi Muhammad ﷺ di masjid tersebut, sehingga kedudukan masjid itu diakui dan dikuatkan.

Areal terbuka di tengah tengah bangunan Masjid Quba.
Mereka mengemukakan alasan, bahwa sesungguhnya mereka membangun masjid ini hanyalah untuk orang-orang yang lemah dari kalangan mereka dan orang-orang yang berhalangan di malam yang sangat dingin. Saat itu Nabi Muhammad ﷺ menjawab permintaan mereka melalui sabdanya: Sesungguhnya kami sedang dalam perjalanan. Tetapi jika kami kembali, insya Allah.

Turunnya wahyu tentang Masjid Quba dan Masjid Dhirar

Ketika Nabi Muhammad ﷺ akan kembali ke Madinah dari medan Tabuk, beliau dan rombogan beristirahat di Zu Awan, sebuah kampung yang jaraknya setengah hari dari Madinah. Sebelumnya di tempat yang sama para pembangun Masjid Dhirar pernah datang kepada Rosulullah ﷺ yang saat itu sedang bersiap-siap menuju ke medan Tabuk.

Di tempat itu, Malaikat Jibril a.s. turun dengan membawa berita tentang Masjid Dhirar dan niat para pembangunnya yang hendak menyebarkan kekufuran dan memecah belah persatuan umat Islam. Mereka hendak menyaingi masjid kaum muslim, yaitu Masjid Quba yang sejak semula dibangun dengan landasan takwa.

WC, kamar mandi dan toilet di Masjid Quba.

Dimusnahkannya Masjid Dhirar

Setelah menerima wahyu itu, lalu Rosulullah ﷺ memanggil Malik ibnu Dukhsyum (saudara lelaki Bani Salim ibnu Auf) dan Ma’an ibnu Addi atau saudara lelakinya (yaitu Amir ibnu Addi yang juga saudara lelaki Al-Ajian). Lalu beliau Rosulullah ﷺ bersabda:

Berangkatlah kamu berdua ke masjid ini yang pemiliknya zalim, dan robohkanlah serta bakarlah masjidnya.

Maka keduanya berangkat dengan langkah-langkah cepat, hingga datang ke daerah Bani Salim ibnu Auf yang merupakan golongan Malik ibnu Dukhsyum. Lalu Malik berkata kepada Ma’an, “Tunggulah aku, aku akan membuatkan api untukmu dari keluargaku.” Lalu Malik masuk menemui keluarganya dan mengambil daun kurma, lalu menyalakan api dengannya.

Setelah itu keduanya berangkat dengan cepat hingga datang ke masjid itu dan memasukinya. Di dalam masjid terdapat orang-orangnya, maka keduanya membakar masjid itu dan merobohkannya, sedangkan orang-orang yang tadi ada di dalamnya bubar keluar berpencar-pencar.

Masjid Quba.
Disebutkan bahwa orang-orang yang membangunnya terdiri atas dua belas orang lelaki, yaitu Khaddam ibnu Khalid dari kalangan Bani Ubaid ibnu Zaid, salah seorang dari Bani Amr ibnu Auf yang dari rumahnya dimulai pembangunan Masjid ini, lalu Sa’labah ibnu Hatib dari Bani Ubaid, Mawali ibnu Umayyah ibnu Yazid, Mut’ib ibnu Qusyair dari kalangan Bani Dabi’ah ibnu Zaid, Abu Habibah ibnu Al-Az’ar dari kalangan Bani Dabi’ah ibnu Zaid.

Ibad ibnu Hanif (saudara Sahl ibnu Hanif) dari kalangan Bani Amr ibnu Auf, Hari sah ibnu Amir dan kedua anak nya (yaitu Majma’ ibnu Harisah dan Zaid ibnu Hari sah), juga Nabtal Al-Haris mereka dari kalangan Bani Dabi’ah, Mukharrij yang dari kalangan Bani Dabi’ah, Yajad ibnu Imran dari kalangan Bani Dabi’ah, dan Wadi’ah ibnu Sabit serta Mawali ibnu Umayyah golongan Abu Lubabah ibnu Abdul Munzir. [Diringkas dari Tafsir Ibnu Katsir surah At-Taubah ayat 107-108].

Ahir Kisah

Ahir kisah dari Masjid Dhirar ini setelah dibakar dan dihancurkan, konon tempatnya berdiri kemudian dijadikan tempat pembuangan sampah oleh penduduk setempat, sedangkan Abu Amir Ar-Rahib menerima takdirnya, dia mati di halaman istana kaisar Romawi di tahun ke 9 atau ke 10 Hijriah, dalam keadaan jauh dari tempat tinggalnya dan terusir, persis sebagaimana do’a Rosulullah ﷺ.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 22 Maret 2020

Masjid Quba – Madinah

Masjid Quba dari arah pekarangan depan. 

Masjid Quba dikenal sebagai masjid yang pertama kali dibangun oleh Rosulullah ﷺ pada tahun pertama Hijriah atau sekitar tahun 622 miladiyah di Quba, sekitar 5 KM disebelah tenggara kota Madinah. Ketika tiba di Quba, Rosulullah ﷺ memerintahkan kepada para sahabat untuk membangun sebuah masjid dan Beliaupun ikut terlibat langsung dalam pembangunannya. Bangunan awal dari Masjid Quba tersebut masih dalam bentuk sederhana belum semegah dan sebesar ukurannya saat ini.

Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid ini. Sakarang renovasi masjid ini ditangani oleh keluarga Saud. Masjid Quba ini telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz pada 1986. Renovasi dan peluasan ini menelan biaya sebesar 90 juta Riyal yang membuat masjid ini memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah.

Masjid Quba
3493 Al Hijrah Rd, Al Khatim, Medina 42318, Arab Saudi


Berkunjung ke Masjid Quba

Masjid Quba dibangun begitu megah dengan denah persegi panjang, dibagian tengahnya terdapat areal terbuka yang memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam masjid. Areal terbuka ini di beri peneduh dengan bentangan kain kain panjang dibagian atasnya untuk mengurangi dampak sengatan matahari kepada jemaah yang sedang beribadah disana.

Warna putih bersih mendominasi keseluruhan bangunan masjid ini. Empat menara tinggi menjulang di ke-empat sudut bangunan masjid. Ada puluhan pintu di masjid ini dan pintu akses untuk Jemaah pria dan wanita dipisahkan. Sama halnya dengan masjid masjid lainnya di Madinah dan Mekah, di masjid Quba ini pun kita akan menjumpai ribuan burung merpati yang dengan bebas berterbangan disana.

Di sisi kiri foto bagian bawah adalah jejeran kios kios para pedagang di pekarangan Masjid Quba.
Masjid Quba dilengkapi dengan pekarangan terbuka yang cukup luas dibagian depan masjid atau disisi sebelah timur masjid. Bersebelahan dengan pekarangan ini berdiri bangunan toilet dan kamar mandi yang cukup besar masing masing untuk Jemaah pria dan wanita. Besarnya ukuran bangunan toilet dan kamar mandi ini dapat difahami karena begitu banyaknya Jemaah yang datang ke masjid ini secara bersamaan disatu waktu, dari berbagai Negara.

Dan itu juga terkait dengan sejarah masjid ini yang mendapatkan pujian langsung dari Allah Subhanahuwata’ala di surah At-Taubah ayat 108: “Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) shalat di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri”. Beberapa hadist sahih menjelaskan bahwa kalimat “membersihkan diri” dalam ayat tersebut memang merujuk kepada Ahli Quba (Jemaah masjid Quba generasi awal) yang memang terbiasa membersihkan diri dengan air setelah buang hajat.

Kawanan mepati di masjid Quba.

Pasar dan Tempat Parkir yang luas

Masjid Quba juga dilengkapi dengan pasar di pekarangan masjid sisi selatan, hingga bila kita datang ke masjid Quba dari arah selatan akan langsung melewati pasar yang menjajakan aneka oleh oleh khas Madinah. Kedai kedai ini tertata rapi dan beberapa pedagang juga mau menerima pembayaran dengan uang Rupiah selain mata uang Riyal Arab Saudi, beberapa diantara pedagang bahkan ada yang langsung menawarkan dagangannya dengan Bahasa Indonesia kepada Jemaah asal Indonesia.

Pemerintah setempat telah mengantisipasi banyaknya Jemaah yang datang ke masjid ini dengan membangun dua lapangan parkir kendaraan yang cukup luas, masing masing berada di sisi selatan masjid bersebelahan dengan pasar Quba, dan disisi timur masjid bersebelahan dengan bangunan toilet dan kamar mandi. Selain itu, komplek masjid Quba ini diapit oleh kebun kurma yang cukup luas di sisi timur dan baratnya.

Musium Ma'raz Al-Iman (Refuge of Faith Exhibition) di sisi selatan Masjid Quba.

Musium Ma’raz Al-Iman Exhibition (Refuge of Faith Exhibition)

Disebelah selatan Masjid Quba atau di sisi barat area parkir selatan berdiri megah satu bangunan museum yang diberi nama Ma’raz Al-Iman. Nama museum ini tertulis di dinding bangunan dengan bahasa Arab dan Bahasa Inggris “Refuge of Faith Exhibition”. Museum ini salah satu dari dua museum yang cukup terkenal di Madinah, museum lainnya adalah Al-Madinah Museum yang berada di bekas gedung Stasiun Kereta Api Hejaz di distrik Al-Anbariya sekitar 1 km seberah barat daya Masjid Nabawi. “Ma’raz Al-Iman” yang menjadi nama museum di komplek Masjid Quba sejatinya adalah salah satu nama julukan bagi kota Madinah yang diberikan oleh Rosulullah ﷺ.

Musium Ma’raz Al-Iman mulai dibuka untuk umum pada tahun 2013 dan selalu ramai pengunjung pada setiap musim haji dan bulan Romadhon. Musium ini menyimpan berbagai artefak sejarah Islam termasuk berbagai manuskrip kuno, salah satunya adalah salinan Sunan Abu Dawud yang sudah berusia lebih dari 800 tahun. Naskah asli kitab tersebut tersimpan di gedung King Abdul Aziz Foundation for manuscript di Madinah.

Ruang terbuka ditengah tengah Masjid Quba.
Selain itu museum ini juga menyimpan berbagai kitab kuno yang terkait dengan sejarah Madinah juga terdapat kitab kuno dari Ibnu Zabalah yang berasal dari abad ke 3 hijirah, terdapat juga kitab suci Al-Qur’an yang ditulis dengan tinta emas yang berasal dari tahun 1878.

Keutamaan Masjid Quba

Rasulullah ﷺ sangat mencintai Masjid Quba. Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ secara rutin mengunjungi Masjid Quba, baik dengan berjalan kaki ataupun ber­kendaraan. Dalam sebuah hadist sahih juga dijelaskan bahwa menunaikan sholat di Masjid Quba, kadar pahalanya sama dengan pahala ibadah umroh.

Dalam hadis lainnya lagi disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ  membangun dan meletakkan batu pertamanya begitu beliau tiba di tempatnya, dan tempat beristirahat beliau adalah di rumah Bani Amr ibnu Auf. Malaikat Jibrillah yang membantunya untuk meluruskan arah kiblat masjid tersebut.

Mihrab dan lampu gantung Masjid Quba.

Pujian Allah kepada Ahli Quba dan Keutamaan bersuci dengan air

Allah s.w.t memuji masjid Quba dan orang yang mendirikan sholat di dalamnya dari kalangan penduduk Quba' dengan Firman-Nya di surah At-Taubah ayat 108: “Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri”.

Ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah Swt.: Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Maka Rasulullah mengirimkan utusan kepada Uwaim ibnu Sa’idah untuk menanyakan, “Cara bersuci apakah yang membuat Allah memuji kalian?” Maka Uwaim menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak sekali-kali seseorang dari kami —baik lelaki maupun wanita-— selesai dari buang airnya, melainkan ia membasuh kemaluannya atau pantatnya dengan air.” Maka Nabi Saw. bersabda, “Itulah yang dimaksudkan”.

Masjid Quba dari arah areal parkir kendaraan, dengan jejeran pohon pohon kurma.
Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Ala, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Hisyam, dari Yunus ibnul Hari’s, dari Ibrahim ibnu Abu Maimunah, dari AbuSaleh, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad ﷺ

., bahwa firman-Nya berikut ini: Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. (At-Taubah: 108) berkenaan dengan ahli Quba. Mereka selalu bersuci dengan air, maka diturunkan-Nyalah ayat ini mengenai mereka, yakni sebagai pujian kepada mereka.

Masjid Quba dan Jemaah dari Indonesia

Biro biro perjalanan haji dan umroh di Indonesia biasanya akan memasukkan kunjungan ke Masjid Quba dalam daftar kunjungan (city tour) di Madinah bersama sama dengan beberapa tempat bersejarah terpilih lainnya. Beberapa pemandu Jemaah (team leader ataupun mutowif) menyarankan untuk datang ke Masjid Quba pagi hari mengingat pengunjung yang datang ke masjid ini makin siang makin membludak.

Dan dianjurkan untuk tetap menggunakan atribut rombongan (kain syal, seragam atau atribut lainnya) untuk memudahkan saling mengenali satu sama lain diantara ramainya pengunjung dari berbagai Negara hingga tidak mudah terpisah dari rombongan.***

Artikel selanjutnya; Masjid Quba vs Masjid Dhirar

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 21 Maret 2020

Masjid Al-Ijabah - Madinah

Masjid Al-Ijabah, Bani Muawiyah, Madinah, Arab Saudi.

Ada banyak masjid di kota Mekah dan Madinah yang dibangun sebagai pengingat peristiwa sejarah yang terjadi di tempat berdirinya masjid tersebut, dan kebanyakan masjid masjid tua tersebut juga diberi nama sesuai dengan peristiwa sejarah yang terjadi ditempat tersebut, termasuk masjid Al-Ijabah di kota Madinah.

Masjid Al Ijabah berada di lahan berbentuk segitiga diruas jalan Malik Faishal (king Faisal Road), kota Madinah, berjarak sekitar 385 meter dari Pemakaman Baqi. Lokasi masjid ini berdiri juga berseberangan dengan Rumah Sakit Umum Al-Ansaar yang berada di sebelah utara masjid, sedangkan tempat parkir kendaraan berada di sisi sebelah timur diseberang jalan dari Masjid Al-Ijabah. Bila anda sedang berada di sisi utara komplek pemakaman Baqi / ruas jalan King Abdul Aziz Road kita dapat melihat menara dan kubah masjid Al-Ijabah ini sayup sayup dikejauhan.

Masjid Al-Ijabah
Bani Muawiyah, Madinah, Madinah 42313, Arab Saudi



Tempat di-Ijabah-nya dua dari tiga do’a Rosulullah

Masjid Al-Ijabah seringkali juga disebut dengan nama Masjid Bani Muawiyah merujuk kepada nama tempatnya berada. Masjid ini berdiri di lahan milik Muawiyah bin Malik bin 'Auf dari suku al-Aus. Dan kini kawasan tersebut disebut dengan distrik Muawiyah.

Menurut sejarah, dulu di masjid ini Rasul berdoa kepada Allah yang terkait dengan nasib umat, dan langsung di-Ijabah Allah saat itu juga. Karena sejarah tersebut, masjid ini kemudian dikenal dengan nama masjid Al-Ijabah.

Ada tiga doa yang dipanjatkan Rasul ditempat tersebut. Doa pertama adalah Nabi memohon agar Allah tidak membinasakan umat Muhammad Islam dengan kekeringan dan kelaparan. Doa ini langsung dijawab dan dikabulkan oleh Allah.

Selanjutnya Rasulullah berdoa kembali, memohon agar Allah tidak membinasakan umat Muhammad dengan menenggelamkan. Doa ini juga dikabulkan Allah. Rasul pun kembali berdoa. Di doanya yang ketiga, Rasul memohon agar di kalangan umatnya tidak ada fitnah dan perbedaan. Sayangnya, doa tersebut tidak dikabulkan oleh Allah SWT.

Masjid Al-Ijabah, Bani Muawiyah, Madinah, Arab Saudi.

Catatan Sejarah

Dalam Shahih Muslim, Amir bin Sa’dari menuturkan dari ayahnya, “Suatu hari Rasulullah datang dari Al-Aliyah. Dia melewati masjid Bani Muawiyah. Dia masuk masjid itu dan salat dua rakaat. Kami pun ikut salat bersama dia.

Rasulullah berdoa lama sekali, lalu menuju kami.” “Dia mengatakan, ‘Aku meminta tiga hal kepada Rabbku. Tetapi, hanya dua hal dikabulkan, dan satu hal tidak diperkenankan. Aku meminta agar umatku tidak dibinasakan dengan paceklik. Permintaanku pun dikabulkan. Aku memohon agar umatku tidak ditenggelamkan. Permohonanku pun dikabulkan. Aku mengharap agar permusuhan umatku tidak terjadi antar sesama mereka, tetapi permintaanku tidak dikabulkan.”

Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Jabir bin Atik, dia berkata, “Abdullah bin Umar datang kepada kami di Bani Muawiyah—salah satu desa kaum Anshar—dan bertanya, ‘Apakah kalian tahu di mana dulu Rasulullah salat di masjid kalian ini?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku menunjuk ke satu arah. Dia kembali bertanya, ‘Apakah engkau tahu tiga hal yang diminta oleh Rasulullah?’ Aku menjawab, ‘Ya, aku tahu.

Dia berkata, ‘Beri tahu aku tiga hal itu!’ Aku berkata, ‘Rasulullah berdoa agar tidak dikalahkan oleh musuh dari golongan orang kafir. Dan agar tidak dibinasakan dengan paceklik. Keduanya dikabulkan oleh Allah. Rasulullah juga berdoa agar permusuhan umatnya tidak terjadi antar sesama mereka. Tetapi, permohonan ini tidak dikabulkan.’ Ibnu Umar berkata, ‘Engkau benar. Sehingga peperangan, fitnah, dan perselisihan terus berlangsung hingga Hari Kiamat nanti.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 15 Maret 2020

Masjid Mohammed Hassan Farsi - Jeddah

Masjid Mohammed Hassan Farsi - Jeddah

Masjid Mohammed Hassan Farsi merupakan salah satu masjid yang berada di kawasan pantai laut merah kota Jeddah, tak jauh dari pelabuhan laut kota Jeddah. Ukuran masjid ini tidak terlalu besar, dibangun dalam gaya bangunan masjid masjid klasik arab dengan dinding dinding tembok tebal yang kokoh.

Mosque Mohammed Hassan Farsi , Jeddah
Najran, Al-Baghdadiyah Al-Gharbiyah, Jeddah 22231, Arab Saudi


Beberapa kubah batu dibagian atapnya ditambah dengan satu menara yang menyatu dengan bangunan masjid. Warna merah pada masjid ini berasal dari batu alam yang menutup seluruh permukaan luar bangunan masjid.

Nama masjid ini ditulis dalam kaligrafi arab sederhana dipasang di tembok depan sisi sebelah kanan pintu masuk utama. Di dalam masjid ini dihias dengan lampu gantung berukuran besar dengan design sederhana serta mihrab (ruang imam) nya yang sederhana, hanya berupa ceruk setengah lingkaran tanpa ornamen hias apapun.***

Masjid Mohammed Hassan Farsi - Jeddah
Masjid Mohammed Hassan Farsi - Jeddah

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga