Rabu, 08 Desember 2010

Langgar Nurul Iman, Kelurahan Gelumbang

MASJID MASJID DI TANAH BELIDA

Langgar Nurul Iman Keluarahan Gelumbang, diantara rumah penduduk. (lihat di Panoramio)

itu Kampungku, sebuah kelurahan di sekaligus ibukota dari kecamatan Gelumbang, kabupaten Muara Enim, provinsi  Sumatera Selatan. Langgar dalam bahasa melayu berari Mushola. Jangan marah kalau kemudian keluar guyonan serius ::: sholat itu nomor dua, itupun boleh di LANGGAR ::: nomor dua maksudnya bahwa sholat itu rukun Islam ke dua, Langgar yang dimaksud adalah…..Langgar yang mushola itu.

Tak ada yang ingat persis kapan pertama kali Langgar ini dibangun, namun menurut penuturan ibundaku dan Pengurus Langgar Nurul Iman, yang rumahnya bersebelahan dengan Langgar tersebut, dan beliau juga adalah Uwak ku (karena beliau adalah Abang kedua dari Ibuku), Langgar Nurul Iman ini dibangun di atas lahan hibah dari suami istri Bapak Dulasik dan Ibu Jerona. Suami Istri yang beramal jariah itu adalah juga kakek dan Nenek dari Ibuku.



Semasa kecil dulu, Langgar ini belum seindah sekarang. Aselinya adalah rumah panggung dari kayu berdinding papan beratap genteng kampung, dengan tiang setinggi lebih kurang satu meter saja, dilengkapi tangga pendek di sisi kiri dan kanan. Di bagian dalam ada para-para (atau Mezanin sederhana) tempat menyimpan kitab suci al-qur’an, juz amma, kitab kuning, perukunan melayu, regal (tatakan untuk membaca Al-qur’an) dan lain lain. Sementara beduk digantungkan di bawah atap bagian luar Langgar. kala itu Langgar ini dikelola oleh (alm) kakeku Idrus bin Topa beserta sahabat sahabat seperjuangannya termasuk (alm) Khatib Yuri dan lain lain.

Tahun 1978, langgar kayu itu di bongkar bersamaan dengan renovasi total Masjid Jami Babussalam Gelumbang Bangunan langgar yang awalnya merupakan bangunan kayu berbentuk rumah panggung, kemudian dirobohkan dan dibangun kembali dengan  bangunan berdinding tembok, bukan berbentuk rumah panggung. Dengan luas yang tak jauh berbeda dengan bangunan awalnya. Lengkap dengan dua pintu akses di kiri dan kanan nya.

Gang Langgar. Dari ruas jalan Stasiun dari arah simpang empat ke arah stasiun KA, gang Langgar Nurul Iman yang merupakan akses menuju ke Langgar ini berada di sisi kanan jalan. bangunan Langgar-nya tepat berada di belakang rumah panggung disebelah kiri foto, berhadapan dengan rumah ber cat kuning itu.

Seiring dengan perkembangan kampung yang sudah berubah menjadi kelurahan dengan penduduk sekitar yang semakin padat Langgar ini kembali di renovasi sekitar tahun 2008-2009 lalu. Bangunan diperlebar dan atap lebih ditinggikan. Sumber pembiayaan pembangunan berasal dari sumbangan jemaah, tokoh masyarakat, pengusaha setempat dan dermawan dermawan luar daerah yang dengan sengaja datang ke Langgar ini untuk menyumbang.

Dengan tenaga tukang yang men-sedekah-kan tenaga mereka untuk pembangunan Langgar ini, dibantu para jemaah. Kepala tukang yang mengomando pembangunan Langgar ini Cukup unik, beliau tetap menjaga profesionalitasnya dengan tetap menentukan tarif jasa nya tapi kemudian setiap sen yang diterima-nya dikembalikan lagi ke pengurus langgar sebagai sedekah.

Beduk yang dulunya sering hilang. hmmm, beduk itu masih berada di lokasi yang sama sejak pertama kali ku ingat dari sejak bangunannya masih barupa bangunan kayu, rumah panggung setengah tiang, di renovasi pertama hingga saat ini. Saat masih kecil dulu, Pak khatib Yuri (seangkatan dengan Kakek-ku) yang rumahnya tepat dibelakang Langgar ini seringkali kehilangan beduk menjelang sahur. Kok Bisa ?, karena beduknya sudah kami angkut dengan gerobak lalu digebuk keliling kampung buat membangunkan orang sekampung untuk sahur. heheheh. . . lama lama dia hafal, tak perlu nyari dan mukul beduk menjelang sahur, pasti sudah di angkut oleh cucu cucu nya Idus. (lihat foto di Panoramio)

Tradisi Cawisan

Kini bangunan Langgar Nurul Iman sudah cukup lega dan megah di tengah tengah Kampung Dua atau kampung Derat (kampung darat) Kelurahan Gelumbang. Selain menyelenggarakan sholat wajib lima waktu Langgar ini juga menyelenggarakan pendidikan Alqur’an untuk kanak kanak, pengajian rutin ibu ibu majelis ta’lim (dalam bahasa setempat disebut Cawisan).

Cawisan atau majelis ta’lim ini merupakan tradisi turun temurun yang tetap lestari hingga kini. Majelis ta’lim atau cawisan ini diselenggarakan oleh ibu ibu sekali dalam sepekan setiap hari Jum'at (dulunya setiap hari Kamis) bakda Zuhur hingga Asyar. Acara cawisan di isi dengan pengajian dan siraman rohani oleh para ustadzah dari lingkungan sendiri maupun dari luar daerah. Cawisan ini melibatakan ibu ibu hingga remaja putri jemaah Langgar dari semua kalangan. Istri istri dan putri pejabat kelurahan hingga Muspika pun turut serta dalam cawisan.

Langgar Nurul Iman dari jendela rumah pengurus Langgar (rumah bercat kuning dalam foto kedua di-atas). Aku juga sudah tidak ingat lagi bentuk atap bangunan Langgar paska renovasi kedua dulu. (Lihat fotonya di panoramio)

Sholat jum’at dan dua sholat hari raya tidak diselenggarakan di Langgar Nurul Iman [karena memang statusnya yang bukan Masjid Jami] Tapi diselenggarakan di  Masjid Jami Babussalam Gelumbang. Selain dari dari itu Langgar Nurul Iman ini juga senantiasa dijadikan tempat penyelenggaraan akad nikah putra putri warga sekitar. Sholat tarawih di Langgar Nurul Iman diselenggarakan dengan 20 rekaat plus 3 rekaat witir (dua rekaat + satu rekaat).

Persatuan Kematian

Selain Cawisan, di Langgar ini juga dibentuk Persatuan Kematian Jemaah Cawisan yang dikelola oleh jemaah sendiri. Nama persatuan-nya sendiri yang ada kata kematian nya itu bisa jadi membuat sebagian orang agak merasa seram ya. Persatuan kematian ini memang sudah diselenggarakan sejak pertama kali Langgar ini berdiri seumur dengan tradisi cawisan itu sendiri.

Pintu Timur. Lokasi Langgar Nurul Iman Gelumbang ini memang berada ditengah Kampung dengan suasana yang masih asli, di lingkungan awal Kampung Derat Kelurahan Gelumbang, Diantara  rumah rumah penduduk yang sebagian besar masih berbentuk rumah panggung seperti dilatar belakang foto di atas.

Berdasarkan berkas catatan awal setoran jemaah untuk persatuan kematian ini di tahun 60-an, setoran masing masing anggota hanya sebesar Rp. 1.5. bandingkan dengan sumbangan saat ini yang mencapai Rp. 3000 per orang per bulan. Penentuan angka Rp. 3000 tersebut didasarkan kepada kemampuan terendah dari jemaah yang datang dari berbagai kalangan.

Persatuan kematian ini mengelola dana ummat untuk penyelenggaraan Jenazah anggota cawisan yang meninggal dunia termasuk anggota keluarganya, persatuan ini yang kemudian menyediakan semua kebutuhan bagi penyelenggaraan jenazah termasuk penyediaan kain kafan, sumbangan duka, minyak wangi, cendana dan sebagainya. 

Cikal Bakal BKMT 3 Kecamatan

Di Langgar ini menjadi saksi sejarah cikal bakal pendirian BKMT (Badan Kontak Majelis Ta'lim) Gelumbang dan sekitarnya yang dirintis oleh Ibu Betty Wati binti Idrus bin Topa (beliau masih keturunan langsung dari pendiri langgar ini) beserta keluarga. Bermula sejak tahun 2005 lalu, pelan tapi pasti usaha yang gigih selama 7 (tujuh) tahun masuk keluar kampung hingga ke pelosok tepian Sungai Kelekar dan Sungai Belida. Kini, Alhamdulillah anggota pengajian ini telah berkembang pesat hingga ke wilayah tiga kecamatan sekaligus yakni : Kecamatan Gelumbang, Kecamatan Kelekar & Kecamatan Lembak.

Usaha tersebut dilakukan beliau bersama putri putri beliau yakni Yati Agustina (biasa dipanggil Upik) dan Budi Astuti ::: yang semasa remajanya aktif di Remaja Masjid Agung [RISMA] Bandung ::: beserta ibu ibu 'cawisan' di Langgar Nurul Iman, usaha untuk membentuk BKMT ini di ilhami dari pengajian Ibu Nani Rohaeni di Ogan Ilir tempat dimana Upik :: putri beliau :: yg memang sejak di bangku kuliah giat dalam aktivitas dakwah di kampusnya menjadi salah satu jemaah disana berujung kepada perkenalan dengan Ibu Tuti Alawiyah di Jakarta. 

Bukan bangunan mewah, sama seperti kebanyakan Mushola dan masjid masjid kampung di seantero tanah air dengan bentuk bangunan segi empat, atap limas bersusun dan mihrab sederhana. Dan dilengkapi dengan tiga pintu akses.

Dan sejak itu usaha merintis pendirian BKMT di wilayah kecamatan Gelumbang gencar dilaksanakan sampai ahirnya berbuah manis dengan berkembang pesatnya jemaah BKMT disana. Ibu Betty Wati Juga yang menjadi ketua pertama, kemudian diteruskan oleh putri beliau, Yati Agustina. 

Kini setelah BKMT berkembang, tersisa satu satu harapan beliau agar BKMT tetaplah sebagai sebuah majelis taklim tempat ummat menimba ilmu agama tidak dibawa atau terbawa bawa oleh oknum manapun ke kancah politik praktis, beliau juga berharap agar siapapun yang kemudian memegang kendali organisasi agar tidak memanfaatkan BKMT untuk kepentingan pribadi dan golongan, dan senantiasa siap mengabdikan diri bagi kepentingan ummat.

Bila kebetulan melintas di kelurahan Gelumbang di jalur tengah lintas sumatera antara kota Prabumulih dan Kota Palembang, anda akan bertemu dengan Simpang 4 Gelumbang, disana berdiri  Masjid Jami Babussalam Gelumbang  yang kini sedang kembali direnovasi total, dari sana belok ke arah timur, ke arah stasiun Gelumbang, sekitar seratus meteran anda akan menjumpai langgar ini. Silahkan Mampir.

(updated : 1-April-2012 | 12-Januari-2013 | 29-Januari-2016)