Tampilkan postingan dengan label masjid tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masjid tua. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Januari 2020

Masjid Al-Basha, Jeddah

Masjid Al-Basha di kawasan Al-Balad pusat kota Jeddah diantara rimbun pepohonan hijau di halaman depan-nya.

Masjid Al-Basha adalah salah satu masjid tua dan bersejarah di kota Jeddah, Saudi Arabia. Berdiri di kawasan kota tua Al-Balad masjid ini tampil anggun di antara gedung gedung jangkung nan modern yang mulai mencakar langit disekitarnya. Halaman depannya tampak asri dengan rimbun pepohonan yang tumbuh menghijau, salah satunya pohon kurma yang berbuah lebat disamping tangga menuju ke ruang sholat.

Kawasan Al-Balad, tempat masjid Al-Basha ini berdiri adalah kawasan bersejarah di kota Jeddah, dari sini sejarah kota Jeddah dimulai. Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sudah mendaftarkan Al-Balad ke Unesco dan sudah diakui sebagai warisan dunia. Di Al-Balad, Masjid Al-Basha berseberangan dengan gedung tua Bait Al-Balad dan Balaikota Jeddah.

Basha Mosque
7220 King Abdul Aziz, حي البلد، 2792، Jeddah 22233, Arab Saudi


Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, masjid ini pertama kali dibangun oleh Gubernur Jeddah Bakr Basha pada 1735. Disebutkan juga bahwa masjid ini awalnya berlokasi di Harat al-Sham, dan menaranya menjadi ikon arkeologi dan arsitektur bagi Jeddah. Tampilan masjid ini tak berubah hingga 1978 ketika ia dibongkar dan dipindahkan.

Bangunan yang kini berdiri memang tak Nampak sebagai sebuah bangunan masjid tua, lebih terlihat sebagai sebuah bangunan masjid modern dengan bangunan beton berlantai dua dilengkapi dengan satu menara. Masjid ini dapat diakses dari bagian depan dan bagian samping.

Masjid Al-Basha dari arah museum Bait Al-Balad.
Ruang sholatnya ada di lantai dua, hingga baik pintu depan maupun pintu samping dilengkapi dengan tangga beton untuk menuju ke ruang sholat. Kami datang ke masjid ini diluar waktu sholat berjamaah, seluruh pintu masjid sudah terkunci. Seorang pegurusnya yang kemudian membukakan samping pintu dari dalam.

Area toilet dan tempat wudhunya ada dilantai dasar, area tempat wudhunya juga dilengkapi dengan bangku bangku batu untuk Jemaah agar wudhu sambil duduk. Pengurus masjid ini sepertinya juga tinggal di masjid ini.

Interior masjid Al-Basha.
Ruang sholat masjid ini cukup besar, terbagi menjadi dua area. Area sholat bagian belakang lebih rendah dari area bagian depan disekat dengan partisi kayu setinggi pinggang orang dewasa. Seluruh lantai ruangan sholat ditutup dengan karpet sajadah warna hijau lumut. Sisi mihrabnya menggunakan kayu.

Area mihrabnya berupa ceruk kecil setengah lingkaran dari kayu diapit dua rak buku dikiri dan kanannya. Mimbar khatib dibangun lebih tinggi dari lantai berbentuk podium terbuka tanpa ornamen terletak di sisi kanan area mihrab. Ada pembatas dari semen setinggi sekitar 30 sentimeter dari shaf pertama dengan shaf berikutnya, saya kurang faham fungsi dari pembatas tersebut.

Secara keseluruhan interior masjid ini tidak terlalu ramai dengan berbagai ragam hias. Dibagian tengah atapnya ada bagian atap segi empat yang dibangun lebih tinggi dari atap sekitarnya untuk menempatkan jendela jendela kaca di celahnya sebagai penerangan dalam ruang dari cahaya alami matahari disiang hari.

Eksterior Masjid Al-Basha.
Karena secara geografis, kota Jeddah berada disebelah barat kota Mekah, maka arah kiblat di masjid AL-Basha ini menghadap ke arah timur. Pintu depannya ada sebelah barat, pintu samping ada di sebelah utara demikian juga dengan sebatang menaranya yang menjulang sendirian.

Bangunan menaranya berdenah segi empat dengan satu balkoni dan di ujung menara ditempatkan ornamen bulan sabit khas Saudi, berupa bulan sabit yang simetris menghadap ke atas namun masih berupa lingkaran utuh, bukan seperti bulan sabit gaya Usmani yang juga menghadap ke atas namun terbuka dibagian atasnya. Kami singgah ke masjid ini untuk menunaikan sholat zuhur sekaligus jama’ sholat asyar karena kami akan segera melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya ke Muscat, Oman.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 10 Agustus 2019

Masjid Sultan Singapura

Masjid Sultan Singapura, atau seringkali disebut Masjid Sultan saja merupakan masjid nasional Singapura sekaligus sebagai masjid bersejarah dengan status cagar budaya.

Masjid Sultan Singapura menjadi satu satunya masjid yang (masih) dizinkan mengumandangkan azan keluar masjid melalui pengeras suara di menaranya. Keisitimewaan itu hanya diberikan kepada masjid Sultan dan tidak bagi sekitar 67 masjid lainnya yang ada di negara Singapura.

Kami memang belum berkesempatan mendengar langsung kumandang azan dari masjid ini namun anda bisa menemukan beberapa rekamannya di situs youtube. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, begitu kata pepatah melayu. Singapura punya aturan sendiri untuk urusan azan teramat berbeda dengan di Indonesia tentunya.

Masjid Sultan
3 Muscat St, Singapura 198833



“Bukan bermaksud untuk endorse atau untuk promosi, dari bagian manapun di Singapura, menggunakan taksi online adalah cara kami yang paling mudah untuk menuju ke masjid ini. Dan bagusnya memesan taksi online disana gak pakai lama, kecuali di jam jam sibuk, samma saja dengan disini :)”

Namun demikian suasana yang tak jauh berbeda dengan di Indonesia kami temukan di masjid ini saat sholat idul adha tahun 2018 yang lalu. Muslim dari berbagai penjuru berkumpul di masjid ini sejak pagi buta. Jemaah wanita seluruhnya tidak sholat di dalam ruang utama masjid namun di bangunan disebelahnya dan meluber hingga ke jalan raya, begitupun dengan jemaah pria.

Terasa betul penataan dan pengaturannya yang teramat rapi dan cermat. Masjid menugaskan beberapa pengurusnya untuk mengatur shaf jamaah sedemikian rupa sejak sebelum sholat dimulai. Dua orang diantaranya berdiri di beranda masjid mengatur jemaah yang masuk ke dalam masjid dan menyetop jemaah yang akan masuk pada saat bagian dalam masjid sudah penuh.

Sentuhan arsitektur Mughal dan Melayu sangat kental di bangunan Masjid Sultan Singapura ini.

Beruntung menjelang sholat dimulai dua petugas ini bersegera memanggil kami masuk ke dalam ruang utama karena pada saat jemaah mulai berdiri dan menyusun shaf, akan ada ruang kosong diantara mereka, dan imamnya pun tidak serta merta memulai sholat, ada jeda waktu yang cukup untuk mengatur shaf jemaah.

Khutbah idul adha disampaikan dalam bahasa melayu dan bahasa melayu masyarakat Singapura lebih memiliki kemiripan dengan bahasa Indonesia baik kosa kata maupun dialek yang tak terlalu kental, dan rasanya tak terlalu banyak kata dan kalimat yang sulit difahami bagi mereka yang tak terbiasa berbahasa melayu sekalipun.

Dari arah Kandahar Street.

Ada layar tivi yang dipasang berjejer di tiap tiang masjid menyiarkan langsung khatib yang sedang khutbah lengkap dengan translasi dalam bahasa Inggris. Dan ada tradisi yang cukup menarik, selama khatib menyampaikan khutbahnya ada anak anak usia belia yang membawa kantung kain berkeliling di dalam hingga keluar masjid mengambil sedekah jariah langsung dari jemaah. Tradisi ini bila saya tak salah ingat serupa dengan tradisi di masjid Agung Palembang.

Singapura terdiri dari berbagai etnis dan bangsa, dan itu benar benar terasa pada saat sholat di masjid ini. Meski berada di tanah melayu tidak semua jemaahnya berbusana khas melayu pada saat sholat hari raya, jemaah yang heterogen dari berbagai etnis dan bangsa menhadirkan suasana berbeda dibandingkan dengan sholat hari raya di kampung sendiri.

Pada awalnya masjid Sultan Singapura dibangun dalam bentuk yang serupa dengan masjid Agung Demak, Sebelum kemudian di bagun ulang dengan bentuknya saat ini di tahun 1924.

“Dalam sejarahnya muslim Indonesia yang tinggal (berdagang) di Singapura pada masa itu turut serta membangun masjid Sultan Singapura lho, baik menyumbang tenaga maupun dana”

Berdasarkan catatan sejarah, masjid Sultan Singapura pertama kali dibangun pada tahun 1824 oleh Sultan Husaain, bersebelahan dengan istana sang sultan, dan selesai dua tahun setelahnya. Dana pembangunannya berasal dari sumbangan East India Company, donasi jemaah, serta dari pihak istana sendiri.

Semula bangunan masjid dibangun berbentuk masjid tradisional Nusantara dengan atap limasan bersusun tiga. Bentuk tersebut hampir mirip dengan Masjid Agung Demak yang masih bisa kita jumpai hingga sekarang. Maklum, struktur awal masjid memang digarap oleh masyarakat Jawa, Melayu dan Bugis yang menetap di Singapura untuk berdagang. Kawasan Kampong Glam ini semula memang kawasan permukiman awal beberapa etnik masyarakat Indonesia.

Masjid Sultan beserta Kampung Glam telah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling menarik di Singapura. tak heran bila tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung dari berbagai negara.

Dalam perkembangannya, Masjid Sultan kemudian direnovasi pada tahun 1924, bertepatan dengan 100 tahun berdirinya masjid tersebut. Selain dilakukan perluasan area untuk menambah daya tampung, bentuk dan arsitektur masjid juga mengalami perubahan. Setelah empat tahun pembangunan, berdirilah masjid seperti yang ada sekarang. Bergaya Gothik Mughal lengkap dengan menaranya.

Hal yang unik dari pembangunan masjid ini adalah ornamen kubah bewarna hijau di masjid ini dibuat dari ribuan botol kaca hasil sumbangan dari berbagai lapisan masyarakat muslim Singapura saat itu. Setelah pembangunan tahun 1924 itu masjid Sultan mampu menampung hingga 5.000 jemaah.

Di hari raya Idul Adha, seperti hal nya di Indonesia, Masjid Sultan Singapura juga menyelenggarakan penyembelihan hewan qurban, hanya saja dalam pelaksanaannya sedikit berbeda dengan di Indonesia, penyembelihan hewan Qurban di masjid ini dilaksanakan di area tertutup dan tidak semua orang boleh masuk dan melihat proses nya meskipun dilakukan masih di halaman samping masjid.

Ada banyak kedai makanan halal disekitar masjid Sultan ini.

Setelah penyembelihan hewan qurban dilanjutkan dengan acara silaturrahim bersama dan santab siang di gedung disamping masjid. Dari pagi hari tampak sebagian pengurusnya sibuk mempersiapkan segala sesuatunya termasuk memasak makanan kuliner khas idul adha di samping masjid.

“Tips kecil untuk ada; bila sedang berkunjung ke toko toko dan kedai disekitar masjid Sultan, sebaiknya bawa uang tunai yang cukup, karena pedagang disini tidak satupun yang menyediakan mesin EDP untuk memproses transaksi dengan kartu debit ataupun kartu kredit, alias hanya terima pembayaran tunai”

Hal lain yang unik dari masjid ini adalah penerapan sistem manajemen ISO 9001:2015 untuk tata laksana (manajemen masjid), dan Masjid Sultan Singapura ini sudah bersertifikasi ISO 9001;2015 lho. Kini masjid Singapura yang merupakan masjid tertua di Singapura, dikelola oleh pengurus masjid dengan perhatian penuh dari negara, maklum masjid Sultan dan kawasan sekitarnya merupakan kawasan cagar budaya nasional Singapura.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Minggu, 02 Juni 2019

Prasasti Bulus di Masjid Agung Demak

Mihrab Masjid Agung Demak.

Bila anda berkunjung ke Masjid Agung Demak yang berada di sisi sebelah barat alun alun kabupaten Demak anda akan menemukan Prasasti berlambang Bulus atau Penyu atau kura kura yang ditempatkan di dalam ruangan mihrabnya pada dinding kiblat.

Prasasti bulus tersebut merupakan Candara Sengkala Memet yang diartikan Sariro Sunyi Kiblating Gusti, yang maknanya sama dengan tahun 1401 Saka atau bertepatan dengan tahun 1479 Miladiyah.

Prasati tersebut merupakan peringatan purna pugar Masjid Kasultanan pimpinan Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panotogomo, yang menduduki tahta kerajaan Islam Pulau Jawa tahun 1400 Saka atau bertepatan dengan tahun 1478 Miladiyah. Terkait runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala “Simo Ilang Ketaning Bumi”

Bagian luar dinding Mihrab terdapat berbagai jenis hiasan, antara lain berupa kaligrafi ilahiyah tulisan arab uang mengapit Surya Majapahit yang juga terdapat pada bagian sandaran belakang mimbar khutbah (Dampar Kencana) didalam Masjid Agung Demak.

Karena Raden Fattah adalah putra mahkota Prabu Kertabumi / Brawijaya V maka di Masjid terpasang simbol Hasta Brata Surya Majapahit yang mengajarkan delapan sifat kepemimpinan Kasultanan Bintoro Demak.

Dinding luar juga dihiasi porselen hadiah dari Kerajaan Islam Campa, guna mengingatkan adanya peristiwa ghaib (misteri) dinding depan mihrab juga dipasang simbol akar mimang.

Sumber : Dokumentasi Ta’mir Masjid Agung Demak (2004)

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 26 Mei 2019

Sejarah Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak merupakan masjid kesultanan pertama di Indonesia dan bangunan masjidnya masih berdiri hingga hari ini dalam bentuk aslinya sejak pertama kali dibangun.

Raden Fatah membangun Masjid Agung Demak di tahun 1401 Saka atau 1477 Miladiyah, atau dua tahun setelah beliau mendirikan Kesultanan Demak dengan bantuan dari para wali di tahun 1475M, beliau bergelar Senapati Jumbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Munculnya nama Palembang dalam gelar beliau karena beliau memang lahir dan besar di Palembang (Sumatera Selatan) dari Ibu nya yang berasal dari campa.

Sebelumnya Demak merupakan bagian dari wilayah kesatuan kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Prabu Brawijaya (Prabu Brawijaya V Pangeran Kertabhumi). Sebagai putra raja Majapahit, Raden Fatah memang dibentangkan karpet merah ke wilayah kekuasaan. Sebelum menjadi Sultan Demak beliau telah dianugerahi jabatan oleh ayahandanya Prabu Brawijaya sebagai Adipati Natapraja di Glagahwangi Bintoro Demak di tahun 1475 M.


Beliau juga menerima hadiah 8 pilar berukir dari ayahnya yang dikemudian hari digunakan sebagai pilar penopang di serambi Masjid Agung Demak dimasa pemerintahan Adipati Yunus (Pati Unus). Pilar pilar tersebut masih dapat kita lihat keberadaannya hingga kini dan disebut dengan pilar Majapahit.

Tak pelak, berdirinya Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam dan melepaskan diri dari pengaruh Majapahit mengundang kemarahan pihak keraton Majapahit yang kemudian mengirimkan pasukan untuk menyerang Demak. Namun serangan itu dapat dipatahkan oleh pasukan Demak. Disebutkan bahwa salah satu dari pimpinan pasukan Majapahit bernama Raden Sepat bahkan kemudian mengikrarkan ke-Islaman nya dan bergabung dengan kesultanan Demak.

Pelataran Masjid Agung Demak.
Raden Sepat yang kemudian terlibat langsung dalam proses merancang Masjid Agung Demak dengan, kemungkinan besar beliau merupakan bagian dari pasukan zeni tempur Majapahit sehingga memiliki kemampuan arsitektur yang cukup memadai.

Tidak dapat dipungkiri bahwa warisan seni arsitektur Majapahit sangat kental dalam rancang bangun Masjid Agung Demak ini, dengan menerapkan bentuk bangunan aula luas beratap limasan bertingkat sebagaimana lazimnya sebuah bangunan besar di era Majapahit.

Empat sokoguru dari kayu jati yang menopang atap masjid ini menjadi fitur utama di dalam masjid Agung Demak ini. Selain itu masih ada benda bersejarah Dampar Kencana (mimbar khutbah), prasasti bulus di ruang mihrab dan fitur fitur sejarah lainnya masih terawat di masjid tertua ini.
Masjid Agung Demak dibangun dibangun di lokasi bangunan pondok pesantren Glagahwangi, tempat Raden Fatah menimba ilmu agama dibawah asuhan Sunan Ampel. Wajar bila kemudian para wali mendukung penuh berdirinya kesultanan Demak. Pesantren Glagahwangi didirikan oleh Sunan Ampel ditahun 1466 Miladiyah, sekaligus berfungsi sebagai Masjid.

Pembangunan Masjid Agung Demak tersebut kemudian diabadikan dalam sebuah prasasti yang ditempatkan di dalam ruang mihrab dan dikenal sebagai Condro Sengkolo Memet. Sebuah prasasti berbentuk bulus (kura kura) yang berarti “Sariro Sunyi Kiblating Gusti”.

Ada tangga akses menuju lantai atap. meskipun begitu tak semua pengunjung dizinkan kesana.
Gambar bulus terdiri dari ; satu kepala yang berarti angka satu, empat kaki berarti angka empat, badan bulus yang bulat berarti angka nol, satu ekor bulus berarti angka satu, yang bermakna tahun 1401 Saka yang kemudian disepakati tahun tersebut bertepatan dengan tahun 1477 Miladiyah.

Berdirinya Kesultanan Demak ini dikemudian hari diikuti dengan berdirinya kesultanan Cirebon yang selanjutnya diikuti dengan berdirinya Kesultanan Banten dan berbagai Kesultanan lainnya di wilayah Nusantara.

Pada masanya, kolam ini menjadi tempat wudhu bagi jemaah masjid ini. kini kolam ini tidak dipakai lagi untuk wudhu meski keberadaannya masih terawat baik.
Disebutkan bahwa Raden Sepat yang mengarsiteki pembangunan masjid Agung Demak juga terlibat dalam proses rancangan Masjid Agung Sang Ciptarasa di Kesultanan Cirebon dan Masjid Agung Banten di Kesultanan Banten.

Sehingga anda akan dengan mudah menemukan kemiripan diantara tiga masjid tersebut. Bahkan beberapa penulis tak segan menyebut ketiga masjid tersebut sebagai tiga masjid kembar. Beberapa menyebutkan masjid Agung Demak sebagai kembaran Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------


Baca Juga

 

Sabtu, 25 Mei 2019

Masjid Agung Demak

Berdiri megah di sisi barat alun alun Demak, Masjid Agung Demak menjadi saksi sejarah kesultanan pertama di tanah Jawa.

Bis yang membawaku dari Cikarang menurunkanku di alun alun di depan masjid Agung Demak sekitar setengah jam menjelang waktu subuh. Perjalanan satu malam dengan bis antar kota antar provinsi cukup nyaman, bis yang kutumpangi berangkat dari Cikarang ba’da magrib dan hanya satu kali berhenti di rumah makan di Cirebon untuk memberi kesempatan penumpang untuk shlat Isya dan makan malam.

Dari kejauhan saat melintasi alun alun, Masjid Agung tampak sepi, maklum ini masih dinihari atau tepatnya di ujung malam, tapi saat tiba di masjid ternyata pendopo masjid ini penuh sesak dengan Jemaah yang sedang ber istirahat. Ada waktu beberapa menit untuk sekedar mengambil foto masjid lalu menuju ke tempat wudhu untuk bersiap siap sholat subuh. Di dalam masjid tampak lengang karena memang ada larangan tidur di dalam ruang utama masjid.



Menyenangkan ahirnya bisa sampai disini, salah satu masjid yang memang sudah lama ingin ku kunjungi. Masjid Agung Demak dikenal sebagai masjid pertama yang dibangun sebagai masjid kesultanan di tanah Jawa dan di Nusantara, sekaligus juga merupakan masjid pertama di Nusantara yang masih berdiri kokoh hingga kini sesuai dengan aslinya. Meskipun dari sisi usia Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua kedua di pulau Jawa setelah Masjid Soko Tunggal Banyumas.

Nuansa kuno langsung terasa saat melihat masjid ini sejak dari luar hingga ke dalam masjid. Masjid dengan empat sokoguru berdiri kokoh ditengah ruang utama. Mimbar kayu yang antik dinamai sebagai Dampar Kencana hadiah dari Prabu Brawijaya, kini dilindungi dengan kaca, lampu lampu gantung kuno memancarkan sinar yang syahdu. Bangunan masjid agung dengan bangunan serambi dan pawastren-nya masih terawat baik hingga kini sejak pertama kali dibangun oleh Raden Fattah ditahun 1477M.

Serambi masjid, dibagian depan bangunan utama masjid Agung Demak ini menjadi tempat istirahat bagi para peziarah dari berbagai daerah menunggu datangnya pagi.
Setelah sholat subuh, Jemaah berbondong bondong menuju ke bangunan disamping masjid hingga antri panjang sampai ke pelataran, untuk berziarah ke makam Raden Fattah dan makam para Sultan Demak lainnya, yang berada di belakang masjid agung Demak. Para peziaran ini datang dari berbagai daerah, beberapa diantara mereka sempat bertegur sapa karena mengira saya salah satu dari rombongan mereka.

Sebagian besar peziarah ini menggunakan bis charteran dan tujuan mereka adalah menziarahi makam para wali yang tersebar di berbagai tempat di tanah jawa. Setiap kelompok ada pemimpin dan pembimbingnya masing masing. Di masing masing bis yang mereka gunakan jelas terpampang tulisan ‘rombongan ziarah wali’.

Sesaat setelah sholat subuh
Masjid Agung Demak menjadi salah satu tujuan wisata ziarah atau keren nya disebut wisata religi, baik karena latar belakang sejarahnya dan terutama karena keberadaan Makam Raden Fattah dan para Sultan Demak yang berada di sisi barat Masjid Agung Demak ini. Begitu penjelasan Mas Syarif salah satu pengurus masjid, yang sempat menemaniku ngobrol sembari menunggu padatnya Jemaah yang mengantri ke komplek makam.

Ziarah ke makam sultan di komplek Masjid Agung ini gratis, terutama bagi para traveler sendirian seperti ku, hanya saja untuk peziarah yang datang dengan rombongan diminta untuk melapor, mengisi buku tamu dan dihimbau untuk berinfak se-ikhlasnya.

Di komplek makam di belakang Masjid Agung Demak ini terdapat dua pendopo terbuka yang cukup besar dibangun berjejer dengan bangunan cungkup Makam Sultan Raden Abdull Fattah dan keluarga. Dua pendopo tersebut penuh sesak oleh peziarah. [foto koleksi Intagram @hendrajailani]


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga