Sabtu, 25 Mei 2019

Masjid Agung Demak

Berdiri megah di sisi barat alun alun Demak, Masjid Agung Demak menjadi saksi sejarah kesultanan pertama di tanah Jawa.

Bis yang membawaku dari Cikarang menurunkanku di alun alun di depan masjid Agung Demak sekitar setengah jam menjelang waktu subuh. Perjalanan satu malam dengan bis antar kota antar provinsi cukup nyaman, bis yang kutumpangi berangkat dari Cikarang ba’da magrib dan hanya satu kali berhenti di rumah makan di Cirebon untuk memberi kesempatan penumpang untuk shlat Isya dan makan malam.

Dari kejauhan saat melintasi alun alun, Masjid Agung tampak sepi, maklum ini masih dinihari atau tepatnya di ujung malam, tapi saat tiba di masjid ternyata pendopo masjid ini penuh sesak dengan Jemaah yang sedang ber istirahat. Ada waktu beberapa menit untuk sekedar mengambil foto masjid lalu menuju ke tempat wudhu untuk bersiap siap sholat subuh. Di dalam masjid tampak lengang karena memang ada larangan tidur di dalam ruang utama masjid.



Menyenangkan ahirnya bisa sampai disini, salah satu masjid yang memang sudah lama ingin ku kunjungi. Masjid Agung Demak dikenal sebagai masjid pertama yang dibangun sebagai masjid kesultanan di tanah Jawa dan di Nusantara, sekaligus juga merupakan masjid pertama di Nusantara yang masih berdiri kokoh hingga kini sesuai dengan aslinya. Meskipun dari sisi usia Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua kedua di pulau Jawa setelah Masjid Soko Tunggal Banyumas.

Nuansa kuno langsung terasa saat melihat masjid ini sejak dari luar hingga ke dalam masjid. Masjid dengan empat sokoguru berdiri kokoh ditengah ruang utama. Mimbar kayu yang antik dinamai sebagai Dampar Kencana hadiah dari Prabu Brawijaya, kini dilindungi dengan kaca, lampu lampu gantung kuno memancarkan sinar yang syahdu. Bangunan masjid agung dengan bangunan serambi dan pawastren-nya masih terawat baik hingga kini sejak pertama kali dibangun oleh Raden Fattah ditahun 1477M.

Serambi masjid, dibagian depan bangunan utama masjid Agung Demak ini menjadi tempat istirahat bagi para peziarah dari berbagai daerah menunggu datangnya pagi.
Setelah sholat subuh, Jemaah berbondong bondong menuju ke bangunan disamping masjid hingga antri panjang sampai ke pelataran, untuk berziarah ke makam Raden Fattah dan makam para Sultan Demak lainnya, yang berada di belakang masjid agung Demak. Para peziaran ini datang dari berbagai daerah, beberapa diantara mereka sempat bertegur sapa karena mengira saya salah satu dari rombongan mereka.

Sebagian besar peziarah ini menggunakan bis charteran dan tujuan mereka adalah menziarahi makam para wali yang tersebar di berbagai tempat di tanah jawa. Setiap kelompok ada pemimpin dan pembimbingnya masing masing. Di masing masing bis yang mereka gunakan jelas terpampang tulisan ‘rombongan ziarah wali’.

Sesaat setelah sholat subuh
Masjid Agung Demak menjadi salah satu tujuan wisata ziarah atau keren nya disebut wisata religi, baik karena latar belakang sejarahnya dan terutama karena keberadaan Makam Raden Fattah dan para Sultan Demak yang berada di sisi barat Masjid Agung Demak ini. Begitu penjelasan Mas Syarif salah satu pengurus masjid, yang sempat menemaniku ngobrol sembari menunggu padatnya Jemaah yang mengantri ke komplek makam.

Ziarah ke makam sultan di komplek Masjid Agung ini gratis, terutama bagi para traveler sendirian seperti ku, hanya saja untuk peziarah yang datang dengan rombongan diminta untuk melapor, mengisi buku tamu dan dihimbau untuk berinfak se-ikhlasnya.

Di komplek makam di belakang Masjid Agung Demak ini terdapat dua pendopo terbuka yang cukup besar dibangun berjejer dengan bangunan cungkup Makam Sultan Raden Abdull Fattah dan keluarga. Dua pendopo tersebut penuh sesak oleh peziarah. [foto koleksi Intagram @hendrajailani]


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

hindari komentar yang berbau SARA