Tampilkan postingan dengan label demak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label demak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Juni 2019

Prasasti Bulus di Masjid Agung Demak

Mihrab Masjid Agung Demak.

Bila anda berkunjung ke Masjid Agung Demak yang berada di sisi sebelah barat alun alun kabupaten Demak anda akan menemukan Prasasti berlambang Bulus atau Penyu atau kura kura yang ditempatkan di dalam ruangan mihrabnya pada dinding kiblat.

Prasasti bulus tersebut merupakan Candara Sengkala Memet yang diartikan Sariro Sunyi Kiblating Gusti, yang maknanya sama dengan tahun 1401 Saka atau bertepatan dengan tahun 1479 Miladiyah.

Prasati tersebut merupakan peringatan purna pugar Masjid Kasultanan pimpinan Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panotogomo, yang menduduki tahta kerajaan Islam Pulau Jawa tahun 1400 Saka atau bertepatan dengan tahun 1478 Miladiyah. Terkait runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala “Simo Ilang Ketaning Bumi”

Bagian luar dinding Mihrab terdapat berbagai jenis hiasan, antara lain berupa kaligrafi ilahiyah tulisan arab uang mengapit Surya Majapahit yang juga terdapat pada bagian sandaran belakang mimbar khutbah (Dampar Kencana) didalam Masjid Agung Demak.

Karena Raden Fattah adalah putra mahkota Prabu Kertabumi / Brawijaya V maka di Masjid terpasang simbol Hasta Brata Surya Majapahit yang mengajarkan delapan sifat kepemimpinan Kasultanan Bintoro Demak.

Dinding luar juga dihiasi porselen hadiah dari Kerajaan Islam Campa, guna mengingatkan adanya peristiwa ghaib (misteri) dinding depan mihrab juga dipasang simbol akar mimang.

Sumber : Dokumentasi Ta’mir Masjid Agung Demak (2004)

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 01 Juni 2019

Manaqib (Sejarah) Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo

Makam Sultan Raden Abdul Fattah di kompleks Masjid Agung Demak.

Raden Abdul Fattah lahir pada tahun 1448M/ 1570 Saka. Raden Abdul Fattah adalah seorang trah bangsawan dari Raja Majapahit putra ke 11 Raden Kertabumi (prabu Brawijaya V). Nama Ibunya Putri Campa (Putri Liang). Nama kecil Raden Fattah adalah Panegeran jimbun dan oleh Adipati Arya Damar / Sapu Talang di Palembang diberi nama baru Raden Hasan.

Pada usia 14 tahun dia berkelana merantau ke pulau jawa dan bertemu serta berguru dengan para wali khusunya Kanjeng Sunan Ampel di Surabaya hingga diberi nama Raden Fattah. Atas petunjuk dan bimbingan para wali, Raden Fattah mendirikan pesantren di wilayah Glagah Wangi Bintoro.

Kemudian bersama santri pilihannya serta masyarakat membangun masjid dilingkungan pesantren tersebut yang menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Agung Demak ditandai Candra Sengkala Nogo Mulat Saliro Wani atau prasasti yang bermakna tahun 1388 saka atau 1466M. Pada saat itu pula Raden Fatah ditunjuk sebagai mubaligh menggantikan Syaikh Maulana Jumadil Kubra yang wafat dan dimakamkan di Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

Manaqib Sultan Raden Abdul Fattah di Masjid Agung Demak.
Prabu Brawijaya ke V dari kerajaan Majapahit yang berkuasa pada saat itu memberi anugrah jabatan kepada Raden Fatah sebagai Adipati dengan gelar Adipati Notoprojo yang berkedudukan di Glagah Wangi Bintoro tahun 1475 M. Pada tahun 1477M dengan ditandai prasasti atau Candra Sengkala Kori Trus Gunaning Janmi Raden Fattah sebagai Adipati Notoprojo menyempurnakan Masjid Glagah Eangi menjadi Masjid Kadipaten Glagah Wangi.

Oleh para wali, Raden Fattah selaku Adipati Notoprojo Glagah Wangi dinilai berhasil membangun pemerintahan dan panutan. Selain cepat menguasai berbagai disiplin ilmu yang diajarkan para wali, Raden Fattah dinilai sebagai seorang satria yang tampan, cerdas, santun, bersahaja, dan halus budi pekertinya sehingga mereka (wali songo) secara bulat mengambil fatwa dan mengangkatnya menduduki ‘tahta Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa’ yang berkedudukan di Bintoro Demak pada tahun 1478 M dengan gelar atau sebutan “Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo”. Tahta kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa ini berjalan tertib, aman dan lancar, serta tidak memunculkan gejolak dan gejolak dari Kerajaan Majapahit.

Pada tahun 1479 M setelah setahun menduduki kerajaan Islam di Pulau Jawa, beliau meresmikan purna pugar Masjid Kasultanan Bintoro yang sekarang disebut Masjid Agung Demak dengan ditandai Candra Sengkala Memet “Saliro Sunyi Kiblating Gustri” yang bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M.

Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo adalah seorang amirul mukminin yang alim, adil dan bijaksana. Beliau memegang tampuk pemerintahan selama 40 tahun (1478-1518 M). Setelah beliau wafat, Kasultanan Demak Bintoro dijabat oleh putra keduanya Raden Pati Unus selama 3 (tiga) tahun, dan oleh adik Pati Unus (putra keempat Raden Fattah) yaitu Raden Trenggono selama 25 tahun (1512-1546).

Peziarah di makam Sultan Raden Abdul Fattah, di sisi barat Masjid Agung Demak.
Kemudian selama 14 tahun Kasultanan Demak Bintoro mengalami kekosongan kepemimpinan, akibat terjadinya perselisihan keluarga dan atas dasar nasehat para wali sembilan guna mengahiri konflik keluarga disarankan agar pusat pemerintahan dipindahkan ke Pajang dibawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya menantu Sultan Trenggono, Beliau memerintah di Pajang tahun 1560m s/d 1582M.

Adapun keturunan Raden Abdul Fatah, adalah:
  • 1.    Ratu Mas Panembahan Banten [istri Syarif Hidayatullah]
  • 2.    Raden Pati Unus [Sultan Demak ke II]
  • 3.    Raden Suromiyoto [Pangeran Sedo Lepen]
  • 4.    Raden Trenggono [Sultan Demak ke III]
  • 5.    Raden Kanduhuruan / Kanduruhan [Adipati Sumenep, Madura]
  • 6.    Raden Pamekas. [Adipati Madiun]. 

Diantara nilai filosofi sistem pemerintahan beliau bersumber dari simbol kerajaan Majapahit yang bernama Surya Majapahit (Delapan prinsip kepemimpinan Raden Fattah) yaitu:
  • 1    Prinsip dasar menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan
  • 2.    Prinsip dasar menghargai sesama
  • 3.    Prinsip dasar menghargai hak orang lain / tidak mendholimi
  • 4.    Prinsip dasar musyawarah dalam semua urusan masyarakat
  • 5.    Prinsip dasardasar peduli umat dan segala kebutuhannya
  • 6.    Prinsip dasar memperhatikan ibadah umat
  • 7.    Prinsip dasar mengangkat harkat dan martabat umat
  • 8.    Prinsip dasar amar ma’ruf nahi munkar.
Demikian manaqib atau sejarah singkat kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panotogomo beserta keluarganya. Semoga Allah memberikan rahmat, taufik serta hidayah Nya kepada beliau, dan kita sebagai generasi penerus dapat melanjutkan dan mempertahankan nilai sejarah yang beliau tinggalkan / wariskan di Demak sebagai kota Wali menjadi pusat keemasan peradaban dan syiar Islam Nusantara.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 26 Mei 2019

Sejarah Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak merupakan masjid kesultanan pertama di Indonesia dan bangunan masjidnya masih berdiri hingga hari ini dalam bentuk aslinya sejak pertama kali dibangun.

Raden Fatah membangun Masjid Agung Demak di tahun 1401 Saka atau 1477 Miladiyah, atau dua tahun setelah beliau mendirikan Kesultanan Demak dengan bantuan dari para wali di tahun 1475M, beliau bergelar Senapati Jumbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Munculnya nama Palembang dalam gelar beliau karena beliau memang lahir dan besar di Palembang (Sumatera Selatan) dari Ibu nya yang berasal dari campa.

Sebelumnya Demak merupakan bagian dari wilayah kesatuan kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Prabu Brawijaya (Prabu Brawijaya V Pangeran Kertabhumi). Sebagai putra raja Majapahit, Raden Fatah memang dibentangkan karpet merah ke wilayah kekuasaan. Sebelum menjadi Sultan Demak beliau telah dianugerahi jabatan oleh ayahandanya Prabu Brawijaya sebagai Adipati Natapraja di Glagahwangi Bintoro Demak di tahun 1475 M.


Beliau juga menerima hadiah 8 pilar berukir dari ayahnya yang dikemudian hari digunakan sebagai pilar penopang di serambi Masjid Agung Demak dimasa pemerintahan Adipati Yunus (Pati Unus). Pilar pilar tersebut masih dapat kita lihat keberadaannya hingga kini dan disebut dengan pilar Majapahit.

Tak pelak, berdirinya Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam dan melepaskan diri dari pengaruh Majapahit mengundang kemarahan pihak keraton Majapahit yang kemudian mengirimkan pasukan untuk menyerang Demak. Namun serangan itu dapat dipatahkan oleh pasukan Demak. Disebutkan bahwa salah satu dari pimpinan pasukan Majapahit bernama Raden Sepat bahkan kemudian mengikrarkan ke-Islaman nya dan bergabung dengan kesultanan Demak.

Pelataran Masjid Agung Demak.
Raden Sepat yang kemudian terlibat langsung dalam proses merancang Masjid Agung Demak dengan, kemungkinan besar beliau merupakan bagian dari pasukan zeni tempur Majapahit sehingga memiliki kemampuan arsitektur yang cukup memadai.

Tidak dapat dipungkiri bahwa warisan seni arsitektur Majapahit sangat kental dalam rancang bangun Masjid Agung Demak ini, dengan menerapkan bentuk bangunan aula luas beratap limasan bertingkat sebagaimana lazimnya sebuah bangunan besar di era Majapahit.

Empat sokoguru dari kayu jati yang menopang atap masjid ini menjadi fitur utama di dalam masjid Agung Demak ini. Selain itu masih ada benda bersejarah Dampar Kencana (mimbar khutbah), prasasti bulus di ruang mihrab dan fitur fitur sejarah lainnya masih terawat di masjid tertua ini.
Masjid Agung Demak dibangun dibangun di lokasi bangunan pondok pesantren Glagahwangi, tempat Raden Fatah menimba ilmu agama dibawah asuhan Sunan Ampel. Wajar bila kemudian para wali mendukung penuh berdirinya kesultanan Demak. Pesantren Glagahwangi didirikan oleh Sunan Ampel ditahun 1466 Miladiyah, sekaligus berfungsi sebagai Masjid.

Pembangunan Masjid Agung Demak tersebut kemudian diabadikan dalam sebuah prasasti yang ditempatkan di dalam ruang mihrab dan dikenal sebagai Condro Sengkolo Memet. Sebuah prasasti berbentuk bulus (kura kura) yang berarti “Sariro Sunyi Kiblating Gusti”.

Ada tangga akses menuju lantai atap. meskipun begitu tak semua pengunjung dizinkan kesana.
Gambar bulus terdiri dari ; satu kepala yang berarti angka satu, empat kaki berarti angka empat, badan bulus yang bulat berarti angka nol, satu ekor bulus berarti angka satu, yang bermakna tahun 1401 Saka yang kemudian disepakati tahun tersebut bertepatan dengan tahun 1477 Miladiyah.

Berdirinya Kesultanan Demak ini dikemudian hari diikuti dengan berdirinya kesultanan Cirebon yang selanjutnya diikuti dengan berdirinya Kesultanan Banten dan berbagai Kesultanan lainnya di wilayah Nusantara.

Pada masanya, kolam ini menjadi tempat wudhu bagi jemaah masjid ini. kini kolam ini tidak dipakai lagi untuk wudhu meski keberadaannya masih terawat baik.
Disebutkan bahwa Raden Sepat yang mengarsiteki pembangunan masjid Agung Demak juga terlibat dalam proses rancangan Masjid Agung Sang Ciptarasa di Kesultanan Cirebon dan Masjid Agung Banten di Kesultanan Banten.

Sehingga anda akan dengan mudah menemukan kemiripan diantara tiga masjid tersebut. Bahkan beberapa penulis tak segan menyebut ketiga masjid tersebut sebagai tiga masjid kembar. Beberapa menyebutkan masjid Agung Demak sebagai kembaran Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------


Baca Juga

 

Sabtu, 25 Mei 2019

Masjid Agung Demak

Berdiri megah di sisi barat alun alun Demak, Masjid Agung Demak menjadi saksi sejarah kesultanan pertama di tanah Jawa.

Bis yang membawaku dari Cikarang menurunkanku di alun alun di depan masjid Agung Demak sekitar setengah jam menjelang waktu subuh. Perjalanan satu malam dengan bis antar kota antar provinsi cukup nyaman, bis yang kutumpangi berangkat dari Cikarang ba’da magrib dan hanya satu kali berhenti di rumah makan di Cirebon untuk memberi kesempatan penumpang untuk shlat Isya dan makan malam.

Dari kejauhan saat melintasi alun alun, Masjid Agung tampak sepi, maklum ini masih dinihari atau tepatnya di ujung malam, tapi saat tiba di masjid ternyata pendopo masjid ini penuh sesak dengan Jemaah yang sedang ber istirahat. Ada waktu beberapa menit untuk sekedar mengambil foto masjid lalu menuju ke tempat wudhu untuk bersiap siap sholat subuh. Di dalam masjid tampak lengang karena memang ada larangan tidur di dalam ruang utama masjid.



Menyenangkan ahirnya bisa sampai disini, salah satu masjid yang memang sudah lama ingin ku kunjungi. Masjid Agung Demak dikenal sebagai masjid pertama yang dibangun sebagai masjid kesultanan di tanah Jawa dan di Nusantara, sekaligus juga merupakan masjid pertama di Nusantara yang masih berdiri kokoh hingga kini sesuai dengan aslinya. Meskipun dari sisi usia Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua kedua di pulau Jawa setelah Masjid Soko Tunggal Banyumas.

Nuansa kuno langsung terasa saat melihat masjid ini sejak dari luar hingga ke dalam masjid. Masjid dengan empat sokoguru berdiri kokoh ditengah ruang utama. Mimbar kayu yang antik dinamai sebagai Dampar Kencana hadiah dari Prabu Brawijaya, kini dilindungi dengan kaca, lampu lampu gantung kuno memancarkan sinar yang syahdu. Bangunan masjid agung dengan bangunan serambi dan pawastren-nya masih terawat baik hingga kini sejak pertama kali dibangun oleh Raden Fattah ditahun 1477M.

Serambi masjid, dibagian depan bangunan utama masjid Agung Demak ini menjadi tempat istirahat bagi para peziarah dari berbagai daerah menunggu datangnya pagi.
Setelah sholat subuh, Jemaah berbondong bondong menuju ke bangunan disamping masjid hingga antri panjang sampai ke pelataran, untuk berziarah ke makam Raden Fattah dan makam para Sultan Demak lainnya, yang berada di belakang masjid agung Demak. Para peziaran ini datang dari berbagai daerah, beberapa diantara mereka sempat bertegur sapa karena mengira saya salah satu dari rombongan mereka.

Sebagian besar peziarah ini menggunakan bis charteran dan tujuan mereka adalah menziarahi makam para wali yang tersebar di berbagai tempat di tanah jawa. Setiap kelompok ada pemimpin dan pembimbingnya masing masing. Di masing masing bis yang mereka gunakan jelas terpampang tulisan ‘rombongan ziarah wali’.

Sesaat setelah sholat subuh
Masjid Agung Demak menjadi salah satu tujuan wisata ziarah atau keren nya disebut wisata religi, baik karena latar belakang sejarahnya dan terutama karena keberadaan Makam Raden Fattah dan para Sultan Demak yang berada di sisi barat Masjid Agung Demak ini. Begitu penjelasan Mas Syarif salah satu pengurus masjid, yang sempat menemaniku ngobrol sembari menunggu padatnya Jemaah yang mengantri ke komplek makam.

Ziarah ke makam sultan di komplek Masjid Agung ini gratis, terutama bagi para traveler sendirian seperti ku, hanya saja untuk peziarah yang datang dengan rombongan diminta untuk melapor, mengisi buku tamu dan dihimbau untuk berinfak se-ikhlasnya.

Di komplek makam di belakang Masjid Agung Demak ini terdapat dua pendopo terbuka yang cukup besar dibangun berjejer dengan bangunan cungkup Makam Sultan Raden Abdull Fattah dan keluarga. Dua pendopo tersebut penuh sesak oleh peziarah. [foto koleksi Intagram @hendrajailani]


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga