Tampilkan postingan dengan label masjid kesultanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masjid kesultanan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Januari 2020

Masjid Al- Zawawi Muscat, Oman

Masjid Al-Zawawi, Muscat, Oman.

Masjid Al-Zawawi adalah masjid megah yang berada di pusat kota Muscat, Ibukota Kesultanan Oman. Masjid ini berdiri diantara jejeran gedung gedung perhotelan, perkantoran dan berseberangan dengan jejeran kantor kantor kementrian Kesultanan Oman di pusat kota Muscat. Arsitekturnya begitu menarik dan mendominasi landscape kawasan sekitarnya dengan bentuknya yang berbeda sendiri dengan bangunan lainnya.

Sejarah Masjid Al-Zawawi

Sebagaimana tertulis di papan nama di depan masjid dan ditulis juga di plakat pembangunan masjid yang dipasang di dinding bagian barat, nama masjid ini sebenarnya adalah Masjid Abdul Mun’im bin Yusuf bin Ahmad Zawawi, dari keluarga Al-Zawawi. Namun lebih dikenal sebagai Masjid Al-Zawawi merujuk kepada nama keluarga pembangunan-nya.


Masjid Al-Zawawi memang dibangun oleh keluarga Zawawi, salah satu keluarga terpandang di Oman pada tahun 1405 Hijriah bertepatan dengan tahun 1985 Miliadiah. Pembangunan masjid ini oleh keluarga Zawawi untuk mengingat mendiang orang tua mereka – Abdul Mun’im bin Yusuf bin Ahmad Zawawi yang namanya diabadikan sebagai nama masjid ini.

Arsitektur Masjid Al-Zawawi

Dibangun begitu apik dengan gaya arsitektur menawan. Dilengkapi dengan satu kubah dan satu menara yang menyatu dengan bangunan utama di sisi kiblat. Bangunan utamanya ditinggikan dari permukaan tanah sekitarnya sehingga untuk mencapai ruang sholat dibangun jejeran tangga besar di tiga sisi bangunan masjid kecuali di sisi kiblat, tempat mihrab dan menara.

Arsitektur Masjid Al-Zawawi, Muscat, Oman.
Bila dilihat dari udara, tampak denah masjid ini dibangun simetris oleh perancangnya dengan denah hurup T terbalik. Sisi depan, sisi kiri dan kanan dibangun taman lengkap dengan bangunan pancuran air berkubah di sisi kiri dan kanan. Sedangkan disisi bagian belakangnya ditempatkan satu bangunan beratap dengan dinding terbuka, bangunan pendukung termasuk area berwudhu untuk Jemaah.

Bangunan utama masjid inipun dibangun simetris. Tida sisinya (utara, selatan dan sisi timur) dilengkapi dengan beranda dan tangga besar. Pintu utamanya di sisi timur, tangga dibagian ini ditutup dengan karpet warna hijau. Masing masing beranda ditopang dengan jejeran pilar pilar batu berprofil.

Ada ruang terbuka cukup lapang dibawah bangunan pendukung dibelakang masjid Al-Zawawi ditempat ini jemaah yang datang kesini dapat melakukan sholat dan istirahat, diluar warktu sholat berjamaah.
Dibagian fasad beranda bagian atas diukir dengan apik kaligrafi al-qur’an surah Al-Mu’minun ayat 1 dan 2 ; ”Bismillahirrohmaanirrohiim, allażīna hum fī ṣalātihim khāsyi’ụn, wallażīna hum ‘anil-lagwi mu’riḍụn’ yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”.

Masjid Zawawi hanya dibuka pada waktu waktu sholat, diluar waktu sholat masjid ini terkunci. Namun Jemaah masih dapat melakukan sholat di semacam bangunan pendopo berdinding terbuka dibagian belakang masjid. Berbeda dengan ruangan dalam masjid yang di alas dengan karpet tebal, area pendopo terbuka di belakang masjid ini di alas dengan tikar yang terbuat (sepertinya) dari daun kurma yang di potong dan dirajut menjadi tikar. Di area ini tampak beberapa orang yang sedang istirahat hingga tiduran.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 10 Agustus 2019

Masjid Sultan Singapura

Masjid Sultan Singapura, atau seringkali disebut Masjid Sultan saja merupakan masjid nasional Singapura sekaligus sebagai masjid bersejarah dengan status cagar budaya.

Masjid Sultan Singapura menjadi satu satunya masjid yang (masih) dizinkan mengumandangkan azan keluar masjid melalui pengeras suara di menaranya. Keisitimewaan itu hanya diberikan kepada masjid Sultan dan tidak bagi sekitar 67 masjid lainnya yang ada di negara Singapura.

Kami memang belum berkesempatan mendengar langsung kumandang azan dari masjid ini namun anda bisa menemukan beberapa rekamannya di situs youtube. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, begitu kata pepatah melayu. Singapura punya aturan sendiri untuk urusan azan teramat berbeda dengan di Indonesia tentunya.

Masjid Sultan
3 Muscat St, Singapura 198833



“Bukan bermaksud untuk endorse atau untuk promosi, dari bagian manapun di Singapura, menggunakan taksi online adalah cara kami yang paling mudah untuk menuju ke masjid ini. Dan bagusnya memesan taksi online disana gak pakai lama, kecuali di jam jam sibuk, samma saja dengan disini :)”

Namun demikian suasana yang tak jauh berbeda dengan di Indonesia kami temukan di masjid ini saat sholat idul adha tahun 2018 yang lalu. Muslim dari berbagai penjuru berkumpul di masjid ini sejak pagi buta. Jemaah wanita seluruhnya tidak sholat di dalam ruang utama masjid namun di bangunan disebelahnya dan meluber hingga ke jalan raya, begitupun dengan jemaah pria.

Terasa betul penataan dan pengaturannya yang teramat rapi dan cermat. Masjid menugaskan beberapa pengurusnya untuk mengatur shaf jamaah sedemikian rupa sejak sebelum sholat dimulai. Dua orang diantaranya berdiri di beranda masjid mengatur jemaah yang masuk ke dalam masjid dan menyetop jemaah yang akan masuk pada saat bagian dalam masjid sudah penuh.

Sentuhan arsitektur Mughal dan Melayu sangat kental di bangunan Masjid Sultan Singapura ini.

Beruntung menjelang sholat dimulai dua petugas ini bersegera memanggil kami masuk ke dalam ruang utama karena pada saat jemaah mulai berdiri dan menyusun shaf, akan ada ruang kosong diantara mereka, dan imamnya pun tidak serta merta memulai sholat, ada jeda waktu yang cukup untuk mengatur shaf jemaah.

Khutbah idul adha disampaikan dalam bahasa melayu dan bahasa melayu masyarakat Singapura lebih memiliki kemiripan dengan bahasa Indonesia baik kosa kata maupun dialek yang tak terlalu kental, dan rasanya tak terlalu banyak kata dan kalimat yang sulit difahami bagi mereka yang tak terbiasa berbahasa melayu sekalipun.

Dari arah Kandahar Street.

Ada layar tivi yang dipasang berjejer di tiap tiang masjid menyiarkan langsung khatib yang sedang khutbah lengkap dengan translasi dalam bahasa Inggris. Dan ada tradisi yang cukup menarik, selama khatib menyampaikan khutbahnya ada anak anak usia belia yang membawa kantung kain berkeliling di dalam hingga keluar masjid mengambil sedekah jariah langsung dari jemaah. Tradisi ini bila saya tak salah ingat serupa dengan tradisi di masjid Agung Palembang.

Singapura terdiri dari berbagai etnis dan bangsa, dan itu benar benar terasa pada saat sholat di masjid ini. Meski berada di tanah melayu tidak semua jemaahnya berbusana khas melayu pada saat sholat hari raya, jemaah yang heterogen dari berbagai etnis dan bangsa menhadirkan suasana berbeda dibandingkan dengan sholat hari raya di kampung sendiri.

Pada awalnya masjid Sultan Singapura dibangun dalam bentuk yang serupa dengan masjid Agung Demak, Sebelum kemudian di bagun ulang dengan bentuknya saat ini di tahun 1924.

“Dalam sejarahnya muslim Indonesia yang tinggal (berdagang) di Singapura pada masa itu turut serta membangun masjid Sultan Singapura lho, baik menyumbang tenaga maupun dana”

Berdasarkan catatan sejarah, masjid Sultan Singapura pertama kali dibangun pada tahun 1824 oleh Sultan Husaain, bersebelahan dengan istana sang sultan, dan selesai dua tahun setelahnya. Dana pembangunannya berasal dari sumbangan East India Company, donasi jemaah, serta dari pihak istana sendiri.

Semula bangunan masjid dibangun berbentuk masjid tradisional Nusantara dengan atap limasan bersusun tiga. Bentuk tersebut hampir mirip dengan Masjid Agung Demak yang masih bisa kita jumpai hingga sekarang. Maklum, struktur awal masjid memang digarap oleh masyarakat Jawa, Melayu dan Bugis yang menetap di Singapura untuk berdagang. Kawasan Kampong Glam ini semula memang kawasan permukiman awal beberapa etnik masyarakat Indonesia.

Masjid Sultan beserta Kampung Glam telah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling menarik di Singapura. tak heran bila tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung dari berbagai negara.

Dalam perkembangannya, Masjid Sultan kemudian direnovasi pada tahun 1924, bertepatan dengan 100 tahun berdirinya masjid tersebut. Selain dilakukan perluasan area untuk menambah daya tampung, bentuk dan arsitektur masjid juga mengalami perubahan. Setelah empat tahun pembangunan, berdirilah masjid seperti yang ada sekarang. Bergaya Gothik Mughal lengkap dengan menaranya.

Hal yang unik dari pembangunan masjid ini adalah ornamen kubah bewarna hijau di masjid ini dibuat dari ribuan botol kaca hasil sumbangan dari berbagai lapisan masyarakat muslim Singapura saat itu. Setelah pembangunan tahun 1924 itu masjid Sultan mampu menampung hingga 5.000 jemaah.

Di hari raya Idul Adha, seperti hal nya di Indonesia, Masjid Sultan Singapura juga menyelenggarakan penyembelihan hewan qurban, hanya saja dalam pelaksanaannya sedikit berbeda dengan di Indonesia, penyembelihan hewan Qurban di masjid ini dilaksanakan di area tertutup dan tidak semua orang boleh masuk dan melihat proses nya meskipun dilakukan masih di halaman samping masjid.

Ada banyak kedai makanan halal disekitar masjid Sultan ini.

Setelah penyembelihan hewan qurban dilanjutkan dengan acara silaturrahim bersama dan santab siang di gedung disamping masjid. Dari pagi hari tampak sebagian pengurusnya sibuk mempersiapkan segala sesuatunya termasuk memasak makanan kuliner khas idul adha di samping masjid.

“Tips kecil untuk ada; bila sedang berkunjung ke toko toko dan kedai disekitar masjid Sultan, sebaiknya bawa uang tunai yang cukup, karena pedagang disini tidak satupun yang menyediakan mesin EDP untuk memproses transaksi dengan kartu debit ataupun kartu kredit, alias hanya terima pembayaran tunai”

Hal lain yang unik dari masjid ini adalah penerapan sistem manajemen ISO 9001:2015 untuk tata laksana (manajemen masjid), dan Masjid Sultan Singapura ini sudah bersertifikasi ISO 9001;2015 lho. Kini masjid Singapura yang merupakan masjid tertua di Singapura, dikelola oleh pengurus masjid dengan perhatian penuh dari negara, maklum masjid Sultan dan kawasan sekitarnya merupakan kawasan cagar budaya nasional Singapura.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Sabtu, 01 Juni 2019

Manaqib (Sejarah) Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo

Makam Sultan Raden Abdul Fattah di kompleks Masjid Agung Demak.

Raden Abdul Fattah lahir pada tahun 1448M/ 1570 Saka. Raden Abdul Fattah adalah seorang trah bangsawan dari Raja Majapahit putra ke 11 Raden Kertabumi (prabu Brawijaya V). Nama Ibunya Putri Campa (Putri Liang). Nama kecil Raden Fattah adalah Panegeran jimbun dan oleh Adipati Arya Damar / Sapu Talang di Palembang diberi nama baru Raden Hasan.

Pada usia 14 tahun dia berkelana merantau ke pulau jawa dan bertemu serta berguru dengan para wali khusunya Kanjeng Sunan Ampel di Surabaya hingga diberi nama Raden Fattah. Atas petunjuk dan bimbingan para wali, Raden Fattah mendirikan pesantren di wilayah Glagah Wangi Bintoro.

Kemudian bersama santri pilihannya serta masyarakat membangun masjid dilingkungan pesantren tersebut yang menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Agung Demak ditandai Candra Sengkala Nogo Mulat Saliro Wani atau prasasti yang bermakna tahun 1388 saka atau 1466M. Pada saat itu pula Raden Fatah ditunjuk sebagai mubaligh menggantikan Syaikh Maulana Jumadil Kubra yang wafat dan dimakamkan di Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

Manaqib Sultan Raden Abdul Fattah di Masjid Agung Demak.
Prabu Brawijaya ke V dari kerajaan Majapahit yang berkuasa pada saat itu memberi anugrah jabatan kepada Raden Fatah sebagai Adipati dengan gelar Adipati Notoprojo yang berkedudukan di Glagah Wangi Bintoro tahun 1475 M. Pada tahun 1477M dengan ditandai prasasti atau Candra Sengkala Kori Trus Gunaning Janmi Raden Fattah sebagai Adipati Notoprojo menyempurnakan Masjid Glagah Eangi menjadi Masjid Kadipaten Glagah Wangi.

Oleh para wali, Raden Fattah selaku Adipati Notoprojo Glagah Wangi dinilai berhasil membangun pemerintahan dan panutan. Selain cepat menguasai berbagai disiplin ilmu yang diajarkan para wali, Raden Fattah dinilai sebagai seorang satria yang tampan, cerdas, santun, bersahaja, dan halus budi pekertinya sehingga mereka (wali songo) secara bulat mengambil fatwa dan mengangkatnya menduduki ‘tahta Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa’ yang berkedudukan di Bintoro Demak pada tahun 1478 M dengan gelar atau sebutan “Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo”. Tahta kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa ini berjalan tertib, aman dan lancar, serta tidak memunculkan gejolak dan gejolak dari Kerajaan Majapahit.

Pada tahun 1479 M setelah setahun menduduki kerajaan Islam di Pulau Jawa, beliau meresmikan purna pugar Masjid Kasultanan Bintoro yang sekarang disebut Masjid Agung Demak dengan ditandai Candra Sengkala Memet “Saliro Sunyi Kiblating Gustri” yang bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M.

Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo adalah seorang amirul mukminin yang alim, adil dan bijaksana. Beliau memegang tampuk pemerintahan selama 40 tahun (1478-1518 M). Setelah beliau wafat, Kasultanan Demak Bintoro dijabat oleh putra keduanya Raden Pati Unus selama 3 (tiga) tahun, dan oleh adik Pati Unus (putra keempat Raden Fattah) yaitu Raden Trenggono selama 25 tahun (1512-1546).

Peziarah di makam Sultan Raden Abdul Fattah, di sisi barat Masjid Agung Demak.
Kemudian selama 14 tahun Kasultanan Demak Bintoro mengalami kekosongan kepemimpinan, akibat terjadinya perselisihan keluarga dan atas dasar nasehat para wali sembilan guna mengahiri konflik keluarga disarankan agar pusat pemerintahan dipindahkan ke Pajang dibawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya menantu Sultan Trenggono, Beliau memerintah di Pajang tahun 1560m s/d 1582M.

Adapun keturunan Raden Abdul Fatah, adalah:
  • 1.    Ratu Mas Panembahan Banten [istri Syarif Hidayatullah]
  • 2.    Raden Pati Unus [Sultan Demak ke II]
  • 3.    Raden Suromiyoto [Pangeran Sedo Lepen]
  • 4.    Raden Trenggono [Sultan Demak ke III]
  • 5.    Raden Kanduhuruan / Kanduruhan [Adipati Sumenep, Madura]
  • 6.    Raden Pamekas. [Adipati Madiun]. 

Diantara nilai filosofi sistem pemerintahan beliau bersumber dari simbol kerajaan Majapahit yang bernama Surya Majapahit (Delapan prinsip kepemimpinan Raden Fattah) yaitu:
  • 1    Prinsip dasar menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan
  • 2.    Prinsip dasar menghargai sesama
  • 3.    Prinsip dasar menghargai hak orang lain / tidak mendholimi
  • 4.    Prinsip dasar musyawarah dalam semua urusan masyarakat
  • 5.    Prinsip dasardasar peduli umat dan segala kebutuhannya
  • 6.    Prinsip dasar memperhatikan ibadah umat
  • 7.    Prinsip dasar mengangkat harkat dan martabat umat
  • 8.    Prinsip dasar amar ma’ruf nahi munkar.
Demikian manaqib atau sejarah singkat kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panotogomo beserta keluarganya. Semoga Allah memberikan rahmat, taufik serta hidayah Nya kepada beliau, dan kita sebagai generasi penerus dapat melanjutkan dan mempertahankan nilai sejarah yang beliau tinggalkan / wariskan di Demak sebagai kota Wali menjadi pusat keemasan peradaban dan syiar Islam Nusantara.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 26 Mei 2019

Sejarah Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak merupakan masjid kesultanan pertama di Indonesia dan bangunan masjidnya masih berdiri hingga hari ini dalam bentuk aslinya sejak pertama kali dibangun.

Raden Fatah membangun Masjid Agung Demak di tahun 1401 Saka atau 1477 Miladiyah, atau dua tahun setelah beliau mendirikan Kesultanan Demak dengan bantuan dari para wali di tahun 1475M, beliau bergelar Senapati Jumbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Munculnya nama Palembang dalam gelar beliau karena beliau memang lahir dan besar di Palembang (Sumatera Selatan) dari Ibu nya yang berasal dari campa.

Sebelumnya Demak merupakan bagian dari wilayah kesatuan kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Prabu Brawijaya (Prabu Brawijaya V Pangeran Kertabhumi). Sebagai putra raja Majapahit, Raden Fatah memang dibentangkan karpet merah ke wilayah kekuasaan. Sebelum menjadi Sultan Demak beliau telah dianugerahi jabatan oleh ayahandanya Prabu Brawijaya sebagai Adipati Natapraja di Glagahwangi Bintoro Demak di tahun 1475 M.


Beliau juga menerima hadiah 8 pilar berukir dari ayahnya yang dikemudian hari digunakan sebagai pilar penopang di serambi Masjid Agung Demak dimasa pemerintahan Adipati Yunus (Pati Unus). Pilar pilar tersebut masih dapat kita lihat keberadaannya hingga kini dan disebut dengan pilar Majapahit.

Tak pelak, berdirinya Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam dan melepaskan diri dari pengaruh Majapahit mengundang kemarahan pihak keraton Majapahit yang kemudian mengirimkan pasukan untuk menyerang Demak. Namun serangan itu dapat dipatahkan oleh pasukan Demak. Disebutkan bahwa salah satu dari pimpinan pasukan Majapahit bernama Raden Sepat bahkan kemudian mengikrarkan ke-Islaman nya dan bergabung dengan kesultanan Demak.

Pelataran Masjid Agung Demak.
Raden Sepat yang kemudian terlibat langsung dalam proses merancang Masjid Agung Demak dengan, kemungkinan besar beliau merupakan bagian dari pasukan zeni tempur Majapahit sehingga memiliki kemampuan arsitektur yang cukup memadai.

Tidak dapat dipungkiri bahwa warisan seni arsitektur Majapahit sangat kental dalam rancang bangun Masjid Agung Demak ini, dengan menerapkan bentuk bangunan aula luas beratap limasan bertingkat sebagaimana lazimnya sebuah bangunan besar di era Majapahit.

Empat sokoguru dari kayu jati yang menopang atap masjid ini menjadi fitur utama di dalam masjid Agung Demak ini. Selain itu masih ada benda bersejarah Dampar Kencana (mimbar khutbah), prasasti bulus di ruang mihrab dan fitur fitur sejarah lainnya masih terawat di masjid tertua ini.
Masjid Agung Demak dibangun dibangun di lokasi bangunan pondok pesantren Glagahwangi, tempat Raden Fatah menimba ilmu agama dibawah asuhan Sunan Ampel. Wajar bila kemudian para wali mendukung penuh berdirinya kesultanan Demak. Pesantren Glagahwangi didirikan oleh Sunan Ampel ditahun 1466 Miladiyah, sekaligus berfungsi sebagai Masjid.

Pembangunan Masjid Agung Demak tersebut kemudian diabadikan dalam sebuah prasasti yang ditempatkan di dalam ruang mihrab dan dikenal sebagai Condro Sengkolo Memet. Sebuah prasasti berbentuk bulus (kura kura) yang berarti “Sariro Sunyi Kiblating Gusti”.

Ada tangga akses menuju lantai atap. meskipun begitu tak semua pengunjung dizinkan kesana.
Gambar bulus terdiri dari ; satu kepala yang berarti angka satu, empat kaki berarti angka empat, badan bulus yang bulat berarti angka nol, satu ekor bulus berarti angka satu, yang bermakna tahun 1401 Saka yang kemudian disepakati tahun tersebut bertepatan dengan tahun 1477 Miladiyah.

Berdirinya Kesultanan Demak ini dikemudian hari diikuti dengan berdirinya kesultanan Cirebon yang selanjutnya diikuti dengan berdirinya Kesultanan Banten dan berbagai Kesultanan lainnya di wilayah Nusantara.

Pada masanya, kolam ini menjadi tempat wudhu bagi jemaah masjid ini. kini kolam ini tidak dipakai lagi untuk wudhu meski keberadaannya masih terawat baik.
Disebutkan bahwa Raden Sepat yang mengarsiteki pembangunan masjid Agung Demak juga terlibat dalam proses rancangan Masjid Agung Sang Ciptarasa di Kesultanan Cirebon dan Masjid Agung Banten di Kesultanan Banten.

Sehingga anda akan dengan mudah menemukan kemiripan diantara tiga masjid tersebut. Bahkan beberapa penulis tak segan menyebut ketiga masjid tersebut sebagai tiga masjid kembar. Beberapa menyebutkan masjid Agung Demak sebagai kembaran Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------


Baca Juga

 

Sabtu, 25 Mei 2019

Masjid Agung Demak

Berdiri megah di sisi barat alun alun Demak, Masjid Agung Demak menjadi saksi sejarah kesultanan pertama di tanah Jawa.

Bis yang membawaku dari Cikarang menurunkanku di alun alun di depan masjid Agung Demak sekitar setengah jam menjelang waktu subuh. Perjalanan satu malam dengan bis antar kota antar provinsi cukup nyaman, bis yang kutumpangi berangkat dari Cikarang ba’da magrib dan hanya satu kali berhenti di rumah makan di Cirebon untuk memberi kesempatan penumpang untuk shlat Isya dan makan malam.

Dari kejauhan saat melintasi alun alun, Masjid Agung tampak sepi, maklum ini masih dinihari atau tepatnya di ujung malam, tapi saat tiba di masjid ternyata pendopo masjid ini penuh sesak dengan Jemaah yang sedang ber istirahat. Ada waktu beberapa menit untuk sekedar mengambil foto masjid lalu menuju ke tempat wudhu untuk bersiap siap sholat subuh. Di dalam masjid tampak lengang karena memang ada larangan tidur di dalam ruang utama masjid.



Menyenangkan ahirnya bisa sampai disini, salah satu masjid yang memang sudah lama ingin ku kunjungi. Masjid Agung Demak dikenal sebagai masjid pertama yang dibangun sebagai masjid kesultanan di tanah Jawa dan di Nusantara, sekaligus juga merupakan masjid pertama di Nusantara yang masih berdiri kokoh hingga kini sesuai dengan aslinya. Meskipun dari sisi usia Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua kedua di pulau Jawa setelah Masjid Soko Tunggal Banyumas.

Nuansa kuno langsung terasa saat melihat masjid ini sejak dari luar hingga ke dalam masjid. Masjid dengan empat sokoguru berdiri kokoh ditengah ruang utama. Mimbar kayu yang antik dinamai sebagai Dampar Kencana hadiah dari Prabu Brawijaya, kini dilindungi dengan kaca, lampu lampu gantung kuno memancarkan sinar yang syahdu. Bangunan masjid agung dengan bangunan serambi dan pawastren-nya masih terawat baik hingga kini sejak pertama kali dibangun oleh Raden Fattah ditahun 1477M.

Serambi masjid, dibagian depan bangunan utama masjid Agung Demak ini menjadi tempat istirahat bagi para peziarah dari berbagai daerah menunggu datangnya pagi.
Setelah sholat subuh, Jemaah berbondong bondong menuju ke bangunan disamping masjid hingga antri panjang sampai ke pelataran, untuk berziarah ke makam Raden Fattah dan makam para Sultan Demak lainnya, yang berada di belakang masjid agung Demak. Para peziaran ini datang dari berbagai daerah, beberapa diantara mereka sempat bertegur sapa karena mengira saya salah satu dari rombongan mereka.

Sebagian besar peziarah ini menggunakan bis charteran dan tujuan mereka adalah menziarahi makam para wali yang tersebar di berbagai tempat di tanah jawa. Setiap kelompok ada pemimpin dan pembimbingnya masing masing. Di masing masing bis yang mereka gunakan jelas terpampang tulisan ‘rombongan ziarah wali’.

Sesaat setelah sholat subuh
Masjid Agung Demak menjadi salah satu tujuan wisata ziarah atau keren nya disebut wisata religi, baik karena latar belakang sejarahnya dan terutama karena keberadaan Makam Raden Fattah dan para Sultan Demak yang berada di sisi barat Masjid Agung Demak ini. Begitu penjelasan Mas Syarif salah satu pengurus masjid, yang sempat menemaniku ngobrol sembari menunggu padatnya Jemaah yang mengantri ke komplek makam.

Ziarah ke makam sultan di komplek Masjid Agung ini gratis, terutama bagi para traveler sendirian seperti ku, hanya saja untuk peziarah yang datang dengan rombongan diminta untuk melapor, mengisi buku tamu dan dihimbau untuk berinfak se-ikhlasnya.

Di komplek makam di belakang Masjid Agung Demak ini terdapat dua pendopo terbuka yang cukup besar dibangun berjejer dengan bangunan cungkup Makam Sultan Raden Abdull Fattah dan keluarga. Dua pendopo tersebut penuh sesak oleh peziarah. [foto koleksi Intagram @hendrajailani]


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga