Tampilkan postingan dengan label masjid di saudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masjid di saudi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Februari 2020

Masjid As Syajaroh Mekah

Masjid As-Syajaroh, Ma'la, Al-Hujun, Mekah Al-Mukarromah.

Masjid As Syajaroh adalah salah satu masjid tua dan bersejarah di kota Mekah Al-Mukarromah. Lokasi masjid ini berseberangan dengan Masjid Jin di perkampungan Ma’la, kawasan Al-Hujun, kota Mekah. Lokasi masjid ini sangat dekat dengan pamakaman muslim Ma’la. Masjid mungil ini berdekatan dengan Masjid Jin meski ukurannya jauh lebih kecil. Masjid ini terawat dengan baik lengkap dengan segala fasilitas penunjangnya dan telah diperbaharui oleh pemerintah Arab Saudi di tahun 1421H bersamaan dengan Masjid Jin.

Secara harfiah Syajarah berarti pohon. Disebut demikian karena masjid ini dibangun di bekas tempat sebuah pohon yang menjadi salah satu mu’jizat Nabi Muhammad S.A.W. berbagai riwayat menyebutkan bahwa Rosulullah memanggil pohon tersebut untuk datang kehadapan Beliau. Dengan izin Allah, pohon tersebutpun berjalan menghampiri Rosulullah dan kemudian kembali lagi ke tempatnya semula mengikuti perintah Rosulullah.

Masjid e Shajar
Al Hujun, Mecca 24231, Saudi Arabia


Ada beberapa hadist yang menerangkan tentang mukjizat Rosulullah yang mampu memanggil pohon, salah satunya dari jalur Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Hakim.

dia berkata, "Kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan, lalu ada seorang badui menuju kepadanya. Ketika sudah dekat Beliau bertanya kepadnya, "Hendak kemanakah kamu?" Dia menjawab, "Hendak ke keluargaku." Beliau bertanya: "Apakah hendak menuju kepada kebaikan?" Dia menjawab, "Apakah itu?" Beliau bersabda, "Kamu bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah; tiada sekutu bagi-Nya, bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."

Dia bertanya, "Apakah ada yang bersaksi atas apa yang kamu katakan?" Beliau menjawab, "Pohon ini." Lalu Rasulullah SAW memanggil pohon itu yang berada di pinggir lembah. Pohon itu membelah bumi berjalan menghadap Beliau, lalu berdiri tepat di hadapannya. Beliau meminta agar ia bersaksi tiga kali, maka pohon itu pun bersaksi bahwa Beliau itu seperti apa yang dikatakannya.

Kemudia pohon itu kembali ke tempat semula dan orang badui itu kembali kepada kaumnya; dia berkata, "Jika mereka mau mengikutiku aku akan datang kepadamu bersama mereka. Jika tidak, aku akan kembali kepadamu sendirian dan aku akan bersamamu."

Terkait dengan peristiwa yang demikian itu, ummat Islam wajib untuk menyakini-nya dan tidak perlu berfikir keras untuk memahami bagaimana caranya pohon bisa berjalan, memahami dan mematuhi perintah Rosulullah. Demikian itulah sikap dari para sahabat dan kaum muslimin terdahulu.

Kini Masjid Syajaroh menjadi salah satu masjid pavorit untuk dikunjungi oleh Jemaah umrah ataupun Jemaah haji dari berbagai Negara termasuk Jemaah dari Indonesia, karena lokasinya yang memang tidak terlalu jauh dari komplek Masjidil Aqso, dan berdekatan pula dengan Masjid Jin dan pemakaman Ma’la yang memang menjadi destinasi yang kerap kali dikunjungi oleh para Jemaah yang sedang berada di kota suci Mekah.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 08 Februari 2020

Masjid Jin di kota Mekah

Masjid Jin di kota Mekah Al-Mukaromah.

Tentang Masjid Jin

Masjid Jin di merupakan salah satu masjid bersejarah di kota Mekah Al-Mukarromah, lokasinya berada di perkampungan Ma’la, kawasan Al-Hujun, sangat dekat dengan komplek pemakaman muslim Ma’la, sekitar 1,5km disebelah utara Komplek Masjidil Haram. Jin yang dimaksud dalam nama masjid ini adalah memang merujuk kepada mahluk Jin. Masjid ini disebut sebut sebagai tempat serombongan Jin menyatakan ke-Islaman dan berbai’at kepada Rosululullah, karenanya masjid ini juga seringkali disebut dengan nama Masjid Bai’ah, atau juga seringkali disebut sebagai Masjid Al-Haras.

Sejauh ini kami belum menemukan literatur tentang kapan dan oleh siapa bangunan masjid Jin ini pertama kali dibangun. Mengingat dari sekian banyak hadist yang berkaitan dengan peristiwa pertemuan Nabi Muhammad S.A.W semuanya menjelaskan bahwa pertemuan Rosulullah dengan delegasi Jin tersebut terjadi di sebuah tempat terbuka di malam hari, bukan didalam sebuah bangunan masjid. Sangat jelas bahwa bangunan masjid ini baru dibangun setelah peristiwa itu terjadi.

Masjid Jin menjadi salah satu masjid yang ramai dikunjungi oleh para Jemaah umroh ataupun Jemaah haji dari berbagai Negara termasuk Jemaah dari Indonesia. Biro biro perjalanan umroh dan haji pun memasukkan kunjungan atau sekedar melintas di masjid ini dalam agenda city tour mereka bersama para jemaahnya dengan dipandu oleh tour leader atau mutowif nya masing masing yang memberikan penjelasan tentang tempat tempat yang mereka kunjungi.

Jinn Mosque
8464 Al Masjid Al Haram Rd, Al Hujun, Mecca 24231, Saudi Arabia
                           

Masjid Jin kini berada di pusat kota berdiri megah dengan balutan warna abu abu lengkap dengan menara dan kubahnya, di lingkar kubah bagian dalam terdapat kaligrafi Al-qur’an dari surah Jin. Masjid ini dibangun dua lantai, denahnya memanjang utara selatan, sisi kiblatnya berada di selatan karena memang posisi masjid ini yang berada disebelah utara  Masjidil Haram tempat Ka’bah berada. Bangunannya sudah diperluas dan diperbaharui oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi pada tahun 1421H (tahun 2000 masehi), dan difungsikan untuk peribadatan dengan segala fasilitas pendukungnya.

Riwayat Pertemuan Rosulullah dengan Delegasi Jin

Tentang ke-Islaman Jin tersebut diterangkan dalam Alquran surah Jin (72) ayat 1-2. "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin mendengarkan Alquran. Lalu, mereka berkata, `Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Karena itu, kami memercayainya dan kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan siapa pun juga."

Peristiwa ini terjadi saat Rasul SAW bersama para sahabat sedang melaksanakan shalat Subuh. Ketika itu, Rasul SAW membaca surah Ar-Rahman [55] ayat 1-78. Dalam surah Ar-Rahman ini terdapat beberapa ayat yang berbunyi, "Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" 

Masjid Jin diantara gedung gedung jangkung disekitarnya.
Ketika ayat ini dibacakan, para jin yang hadir saat itu langsung menjawabnya dengan kalimat, "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami." Peristiwa tersebut juga disebutkan dalam surah Al-Ahqaf [46]: 29-32.

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya), lalu mereka berkata,  'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.

Mereka berkata, "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus, Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang-orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."

Masjid Jin berdekatan dengan jembatan penyeberangan orang (JPO) dikawasan Al-Hujun, di sisi timur komplek pemakaman Ma'la.
Dalam tafsir Ibnu Katsir surah Al-Ahqaf dijelaskan panjang lebar tentang peristiwa tersebut dan peristiwa pertemuan Rosulullah dengan Jin. Secara garis besar peristiwa rombongan Jin mendengar Rosulullah membaca surah Ar-Rahman dalam sholat dan peristiwa pertemuan Rosulullah dengan delegasi Jin itu terjadi diwaktu yang berbeda. Peristiwa rombongan Jin mendengar Rosulullah membaca Al-Qur’an surah Ar-Rahman itu terjadi pada saat Rosulullah sedang mengimami para sahabat sholat subuh di Lembah Nakhlah.

Sedangkan pertemuan Rosululllah dengan delegasi Jin terjadi suatu malam yang lain di suatu tempat bernama Al-Hujun di kota Mekah, dalam beberapa hadist yang lain disebutkan bahwa lokasi pertemuan Rosulullah dengan delegasi Jin itu terjadi di dataran yang paling tinggi di Mekah dan malam itu dalam catatan sejarah seringkali disebut sebagai “malam jin”. Hadist hadist yang menjelaskan tentang pertemuan Rosulullah dengan delegasi Jin tersebut semuanya bermuara dari sahabat Abdullah ibnu Mas'ud r.a.

Peristiwa Nakhlah

Pada peristiwa di Nakhlah, Rosulullah tidak mengetahui atau tidak menyadari kehadiran rombongan Jin yang mendengarkan beliau membaca surah Ar-Rahman dalam sholat subuh bersama para sahabat. Sampai kemudian beliau menerima wahyu surah Jin ayat 1 dan 2 seperti tersebut diatas.

Dijelaskan bahwa ketika itu Rosulullah dan para sahabat sedang dalam perjalanan menuju pasar Ukas dan berhenti di Nakhlah untuk sholat subuh, sedangkan rombongan Jin tersebut sedang dalam perjalanan dari Nasibin (di Suriah) menuju Tihamah (daerah pesisir jazirah arab di tepian laut merah) menjalankan tugas mereka dari kaumnya untuk menemukan sebab musabab terhalang nya upaya mereka mendengar berita langit.

Puncak menara Masjid Jin.
Saat mendengar Rosulullah membacakan surah Ar-Rahman (55) Lalu, mereka (rombongan Jin tersebut) berkata, `Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Karena itu, kami memercayainya dan kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan siapa pun juga."

Rombongan Jin tersebut kemudian kembali kepada kaumnya dan menceritakan tentang apa yang mereka temukan dalam pencarian-nya. "Dan ketika rombongan jin itu kembali kepada kaumnya, mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami (Al-Jin: 1-2) Dan Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Katakanlah (hai Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an) " (Al-Jin: 1).

Kaum Jin kemudian mengirimkan utusan untuk bertemu dengan Rosulullah. Adapun saat pertemuan dengan delegasi Jin tersebut, Rosulullah melakukannya sendirian, tidak ditemani oleh satupun dari para sahabat. Hadist hadist yang bermuara dari Abdullah Ibnu Mas’ud dari berbagai jalur pun menjelaskan bahwa beliau (Ibnu Mas’ud r.a) terpisah jarak yang jauh dari Rosulullah pada malam Jin tersebut dan tidak dapat melihat ataupun mendengar pembicaraan Rosulullah dengan delegasi Jin dimaksud.

Lalu apa yang dilakukan Rosulullah saat bertemu dengan delegasi Jin? Surah Al-Jin dan surah Al-Ahqhaf serta dari berbagai hadist disebutkan dengan jelas bahwa Rosulullah diperintahkan untuk menemui delegasi (utusan) dari kaum Jin untuk membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Wallahua’lam.***


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga





Minggu, 02 Februari 2020

Masjid Miqot Bir Ali, Madinah

Masjid Miqot Bir Ali di Dhul Hulaifah, Madinah, dengan gerbang utamanya dilengkapi dengan dua menara kembar.

Masjid Miqot Bir Ali atau Masjid Miqot Dhul Hulaifah adalah salah satu masjid tempat miqot  atau memulai ihram bagi Jemaah haji dan umroh yang berasal dari Madinah atau yang melalui Madinah. Secara harfiah, Bir Ali berarti “sumur sumur Ali”, nama tersebut berkaitan dengan peristiwa saat Ali bin Abu Thalib menggali sumur dengan jumlah yang sangat banyak di masjid ini.

Oleh karenanya tempat ini diberi nama Bir Ali, bir yang artinya adalah sumur dengan bentuk jamak, sedangkan Ali adalah tokoh yang telah menggali sumur tersebut paling banyak. namun saat ini sumur-sumur itu tertutup oleh bangunan-bangunan disekitar masjid dan bangunan masjid itu sendiri. Masjid ini juga biasa disebut sebagai Masjid Miqot Dhul Hulaifah merujuk kepada nama daerah tempatnya berada.

Dhul Hulaifah Miqat Mosque
Dhul Hulaifah, Medina 42393, Arab Saudi


Masjid Bir Ali merupakan masjid miqot terjauh dari kota suci Mekah, sedangkan jarak tempuh dari kota Madinah ke Bir Ali sekitar 11 kilometer. Menggunakan mobil hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Sejarah Masjid Miqot Bir Ali

Di lokasi masjid ini berdiri pada masa Rosulullah terdapat sebuah pohon jenis akasia yang menjadi tempat Rosulullah berteduh saat miqot ditempat ini untuk menunaikan ibadah umroh. Ditempat tersebut kemudian dibangun masjid. Masjid ini dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz memerintah Madinah (87-93 H).

Menara tunggal di Masjid Miqot Bir Ali berbentuk tangga spiral.
Masjid yang sama kemudian direnovasi pada masa dinasti Abbasiyah dan direnovasi lagi pada dinasti Utsmaniyah dimasa pemerintahan Sultan Mehmed IV (1058-1099 H). Pada waktu itu masjid masih berbentuk sangat kecil dan terbuat dari batu, dan belum ada jemaah haji dan umrah yang singgah di masjid ini.

Perluasan dan peningkatan fasilitas masjid dilakukan dimasa kekuasaan Raja Fahd bin Abdul Aziz yang memerintahkan renovasi dan perluasan masjid ini. Selanjutnya karena semakin banyaknya jumlah jemaah haji dan umrah, masjid ini telah diperluas beberapa kali lipat, dan diberikannya fasilitas yang diperlukan, hingga luas masjid ini mencapai 6.000 meter persegi dan dapat menampung 5000 jemaah sekaligus.

Salah satu sisi Masjid Miqot Bir Ali.

Tentang Masjid Miqot Bir Ali

Masjid Miqot Bir Ali dibangun begitu besar dengan denah segi empat menyerupai sebuah benteng pertahanan. Bangunan utama masjid berada di tengah tengah dikelilingi koridor koridor panjang dengan arcade yang dibagian sisi dalamnya di dominasi warna kemerah merahan, sedangkan tembok luar bangunannya sendiri mayoritas bewarna krem. Dari area parkir Jemaah akan melalui gerbang tinggi besar dengan dua menara diatasnya.

Bangunan utama masjid berada di dalam “tembok benteng” tersebut, dilengkapi dengan area terbuka dan taman taman hijau yang teduh. Bangunan masjidnya juga berdenah segi empat, dibagian tengahnya terdapat “inner courtyard” atau pelataran tengah dilengkapi dengan satu pancuran air di bawah bangunan kecil berkubah dikelilingi taman yang menghijau.

Mihrab dan mimbar masjid Miqot Bir Ali.
‘Bangunan seperti benteng’ yang mengitari sekeliling masjid ini sejatinya adalah bangunan bangunan fasilitas pendukung masjid, termasuk ratusan unit toilet, kamar mandi, tempat wudhu, kios kios pedagang, klinik kesehatan, loker penitipan barang, kantor pengelola, kantor petugas keamanan, dan fasilitas lainnya.

Menara masjidnya cukup unik dibangun dengan bentuk tangga spiral setinggi 62 meter, lokasinya berada di bagian dalam tembok benteng. Masuk ke dalam masjid ini, kita akan menemukan jejeran tiang tiang beton berukuran besar yang masing masing terhubung dengan lengkungan sebagai penyangga struktur atap diatasnya.

Di dalam Masjid Miqot Bir Ali.
Dominasi warna merah pada bagian atas lengkungan dan hamparan karpetnya memberikan kesan mewah di dalam masjid ini. Tiang tiang penyangga masjid ini yang cukup besar, dibagian bawahnya dibuat relung relung yang difungsikan sebagai rak tempat menyimpan kitab suci Al-Qur’an.

Untuk kenyamanan Jemaah masjid Bir Ali dilengkapi dengan lebih dari 500 toilet dan kamar mandi dibagi menjadi tiga peruntukan masing masing toilet dan kamar mandi untuk Jemaah pria, wanita dan Jemaah difabel. 

Jejeran tiang tiang beton berukuran besar dengan hamparan karpet sajadah merah di dalam masjid Miqot Bir Ali.
Banyaknya kamar mandi dan toilet tersebut sangat membantu Jemaah yang akan membersihkan diri dan bersuci sebelum memulai ihram dari masjid ini. Di masjid ini Jemaah juga akan melaksanakan sholat sunah umrah dilanjutkan dengan berniat dan melanjutkan perjalanan ke kota suci Mekah.

Landscape disekeliling masjid ini berupa pegunungan batu dan pasir serta perkebunan kurma yang cukup luas. Untuk menampung kendaraan Jemaah, masjid Bir Ali juga dilengkapi dengan halaman parkir yang cukup luas dan parkirnya tidak berbayar alias gratis.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Sabtu, 18 Januari 2020

Masjid Al-Basha, Jeddah

Masjid Al-Basha di kawasan Al-Balad pusat kota Jeddah diantara rimbun pepohonan hijau di halaman depan-nya.

Masjid Al-Basha adalah salah satu masjid tua dan bersejarah di kota Jeddah, Saudi Arabia. Berdiri di kawasan kota tua Al-Balad masjid ini tampil anggun di antara gedung gedung jangkung nan modern yang mulai mencakar langit disekitarnya. Halaman depannya tampak asri dengan rimbun pepohonan yang tumbuh menghijau, salah satunya pohon kurma yang berbuah lebat disamping tangga menuju ke ruang sholat.

Kawasan Al-Balad, tempat masjid Al-Basha ini berdiri adalah kawasan bersejarah di kota Jeddah, dari sini sejarah kota Jeddah dimulai. Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sudah mendaftarkan Al-Balad ke Unesco dan sudah diakui sebagai warisan dunia. Di Al-Balad, Masjid Al-Basha berseberangan dengan gedung tua Bait Al-Balad dan Balaikota Jeddah.

Basha Mosque
7220 King Abdul Aziz, حي البلد، 2792، Jeddah 22233, Arab Saudi


Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, masjid ini pertama kali dibangun oleh Gubernur Jeddah Bakr Basha pada 1735. Disebutkan juga bahwa masjid ini awalnya berlokasi di Harat al-Sham, dan menaranya menjadi ikon arkeologi dan arsitektur bagi Jeddah. Tampilan masjid ini tak berubah hingga 1978 ketika ia dibongkar dan dipindahkan.

Bangunan yang kini berdiri memang tak Nampak sebagai sebuah bangunan masjid tua, lebih terlihat sebagai sebuah bangunan masjid modern dengan bangunan beton berlantai dua dilengkapi dengan satu menara. Masjid ini dapat diakses dari bagian depan dan bagian samping.

Masjid Al-Basha dari arah museum Bait Al-Balad.
Ruang sholatnya ada di lantai dua, hingga baik pintu depan maupun pintu samping dilengkapi dengan tangga beton untuk menuju ke ruang sholat. Kami datang ke masjid ini diluar waktu sholat berjamaah, seluruh pintu masjid sudah terkunci. Seorang pegurusnya yang kemudian membukakan samping pintu dari dalam.

Area toilet dan tempat wudhunya ada dilantai dasar, area tempat wudhunya juga dilengkapi dengan bangku bangku batu untuk Jemaah agar wudhu sambil duduk. Pengurus masjid ini sepertinya juga tinggal di masjid ini.

Interior masjid Al-Basha.
Ruang sholat masjid ini cukup besar, terbagi menjadi dua area. Area sholat bagian belakang lebih rendah dari area bagian depan disekat dengan partisi kayu setinggi pinggang orang dewasa. Seluruh lantai ruangan sholat ditutup dengan karpet sajadah warna hijau lumut. Sisi mihrabnya menggunakan kayu.

Area mihrabnya berupa ceruk kecil setengah lingkaran dari kayu diapit dua rak buku dikiri dan kanannya. Mimbar khatib dibangun lebih tinggi dari lantai berbentuk podium terbuka tanpa ornamen terletak di sisi kanan area mihrab. Ada pembatas dari semen setinggi sekitar 30 sentimeter dari shaf pertama dengan shaf berikutnya, saya kurang faham fungsi dari pembatas tersebut.

Secara keseluruhan interior masjid ini tidak terlalu ramai dengan berbagai ragam hias. Dibagian tengah atapnya ada bagian atap segi empat yang dibangun lebih tinggi dari atap sekitarnya untuk menempatkan jendela jendela kaca di celahnya sebagai penerangan dalam ruang dari cahaya alami matahari disiang hari.

Eksterior Masjid Al-Basha.
Karena secara geografis, kota Jeddah berada disebelah barat kota Mekah, maka arah kiblat di masjid AL-Basha ini menghadap ke arah timur. Pintu depannya ada sebelah barat, pintu samping ada di sebelah utara demikian juga dengan sebatang menaranya yang menjulang sendirian.

Bangunan menaranya berdenah segi empat dengan satu balkoni dan di ujung menara ditempatkan ornamen bulan sabit khas Saudi, berupa bulan sabit yang simetris menghadap ke atas namun masih berupa lingkaran utuh, bukan seperti bulan sabit gaya Usmani yang juga menghadap ke atas namun terbuka dibagian atasnya. Kami singgah ke masjid ini untuk menunaikan sholat zuhur sekaligus jama’ sholat asyar karena kami akan segera melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya ke Muscat, Oman.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga