Tampilkan postingan dengan label umroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umroh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Maret 2020

Masjid Al-Jum’ah Madinah

Masjid Al-Jum'ah Saudi Arabia.
Masjid Al-Jum’ah adalah salah satu masjid bersejarah di kota Madinah, Arab Saudi. Lokasi masjid ini sekitar 1,1 km sebelah utara Masjid Quba atau sekitar 4 km disebelah selatan dari Masjid Nabawi, dan menjadi salah satu masjid yang tempatnya berdiri berkaitan langsung dengan sejarah Islam khususnya sejarah hijrahnya Rosulullah dari kota Mekah ke kota Madinah. Kini kawasan di lingkungan masjid ini dinamai dengan Al-Jumu’ah.

Jemaah haji ataupun Jemaah umroh dari berbagai Negara termasuk Jemaah dari Indonesia biasanya akan di ajak oleh biro wisatanya untuk berkunjung atau sekedar melintas di depan masjid ini sembari dijelaskan sejarahnya oleh pemandu wisata di dalam bis selama perjalanan, karena rute perjalanan ke masjid ini memang akan dilalui pada saat akan menuju ke Masjid Quba dari Masjid Nabawi.

Masjid Al-Jum’ah
Lingkungan Al-Jumu’ah, Kota Madinah, Provinsi Madinah, Arab Saudi


Sejarah Masjid Al-Jum'ah Madinah:

Masjid Al-Jum’ah dibangun di lokasi yang diyakini sebagai tempat dimana Rosulullah dan para sahabat menunaikan sholat jum’at berjamaah untuk pertama kali dalam perjalanan hijrah dari kota Mekah ke kota Madinah.

Disebutkan bahwa ketika Rasulullah berhijrah, beliau masuk di perbatasan Madinah pada hari Senin, Rabiul Awwal 1 H. Saat itu beliau singgah di Quba selama empat hari hingga Jumat pagi, bertepatan dengan tanggal 16 Rabiul Awwal pada tahun yang sama.

Beliau kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Tidak jauh dari Quba, waktu shalat Jumat telah masuk. Beliau pun shalat di Wadi Ranuna. Di tempat shalat Jumat Rasulullah itu kemudian dibangun Masjid Al-Jum’ah (Jumat), bikan dibangun oleh Rosulullah tapi dibangun oleh pemerintahan setelah beliau.

Pertama kali dibangun dari pecahan pecahan batu dan hancur beberapa kali dan direnovasi.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang kemudian melaksanakan renovasi. Renovasi dilakukan lagi pada masa Kekhalifahan Abbasiyah antara tahun 155 - 159 Hijriah. Lalu di akhir abad ke-9 Hijriah, direnovasi oleh Syamsuddin Qawan. Renovasi pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah (Turki Usmani) dipimpin oleh Sultan Bayazid.

Masjid Al-Jum'ah dari balik jendela bis wisara.
Renovasi oleh Sayyid Hasan Asy-Syarbatli pada pertengahan abad ke-14 Hijriah. Masjid Jum'at sebelum renovasi terakhir memiliki panjang 8 meter, lebar 4,5 meter, tinggi 5,5 meter dan 1 kubah yang terbuat dari bata merah, serta di sebelah timurnya terdapat halaman dengan panjang 8 meter dan lebar 6 meter.

Renovasi pada tahun 1409 Hijriah oleh Kementerian Wakaf Arab Saudi, atas perintah Pelayan Dua Tanah Suci Raja Fahd bin Abdul Aziz dengan menghancurkan bangunan lama, dan membuat bangunan baru, termasuk tempat tinggal untuk Imam, Muadzin, Perpustakaan, Madrasah Tahfidz al-Qur'an, Tempat salat untuk perempuan dan kamar mandi.

Pada tahun 1412 Hijriah, Masjid Jum'at dibuka untuk umum dengan kapasitas 650 jamaah, memiliki 1 kubah utama dan 4 kubah kecil. Pembangunan terahir ini selain membangun fasilitas pendukung juga meningkatkan daya tamping masjid dari sebelumnya hanya mampu menampung 70 jemaah diperluas hingga mampu menampung sekitar 700 jemaah.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 28 Maret 2020

Masjid Quba vs Masjid Dhirar

Masjid Quba.

Membahas tentang Masjid Quba di Madinah rasanya kurang lengkap bila tidak sekaligus membahas tentang Masjid Dhirar (dibaca Diror) yang notabene sengaja dibangun oleh para pembangunnya sebagai tandingan bagi masjid Quba, sebagai salah satu tujuannya. Dua masjid ini terkait dengan ayat yang sama di dalam Al-Qur’an, yakni di surah At-Taubah QS 9:107-108.

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin) dan karena kekafiran(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS 9:107)

Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS 9:108)

Dua masjid ini mendapatkan derajat yang bertolak belakang dari Allah Subhanahuwata’ala. Allah ‘memuji’ masjid Quba dan orang orang yang sholat di dalamnya serta ‘melaknat’ masjid Dhirar dan para pembangunnya dan Allah bersaksi atas kedustaan mereka dalam sumpahnya kepada Rosulullah ï·º.

Masjid Quba.

Abu Amir Ar-Rahib dan Masjid Dhirar

Sebelum Nabi Muhammad ï·º hijrah ke Madinah, di kota Madinah ada seorang lelaki dari kabilah Khazraj yang dikenal dengan nama Abu Amir Ar-Rahib. Sejak masa Jahiliah dia telah masuk agama Nasrani dan telah membaca ilmu ahli kitab. Ia melakukan ibadahnya di masa Jahiliah, dan ia mempunyai kedudukan yang sangat terhormat di kabilah Khazraj.

Ketika Nabi Muhammad ï·º tiba di Madinah untuk berhijrah, lalu orang-orang muslim berkumpul bersamanya, dan kalimah Islam menjadi tinggi serta Allah memenangkannya dalam Perang Badar, maka Abu Amir Ar-Rahib mulai bersikap oposisi, memusuhi Nabi Muhammad ï·º secara terang-terangan.

Pada mulanya Rosulullah ï·º telah menyerunya untuk menyembah Allah [sebelum ia melarikan diri] dan membacakan Al-Qur’an kepadanya, tetapi ia tetap tidak mau masuk Islam, dan membangkang. Maka Rosulullah ï·º mendoakan kecelakaan bagi Abu Amir Ar-Rahib, semoga dia mati dalam keadaan jauh dari tempat tinggalnya dan terusir. Dikemudian hari do’a Rosulullah ï·º itu dikabulkan Allah.

Detil salah satu menara Masjid Quba
Abu Amir Ar-Rahib kemudian melarikan diri dari Madinah setelah gagal mempengaruhi kaum muslimin Madinah untuk memerangi Rosulullah ï·º, ia kemudian bergabung dengan orang-orang kafir Mekah dari kalangan kaum musyrik Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rosulullah ï·º.

Maka bergabunglah bersamanya orang-orang dari kalangan Arab Badui yang setuju dengan pendapatnya, lalu mereka datang pada tahun terjadinya Perang Uhud. Dalam perang tersebut Abu Amir Ar-Rahib berhasil mencelakai Rosulullah ï·º yang sempat terperosok ke dalam lubang lubang yang dibuat oleh Abu Amir Ar-Rahib

Setelah perang Uhud dan kedudukan kaum muslimin Madinah semakin kokoh, Abu Amir Ar-Rahib semakin marah dan dia pergi menemui Kaisar Romawi, Hiraklius, untuk meminta bantuan memerangi Nabi Muhammad ï·º. Kaisar Romawi memberikan janji dan harapan kepadanya, lalu ia bermukim di kerajaan Romawi.

Diantara kepakan sayap merpati.

Peran Abu Amir Ar-Rahib di Masjid Dhirar

Dari Romawi Abu Amir Ar-Rahib menulis surat kepada segolongan kaumnya dari kalangan Anshar Madinah yang tergabung dalam golongan orang-orang munafik lagi masih ragu kepada Islam. Dia menjanjikan dan memberikan harapan kepada mereka, bahwa kelak dia akan datang kepada mereka dengan membawa pasukan Romawi untuk memerangi Rosulullah ï·º dan mengalahkannya.

Abu Amir Ar-Rahib menganjurkan orang-orangnya untuk membuat suatu benteng yang kelak akan dipakai untuk berlindung sekaligus akan menjadi tempat pengintaian baginya kelak di masa depan bila ia datang kepada mereka. Maka orang-orang Abu Amir Ar-Rahib di Madinah mulai membangun sebuah masjid yang letaknya berdekatan dengan Masjid Quba.

Masjid tersebut baru selesai di saat Sebelum Nabi Muhammad ï·º hendak pergi ke medan perang Tabuk. Lalu para pembangunnya datang menghadap Rosulullah ï·º dan memohon agar beliau sudi melakukan shalat di masjid mereka. Tujuan mereka adalah untuk memperoleh bukti melalui sholatnya Nabi Muhammad ï·º di masjid tersebut, sehingga kedudukan masjid itu diakui dan dikuatkan.

Areal terbuka di tengah tengah bangunan Masjid Quba.
Mereka mengemukakan alasan, bahwa sesungguhnya mereka membangun masjid ini hanyalah untuk orang-orang yang lemah dari kalangan mereka dan orang-orang yang berhalangan di malam yang sangat dingin. Saat itu Nabi Muhammad ï·º menjawab permintaan mereka melalui sabdanya: Sesungguhnya kami sedang dalam perjalanan. Tetapi jika kami kembali, insya Allah.

Turunnya wahyu tentang Masjid Quba dan Masjid Dhirar

Ketika Nabi Muhammad ï·º akan kembali ke Madinah dari medan Tabuk, beliau dan rombogan beristirahat di Zu Awan, sebuah kampung yang jaraknya setengah hari dari Madinah. Sebelumnya di tempat yang sama para pembangun Masjid Dhirar pernah datang kepada Rosulullah ï·º yang saat itu sedang bersiap-siap menuju ke medan Tabuk.

Di tempat itu, Malaikat Jibril a.s. turun dengan membawa berita tentang Masjid Dhirar dan niat para pembangunnya yang hendak menyebarkan kekufuran dan memecah belah persatuan umat Islam. Mereka hendak menyaingi masjid kaum muslim, yaitu Masjid Quba yang sejak semula dibangun dengan landasan takwa.

WC, kamar mandi dan toilet di Masjid Quba.

Dimusnahkannya Masjid Dhirar

Setelah menerima wahyu itu, lalu Rosulullah ï·º memanggil Malik ibnu Dukhsyum (saudara lelaki Bani Salim ibnu Auf) dan Ma’an ibnu Addi atau saudara lelakinya (yaitu Amir ibnu Addi yang juga saudara lelaki Al-Ajian). Lalu beliau Rosulullah ï·º bersabda:

Berangkatlah kamu berdua ke masjid ini yang pemiliknya zalim, dan robohkanlah serta bakarlah masjidnya.

Maka keduanya berangkat dengan langkah-langkah cepat, hingga datang ke daerah Bani Salim ibnu Auf yang merupakan golongan Malik ibnu Dukhsyum. Lalu Malik berkata kepada Ma’an, “Tunggulah aku, aku akan membuatkan api untukmu dari keluargaku.” Lalu Malik masuk menemui keluarganya dan mengambil daun kurma, lalu menyalakan api dengannya.

Setelah itu keduanya berangkat dengan cepat hingga datang ke masjid itu dan memasukinya. Di dalam masjid terdapat orang-orangnya, maka keduanya membakar masjid itu dan merobohkannya, sedangkan orang-orang yang tadi ada di dalamnya bubar keluar berpencar-pencar.

Masjid Quba.
Disebutkan bahwa orang-orang yang membangunnya terdiri atas dua belas orang lelaki, yaitu Khaddam ibnu Khalid dari kalangan Bani Ubaid ibnu Zaid, salah seorang dari Bani Amr ibnu Auf yang dari rumahnya dimulai pembangunan Masjid ini, lalu Sa’labah ibnu Hatib dari Bani Ubaid, Mawali ibnu Umayyah ibnu Yazid, Mut’ib ibnu Qusyair dari kalangan Bani Dabi’ah ibnu Zaid, Abu Habibah ibnu Al-Az’ar dari kalangan Bani Dabi’ah ibnu Zaid.

Ibad ibnu Hanif (saudara Sahl ibnu Hanif) dari kalangan Bani Amr ibnu Auf, Hari sah ibnu Amir dan kedua anak nya (yaitu Majma’ ibnu Harisah dan Zaid ibnu Hari sah), juga Nabtal Al-Haris mereka dari kalangan Bani Dabi’ah, Mukharrij yang dari kalangan Bani Dabi’ah, Yajad ibnu Imran dari kalangan Bani Dabi’ah, dan Wadi’ah ibnu Sabit serta Mawali ibnu Umayyah golongan Abu Lubabah ibnu Abdul Munzir. [Diringkas dari Tafsir Ibnu Katsir surah At-Taubah ayat 107-108].

Ahir Kisah

Ahir kisah dari Masjid Dhirar ini setelah dibakar dan dihancurkan, konon tempatnya berdiri kemudian dijadikan tempat pembuangan sampah oleh penduduk setempat, sedangkan Abu Amir Ar-Rahib menerima takdirnya, dia mati di halaman istana kaisar Romawi di tahun ke 9 atau ke 10 Hijriah, dalam keadaan jauh dari tempat tinggalnya dan terusir, persis sebagaimana do’a Rosulullah ï·º.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 22 Maret 2020

Masjid Quba – Madinah

Masjid Quba dari arah pekarangan depan. 

Masjid Quba dikenal sebagai masjid yang pertama kali dibangun oleh Rosulullah ï·º pada tahun pertama Hijriah atau sekitar tahun 622 miladiyah di Quba, sekitar 5 KM disebelah tenggara kota Madinah. Ketika tiba di Quba, Rosulullah ï·º memerintahkan kepada para sahabat untuk membangun sebuah masjid dan Beliaupun ikut terlibat langsung dalam pembangunannya. Bangunan awal dari Masjid Quba tersebut masih dalam bentuk sederhana belum semegah dan sebesar ukurannya saat ini.

Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid ini. Sakarang renovasi masjid ini ditangani oleh keluarga Saud. Masjid Quba ini telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz pada 1986. Renovasi dan peluasan ini menelan biaya sebesar 90 juta Riyal yang membuat masjid ini memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah.

Masjid Quba
3493 Al Hijrah Rd, Al Khatim, Medina 42318, Arab Saudi


Berkunjung ke Masjid Quba

Masjid Quba dibangun begitu megah dengan denah persegi panjang, dibagian tengahnya terdapat areal terbuka yang memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam masjid. Areal terbuka ini di beri peneduh dengan bentangan kain kain panjang dibagian atasnya untuk mengurangi dampak sengatan matahari kepada jemaah yang sedang beribadah disana.

Warna putih bersih mendominasi keseluruhan bangunan masjid ini. Empat menara tinggi menjulang di ke-empat sudut bangunan masjid. Ada puluhan pintu di masjid ini dan pintu akses untuk Jemaah pria dan wanita dipisahkan. Sama halnya dengan masjid masjid lainnya di Madinah dan Mekah, di masjid Quba ini pun kita akan menjumpai ribuan burung merpati yang dengan bebas berterbangan disana.

Di sisi kiri foto bagian bawah adalah jejeran kios kios para pedagang di pekarangan Masjid Quba.
Masjid Quba dilengkapi dengan pekarangan terbuka yang cukup luas dibagian depan masjid atau disisi sebelah timur masjid. Bersebelahan dengan pekarangan ini berdiri bangunan toilet dan kamar mandi yang cukup besar masing masing untuk Jemaah pria dan wanita. Besarnya ukuran bangunan toilet dan kamar mandi ini dapat difahami karena begitu banyaknya Jemaah yang datang ke masjid ini secara bersamaan disatu waktu, dari berbagai Negara.

Dan itu juga terkait dengan sejarah masjid ini yang mendapatkan pujian langsung dari Allah Subhanahuwata’ala di surah At-Taubah ayat 108: “Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) shalat di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri”. Beberapa hadist sahih menjelaskan bahwa kalimat “membersihkan diri” dalam ayat tersebut memang merujuk kepada Ahli Quba (Jemaah masjid Quba generasi awal) yang memang terbiasa membersihkan diri dengan air setelah buang hajat.

Kawanan mepati di masjid Quba.

Pasar dan Tempat Parkir yang luas

Masjid Quba juga dilengkapi dengan pasar di pekarangan masjid sisi selatan, hingga bila kita datang ke masjid Quba dari arah selatan akan langsung melewati pasar yang menjajakan aneka oleh oleh khas Madinah. Kedai kedai ini tertata rapi dan beberapa pedagang juga mau menerima pembayaran dengan uang Rupiah selain mata uang Riyal Arab Saudi, beberapa diantara pedagang bahkan ada yang langsung menawarkan dagangannya dengan Bahasa Indonesia kepada Jemaah asal Indonesia.

Pemerintah setempat telah mengantisipasi banyaknya Jemaah yang datang ke masjid ini dengan membangun dua lapangan parkir kendaraan yang cukup luas, masing masing berada di sisi selatan masjid bersebelahan dengan pasar Quba, dan disisi timur masjid bersebelahan dengan bangunan toilet dan kamar mandi. Selain itu, komplek masjid Quba ini diapit oleh kebun kurma yang cukup luas di sisi timur dan baratnya.

Musium Ma'raz Al-Iman (Refuge of Faith Exhibition) di sisi selatan Masjid Quba.

Musium Ma’raz Al-Iman Exhibition (Refuge of Faith Exhibition)

Disebelah selatan Masjid Quba atau di sisi barat area parkir selatan berdiri megah satu bangunan museum yang diberi nama Ma’raz Al-Iman. Nama museum ini tertulis di dinding bangunan dengan bahasa Arab dan Bahasa Inggris “Refuge of Faith Exhibition”. Museum ini salah satu dari dua museum yang cukup terkenal di Madinah, museum lainnya adalah Al-Madinah Museum yang berada di bekas gedung Stasiun Kereta Api Hejaz di distrik Al-Anbariya sekitar 1 km seberah barat daya Masjid Nabawi. “Ma’raz Al-Iman” yang menjadi nama museum di komplek Masjid Quba sejatinya adalah salah satu nama julukan bagi kota Madinah yang diberikan oleh Rosulullah ï·º.

Musium Ma’raz Al-Iman mulai dibuka untuk umum pada tahun 2013 dan selalu ramai pengunjung pada setiap musim haji dan bulan Romadhon. Musium ini menyimpan berbagai artefak sejarah Islam termasuk berbagai manuskrip kuno, salah satunya adalah salinan Sunan Abu Dawud yang sudah berusia lebih dari 800 tahun. Naskah asli kitab tersebut tersimpan di gedung King Abdul Aziz Foundation for manuscript di Madinah.

Ruang terbuka ditengah tengah Masjid Quba.
Selain itu museum ini juga menyimpan berbagai kitab kuno yang terkait dengan sejarah Madinah juga terdapat kitab kuno dari Ibnu Zabalah yang berasal dari abad ke 3 hijirah, terdapat juga kitab suci Al-Qur’an yang ditulis dengan tinta emas yang berasal dari tahun 1878.

Keutamaan Masjid Quba

Rasulullah ï·º sangat mencintai Masjid Quba. Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ï·º secara rutin mengunjungi Masjid Quba, baik dengan berjalan kaki ataupun ber­kendaraan. Dalam sebuah hadist sahih juga dijelaskan bahwa menunaikan sholat di Masjid Quba, kadar pahalanya sama dengan pahala ibadah umroh.

Dalam hadis lainnya lagi disebutkan bahwa Rasulullah ï·º  membangun dan meletakkan batu pertamanya begitu beliau tiba di tempatnya, dan tempat beristirahat beliau adalah di rumah Bani Amr ibnu Auf. Malaikat Jibrillah yang membantunya untuk meluruskan arah kiblat masjid tersebut.

Mihrab dan lampu gantung Masjid Quba.

Pujian Allah kepada Ahli Quba dan Keutamaan bersuci dengan air

Allah s.w.t memuji masjid Quba dan orang yang mendirikan sholat di dalamnya dari kalangan penduduk Quba' dengan Firman-Nya di surah At-Taubah ayat 108: “Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri”.

Ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah Swt.: Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Maka Rasulullah mengirimkan utusan kepada Uwaim ibnu Sa’idah untuk menanyakan, “Cara bersuci apakah yang membuat Allah memuji kalian?” Maka Uwaim menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak sekali-kali seseorang dari kami —baik lelaki maupun wanita-— selesai dari buang airnya, melainkan ia membasuh kemaluannya atau pantatnya dengan air.” Maka Nabi Saw. bersabda, “Itulah yang dimaksudkan”.

Masjid Quba dari arah areal parkir kendaraan, dengan jejeran pohon pohon kurma.
Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Ala, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Hisyam, dari Yunus ibnul Hari’s, dari Ibrahim ibnu Abu Maimunah, dari AbuSaleh, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad ï·º

., bahwa firman-Nya berikut ini: Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. (At-Taubah: 108) berkenaan dengan ahli Quba. Mereka selalu bersuci dengan air, maka diturunkan-Nyalah ayat ini mengenai mereka, yakni sebagai pujian kepada mereka.

Masjid Quba dan Jemaah dari Indonesia

Biro biro perjalanan haji dan umroh di Indonesia biasanya akan memasukkan kunjungan ke Masjid Quba dalam daftar kunjungan (city tour) di Madinah bersama sama dengan beberapa tempat bersejarah terpilih lainnya. Beberapa pemandu Jemaah (team leader ataupun mutowif) menyarankan untuk datang ke Masjid Quba pagi hari mengingat pengunjung yang datang ke masjid ini makin siang makin membludak.

Dan dianjurkan untuk tetap menggunakan atribut rombongan (kain syal, seragam atau atribut lainnya) untuk memudahkan saling mengenali satu sama lain diantara ramainya pengunjung dari berbagai Negara hingga tidak mudah terpisah dari rombongan.***

Artikel selanjutnya; Masjid Quba vs Masjid Dhirar

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 02 Februari 2020

Masjid Miqot Bir Ali, Madinah

Masjid Miqot Bir Ali di Dhul Hulaifah, Madinah, dengan gerbang utamanya dilengkapi dengan dua menara kembar.

Masjid Miqot Bir Ali atau Masjid Miqot Dhul Hulaifah adalah salah satu masjid tempat miqot  atau memulai ihram bagi Jemaah haji dan umroh yang berasal dari Madinah atau yang melalui Madinah. Secara harfiah, Bir Ali berarti “sumur sumur Ali”, nama tersebut berkaitan dengan peristiwa saat Ali bin Abu Thalib menggali sumur dengan jumlah yang sangat banyak di masjid ini.

Oleh karenanya tempat ini diberi nama Bir Ali, bir yang artinya adalah sumur dengan bentuk jamak, sedangkan Ali adalah tokoh yang telah menggali sumur tersebut paling banyak. namun saat ini sumur-sumur itu tertutup oleh bangunan-bangunan disekitar masjid dan bangunan masjid itu sendiri. Masjid ini juga biasa disebut sebagai Masjid Miqot Dhul Hulaifah merujuk kepada nama daerah tempatnya berada.

Dhul Hulaifah Miqat Mosque
Dhul Hulaifah, Medina 42393, Arab Saudi


Masjid Bir Ali merupakan masjid miqot terjauh dari kota suci Mekah, sedangkan jarak tempuh dari kota Madinah ke Bir Ali sekitar 11 kilometer. Menggunakan mobil hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Sejarah Masjid Miqot Bir Ali

Di lokasi masjid ini berdiri pada masa Rosulullah terdapat sebuah pohon jenis akasia yang menjadi tempat Rosulullah berteduh saat miqot ditempat ini untuk menunaikan ibadah umroh. Ditempat tersebut kemudian dibangun masjid. Masjid ini dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz memerintah Madinah (87-93 H).

Menara tunggal di Masjid Miqot Bir Ali berbentuk tangga spiral.
Masjid yang sama kemudian direnovasi pada masa dinasti Abbasiyah dan direnovasi lagi pada dinasti Utsmaniyah dimasa pemerintahan Sultan Mehmed IV (1058-1099 H). Pada waktu itu masjid masih berbentuk sangat kecil dan terbuat dari batu, dan belum ada jemaah haji dan umrah yang singgah di masjid ini.

Perluasan dan peningkatan fasilitas masjid dilakukan dimasa kekuasaan Raja Fahd bin Abdul Aziz yang memerintahkan renovasi dan perluasan masjid ini. Selanjutnya karena semakin banyaknya jumlah jemaah haji dan umrah, masjid ini telah diperluas beberapa kali lipat, dan diberikannya fasilitas yang diperlukan, hingga luas masjid ini mencapai 6.000 meter persegi dan dapat menampung 5000 jemaah sekaligus.

Salah satu sisi Masjid Miqot Bir Ali.

Tentang Masjid Miqot Bir Ali

Masjid Miqot Bir Ali dibangun begitu besar dengan denah segi empat menyerupai sebuah benteng pertahanan. Bangunan utama masjid berada di tengah tengah dikelilingi koridor koridor panjang dengan arcade yang dibagian sisi dalamnya di dominasi warna kemerah merahan, sedangkan tembok luar bangunannya sendiri mayoritas bewarna krem. Dari area parkir Jemaah akan melalui gerbang tinggi besar dengan dua menara diatasnya.

Bangunan utama masjid berada di dalam “tembok benteng” tersebut, dilengkapi dengan area terbuka dan taman taman hijau yang teduh. Bangunan masjidnya juga berdenah segi empat, dibagian tengahnya terdapat “inner courtyard” atau pelataran tengah dilengkapi dengan satu pancuran air di bawah bangunan kecil berkubah dikelilingi taman yang menghijau.

Mihrab dan mimbar masjid Miqot Bir Ali.
‘Bangunan seperti benteng’ yang mengitari sekeliling masjid ini sejatinya adalah bangunan bangunan fasilitas pendukung masjid, termasuk ratusan unit toilet, kamar mandi, tempat wudhu, kios kios pedagang, klinik kesehatan, loker penitipan barang, kantor pengelola, kantor petugas keamanan, dan fasilitas lainnya.

Menara masjidnya cukup unik dibangun dengan bentuk tangga spiral setinggi 62 meter, lokasinya berada di bagian dalam tembok benteng. Masuk ke dalam masjid ini, kita akan menemukan jejeran tiang tiang beton berukuran besar yang masing masing terhubung dengan lengkungan sebagai penyangga struktur atap diatasnya.

Di dalam Masjid Miqot Bir Ali.
Dominasi warna merah pada bagian atas lengkungan dan hamparan karpetnya memberikan kesan mewah di dalam masjid ini. Tiang tiang penyangga masjid ini yang cukup besar, dibagian bawahnya dibuat relung relung yang difungsikan sebagai rak tempat menyimpan kitab suci Al-Qur’an.

Untuk kenyamanan Jemaah masjid Bir Ali dilengkapi dengan lebih dari 500 toilet dan kamar mandi dibagi menjadi tiga peruntukan masing masing toilet dan kamar mandi untuk Jemaah pria, wanita dan Jemaah difabel. 

Jejeran tiang tiang beton berukuran besar dengan hamparan karpet sajadah merah di dalam masjid Miqot Bir Ali.
Banyaknya kamar mandi dan toilet tersebut sangat membantu Jemaah yang akan membersihkan diri dan bersuci sebelum memulai ihram dari masjid ini. Di masjid ini Jemaah juga akan melaksanakan sholat sunah umrah dilanjutkan dengan berniat dan melanjutkan perjalanan ke kota suci Mekah.

Landscape disekeliling masjid ini berupa pegunungan batu dan pasir serta perkebunan kurma yang cukup luas. Untuk menampung kendaraan Jemaah, masjid Bir Ali juga dilengkapi dengan halaman parkir yang cukup luas dan parkirnya tidak berbayar alias gratis.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Sabtu, 01 Februari 2020

Masjid Miqot Ji’ronah Saksi Bisu Perang Hunain

Masjid Miqot Ji'ronah, foto dari ust, Irvan, Tour Leader Al-Aziziyah Tour & Travel.

Masjid Miqot Ji’ronah atau kadang disebut Masjid Ji’ronah saja adalah salah satu dari tiga tempat yang ditetapkan sebagai tempat untuk miqot atau tempat menetapkan niat dan memulai ihram bagi jemaah haji ataupun umroh yang akan akan memulai ibadah haji ataupun ibadah umroh, bagi penduduk Mekah. Dua masjid lain nya adalah Masjid Aisyah dan Masjid Hudaibiyah.

Masjid miqot Ji’ronah berada di perkampungan Ji'ronah di Wadi Saraf, sekitar 24 kilometer arah timur laut Masjidil Haram. Dahulu, ditempat ini Nabi Muhammad pernah nyaris diracun oleh para musuh, dengan meracuni sumur tempat mengambil minum ditempat ini. Namun, Malaikat Jibril memberi tahu kepada Rasulullah untuk tidak mengambil air di sumur tersebut.

Jaranah Mosque
Al Ju'ranah 24621, Saudi Arabia


Sumur di masjid ini cukup terkenal hingga ke berbagai Negara termasuk di kalangan Jemaah Indonesia. Para pemandu Jemaah umroh dan haji disana menuturkan bahwa acapkali Jemaah dari Indonesia datang ke masjid ini juga untuk mengambil air dari sumur dimaksud untuk tujuan (semacam) mengharap berkahnya. Padahal tidak ada tuntunan untuk hal tersebut dari Rosulullah. 

Kini, sumur tersebut ditutup oleh Pemerintah Arab Saudi, sedangkan pasokan air untuk semua keperluan Jemaah di masjid ini diganti dengan air hasil sulingan air laut yang kualitasnya layak minum. Ditempat ini juga disediakan keran keran air minum gratis untuk jamaah, namun bukan air zamzam.

Asal Kata Ji’ronah

Syekh Muhammad Ilyas Abdul Ghani dalam bukunya yang berjudul Sejarah Makkah menuliskan, kata Ji’ronah diambil dari nama seorang wanita yang hidup di daerah tersebut. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Fakihi dari Ibnu Abbas R.A. bahwa surat Al-Nahl ayat 92 yang berbunyi “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali” turun terkait dengan seorang wanita Quraisy dari Bani Tim yang dijuluki dengan julukan Ji’ranah. Wanita itu disinyalir sebagai seorang wanita yang terkenal dungu.

Masjid Miqot Ji'ronah.

Saksi Bisu Sejarah Perang Hunain

Pada perang Hunain di tahun ke-8 Hijriah, Rosulullah pernah meninggalkan para tawanan perang dan harta rampasan perang dari Huwazin di Ji’ronah dan bermalam disana selama 10 malam dan menunda pembagian harta rampasan perang tersebut, karena menunggu kedatangan orang orang Hawazin yang bertobat datang menyusulnya.

Ketika harta rampasan telah dibagikan, barulah datang para utusan Hawazin memohon kepada Rasulullah agar membebaskan para tawanan beserta hartanya. Rasulullah bertanya kepada mereka, "Silakan pilih, tawanan atau harta?" Lalu mereka memilih tawanan dan Rasulullah memerintahkan agar tawanan perang dari Huwazin dibebaskan secara baik-baik. Kemudian malam itu juga dari Jiranah Rasulullah berihram dan mengerjakan umrah. Setelah itu, pada malam itu pula para tentaranya kembali ke Madinah.

Dalam tulisannya, Syekh Muhammad Ilyas Abdul Ghani menjelaskan, penting diingatkan bahwa dalam pembagian harta rampasan tersebut, Rasulullah justru memberikannya kepada orang-orang yang baru masuk Islam dan tidak sedikitpun diberikan kepada kaum Anshar sehingga menimbulkan desas-desus dan pertanyaan di kalangan mereka.

Masjid Miqot Ji'ronah.

Rasulullah menjelaskan duduk perkaranya, sembari bertanya kepada orang Anshar, “Apakah kalian tidak suka hai orang-orang Anshar jika ada orang pergi dengan domba dan untanya, lalu kembali bersama Rasulullah ikut dalam rombongan kalian?”

Mendengar apa yang diucapkan beliau itu, orang-orang Anshar kemudian menangis sehingga membasahi jenggot mereka. Dan, mereka serempak menjawab, “Kami rela atas apa yang telah diberikan dan ditetapkan Rasulullah.”

Saksi Turun Nya Surat Al-Baqoroh ayat 196

Masjid tersebut juga sebagai saksi turunnya wahyu yang termaktub pada surat Al Baqarah ayat 196 yang terjemahannya sebagai berikut:

Masjid Miqot Ji'ronah.
"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.

Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya."

Menara masjid miqot Ji'ronah yang khas.

Tentang Bangunan Masjid Ji’ronah

Dari ketiga masjid Miqot bagi penduduk Mekah yakni Masjid Aisyah, Masjid Ji’ronah dan Masjid Hudaibiyah, dari ukuran masjidnya, Masjid Aisyah yang berukuran paling besar, Masjid Hidaibiyah yang paling kecil sedangkan ukuran masjid Ji’ronah  ada diantara keduanya.

Masjid Ji’ronah ini terahir kali diperbaharui oleh Raja Fahd yang pada saat itu menelan biaya kurang lebih 2 juta Riyal Saudi dengan luas 430 meter persegi dan dapat menampung 1.000 jamaah. Kebersihan dan kenyamanan di masjid ini sangat terasa. Fasilitas kamar mandinya besar, luas, dan bersih. Sementara, tempat parkir kendaraannya juga luas. Sama seperti masjid masjid lainnya di Arab Saudi, Masjid Ji’ronah inipun dilengkapi dengan penyejuk udara.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga