Tampilkan postingan dengan label mekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mekah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Februari 2020

Masjid As Syajaroh Mekah

Masjid As-Syajaroh, Ma'la, Al-Hujun, Mekah Al-Mukarromah.

Masjid As Syajaroh adalah salah satu masjid tua dan bersejarah di kota Mekah Al-Mukarromah. Lokasi masjid ini berseberangan dengan Masjid Jin di perkampungan Ma’la, kawasan Al-Hujun, kota Mekah. Lokasi masjid ini sangat dekat dengan pamakaman muslim Ma’la. Masjid mungil ini berdekatan dengan Masjid Jin meski ukurannya jauh lebih kecil. Masjid ini terawat dengan baik lengkap dengan segala fasilitas penunjangnya dan telah diperbaharui oleh pemerintah Arab Saudi di tahun 1421H bersamaan dengan Masjid Jin.

Secara harfiah Syajarah berarti pohon. Disebut demikian karena masjid ini dibangun di bekas tempat sebuah pohon yang menjadi salah satu mu’jizat Nabi Muhammad S.A.W. berbagai riwayat menyebutkan bahwa Rosulullah memanggil pohon tersebut untuk datang kehadapan Beliau. Dengan izin Allah, pohon tersebutpun berjalan menghampiri Rosulullah dan kemudian kembali lagi ke tempatnya semula mengikuti perintah Rosulullah.

Masjid e Shajar
Al Hujun, Mecca 24231, Saudi Arabia


Ada beberapa hadist yang menerangkan tentang mukjizat Rosulullah yang mampu memanggil pohon, salah satunya dari jalur Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Hakim.

dia berkata, "Kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan, lalu ada seorang badui menuju kepadanya. Ketika sudah dekat Beliau bertanya kepadnya, "Hendak kemanakah kamu?" Dia menjawab, "Hendak ke keluargaku." Beliau bertanya: "Apakah hendak menuju kepada kebaikan?" Dia menjawab, "Apakah itu?" Beliau bersabda, "Kamu bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah; tiada sekutu bagi-Nya, bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."

Dia bertanya, "Apakah ada yang bersaksi atas apa yang kamu katakan?" Beliau menjawab, "Pohon ini." Lalu Rasulullah SAW memanggil pohon itu yang berada di pinggir lembah. Pohon itu membelah bumi berjalan menghadap Beliau, lalu berdiri tepat di hadapannya. Beliau meminta agar ia bersaksi tiga kali, maka pohon itu pun bersaksi bahwa Beliau itu seperti apa yang dikatakannya.

Kemudia pohon itu kembali ke tempat semula dan orang badui itu kembali kepada kaumnya; dia berkata, "Jika mereka mau mengikutiku aku akan datang kepadamu bersama mereka. Jika tidak, aku akan kembali kepadamu sendirian dan aku akan bersamamu."

Terkait dengan peristiwa yang demikian itu, ummat Islam wajib untuk menyakini-nya dan tidak perlu berfikir keras untuk memahami bagaimana caranya pohon bisa berjalan, memahami dan mematuhi perintah Rosulullah. Demikian itulah sikap dari para sahabat dan kaum muslimin terdahulu.

Kini Masjid Syajaroh menjadi salah satu masjid pavorit untuk dikunjungi oleh Jemaah umrah ataupun Jemaah haji dari berbagai Negara termasuk Jemaah dari Indonesia, karena lokasinya yang memang tidak terlalu jauh dari komplek Masjidil Aqso, dan berdekatan pula dengan Masjid Jin dan pemakaman Ma’la yang memang menjadi destinasi yang kerap kali dikunjungi oleh para Jemaah yang sedang berada di kota suci Mekah.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 08 Februari 2020

Masjid Jin di kota Mekah

Masjid Jin di kota Mekah Al-Mukaromah.

Tentang Masjid Jin

Masjid Jin di merupakan salah satu masjid bersejarah di kota Mekah Al-Mukarromah, lokasinya berada di perkampungan Ma’la, kawasan Al-Hujun, sangat dekat dengan komplek pemakaman muslim Ma’la, sekitar 1,5km disebelah utara Komplek Masjidil Haram. Jin yang dimaksud dalam nama masjid ini adalah memang merujuk kepada mahluk Jin. Masjid ini disebut sebut sebagai tempat serombongan Jin menyatakan ke-Islaman dan berbai’at kepada Rosululullah, karenanya masjid ini juga seringkali disebut dengan nama Masjid Bai’ah, atau juga seringkali disebut sebagai Masjid Al-Haras.

Sejauh ini kami belum menemukan literatur tentang kapan dan oleh siapa bangunan masjid Jin ini pertama kali dibangun. Mengingat dari sekian banyak hadist yang berkaitan dengan peristiwa pertemuan Nabi Muhammad S.A.W semuanya menjelaskan bahwa pertemuan Rosulullah dengan delegasi Jin tersebut terjadi di sebuah tempat terbuka di malam hari, bukan didalam sebuah bangunan masjid. Sangat jelas bahwa bangunan masjid ini baru dibangun setelah peristiwa itu terjadi.

Masjid Jin menjadi salah satu masjid yang ramai dikunjungi oleh para Jemaah umroh ataupun Jemaah haji dari berbagai Negara termasuk Jemaah dari Indonesia. Biro biro perjalanan umroh dan haji pun memasukkan kunjungan atau sekedar melintas di masjid ini dalam agenda city tour mereka bersama para jemaahnya dengan dipandu oleh tour leader atau mutowif nya masing masing yang memberikan penjelasan tentang tempat tempat yang mereka kunjungi.

Jinn Mosque
8464 Al Masjid Al Haram Rd, Al Hujun, Mecca 24231, Saudi Arabia
                           

Masjid Jin kini berada di pusat kota berdiri megah dengan balutan warna abu abu lengkap dengan menara dan kubahnya, di lingkar kubah bagian dalam terdapat kaligrafi Al-qur’an dari surah Jin. Masjid ini dibangun dua lantai, denahnya memanjang utara selatan, sisi kiblatnya berada di selatan karena memang posisi masjid ini yang berada disebelah utara  Masjidil Haram tempat Ka’bah berada. Bangunannya sudah diperluas dan diperbaharui oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi pada tahun 1421H (tahun 2000 masehi), dan difungsikan untuk peribadatan dengan segala fasilitas pendukungnya.

Riwayat Pertemuan Rosulullah dengan Delegasi Jin

Tentang ke-Islaman Jin tersebut diterangkan dalam Alquran surah Jin (72) ayat 1-2. "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin mendengarkan Alquran. Lalu, mereka berkata, `Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Karena itu, kami memercayainya dan kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan siapa pun juga."

Peristiwa ini terjadi saat Rasul SAW bersama para sahabat sedang melaksanakan shalat Subuh. Ketika itu, Rasul SAW membaca surah Ar-Rahman [55] ayat 1-78. Dalam surah Ar-Rahman ini terdapat beberapa ayat yang berbunyi, "Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" 

Masjid Jin diantara gedung gedung jangkung disekitarnya.
Ketika ayat ini dibacakan, para jin yang hadir saat itu langsung menjawabnya dengan kalimat, "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami." Peristiwa tersebut juga disebutkan dalam surah Al-Ahqaf [46]: 29-32.

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya), lalu mereka berkata,  'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.

Mereka berkata, "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus, Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang-orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."

Masjid Jin berdekatan dengan jembatan penyeberangan orang (JPO) dikawasan Al-Hujun, di sisi timur komplek pemakaman Ma'la.
Dalam tafsir Ibnu Katsir surah Al-Ahqaf dijelaskan panjang lebar tentang peristiwa tersebut dan peristiwa pertemuan Rosulullah dengan Jin. Secara garis besar peristiwa rombongan Jin mendengar Rosulullah membaca surah Ar-Rahman dalam sholat dan peristiwa pertemuan Rosulullah dengan delegasi Jin itu terjadi diwaktu yang berbeda. Peristiwa rombongan Jin mendengar Rosulullah membaca Al-Qur’an surah Ar-Rahman itu terjadi pada saat Rosulullah sedang mengimami para sahabat sholat subuh di Lembah Nakhlah.

Sedangkan pertemuan Rosululllah dengan delegasi Jin terjadi suatu malam yang lain di suatu tempat bernama Al-Hujun di kota Mekah, dalam beberapa hadist yang lain disebutkan bahwa lokasi pertemuan Rosulullah dengan delegasi Jin itu terjadi di dataran yang paling tinggi di Mekah dan malam itu dalam catatan sejarah seringkali disebut sebagai “malam jin”. Hadist hadist yang menjelaskan tentang pertemuan Rosulullah dengan delegasi Jin tersebut semuanya bermuara dari sahabat Abdullah ibnu Mas'ud r.a.

Peristiwa Nakhlah

Pada peristiwa di Nakhlah, Rosulullah tidak mengetahui atau tidak menyadari kehadiran rombongan Jin yang mendengarkan beliau membaca surah Ar-Rahman dalam sholat subuh bersama para sahabat. Sampai kemudian beliau menerima wahyu surah Jin ayat 1 dan 2 seperti tersebut diatas.

Dijelaskan bahwa ketika itu Rosulullah dan para sahabat sedang dalam perjalanan menuju pasar Ukas dan berhenti di Nakhlah untuk sholat subuh, sedangkan rombongan Jin tersebut sedang dalam perjalanan dari Nasibin (di Suriah) menuju Tihamah (daerah pesisir jazirah arab di tepian laut merah) menjalankan tugas mereka dari kaumnya untuk menemukan sebab musabab terhalang nya upaya mereka mendengar berita langit.

Puncak menara Masjid Jin.
Saat mendengar Rosulullah membacakan surah Ar-Rahman (55) Lalu, mereka (rombongan Jin tersebut) berkata, `Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Karena itu, kami memercayainya dan kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan siapa pun juga."

Rombongan Jin tersebut kemudian kembali kepada kaumnya dan menceritakan tentang apa yang mereka temukan dalam pencarian-nya. "Dan ketika rombongan jin itu kembali kepada kaumnya, mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami (Al-Jin: 1-2) Dan Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Katakanlah (hai Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an) " (Al-Jin: 1).

Kaum Jin kemudian mengirimkan utusan untuk bertemu dengan Rosulullah. Adapun saat pertemuan dengan delegasi Jin tersebut, Rosulullah melakukannya sendirian, tidak ditemani oleh satupun dari para sahabat. Hadist hadist yang bermuara dari Abdullah Ibnu Mas’ud dari berbagai jalur pun menjelaskan bahwa beliau (Ibnu Mas’ud r.a) terpisah jarak yang jauh dari Rosulullah pada malam Jin tersebut dan tidak dapat melihat ataupun mendengar pembicaraan Rosulullah dengan delegasi Jin dimaksud.

Lalu apa yang dilakukan Rosulullah saat bertemu dengan delegasi Jin? Surah Al-Jin dan surah Al-Ahqhaf serta dari berbagai hadist disebutkan dengan jelas bahwa Rosulullah diperintahkan untuk menemui delegasi (utusan) dari kaum Jin untuk membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Wallahua’lam.***


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga





Sabtu, 01 Februari 2020

Masjid Miqot Ji’ronah Saksi Bisu Perang Hunain

Masjid Miqot Ji'ronah, foto dari ust, Irvan, Tour Leader Al-Aziziyah Tour & Travel.

Masjid Miqot Ji’ronah atau kadang disebut Masjid Ji’ronah saja adalah salah satu dari tiga tempat yang ditetapkan sebagai tempat untuk miqot atau tempat menetapkan niat dan memulai ihram bagi jemaah haji ataupun umroh yang akan akan memulai ibadah haji ataupun ibadah umroh, bagi penduduk Mekah. Dua masjid lain nya adalah Masjid Aisyah dan Masjid Hudaibiyah.

Masjid miqot Ji’ronah berada di perkampungan Ji'ronah di Wadi Saraf, sekitar 24 kilometer arah timur laut Masjidil Haram. Dahulu, ditempat ini Nabi Muhammad pernah nyaris diracun oleh para musuh, dengan meracuni sumur tempat mengambil minum ditempat ini. Namun, Malaikat Jibril memberi tahu kepada Rasulullah untuk tidak mengambil air di sumur tersebut.

Jaranah Mosque
Al Ju'ranah 24621, Saudi Arabia


Sumur di masjid ini cukup terkenal hingga ke berbagai Negara termasuk di kalangan Jemaah Indonesia. Para pemandu Jemaah umroh dan haji disana menuturkan bahwa acapkali Jemaah dari Indonesia datang ke masjid ini juga untuk mengambil air dari sumur dimaksud untuk tujuan (semacam) mengharap berkahnya. Padahal tidak ada tuntunan untuk hal tersebut dari Rosulullah. 

Kini, sumur tersebut ditutup oleh Pemerintah Arab Saudi, sedangkan pasokan air untuk semua keperluan Jemaah di masjid ini diganti dengan air hasil sulingan air laut yang kualitasnya layak minum. Ditempat ini juga disediakan keran keran air minum gratis untuk jamaah, namun bukan air zamzam.

Asal Kata Ji’ronah

Syekh Muhammad Ilyas Abdul Ghani dalam bukunya yang berjudul Sejarah Makkah menuliskan, kata Ji’ronah diambil dari nama seorang wanita yang hidup di daerah tersebut. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Fakihi dari Ibnu Abbas R.A. bahwa surat Al-Nahl ayat 92 yang berbunyi “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali” turun terkait dengan seorang wanita Quraisy dari Bani Tim yang dijuluki dengan julukan Ji’ranah. Wanita itu disinyalir sebagai seorang wanita yang terkenal dungu.

Masjid Miqot Ji'ronah.

Saksi Bisu Sejarah Perang Hunain

Pada perang Hunain di tahun ke-8 Hijriah, Rosulullah pernah meninggalkan para tawanan perang dan harta rampasan perang dari Huwazin di Ji’ronah dan bermalam disana selama 10 malam dan menunda pembagian harta rampasan perang tersebut, karena menunggu kedatangan orang orang Hawazin yang bertobat datang menyusulnya.

Ketika harta rampasan telah dibagikan, barulah datang para utusan Hawazin memohon kepada Rasulullah agar membebaskan para tawanan beserta hartanya. Rasulullah bertanya kepada mereka, "Silakan pilih, tawanan atau harta?" Lalu mereka memilih tawanan dan Rasulullah memerintahkan agar tawanan perang dari Huwazin dibebaskan secara baik-baik. Kemudian malam itu juga dari Jiranah Rasulullah berihram dan mengerjakan umrah. Setelah itu, pada malam itu pula para tentaranya kembali ke Madinah.

Dalam tulisannya, Syekh Muhammad Ilyas Abdul Ghani menjelaskan, penting diingatkan bahwa dalam pembagian harta rampasan tersebut, Rasulullah justru memberikannya kepada orang-orang yang baru masuk Islam dan tidak sedikitpun diberikan kepada kaum Anshar sehingga menimbulkan desas-desus dan pertanyaan di kalangan mereka.

Masjid Miqot Ji'ronah.

Rasulullah menjelaskan duduk perkaranya, sembari bertanya kepada orang Anshar, “Apakah kalian tidak suka hai orang-orang Anshar jika ada orang pergi dengan domba dan untanya, lalu kembali bersama Rasulullah ikut dalam rombongan kalian?”

Mendengar apa yang diucapkan beliau itu, orang-orang Anshar kemudian menangis sehingga membasahi jenggot mereka. Dan, mereka serempak menjawab, “Kami rela atas apa yang telah diberikan dan ditetapkan Rasulullah.”

Saksi Turun Nya Surat Al-Baqoroh ayat 196

Masjid tersebut juga sebagai saksi turunnya wahyu yang termaktub pada surat Al Baqarah ayat 196 yang terjemahannya sebagai berikut:

Masjid Miqot Ji'ronah.
"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.

Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya."

Menara masjid miqot Ji'ronah yang khas.

Tentang Bangunan Masjid Ji’ronah

Dari ketiga masjid Miqot bagi penduduk Mekah yakni Masjid Aisyah, Masjid Ji’ronah dan Masjid Hudaibiyah, dari ukuran masjidnya, Masjid Aisyah yang berukuran paling besar, Masjid Hidaibiyah yang paling kecil sedangkan ukuran masjid Ji’ronah  ada diantara keduanya.

Masjid Ji’ronah ini terahir kali diperbaharui oleh Raja Fahd yang pada saat itu menelan biaya kurang lebih 2 juta Riyal Saudi dengan luas 430 meter persegi dan dapat menampung 1.000 jamaah. Kebersihan dan kenyamanan di masjid ini sangat terasa. Fasilitas kamar mandinya besar, luas, dan bersih. Sementara, tempat parkir kendaraannya juga luas. Sama seperti masjid masjid lainnya di Arab Saudi, Masjid Ji’ronah inipun dilengkapi dengan penyejuk udara.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga