Minggu, 28 Agustus 2016

Masjid Ash-Sholihin Ibul

#Masjid Masjid di Tanah Belida

Masjid Ash-Sholihin Desa Ibul, Kecamatan Belida Darat
Masjid Ash-Sholihin merupakan Masjid di desa Ibul, Kecamatan Belida Darat, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Desa Ibul ini memiliki kesamaan nama dengan sebuah kelurahan di Kota Prabumulih yakni Kelurahan Gunung Ibul, meski belum pasti apakan kedua desa/kelurahan tersebut memiliki keterkaitan sejarah satu dengan lainnya mengingat lokasi keduanya memang tidak terpaut terlalu jauh.

Alamat Masjid Ash-Sholihin
Dusun II, Desa Ibul, Kecamatan Belida Darat, Kab. Muara Enim
Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia


Menurut data kementrian agama, masjid As Sholihin dibangun tahun 2008 dengan luas bangunan 676 m2 dan luas lahan 1600m2. Status lahan adalah lahan wakaf dengan surat surat masih berbentuk girik. Daya tamping masjid ini sekitar 150 jemaah dengan nomor ID Masjid 01.4.06.03.17.000014.

--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Tanah Belida Lainnya

Sabtu, 27 Agustus 2016

Masjid At-Taqwa Gaung Asam

#Masjid Masjid di Tanah Belida
Masjid Jami At-Taqwa Megah di tengah desa Gaung Asam

Dari fisik bangunan Masjid Gaung Asam ini bolehlah untuk disebut masjid berpenampilan terbaik di kecamatan Belida darat, itu sih menurut pengamatan kami selama melintasi wilayah kecamatan ini mulai dari Desa Kemang di kecamatan Lembak hingga ke wilayah gunung ibul di kota Prabumulih, itu pun tak sempat singgah ke masjid ini. Bangunan masjid ini satu satunya yang dilengkapi dengan menara tinggi yang menjulang dan dapat terlihat dari kejauhan ketika baru masuk ke wilayah desa ini.

Lokasi Masjid At-Taqwa
Desa Gaung Asam, Kecamatan Belida Darat
Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia
Koordinat : -3.438852, 104.409184


Bangunan utamanya berupa bangunan masjid khas Indonesia dengan atap limasan bersusun dan ditambahkan kubah kecil dari bahan metal di puncak atap nya. Sedangkan menaranya dibangun terpisah dari bangunan utama masjid di halaman samping sisi utara bangunan utama, bangunan toilet dan tempat wudhu dibangun di belakang bangunan menara ini. dua bangunan ini sepertinya dibangun belakangan setelah bangunan masjid.

Bangunan menara memanglah bukan tradisi masjid masjid tradisional Nusantara, sehingga wajar bila hingga kini kita belum menemukan bentuk natural menara masjid khas Indonesia. Kebanyakan bangunan menara menyerap bentuk bentuk bangunan menara masjid dari timur tengah (arab), Turki, Persia dan wilayah lainnya.

Acara Nuzul Ul- Qur' an sekligus safari Ramadhan di masjid Jami' Attaqwa desa Gaung Asam Kec.Belida Darat dgn penceramah Ustadz Drs. H Hapiz Aziz M.Si Ka. MUI Kec.Gelumbang. Juli 2015 (foto dari Maladi Musa S.sos, camat Belida Darat).
















Menara di Masjid ini dibangun tanpa balkoni, hanya diberikan bukaan di bagian paling atas menara tempat ditempatkannya beberapa pengeras suara. Dapat dimaklumi karena memang keberadaan balkoni pada menara, dulunya merupakan tempat berdirinya muazin mengumandangkan azan, tempat yang tak dibutuhkan lagi di masa pengeras suara sudah menjadi alat bantu utama mengumandangkan azan hingga terdengar jauh ke pelosok kampung. Lokasi masjid ini cukup strategis dibangun di tengah kampung di pertigaan jalan pula. Menjadikannya sebagai penanda desa ini. Masjid At-Taqwa ini bukanlah satu satunya masjid di Desa Gaung Asam. Masih ada Masjid lainnya yang berada di komplek Yayasan Pendidikan Al-Ishlahiyah di ujung desa Gaung Asam ini.

Tentang Desa Gaung Asam

Kata “Gaung” pada nama desa ini bukanlah ‘gaung’ yang bermakna ‘gema’ atau ‘pantulan suara’, tapi merupakan peng-Indonesia-an kata “Geong” dari bahasa Belida yang bermakna sebuah mata air atau bagian dari badan air (sungai) yang sangat dalam dan cukup lebar, karena debit air yang besar menimbulkan pusaran air di permukaan-nya. Hampir sama dengan kata “Lubuk” yang dilafalkan dalam dialek bahasa Belida sebagai “Lubok”, hanya saja kata “Lubok” lebih berkonotasi sebagai sebuah bagian badan air (sungai) yang sangat dalam saja, tanpa efek pusaran air dipermukaan-nya. Sejatinya Desa Gaung Asam ini Bernama asli “Geong Asam”. Sedangkan kata ‘asam’ merupakan sebutan lain bagi jenis buah mangga yang rasanya asam. Bukan asam yang berarti ‘Asam Jawa’ atau ‘Tamarin’. 

Masjid At-Taqwa dari kejauhan
Ada banyak “Geong” yang dikenal di wilayah tanah Belida, dan desa “Geong Asam” ini bukanlah satu satunya yang menyandang nama ‘Geong’ pada namanya, salah satu yang lainnya adalah “Geong Asam” yang kemudian sama sama di Indonesia-kan menjadi ‘Gaung Telang’.  Karena kondisinya yang membahayakan, maka di masa lalu ada banyak mitos dan legenda yang (sepertinya) sengaja dituturkan oleh para tetua agar anak anak tidak mendekati apalagi bermain main di lokasi Geong dimaksud, semata mata karena memang kondisinya yang sangat berbahaya untuk keselamatan.

Hanya saja, bila saat ini kau tanya ‘mana kah Geong yang dimaksud itu ?. aku pun sulit untuk menjawabnya, warga yang masih tinggal disanapun mungkin juga akan kesulitan untuk menunjukkannya. Kondisi alam saat ini tak lagi se-asli di masa lalu. Perubahan rupa bumi yang dulunya berupa hutan belantara menjadi wilayah proyek perkebunan baik pribadi maupun perseroan sudah merebak hingga ke wilayah yang dulunya bahkan tak terjamah manusia, menjadi salah satu faktor perubahan kondisi lingkungan. Meskipun masih adalah pemandangan tradisional seperti di masa lalu yang masih kental terlihat dan terasa hingga kini.***

------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Tanah Belida Lainnya


Jumat, 26 Agustus 2016

Masjid Al-Hidayah Kemang

#Masjid Masjid di Tanah Belida
Masjid Al-Hidayah Desa Kemang

Kemang yang menjadi nama desa ini memang Kemang yang merupakan nama buah, Mungkin dulu ada pohon kemang disana sebagai penanda bagi para pembuka desa itu di jaman dulu saat masih berupa hutan lalu menjadi huma talang kemudian berubah menjadi kampung sampai ahirnya menjadi desa seperti saat ini. Buah kemang memang salah satu buah pavorit orang Blida untuk disambel.

Lokasi Masjid Al-Hidayah
Desa Kemang, Kecamatan Lembak
Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan
Koordinat : -3.407560, 104.370115


Warga desa Kemang dan desa desa di kecamatan Lembak lainnya merupakan warga Etnis Belida, berbahasa Belida dan beragama Islam. Sebagian besar warganya merupakan petani terutama petani karet. Kehidupan tradisional masih terasa kental disana. sore dan pagi hari menjadi pemandangan biasa bila berpapasan dengan warga yang naik sepeda atau sepeda motor dengan oncoh* menggantung di pinggang, atau membawa bantalan bantalan karet yang sudah dibekukan. Oncoh adalah sejenis Golok berujung lancip, lebih kecil dari Parang.

Seperti Desa desa tradisonal lainnya, pasar di desa ini buka sekali seminggu dan disebut Kalangan, jadwalnya bergiliran dengan desa desa tetangga. Para pedagang datang dari berbagai tempat membuka lapak di tempat yang sudah disediakan sebagai lokasi kalangan. Adakalanya hari kalangan disesuaikan dengan hari jual getah hasil sadapan atau sebaliknya.

PETANI & PEDAGANG KALANGAN. Pemandangan sehari hari, seorang petani dengan sepedanya, tak lupa sebilah Oncoh menggantung di pinggang, sementara di dapan-nya ada dua kendaraan pick up yang membawa barang dagangan untuk di gelar di lapak mereka di Kalangan Desa Kemang.

Kalangan, Balai Desa dan Masjid, merupakan tiga fasilitas umum standard dari sebuah desa tradisional di kawasan Sumatera bagian selatan pada umumnya. Tradisi turun temurun yang masih eksis hingga hari ini. Lokasi pemukiman biasanya tidak jauh dari sungai sebagai sumber air untuk mandi, cuci dan lainnya. Di setiap sungai biasanya dibangun tempat mandi dan cuci dari papan tebal seperti dermaga kecil yang disebut Lamban atau Pengkalan.

Masjid di Desa Kemang ini diberi nama Masjid Al-Hidayah, lokasinya berada di sisi jalan raya di tengah kampung. Berupa bangunan beratap limas dengan kubah dari metal berukuran kecil di puncak atap tertingginya. Lokasinya yang berada di sisi timur jalan raya. Bangunan masjidnya tanpa menara, papan nama kecil ditempatkan di depan masjid. Bangunan masjidnya bediri di antara jejeran rumah penduduk tanpa halaman depan dan tanpa pagar keliling.***

Kalangan Desa Kemang. Ini Lokasi Kalangan yang dimaksud
PASAR KALANGAN

--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Tanah Belida Lainnya


Minggu, 21 Agustus 2016

Masjid Nurul Iman Tanjung Bunut

#Masjid Masjid di Tanah Belida
Masjid Jami' Nurul Iman Tanjung Bunut

Masjid Nurul Iman merupakan masjid Jami’ di Desa Tanjung Bunut, Desa yang merupakan ibukota pemerintahan kecamatan Belida Darat, di Kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan. Komplek kantor kecamatan Belida Darat dibangun di pinggiran desa Tanjung Bunut ini, masih terlihat gress diantara kebun karet rakyat disekitarnya.

Bangunan masjid nya cukup megah dan besar, bersih dan terawat, halamannya sudah di cor beton. Dan berpagar teralis keliling. Melintas disana siang hari diluar waktu sholat, pintu pagar nya tertutup rapat, sepertinya untuk menghindari masuknya hewan ternak milik masyarakat setempat yang memang dibiarkan bebas di siang hari. Bangunan masjid ini tidak dilengkapi dengan menara.  

Lokasi Masjid Nurul Iman
Desa Tanjung Bunut, Kec. Belida Darat, Kab. Muara Enim
Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia


Kecamatan Belida Darat merupakan hasil pemekaran dari kecamatan Lembak. Jauh sebelumnya Kecamatan Lembak merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Gelumbang hampir bersamaan dengan pembentukan Kecamatan Sungai Rotan yang juga hasil pemekaran dari kecamatan Gelumbang.

Kecamatan Belida Darat terdiri dari sepuluh Desa yaitu Kecamatan belida Darat terdiri dari beberapa desa yaitu : Desa Babat, Desa Gaung Asam, Desa Ibul, Desa Lubuk Getam, Desa Lubuk Semantung, Desa Sialingan, Desa Talang Balai, Desa Talang Beliung, Desa Tanjung Bunut dan Desa Tanjung Tiga.

Fasad depan masjid Nurul Iman Tanjung Bunut

Wilayah Kecamatan Belida Darat ini berada di selatan kecamatan Lembak, berbatasan langsung dengan Kota Prabumulih dan Kabupaten Ogan Ilir, sedangkan sebagian lainnya berbatasan dengan kecamatan Gelumbang dan kecamatan Kelekar yang sama sama “masih” wilayah kabupaten Muara Enim. 

Kami sebut “masih” dalam tanda kutip karena memang masyarakat dan para tokoh di seluruh ‘bekas kecamatan Gelumbang’ atau populer disebut dengan wilayah ‘Dapil 3’ yang terdiri dari Kecamatan Gelumbang, Lembak, Sungai Rotan, Muara Belida, Belida Darat dan Kelekar sepakat untuk membentuk kabupaten sendiri dengan nama Kabupaten Gelumbang karena memang seluruh wilayah tersebut dulunya merupakan wilayah kecamatan Gelumbang dan hampir seluruhnya bersuku Belida.

Mihrab Masjid Nurul Iman
Keinginan tersebut sudah menyeruak sejak beberapa tahun terahir, terlebih lagi sejak resmi berdirinya Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir) sebagai kabupaten mandiri lepas dari Kabupaten Muara Enim, membuat seluruh wilayah ‘Dapil 3’ ini secara geografis terpisah dari wilayah kabupaten Muara Enim lainnya oleh wilayah Kabupaten PALI dan Kota Prabumulih yang sudah jauh lebih dulu ‘berpisah’ dari kabupaten Muara Enim. Keinginan para tokoh setempat membentuk Kabupaten Gelumbang ini sebenarnya sudah lama tercetus namun sempat terhenti seiring dengan terbitnya moratorium di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menyusul insiden PROTAP di Sumatera Utara.

Gaung pemekaran wilayah memang terdengar santer, para tokoh dan masyarakat disana bahkan mengancam akan melakukan boikot terhadap Pilkada mendatang, apabila aspirasi masyarakat setempat ditolak di tingkatan kabupaten Muara Enim. Isue yang cukup panas bagi para tokoh politik disana tentunya. Semoga harapan tersebut segera terwujud dan mengantarkan masyarakat disana kepada kemakmuran.***

Acara Pelantikan UPZ Kec.Belida darat oleh BAZ MUARA ENIM dan pemberian bantuan sembako kpd dhu' afa di masjid Nurul Iman Desa Tanjung bunut Kec.Belida darat 27 November 2015 (foto dari Maladi Musa S.sos, camat Belida Darat).
Acara Pelantikan UPZ Kec.Belida darat oleh BAZ MUARA ENIM dan pemberian bantuan sembako kpd dhu' afa di masjid Nurul Iman Desa Tanjung bunut Kec.Belida darat 27 November 2015 (foto dari Maladi Musa S.sos, camat Belida Darat).

--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Tanah Belida Lainnya



Sabtu, 20 Agustus 2016

Masjid Al-Abror Sakatiga Seberang, Indralaya

#Masjid di jalan lintas timur Sumatera
Al-Abror Sakatiga Seberang

Lokasi Masjid Al-Abror 
Jl. Lintas Timur Sumatra, Desa Sakatiga Seberang
Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir
Sumatera Selatan, Indonesia



--------------------ooo000ooo--------------------

Baca Juga


Rabu, 17 Agustus 2016

Masjid Nurul Huda Sukaraja

#Masjid di jalan lintas timur Sumatera
Nurul Huda Sukaraja

Alamat dan Lokasi Masjid Nurul Huda
Jl. Lintas Timur Sumatera, Desa Sukaraja
Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir
Sumatera Selatan - Indonesia
Koordinat : -3.470158, 104.813316



Di tepian Jalan Lintas Sumatera
Ujung menara yang unik
Gerbang Masjid 

- - - - - - - - ooo000ooo - - - - - - - -

Baca Juga