Kamis, 27 November 2014

Masjid Nurul Islam Muka Kuning – Batam

Masjid Nurul Islam - Muka Kuning diantara sakura yang bermekaran.
Masjid Nurul Islam Muka Kuning ini menjadi salah satu masjid paling unik di Indonesia. Di masjid ini sholat Tarawih selama bulan Romadhon dilaksanakan dua ship untuk mengakomodir jemaah yang bekerja di ship yang berbeda. Saking ramainya, jemaah yang hadir saat sholat Tarawih memadati setiap jengkal lantai masjid hingga ke pekarangan dan tempat parkirnya.

Apa dan dimana Muka Kuning itu

Muka Kuning, adalah nama deerah di Pulau Batam, propinsi Kepulauan Riau. Daerah  itu kemudian disulap menjadi kawasan industri maju dengan nama Batamindo Industrial Park hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Singapura. Saya sendiri hingga kini belum tahu mengapa daerah itu diberi nama Muka Kuning.

Kawasan industri ini dibangun (tadinya di tengah hutan belantara pulau batam) dengan fasilitas lengkap. Infrastruktur sebagai kawasan industri sudah dipersiapkan sejak awal termasuk kawasan hunian bagi para pekerja nya yang ditempatkan ditengah tengah kawasan, biasa disebut dengan dormitory yang diperuntukkan bagi karyawan lajang. Ada blok khusus untuk para staf di Blok S dan blok khusus untuk karyawan yang sudah menikah (berkeluarga) di blok M.

Masjid Nurul Islam Muka Kuning Batam dari arah Gerbang utama Batamindo, terlihat menaranya yang menjulang diantara bunga sakura yang sedang bermekaran begitu indahnya.
Kawasan ini juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang lainnya termasuk didalamnya adalah community center, supermarket, mini market, rumah sakit, pujasera dan tentu saja Masjid Nurul Islam. Satu lagi fasiltas penunjang yang begitu menarik minat kala itu adalah WARTEL, bagi anda yang seumuran saya pasti ingat apa itu wartel alias Warung Telekomunikasi. Maklumlah kala itu Hand Phone masih belum populer seperti sekarang ini, wartel adalah tumpuan harapan untuk berkomunikasi dengan sanak keluarga yang jauh dimata hingga rela antri hingga tengah malam.

Sekitar tahun 1996 salah satu tetanggaku, Muslim Bangladesh, sempat terperangah ketika beliau ku ajak berangkat bareng untuk sholat hari raya di lapangan community Centre Muka Kuning, tak jauh dari Masjid ini. apa sebabnya ?. dia takjub menyaksikan begitu banyak kaum muslimin yang hadir disana. Lebih takjub lagi menyaksikan jemaah muslimah di bagian belakang yang memutih dengan mukenanya.

Masjid Nurul Nurul Islam dari arah barat
Dengan polos-nya dia bertanya “wanita ikut sholat hari raya di lapangan juga ?” dan dengan polos juga kujawab “ya iya dong, kok nanya nya begitu?”. “Di Bangladesh, wanita dilarang seperti itu. . .” ujarnya. “tapi disini boleh ya” lanjut dia. Sejujurnya waktu itu, aku memang agak kaget dengan penjelasan beliau. Tapi ya sudah lah. Seperti kata pepatah melayu, Lain lubuk lain ikan nya, begitupun lain ladang lain pula belalangnya.

Batamindo Industrial Park (BIP) – Muka Kuning ini bukanlah satu satunya kawasan industri di Pulau Batam, masih banyak sederet kawasan industri lainnya. Pulau Batam memang di kembangkan sebagai kawasan industri di masa pemerintahan Pak Harto dibawah kendali Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau Batam Industrial Development Authority disingkat BIDA atau lebih dikenal dengan “Otorita Batam” yang di ketuanya ditunjuk langsung oleh Presiden. Dikemudian hari Otorita Batam berubah menjadi Badan Penguasaan Batam (BP Batam) disahkan dengan Peraturan Pemerintah No. 46.[i]

Masjid Nurul Islam – Muka Kuning
Batamindo Industrial Park (Mukakuning)
Batam, Kepulauan Riau 29433, Indonesia[ii]


Masjid Nurul Islam yang diresmikan oleh Prof. DR. B.J. Habibie pada tanggal 26 Oktober 1991 menjadi sentral kegiatan ibadah dan dakwah yang dilakukan oleh para karyawan. Awalnya masjid ini memang satu satunya tempat ibadah di kawasan tersebut. Pada awalnya aktivitas di masjid ini ramai di setiap malam minggu dengan di isi berbagai kajian ke islaman. Dikemudian hari aktivitas dan program kerja masjid ini sudah semakin berkembang pesat dan dibentuk grup kerja yang diberi nama Nurul Islam Grup (NIG). Tentang profil dan apa saja aktivitas grup ini dapat langsung berkunjung ke situs internetnya di nurulislamgroup.co.id

Aku dan Masjid Nurul Islam

Remaja Masjid Nurul Islam ini memang sangat giat dan aktif. Secara pribadi saya sangat berterima kasih kepada para aktivis remaja Masjid Nurul Islam Muka Kuning, khusus-nya bagi yang aktif pada periode 1996-1997 dibawah pimpinan Sdr. Siswoyo[iii]. Saya tidak ingat satu persatu nama nama mereka, tapi saya tidak akan pernah lupa amal baik mereka semua. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya untuk kita semua.
  
Nurul Islam dari sisi yang lain
Salah satu penggalan memori di masjid ini adalah ketika basah kuyup kehujanan saat sholat Jum’at. Hari itu cuaca cerah saat saya dan seorang teman berangkat ke masjid ini. tiba disana, bagian dalam masjid sudah penuh sesak begitupun halamannya, mau tak mau kami berdua kebagian tempat di luar masjid tepatnya di halaman rumput sebelah selatan masjid. Cuaca masih cerah saat khutbah dimulai dan perlahan mendung menjelang khutbah berahir.

Dan benar saja, mendung makin pekat saat sholat akan dimulai. Takbir pertama, guntur menggelegar hujan turun mendadak begitu deras dan lebih deras lagi air yang mengguyur kepalaku yang berdiri tepat dibawah cucuran atap masjid. Sekujur tubuh basah kuyup sejak rokaat pertama dan setiap kali sujud harus menahan nafas karena hamparan sajadah yang tergenang air hujan. Usai sholat, sesama jemaah yang kebagian sholat diluar sepertiku tidak hanya saling besalaman tapi juga saling ledek karena sama sama basah kuyup. Itu salah satu momen tak terlupakan di Masjid Nurul Islam yang satu ini.


Bukan tanpa alasan bila hari ini aku kangen tempat ini, mungkin karena sudah terlalu lama tak kembali kesana. Mungkin juga karena aku mulai lupa seperti apa suasana di dalamnya saat itu, apalagi kini. yang pasti sudah lama sekali berlalu. mungkin juga karena memang tak alasan untuk kembali. namun memang tak ada alasan untuk melupakan. Selamat Ulang Tahun untuk Jeanie Hanneke Diana. Terima kasih sudah menjadi salah satu saksi bahwa aku memang pernah ada di dunia ini.

Sakura di Masjid Nurul Islam

Pihak pengelola kawasan Industri Batamindo memang menanam berbagai jenis pohon untuk menghijaukan kawasan ini. salah satu jenis pohon yang ditanam disana adalah jenis sakura yang menghasilkan bunga yang sangat indah pada musim berbunga yang bertepatan dengan musim berbunganya sakura di Jepang. Kini bunga bunga indah itu menjadi keindahan tersendiri bagi warga Muka Kuning khususnya dan bagi warga Batam umumnya.

Sakura di halaman Masjid Nurul Islam, menara masjid di latar belakang
begini pemandangan di sepanjang jalan di depan masjid Nurul Islam saat sakura berbunga.
Masjid nurul Islam dari sisi selatan
Masjid Nurul Islam tampak keseluruhan dari sudut tenggara.
 Referensi

Selasa, 04 November 2014

[FOTO] Masjid Jami Al-Barokah Matangaji

Panorama masjid Jami' Al-Barokah Matangaji. disebelah kiri adalah gedung kantor Kuwu Matangaji sedangkan disebelah kanan foto adalah gedung PAUD dan Taman Kanak kanak.
Sebatang menara tunggal berdiri di depan masjid Al-Barokah Matangaji.
dari depan gedung PAUD dan TK
NURUL HUDA nama PAUD dan TK nya 
Beranda Masjid, ada dua lapis beranda hasil dari dua kali perluasan
Beranda kedua
ini nama masjidnya. "Masjid Jami; Al-Barokah"
dari beranda menatap ke beranda terluar 
di dalam masjid
ornamen di atap masjid
ujung menara Masjid Jami' Al-Barokah Matangaji

Jumat, 31 Oktober 2014

Masjid Jami Al-Barokah Matangaji

Masjid Jami' Al-Barokah Matangaji
Matangaji adalah desa di kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Desa yang namanya berkaitan dengan salah satu sultan Kasepuhan Cirebon, bukan karena beliau lahir disana tapi karena beliau pernah melakukan perjalanan dan mengajar mengaji murid murid nya hingga matang di tempat ini.

Adalah Sultan Sepuh Shafiudin, sultan ke 5 yang berkuasa di kraton kasepuhan setelah kesultanan Cirebon terbagi mejadi dua Keraton yakni Kraton Kasepuhan dan Kraton Kanoman. Beliau melakukan perjalanan meninggalkan Kraton melakukan dakwah di daerah Sumber sampai ahirnya tiba di Matangaji, mendirikan semacam pesantren dan mengajar mengaji disana.

Beliau menekankan kepada murid muridnya untuk belajar mengaji hingga benar benar matang, matang mengaji atau matangaji. Istilah itu yang kemudian menjadi nama bagi daerah tempat beliau mengajar tersebut hingga saat ini. Sultan Shafiudin dimakamkan di komplek pemakaman kesultanan Cirebon di Astana Gunung Jati.

Lokasi desa matangaji ini memang terpencil di ketinggian dengan udara tak terlalu menyengat sepanjang hari, tak seperti di pusat kota Cirebon yang panas. Desa yang tertata dengan apik dan asri. Jalanan cor, pohon pohon rindang, pemukiman yang tertata, bersih dan jauh dari kekumuhan. Sepanjang perjalanan di desa ini kami tak menemukan rumah penduduk yang masih semi permanen.

Rata rata bangunan rumah penduduk disini sudah dibangun permanen dengan material semen dan batu bata. Beberapa diantaranya bahkan menggunakan batu alam. Dilihat dari langgam bangunannya sepertinya bangunan bangunan rumah penduduk disini sudah dibangun permanen setidaknya sejak penghujung era 70-an hingga awal 80-an. Saya menarik kesimpulan sederhana bahwa penduduk desa ini cukup makmur secara merata.

Di tengah desa Matangaji saat ini berdiri sebuah masjid megah. Nama yang tertulis beraksara arab di teras depan bagian dalamnya terbaca Masjid Jami’ Al-Barokah. Nama yang indah bukan. Nama yang mendoakan kebarokahan bagi siapapun yang sholat disini dan bagi masyarakat Matangaji khususnya. 

panorama Masjid Jami' Al-Barokah Matangaji, sebelah kiri foto adalah gedung kantor kuwu Matangaji, sebelah kanan foto adalah gedung sekolah PAUD dan TK.
Sebagai masjid Jami’ lokasinya memang berdekatan dengan kantor Kuwu Matangaji, berhadapan dengan bangunan penunjang aktifitas desa lainnya termasuk menara penampung air PDAM yang memasok air bersih untuk warga desa bersumber langsung dari alam. Disebelah utara masjid ini berdiri bangunan sekolah milik yayasan Nurul Huda yang mengelola pendidikan anak usia dini (PAUD) dan Taman kanak Kanak. 

Bangunan masjid Al-Barokah Matangaji ini sudah berbentuk masjid moderen dilengkapi dengan kubah utama dan beberapa ornamen menara kecil berkubah di bagian atapnya. Bangunannya terdiri dari tiga bagian, bisa jadi tiga bagian ini juga mencerminkan tiga kali proses pembangunan-nya.

Sisi depan Masjid Jami' Al-Barokah Matangaji. anda bisa melihat nama masjidnya terukir dengan huruf arab.
Bangunan utama masjid berdenah segi empat dengan satu tiang penyangga di tengah ruang masjid yang kemudian di apit oleh empat sokoguru. Langgam sokuguru dan bentuk kusen jendela dan pintu masjid ini seperti senada dan dibangun di era yang sama dengan rumah rumah penduduk disana diantara penghujung 70-an hingga awal 80-an.

Masjid ini dilengkapi tiga pintu akses. Pintu utamanya menghadap ke timur (halaman masjid), pintu utara menghubungkan ke area berwudhu, toilet dan tangga akses ke atap masjid. Dan pintu selatan ke teras samping menghadap ke jalan di samping masjid. Ruang mihrabnya sederhana dilengkapi mimbar khatib berbentuk podium.

 Interior Masjid Jami' Al-Barokah Matangaji
Ada dua lapis teras yang sepertinya dibangun di masa yang berbeda. Teras bagian dalam dilengkapi dengan beranda di sisi depan masjid yang dibagian atasnya ditulis nama masjid ini. kemudian ditambahkan lagi teras bagian luar. Penambahan seperti ini memang lumrah terjadi di masjid masjid tanah air untuk keperluan untuk memperluas masjid. Pasokan air berlimpah, dan rasanya sangat sejuk.

Masjid Jami’ Al-Barokah dilengkapi dengan bangunan menara tunggal di depan masjid. Sepertinya dibangun belakangan lama setelah masjid berdiri atau setidaknya menara lamanya di renovasi hingga menjadi seperti menara-nya saat ini. menara ini dilengkapi dengan tangga hingga kepuncaknya.

Mushola Al-Ikhlas di Blok Si Petir
Selain Masjid Jami’ Al-Barokah ini, memasuki desa Matangaji kita akan menjumpai satu bangunan Mushola yang sedang direnovasi total untuk diperluas dan dipermegah. Namanya Mushola Al-Ikhlas di blok Si Petir, namanya sih Mushola tapi ukurannya terlihat cukup besar untuk sebuah mushola.

Selain itu masih ada bangunan masjid besar yang juga sedang dalam tahap renovasi total di Blok Pedaleman. Masjid yang cukup besar dan indah dengan latar belakang gunung Ciremai. Hanya saja kami tak sempat singgah ke masjid dan mushola tersebut. Blok Pedaleman sejarahnya dulu merupakan tempat para Dalem Keraton Kesultanan Cirebon beristirahat hingga ahirnya disebut Pedaleman hingga saat ini.*** 

menikmati senja di halaman masjid Pedaleman

------------------------------

Masjid Jami’ Riadhul Jannah, Pulo Bambu, Karang Bahagia



Masjid Jami’ Riadhul Jannah

Kampung Pulo Bambu, Desa Karang Bahagia
Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi
Provinsi Jawa Barat.


View Masjid Jami' Riadhul Jannah in a larger map






Selasa, 07 Oktober 2014

Masjid Jami’ Baiturrahman Jambansari, Butuh Bantuan

Masjid Jami' Baiturrahman Jambansari, membutuhkan bantuan donasi untuk mempercepat penyelesaian pembangunannya.
Kampung Jambansari merupakan salah satu Kampung di wilayah Desa Sukalaksana, kecamatan Banyuresmi kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebuah kampung asri nan alami di kabupaten Garut, lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota menghadirkan suasana sejuk, tenang dan alami jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Kecamatan Banyuresmi termpat masjid ini berdiri terkenal dengan Danau Situ Bagendit objek wisata alam yang terkait dengan legenda Bagenda Endit si janda muda kaya raya yang tamak.

Masjid Jami Baiturrahman
Kampung Jambansari RT 03 RW 03. Desa Sukalaksana, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44191
Ketua DKM : Memed Hidayat (+6285793367422)
Sekretaris : Sulaiman Afif (+6281320036855, +6285794643008)

Bangunan masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1991 untuk memenuhi kebutuhan warga masyarakat sekitar Kampung Jambansari, di motori oleh seorang Ustdz O. Saefuddin. Pada awalnya berdiri Masjid Baiturrahman ini hanya berukuran 8 meter persegi. Namun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk kampung Jambansari, maka pada tahun 2005 Masjid tersebut direnovasi dan diperbesar ukuranya menjadi 12 m X 15 m hingga saat ini dan dapat menampung hingga ± 250 Jama’ah. Lahan masjid ini berstatus
Lahan Wakaf Mutlaq seluas 315 m2.

Bagian dalam masjid
Masjid yang berdiri di bawah naungan Organisasi Keagamaan Muhammadiyah ini hingga saat ini kondisi pembangunanya belum tuntas dikarnakan keterbatasan Sumber Daya Ekonomi Ummat yang Lemah dan hanya mengandalkan Infaq dan Shodakoh warga sekitar, yang notabene warga masyarakat di perkampungan yang mayoritas Penduduknya berprofesi Buruh, baik itu Buruh Tani, Kuli Bangunan dan warga masyarakat yang berpenghasilan tidak tetap.

Faktor wilayah dan Geogerafis Kampung Jambansari yang berada di pedalaman Kampung-kampung umumnya yang berada di daerah Pedesaan menyebabkan terbengkalainya Program Pembangunan Sarana dan prasarana Fisik masjid bagi 116 kepala keluarga di RT03/RW03 Kampung Jambansari ini.

sisi kiri dan kanan masjid Baiturrahman Jambansari

Aktivitas Masjid

Aktivitas Keagamaan dan Dakwah yang diselenggarakan di Masjid Baiturrahman ini meliputi Fungsi sebagai tempat shalat Jum’at, Pengajian Umum Mingguan ( selasa sore), Kajian Tafsir Malam Jumat, dan Kajian Hadits setiap Minggu sore yang di asuh oleh Ustadz. H. Mahmuddin seorang Tokoh Sepuh di Lingkungan Jamiyyah. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Garut.

Butuh Bantuan 

Dalam surat elektroniknya, Bapak Sulaiman Afif selaku sekretaris panitia pembangunan masjid Jami’ Baiturrahman ini menjelaskan bahwa panitia membutuhkan bantuan donasi untuk menyegerakan penyelesaian pembangunan masjid ini serta untuk melengkapi sarana dan prasarana yang penunjang yang dibutuhkan termasuk penyelesaian pembangunan tempat wudhu dan lain lain. Bagi pembaca yang berkenan untuk membantu dapat disalurkan melaui rekening Bank Mandiri Jl. CIledug No. 128 Garut a/n Sulaiman Afif nomor rekening 131-00-0798654-2 swift code BMRIIDJA.

area berwudhu dan toilet yang belum selesai

note : foto foto diambil dari proposal pembangunan masjid.

Jumat, 19 September 2014

Masjid Al-Jihad Tegal Badak, Serang Baru

Masjid Al-Jihad Tegal Badak dari google street view
Pertama kali singgah ke masjid ini bertepatan dengan waktu magrib, ketika dalam perjalanan sore yang kemalaman berdua dengan putra ku, sekitar kira kira 2 tahunan yang lalu. Listrik sudah menerangi masjid ini meski pasokan airnya sedikit bermasalah. Warga yang tinggal di sekitar masjid ini memang tidak terlalu banyak jadi wajar bila Jemaah sholat magribnya pun tidak terlalu banyak ditambah dengan kami berdua.

Lokasi masjid

Masjid Al-Jihad yang satu ini berada di dalam Kampung Tegal Badak, desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Bagi yang tinggal di wilayah cikarang dapat memulai perjalanan kesana dari kantor Pemkab Bekasi di Deltamas menuju ke kawasan industri terpadu Indonesia china (KITIC) lalu berputar arah untuk masuk ruas jalan ke-arah cicau.


Dipertigaan pertama, ambil jalan lurus ke arah pasir kupang, jangan belok ke kanan karena itu akan membawa anda ke cicau. Masuk ke jalan itu, pastikan disebelah kanan anda ada instalasi listrik tegangan tinggi milik PLN dengan segerombolan tower tower listrik bertegangan tinggi. Dan disebelah kiri anda adalah komplek kawasan industry KITIC dengan tembok pembatasnya membentang sepanjang perjalanan hingga ke masjid Al-Jihad yang akan kita tuju ini.

Belum Bernama

Bakda sholat magrib, di teras masjid ini saya sempat sedikit membuka obrolan dengan seorang Bapak yang rumahnya berseberangan dengan masjid ini, sekedar bertanya apa nama masjid ini, karena saya memang tidak menemukan papan nama di depan masjid ini. Tapi justru si Bapak bilang “apa ya, gak ada namanya”.

Muncul di Google Street View


Di awal tahun 2014 lalu ketika kembali melintas di tempat ini saya menemukan satu papan kecil ditempel di depan masjid ini bertuliskan nama “Masjid Al-Jihad Tegal Badak”. Dan ternyata saya bukan satu satunya yang melintas dan iseng motret motret disana karena ternyata google pun sudah meng-update data mereka dan memasukkan wilayah tersebut di dalam cakupan google street view mereka.

Agresif sekali mbah google ini, sampai sampai saya pun sempat terpana saat pertama kali menyadari masjid yang dulunya serasa begitu jauuuh di ujung kampung kini sudah nongol di street view nya mbah google, dan bisa di akses oleh mahluk seisi bumi. Jadi saya pun bisa berkunjung ke masjid ini dan sekitarnya hanya dengan tujung telunjuk membuka aplikasi google map dan jalan jalan virtual pun dimulai. 

Papan nama. Meski kecil tapi bermakna lho.


Kamis, 07 Agustus 2014

Masjid Jamie An-Nur Majingklak

Masjid Jamie An-Nur Majingklak, Desa Pamotan, Kecamatan Kali Pucang, Kabupaten Pangandaran, Propinsi Jawa Barat.
Dimanakah Majingklak ?

Majingklak adalah nama yang dipakai untuk menyebut satu daerah di pesisir selatan Jawa tepatnya di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Kabupaten pangandaran sendiri dulunya disebut sebagai daerah Ciamis selatan, merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten Ciamis. Nama Majingklak tidak digunakan sebagai nama desa ataupun kecamatan, kini di abadikan sebagai nama pelabuhan penyebarang di desa Pamotan, kecamatan Kalipucang, kabupaten pangandaran, dibawah pengelolaan Balai Pengelolaan Pelabuhan Laut Angkutan Sungai, Danau, dan Penyebrangan Sub Unit Pelabuhan Penyebrangan Majingklak.

Dari arah kantor pelabuhan Majingklak
Secara geografis, majingklak berada ditepian muara sungai Citanduy menghadap ke Segara Anakan. Karena sungai citanduy merupakan perbatasan antara Propinsi Jawa barat dan Jawa tengah menjadikan Majingklak sebagai wilayah jawa barat paling timur di bagian selatan. Pelabuhan penyeberangan Majingklak melayani rute Penyeberangan menyeberangi Segara anakan dari Majingklak – Desa Klaces, kecamatan kampung laut di pulau Nusa Kambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

area parkirnya cukup luas
Akibat parahnya pendangkalan yang terjadi di muara sungai citanduy dan segara anakan, pelabuhan penyeberangan Majingklak tidak lagi melayani penyeberangan dengan kapal besar, hanya perahu motor compreng berkapasitas paling besar sekitar 15 orang saja yang dapat melayari rute penyeberangan disana dan itupun harus mengambil rute memutar untuk memilih perairan yang cukup dalam untuk dapat dilalui.


View Masjid Jamie An-Nur Majingklak in a larger map

Masjid Jamie An-Nur Majingklak

Masjid Jamie An-Nur Majingklak bediri megah di tengah desa Pamotan, kecamatan Kalipucang, kabupaten Pangandaran, propinsi Jawa Barat. Lokasinya berdiri tak seberapa jauh dari bibir sungai citanduy dan kubah kubahnya itu terlihat sampai jauh hingga ke segara anakan. Masjid yang dibangun permanen berbahan beton ini dibalut warna kuning diluar maupun di dalam.

kubahnya menyembul diantara atap rumah penduduk, dilihat dari arah demaga Majingklak
Bangunan masjid ini tidak dilengkapi dengan bangunan menara yang terpisah dari bangunan utama. Dua bentuk seperti menara dibangun di atap masjid di sisi kiri dan kanan lengkap dengan kubah dari bahan alumunium di puncaknya. Masjid ini juga tidak dilengkapi dengan kubah utama dalam ukuran besar, namun dibangun bentuk yang sama dengan dua bentuk menara lainnya dengan ukuran yang lebih tinggi.

dua dari tiga kubahnya
Keseluruhan atap masjid merupakan atap cor yang juga memberikan tempat untuk dibuatnya teras di tiga sisi masjid. Di bagian tengah masjid ada empat pilar turut menopang atap masjid. Menara tengah yang berdiri tepat di titik tengah atap masjid memberikan bukaan bagi masuknya cahaya matahari ke dalam ruangan masjid di siang hari.

Kekurangan air bersih

Majingklak dari arah Segara Anakan, tampak dermaganya dan kubah masjid Jamie An-nur dari kejauhan.
Kawasan pelabuhan Majingklak dan sekitarnya ini memang kesulitan air bersih, penduduk setempat harus membeli air bersih untuk semua kebutuhan harian mereka. Penduduk setempat sempat bercerita bahwa mereka sempat membuat sumur bor di lahan masjid untuk keperluan Jemaah tapi air nya asin meski sudah di bor hingga kedalaman 45 meter dan membentur batuan hingga pengeboran dihentikan. 

bagian dalam Masjid Jamie An-Nur, Majingklak
Namun demikian masjid An-Nur Majingklak dan kawasan pelabuhan Majingklak ini memang sangat tenang jauh dari hiruk pikuk, meski suhu udara cukup tinggi. Patut disinggahi bagi para pemancing untuk mencoba tarikan ikan di segara anakan, ataupun bagi para traveler yang ingin menikmati wisata pulau Segara Anakan, Kampung Laut dan aneka sajian wisata di pulau Nusa Kambangan.