Minggu, 26 Juni 2016

Masjid Al-Hikmah Tegal Tangsi

#Masjid Masjid di Kabupaten Bekasi

Masjid Al-Hikmah Tegal Tangsi diwaktu magrib

Kampung Tegal Tangsi berada di dalam wilayah desa Jatiwangi, kecamatan Cikarang Barat, Kabuten Bekasi. Letaknya kini berada diantara dua kawasan Industri besar yakni Kawasan Industri EJIP di sebelah timurnya dan Kawasan Industri MM2100 di sebelah baratnya. Kampung ini menjadi laluan bagi ribuan orang pengendara sepeda motor yang melintas dari kedua kawasan industri tersebut. Jalur ini dikenal diantara para pengendara motor sebagai jalur rakit, karena memang untuk melintasi kali Cikarang yang berada diantara kedua kawasan tersebut, para pengendara sepeda motor harus melintasi jalan terapung diatas rakit yang dikelola secara swadaya oleh warga setempat. Sebenarnya jembatan permanen yang melintas diatas sungai tersebut sudah selesai dibangun hanya saja belum digunakan.

Kp. Tegal Tangsi Rt 001/004 Desa Jati Wangi
Kec. Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi
Jawa Barat _ Indonesia
GPS 6°18'46.1"S 107°06'24.2"E


Masjid Al-Hikmah Tegal Tangsi lebih dekat bila di akses dari ujung jalan Jawa di kawasan MM2100 masuk ke jalan kampung yang menuju ke rakit penyeberangan, melintasi deretan para pedagang yang ramai disana, di pertigaan pertama belok ke kiri masjidnya tidak terlalu jauh dari pertigaan tersebut. Di belakang masjid ini merupakan pool kendaran truk perusahaan jasa transportasi. Bangunan masjid yang dibangun tanpa halaman. sisi Kiblat masjid berada di sisi jalan raya. Disamping masjid ini ada jalan akses menuju ke Pool truk yang disebutkan tadi, dan pintu akses ke masjid ini melalalui jalan tersebut. 

Di dalam Masjid Al-Hikmah, selepas sholat magrib
Tak ada papan nama di depan masjid ini. Indikasi nama masjid hanya ditemukan di kotak amal yang diletakkan di depan pintu utama dan di lembaran pengumuman jadwal petugas sholat jum;at yang dipasang di tembok bagian dalam masjid. Jemaah magribnya lumayan ramai oleh warga setempat ditambah dengan beberapa orang yang kebetulan melintas di daerah tersebut.***

----------ooo000ooo----------

Baca Juga Masjid Masjid di Cikarang Barat Lainnya

Sabtu, 25 Juni 2016

Masjid Hasbunallah Areal 70 RU IV Cilacap

#Masjid masjid di Jawa Tengah

Masjid Hasbunallah dari area parkir (T-San 531F)

Masjid Hasbunallah
Areal 70 RU IV Tegal Kamulyan
Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah
GPS: 7°45'01.0"S 109°00'56.2"E


Revinery Unit IV (RU IV) adalah fasilitas pemurnian minyak bumi milik Pertamina yang berada di Cilacap, Jawa Tengah. Masjid Hasbunallah ini dibangun di area 70 RU IV. Pembangunannya digagas oleh Chrisna Damayanto, dibangun tahun 2010 dan diresmikan pada hari selasa 4 Mei 2010 oleh Wakil Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji, GM Pertamina Sofrinaldy dan Chrisna Damayanto selaku penggagas pembangunannya. Acara peresmian tersebut ditandai dengan pembukaan selubung papan nama masjid, dilanjutkan dengan pemencetan tombol sirene dan dilanjutkan dengan sholat Dhuhur berjamaah, dengan imam Wakil Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji.

Peresemian tersebut juga bersamaan dengan peresmian sarana pendidikan TK Al Quran Madrasah diniyah 03 Tegalkamulyan. Masjid Hasbunallah dibangun dengan dana sebesar Rp. 627 juta. Sedang sarana pendidikan TK Al Quran, pembangunannya menelan biaya Rp. 267 juta. Pembangunan tempat Ibadah dan sarana pendidikan, merupakan bagian dari program CSR Pertamina RU IV Cilacap, yang dimaksudkan untuk membina hubungan yang baik antara Pertamina dengan masyarakat sekitar areal 70. Disamping itu, juga sebagai wujud kepedulian Pertamina kepada para pekerja dan masyarakat sekitar, termasuk masyarakat Tegal Kamulyan Cilacap.

Bila anda pernah mendengar objek wisata Benteng Pendem dan Pantai Teluk Penyu Cilacap, yang berada di sebuah tanjung yang merupakan ujung paling selatan propinsi Jawa Tengah, disanalah RU IV Area 70 tempat masjid ini berdiri, berada. Fasilitas milik pertamina ini memang sebagian lahannya sekitar 4 hektar memanfaatkan lahan Benteng Pendem tersebut, Kini objek wisata tersebut sudah dikelola dengan baik dan ramai dikunjungi oleh wisatawan.***

-------------------------------

Baca Juga


Minggu, 19 Juni 2016

Masjid Jami’ Al-Jihad Kampung Sawah Cikarageman

#Masjid Masjid di Kabupaten Bekasi

Masjid Al-Jihad Kampung Sawah, Desa Cikarageman, Kecamatan Setu

Desa Cikarageman tempat masjid ini berdiri, di kecamatan Setu merupakan salah satu desa yang berada di perbatasan antara Kabupaten Bekasi dengan Kabupaten Bogor di Jawa Barat. Ruas jalan yang membentang di tengah desa ini menghubungkan antara Kampung jati di Desa Sukasejati kecamatan Cikarang Selatan ke Perumahan Harvest City di Cileungsi, Bogor. Ruas jalan lingkungan yang sudah di cor rapi hingga ke batas wilayah kabupaten Bekasi dengan lebar sekitar 4 meter.

Masjid Al-Jihad
Kampung Sawah, Desa Cikarageman
Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi
Jawa Barat - Indonesia


---------------------

Baca Juga


Sabtu, 18 Juni 2016

Foto Masjid Jami' As-Salafiyah dan Makam Pangeran Jayakarta

Denah Masjid Jami' As-Salafiyah Jatinegara Kaum, Jakarta

Melanjutkan posting sebelumnya tentang Masjid Jami' As-Salafiyah dan Makam Pangeran Jayakarta, berikut ini kami sajikan foto foto Masjid Jami' As-Salafiyah dan Makam Pangeran Jayakarta yang berada di Jalan Jatinegara Kaum, Klender, Jakarta Timur. DKI Jakarta. Artikel masjid ini  dapat anda baca di posting sebelumnya atau membaca artikel lengkapnya di sini.

Ekterior Masjid Jami' As-Salafiyah Jatinegara Kaum

Masjid Jami' As-Salafiyah dari seberang jalan Jatinegara Kaum
Kubah limas bangunan tambahan berlantai dua pertama diantara daun daun pohon ara yang berdiri kokoh di belakang mihrab dan menaungi pendopo Makam
Kubah limas bangunan lama tetap dipertahankan bentuk aslinya dengan atap genteng kampung yang kini sudah langka
Menara masjid dengan symbol bulan sabit ini menjadi penanda bahwa bangunan ini adalah masjid.
Close up ke ujung menara
Pintu utama masjid yang menghadap ke jalan Jatinegara Kaum. Bagian ini sebelumnya adalah lahan parkir.
Prasasti di Gapura Masjid 
Rambu di fly over klender

Interior Masjid Jami' As-Salfiyah Jatinegara Kaum


Kaligrafi Muhammad dan Allah menghias bangunan baru Masjid Jami As-Salafiyah
Ornamen di bangunan baru Masjid Jami' As-Salafiyah
Khusu' Tadarus di bulan suci Romadhan
Lampu gantung diantara empat sokoguru bagian masjid yang paling tua di depan mihrab
Ruang sholat utama masjid jami' As-Salafiyah, bagian ini merupakan bagian paling tua dari masjid ini, hanya satu lantai.
Pintu masuk ke bangunan lama dari bangunan baru
Pintu masuk ke bangunan lama dari bangunan baru, bagian ini dulunya menghadap ke tempat parkir yang kini sudah dibangun gedung tambahan.
Mihrab masjid Jami' As-Salafiyah
Area lantai dua di gedung tambahan pertama, tampak di balik lubang angin di bagian depan, bayang bayang atap limas bangunan lama yang berada paling barat.

Area Makam Pangeran Jayakarta

Dibawah atap pendopo makam, paling kiri adalah makam Pangeran Jayakarta, di tengah Makam Pengeran Lahut, paling kanan makam Pangeran Soeria. Di bagian belakang foto ada dua makam; kiri makam Ratu Rafi'ah dan Makam Pangeran Sageri.
Makam Pangeran Jayakarta
Makam Pangeran Lahut
So interested to picturize
Kali Sunter, dilihat dari pendopo makam 
Tanda dari Ali Sadikin
Tanda dari Pangdam Jayakarta
Pendopo Makam Pangeran Jayakarta dan kerabatnya
Untuk menuju pendopo makam dari pintu depan masjid menuju ke bagian dalam, disebelah kiri ada pintu ke luar (seperti terlihat di foto di atas) menuju ke pendopo ini.

Jumat, 17 Juni 2016

Masjid Jami’ Assalafiyah dan Makam Pangeran Jayakarta

Tidak seperti bangunan masjid biasanya yang dibangun dengan arsitektur Timur Tengah, Bangunan baru Masjid Jami As-Salfiyah Jatinegara Kaum justru dibangun seperti bangunan biasa. Lahan tempat gedung baru ini tadinya merupakan areal parkir bangunan lama yang kini berada di belakang gedung baru ini.

“............
Tidak kurang yang sayang padanya
Orang lain mati dilupa
Para pejuang tetap dikenang
Sejarahnya ditulis orang
Makamnya sentiasa di ziarahi
Walau perjuangan tak Berjaya
......................”

Pangeran Jayakarta Wijayakrama atau Pangeran Achmad Jaketra adalah Sultan Terahir dari Kesultanan Jayakarta(kini Jakarta). Berdirinya Kesultanan Jayakarta diawali dengan kemenangan Pasukan Fatahillah terhadap pasukan Portugis di Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527. Hari kemenangan tersebut menjadi sejarah awal Sejarah Kota Jakarta yang kini diperingati setiap tahun sebagai hari jadi kota Jakarta dan nama Fatahillah di abadikan sebagai nama Musium Sejarah Jakarta di kawasan Kota tua tak jauh dari Stasiun Kereta Api Jakarta Kota.

Masjid Jami’ Assalafiyah
Jl Jatinegara Kaum No 208
Klender, Jakarta Timur
GPS: -6.202099,106.901184


           

Kesultanan Jayakarta tak berlangsung lama, Fatahillah selaku penguasa pertama disana, lebih memilih kembali ke Cirebon dan menyerahkan kendali pemerintahan kepada Tubagus Angke. Setelah Tubagus Angke kekuasaan diteruskan oleh Pangeran Jayakarta dengan keraton dan Masjid kesultanannya berada disekitar hotel Omni Batavia saat ini namun sudah tidak ada sisanya sama sekali.

Tanggal 30 Mei tahun 1619 pasukan Belanda dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen menyerbu Jayakarta. Dengan keunggulan persenjataan ditambah dengan kondisi pasukan Jayakarta yang masih kelelahan setelah perang melawan pasukan Inggris, pasukan Belanda berhasil menduduki Jayakarta dan melakukan aksi bumi hangus terhadap kota itu termasuk juga meratakan dengan tanah komplek keraton dan masjid kesultanan. Keluarga Sultan terpaksa menyingkir dari pusat kota.

Tiga bangunan masjid As-Salafiyah. Paling kiri adalah bangunan paling awal Masjid As-Salafiyah, Bagian ini tempat berdirinya masjid yang dibangun pertama kali oleh Pangerah Jayakarta. bagian tengah yang terlihat sedikit atap limas beserta menaranya adalah bangunan tambahan pertama yang dibangun di masa gubernur Ali Sadikin. Bangunan berlantai dua yang berada paling kanan adalah bangunan paling baru ditambahkan saat ini.
Dalam pengejaran oleh pasukan Belanda, pangeran Jayakarta berhasil meloloskan diri dengan tipu muslihat melemparkan jubah dan sorban yang dipakainya ke dalam sumur di kawasan mangga dua, Pasukan Belanda yang mengira Pangeran Jayakarta berada di dalam sumur tersebut memberondong sumur tersebut dengan peluru dan mengira pangeran Jayakarta tewas disana. Anggapan yang diyakini kebenarannya selama bertahun tahun baik oleh pihak Belanda maupun oleh masyarakat umum. Baru kemudian pada tanggal 23 Juni 1956, setelah sekian lama dirahasiakan makam Pangeran Jayakarta dan kerabatnya di sebelah Masjid Jami’ As-Salafiyah ini dinuka untuk umum.

Sesungguhnya beliau bersama para pengikutnya berhasil melarikan diri ke wilayah yang kini dikenal sebagai Jatinegara Kaum, membuka daerah baru serta mendirikan masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Jami’ Assalafiyah dan meneruskan pemerintahan dan perlawan terhadap penjajahan dari tempat tersebut, bersama beberapa anggota keluarga serta para pengikut setia nya. Itu sebabnya daerah tersebut dikenal dengan nama Jatinegara alias Negara yang Sejati.

Makam dan Prasasti. Makam Pangeran Jayakarta dan anggota keluarganya berada di bangunan pendopo ini. sedangkan batu prasasti di bagian depan photo adalah prasasti penghormatan dari Kodaam Jayakarta. 
Putra beliau yang bernama Pangeran Senapati diperintahkan untuk pergi sejauh mungkin dari Jayakarta untuk menghindari kejaran Belanda sekaligus menyebarkan agama Islam ke luar Jayakarta, pada ahirnya menetap di wilayah Cibarusah kabupaten Bekasi dan mendirikan Masjid Al-Mujahidin Cibarusah yang dikemudian hari menjadi pusat perjuangan pasukan Hisbullah melawan penjajahan Belanda di wilayah Bekasi.

Putra beliau yang lain (kini dikenal dengan nama Pangeran Rangga), menyingkir dari kejaran pasukan Belanda hingga ke wilayah hutan (yang kini dikenal dengan nama) desa Cikedokan di kecamatan Cikarang barat, kabupaten Bekasi. Rumah tinggi dari kayu yang beliau bangun masih berdiri kokoh dan menjadi cagar budaya hingga kini dan dikenal dengan nama Saung Ranggon atau Rumah Tinggi.

Makam Pangeran Jayakarta
Masjid As-Salafiyah diperkirakan dibangun oleh Pangeran Jayakarta sekitar tahun 1619 di tengah basis perlawanannya di kawasan hutan disebelah tenggara Batavia sepanjang kali sunter.  Sebuah masjid dengan empat soko guru beratap limas. Assalafiyah yang menjadi nama masjid ini bermakna “tertua”.  Pangeran Jayakarta meninggal dunia pada tahun 1640M dan dimakamkan dekat Masjid Jami’ Assalafiyah. Demikian pula dengan dua putranya, Pangeran Lahut dan Pangeran Sageri serta Ratu Rafiah istri Pangeran Sageri.

Makam dan Masjid Pangeran Jayakarta dipugar pertama kali pada tahun 1700 oleh Pangeran Sageri, pemugaran kedua tahun 1842 oleh Aria Tubagus Kosim. Pemugaran ketiga tahun 1969 oleh Gubernur DKI H. Ali Sadikin, dibangun dua lantai dengan membuat menara baru. Pemugaran keempat pada tahun 1992 oleh Gubernur DKI H. Suryadi Soedirdja, melalu Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Kini setiap hari silih berganti pengunjung yang datang ke masjid ini begitupun mereka yang datang untuk berziarah ke makam Pangeran Jayakarta.

Prasasti di Gapura Masjid Jami As-Salfiyah
Saat ini (Juni 2016) masjid Jami’ As-Salfiyah sudah ditambahkan lagi bangunan baru di sisi selatannya yang menhadap ke jalan raya Jatinegara Kaum, berupa bangunan beton belantai dua yang terhubung ke bangunan berlantai dua sebelumnya. Pembangunan gedung baru ini juga disertai dengan pembangunan tempat wudhu yang lebih baik disi kiri (timur) bangunan baru.

Gedung baru yang dibangun dibekas lahan parkir ini membuat masjid Jami’ As-Salafiyah kehilangan lahan parkirnya. Pengunjung yang datang kesana dan membawa kendaraan mau tidak mau harus parkir di sisi jalan raya. Ada tiga tangga akses ke lantai dua masjid. Dua di bagian dalam sisi timur bangunan berlantai dua yang lama dan satu tangga di bangunan baru. Secara keseluruhan bangunan baru ini belum selesai seratus persen terutama bagian fasad depannya sementara bagian dalamnya secara keseluruhan sudah rapi dan nyaman untuk digunakan.*** 

Di dalam bangunan tua masjid Jami' As-Salafiyah

Lihat Foto Foto Masjid dan Makam Pangeran Jayakarta Selengkapnya di posting berikutnya

--------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 12 Juni 2016

Proyek Pembangunan Masjid Al-Maghfiroh Kampung Jegang

#masjid masjid kabupaten Bekasi

Dipertigaan jalan Jegang, masjid ini dibangun menggantikan masjid lama di lokasi yang sama.

Sebelumnya ditempat ini sudah ada masjid berbentuk bangun tradisional dengan bahan gedek (anyaman bambu). saat ini masjid lama itu sudah dibongkar dan sedang dibangun masjid baru yang lebih permanen dengan rancangan modern. Panitia pembangunan masjid ini masih membutuhkan dana untuk pembangunannya. Monggo dibantu. Lokasi persisnya anda bisa lihat di google maps dibawah ini. 

Masjid Al-Maghfiroh
Kampung Jegang Jln Serang – Setu RT.001/01
Desa Sukasejati, Kec. Cikarang Selatan, Kab. Bekasi
Jawa Barat – Indonesia

Contact Person:
DKM 0858 1334 2728
Panitia 0857 8223 6059



Bangunan awal masjid yang sedang dibangun ini terekam dengan apik di google street view tahun 2013 seperti terlihat di atas. dan dibawah ini spanduk yang dipasang oleh panitia di depan proyek pembangunan masjid ini. Tampak rencana bangunan masjid barunya cukup megah. 

Butuh bantuan

--------------------------------

Baca juga Artikel Masjid Masjid Cikarang Selatan Lain-nya


Sabtu, 11 Juni 2016

Masjid Jami’ Attaufiq Walhidayah In Picture’s

#Masjid Masjid Kabupaten Bekasi

Nama masjid ini cukup panjang, Masjid Jami’ Attaufiq Walhidayah, lokasinya berada di Jl. DR. Setia Budi, Pilar Barat, Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Saat ini masjid ini sedang dalam proses renovasi total. Tapi tetap digunakan oleh masyarakat sekitar, dan sudah cukup indah untuk dipandang. ulasannya baca disini. Riwayat renovasinya baca disini.

Dari ruas jalan DR. Setia Budi
Seperti Es Krim di puncak menara
Dari gang kecil di sebelah masjid
Matahari Cikarang yang menyengat
Dari teras lantai dua masjid Nurul Ikhlash Pilar Barat 
Dari balik jendela lantai dua masjid Nurul Ikhlash Pilar Barat  
Dari balik kaca jendela lantai dua masjid Nurul Ikhlash Pilar Barat 
Dari Fly Over Pilar

--------------------------

Baca Juga