Minggu, 28 Juni 2020

Masjid Jami’ Al-Ikhlas Tambun

Masjid Jami' Al-Ikhlas Jalan Kebon Kelapa, Desa Tambun.

Di ruas jalan depan masjid jami’ ini cukup semarak di malam hari dengan berbagai warung kuliner. Cukup ramai dengan warga yang berbelanja berbagai kebutuhan. Masjid ini berada tak jauh dari komplek perumahan Pemda di desa Tambun.

Suasana malam di depan Masjid Jami' Al-Iklas
Jalan Kebon Kelapa yang melintas di depan masjid ini berada di sisi selatan Jalan Raya Sultan Hasanuddin (jalan Pantura) yang menghubungkan tambun dan kota Bekasi. Dari arah Cikarang ruas jalan Kebon kelapa berada di sebelah kiri setelah melewati Plaza Metropolitan Tambun, persis beberapa meter setelah Kantor Pos Tambun.

Masjid Jami' Al-Ikhlas
Jl. Kebon Kelapa/Jl. Apel N0. 13 Desa Tambun
Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi 17510


              

Dari papan nama yang dipasang di depan masjid diketahui bahwa masjid ini memiliki fasilitas perpustakaan dan Baitul Mal yang mengelola Jariah, infaq, Sodaqoh dan Zakat.
  
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 27 Juni 2020

Masjid Jamie Darussalam Kampung Buaran, Lambangsari


Masjid Jami' Darussalam dari arah Jalan Raya Inspeksi Kali Malang (lihat foto asli di Instagram)

Masjid Jamie Darussalam berdiri megah di sisi barat Kali Malang di Kampung Buaran, Desa Lambangsari, kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Masjid megah ini terlihat jelas dari ruas jalan inspeksi kali malang di sisi timur kali malang yang berseberangan dengan masjid ini.

Masjid Jami' Darussalam dari arah gerbang Kampung Buaran. (lihat foto asli di Instagram)

Satu jembatan kecil melintas diatas kali malang menghubungkan jalan utama di depan masjid Jami Darussalam di kampung Buaran dengan ruas jalan Inspeksi kali Malang. Dari arah jembatan ini kita akan langsung bertemu dengan gerbang kampung Buaran di depan masjid.

Masjid Jami’ Darussalam
Kp. Buaran, Jl. Melati RT.01/01 Desa Lambangsari
Kecamatan Tambun Selatan, Kab. Bekasi
Jawa Barat, Indonesia 17510



Bangunan masjidnya dibangun dengan gaya minimalis modern beruba bangunan dengan bentuk persegi dengan satu kubah di atap ditambah dengan dua menara kecil yang juga dibangun dibagian atapnya. Dari sisi lokasinya, Masjid Jami’ Darussalam ini menjadi salah satu masjid yang berada di sepanjang ruas jalan inspeksi Kali Malang antara Cikarang dan kota Bekasi.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Sabtu, 11 April 2020

Masjid Bilal Bin Rabbah Madinah

Masjid Bilal Bin Rabah, di kota Madinah.

Masjid Bilal Bin Rabah adalah salah satu masjid yang dibangun ditempat bersejarah di kota Madinah. Lokasi Masjid Bilal Bin Rabbah berada hanya terpaut tiga blok bangunan di sebelah selatan pelataran selatan komplek Masjid Nabawi setelah perluasan. Bangunan masjid yang cukup besar, dan uniknya bangunan masjid ini juga menyatu atau dilengkapi dengan Shopping center di sisi utara masjid-nya.

Masjid Bilal Bin Rabah disebut sebut sebagai masjid yang dibangun di atas tanah bekas rumah Sahabat Rosulullah, Bilal Bin Rabah, semasa beliau masih tinggal di kota Madinah. Bilal dikenal sebagai salah satu dari kelompok pertama yang masuk Islam, beliau dikenal sebagai pengumandang azan pertama dalam sejarah Islam. Gelar ‘Muazin nya Rosulullah” menempel pada nama Bilal Bin Rabbah dan beliau berhenti mengumandangkan azan tak lama setelah wafatnya Rosulullah ï·º.

Bilal Ibn Rabah Mosque
8359 Abdul Muhsin Ibn Abdul Aziz, Qurban, Medina 42316 2254, Arab Saudi


Setelah Rosulullah ï·º wafat, Bilal bin Rabah memutuskan untuk tidak akan melantunkan azan lagi, hal tersebut karena kecintaan beliau yang begitu mendalam kepada Rosulullah ï·º. Setelah Rosulullah wafat, Bilal hanya sanggup melakukan azan selama tiga hari dan selalu terhenti di kalimat “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaah” (Aku menyatakan bahwa Muhammad ialah utusan Allah)”, dan Bilal tenggelam dalam isak tangis.

Supermarket di sebelah Masjid Bilal Bin Rabah, di kota Madinah.
Tak kuasa menahan kesedihan yang medalam, Bilal pun memohon untuk Khalifah Abu Bakar sebagai khalifah menggantikan posisi Rasulullah ï·º sebagai pemimpin, supaya diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, sebab tidak mampu melakukannya. Bilal pun meminta izin kepadanya untuk tidak tinggal lagi di kota Madinah.

Awalnya, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq merasa ragu guna mengabulkan permohonan Bilal yang meminta agar ia diperbolehkan keluar dari kota Madinah, namun akhirnya mengizinkan Bilal Bin Rabbah meninggalkan Madinah. Bilal Bin Rabah kemudian menetap di Syria dan hanya pernah sekali kembali berkunjung ke Madinah untuk melepas kerinduannya kepada Rosulullah ï·º, masih dimasa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Bilal bin Rabah wafat dan dimakamkan di Syria.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 05 April 2020

Masjid Bandara Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Madinah

Masjid Bandara Internasional Madinah, tidak ada nama khusus bagi masjid ini. 

Masjid megah satu ini berdiri tepat di depan terminal bandara internasional Madinah atau Bandara Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz di kota Madinah. Lokasinya berada di halaman parkir di depan terminal bandara.

Gaya bangunannya terutama jejeran pilar pilarnya itu dibangun senada dengan pilar pilar bangunan di gedung terminal bandara yang dirancang menyerupai pohon pohon kurma dengan pelepah pelepah kurma menjadi penyangga. Kami mendarat di Madinah malam hari dan diluar waktu sholat sehingga belum sempat singgah ke masjid ini.


Menurut berbagai informasi masjid ini dibangun bersamaan renovasi Bandara Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Madinah, sekitar tahun 2015 lalu. Waktu buka masjid ini dibatasi, tidak di buka 24 jam. Ruang dalam masjid akan ditutup setelah sholat Isya’ sekira pukul 22.30 Waktu setempat dan akan dibuka kembali pada pukul 03.45 jelang sholat subuh.

Semoga ada “lain kali” untuk mampir kesana.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 04 April 2020

Masjid Al-Qiblatain Madinah

Masjid Al-Qiblatain.

Masjid Al-Qiblatain bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Masjid Dua Kiblat, hal ini merujuk kepada peristiwa sejarah yang terjadi ditempat ini pada masa Rosulullah ï·º. Masjid ini menjadi tempat turunnya wahyu yang berisi perintah untuk mengalihkan kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke Ka’bah di kota Mekah.  

Sebelum peristiwa tersebut masjid ini dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena memang dibangun diatas bekas rumah Bani Salamah. Lokasinya berada di atas bukit kecil di Harrah Wabrah sekitar 7 kilometer dari Masjid Nabawi. Muatan sejarah di masjid ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para Jemaah dari berbagai Negara untuk datang mengunjunginya.


Masjid AL-Qiblatain berada sisi ruas Jalan Khalid ibnu Al-Walid di lingkungan yang juga bernama Al-Qiblatain di dalam kota Madinah provinsi Madinah, Arab Saudi. Sebelumnya masjid ini memiliki ciri khas dua kiblat atau memiliki dua Mihrab (ruang imam / pengimaman / bagian bangunan yang menonjol keluar menunjukkan arah kiblat) masing masing mengarah ke Baitul Maqdis – Palestina di sisi utara dan satu lagi mengarah ke Ka’bah di kota Mekah pada sisi selatan.

Masjid bersejarah ini telah berkali kali dipugar dan direnovasi diantaranya oleh Sultan Sulaiman pada tahun 893 H atau 1543 M. Dan terahir kali dibangun ulang oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi di tahun 1987 dimasa Raja Fahd, yang melakukan perluasan dan pembangunan konstruksi baru di masjid ini.

Pembangunan terahir ini tidak lagi menampilkan dua mihrab masjid secara utuh di dua sisi bangunan masjid yang berseberangan, namun berfokus kepada satu mihrab yang mengarah ke Ka’bah. Dapat dikatakan bahwa di Masjid Al-Qiblatain saat ini hanya ada satu mihrab bukan dua mihrab lagi seperti sebelumnya.

Namun demikian, sebagai pengingat sejarah, sebuah replika mihrab berukuran kecil ditempatkan di sisi utara di dalam ruangan masjid dibagian atas pintu utama dibawah kubah utara, berseberangan dengan mihrab utama yang menghadap ke kiblat ke Ka’bah. Jemaah yang ingin melihat replika mihrab tersebut memang harus mendongak (melihat ke atas) ke bagian atas pintu utama dibawah kubah utara.

Bangunan baru Masjid Al-Qiblatain ini dilengkapi dengan dua kubah besar yang berjejer utara dan selatan. Dua menara tinggi menjulang dibangun mengapit bangunan masjid di sisi sebalah utara. Lantai bangunan masjid ini dibangun cukup tinggi dari permukaan tanah sekitarnya, membuatnya tampak begitu megah dengan balutan warna putih bersih di sekujur bangunan-nya.

Masjid Al-Qiblatain.

Sejarah Perpindahan Arah Kiblat

Di awal risalah Rosulullah ï·º, kiblat sholat ummat Islam adalah mengarah ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqso) di Palestina. Hal tersebut menjadi salah satu sumber cemooh dari kaum Yahudi dan Nasrani dan orang-rang kafir bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah itu hanya menyontoh dan mengikuti ajaran nenek moyang mereka. Cemoohan yang dikaitkan dengan arah kiblat ke Baitul Maqdis, sehingga Rasulullah berdoa dan meminta agar arah kiblat dipindahkan.

Pada tahun ke 2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab, 17 bulan setelah Rosulullah ï·º hijrah ke Madinah, saat itu Rosulullah ï·º sedang mengimami sholat Dzuhur di masjid Bani Salamah dan baru selesai dua roka’t tiba-tiba turunlah wahyu surah Al Baqarah ayat 144, perintah dari Allah untuk memindahkan arah Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah di Kota Mekah

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allahnya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (Al-Baqarah: 144).

Seketika itu juga Rosulullah ï·º mengubah arah kiblat sholatnya menghadap ke Ka’bah dengan berbalik arah 180° dengan terus melanjutkan sholat hingga selesai. Lokasi Baitul Maqdis di Palestina berada di utara kota Madinah sedangkan Ka’bah di kota Mekah berada di sebelah selatan kota Madinah.

Sehingga pada saat wahyu pemindahan arah kiblat tersebut turun, Rosullah berbalik arah dari mengarah ke utara lalu mengarah ke selatan, di ikuti oleh para sahabat yang bermakmum, kemudian beliau berpindah tempat ke sisi selatan mengambil tempat di depan para makmum dan melanjutkan sholat dhuhur hari itu hingga selesai.***

-----------------------------------
Like & Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  
------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 29 Maret 2020

Masjid Al-Jum’ah Madinah

Masjid Al-Jum'ah Saudi Arabia.
Masjid Al-Jum’ah adalah salah satu masjid bersejarah di kota Madinah, Arab Saudi. Lokasi masjid ini sekitar 1,1 km sebelah utara Masjid Quba atau sekitar 4 km disebelah selatan dari Masjid Nabawi, dan menjadi salah satu masjid yang tempatnya berdiri berkaitan langsung dengan sejarah Islam khususnya sejarah hijrahnya Rosulullah dari kota Mekah ke kota Madinah. Kini kawasan di lingkungan masjid ini dinamai dengan Al-Jumu’ah.

Jemaah haji ataupun Jemaah umroh dari berbagai Negara termasuk Jemaah dari Indonesia biasanya akan di ajak oleh biro wisatanya untuk berkunjung atau sekedar melintas di depan masjid ini sembari dijelaskan sejarahnya oleh pemandu wisata di dalam bis selama perjalanan, karena rute perjalanan ke masjid ini memang akan dilalui pada saat akan menuju ke Masjid Quba dari Masjid Nabawi.

Masjid Al-Jum’ah
Lingkungan Al-Jumu’ah, Kota Madinah, Provinsi Madinah, Arab Saudi


Sejarah Masjid Al-Jum'ah Madinah:

Masjid Al-Jum’ah dibangun di lokasi yang diyakini sebagai tempat dimana Rosulullah dan para sahabat menunaikan sholat jum’at berjamaah untuk pertama kali dalam perjalanan hijrah dari kota Mekah ke kota Madinah.

Disebutkan bahwa ketika Rasulullah berhijrah, beliau masuk di perbatasan Madinah pada hari Senin, Rabiul Awwal 1 H. Saat itu beliau singgah di Quba selama empat hari hingga Jumat pagi, bertepatan dengan tanggal 16 Rabiul Awwal pada tahun yang sama.

Beliau kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Tidak jauh dari Quba, waktu shalat Jumat telah masuk. Beliau pun shalat di Wadi Ranuna. Di tempat shalat Jumat Rasulullah itu kemudian dibangun Masjid Al-Jum’ah (Jumat), bikan dibangun oleh Rosulullah tapi dibangun oleh pemerintahan setelah beliau.

Pertama kali dibangun dari pecahan pecahan batu dan hancur beberapa kali dan direnovasi.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang kemudian melaksanakan renovasi. Renovasi dilakukan lagi pada masa Kekhalifahan Abbasiyah antara tahun 155 - 159 Hijriah. Lalu di akhir abad ke-9 Hijriah, direnovasi oleh Syamsuddin Qawan. Renovasi pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah (Turki Usmani) dipimpin oleh Sultan Bayazid.

Masjid Al-Jum'ah dari balik jendela bis wisara.
Renovasi oleh Sayyid Hasan Asy-Syarbatli pada pertengahan abad ke-14 Hijriah. Masjid Jum'at sebelum renovasi terakhir memiliki panjang 8 meter, lebar 4,5 meter, tinggi 5,5 meter dan 1 kubah yang terbuat dari bata merah, serta di sebelah timurnya terdapat halaman dengan panjang 8 meter dan lebar 6 meter.

Renovasi pada tahun 1409 Hijriah oleh Kementerian Wakaf Arab Saudi, atas perintah Pelayan Dua Tanah Suci Raja Fahd bin Abdul Aziz dengan menghancurkan bangunan lama, dan membuat bangunan baru, termasuk tempat tinggal untuk Imam, Muadzin, Perpustakaan, Madrasah Tahfidz al-Qur'an, Tempat salat untuk perempuan dan kamar mandi.

Pada tahun 1412 Hijriah, Masjid Jum'at dibuka untuk umum dengan kapasitas 650 jamaah, memiliki 1 kubah utama dan 4 kubah kecil. Pembangunan terahir ini selain membangun fasilitas pendukung juga meningkatkan daya tamping masjid dari sebelumnya hanya mampu menampung 70 jemaah diperluas hingga mampu menampung sekitar 700 jemaah.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 28 Maret 2020

Masjid Quba vs Masjid Dhirar

Masjid Quba.

Membahas tentang Masjid Quba di Madinah rasanya kurang lengkap bila tidak sekaligus membahas tentang Masjid Dhirar (dibaca Diror) yang notabene sengaja dibangun oleh para pembangunnya sebagai tandingan bagi masjid Quba, sebagai salah satu tujuannya. Dua masjid ini terkait dengan ayat yang sama di dalam Al-Qur’an, yakni di surah At-Taubah QS 9:107-108.

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin) dan karena kekafiran(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS 9:107)

Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS 9:108)

Dua masjid ini mendapatkan derajat yang bertolak belakang dari Allah Subhanahuwata’ala. Allah ‘memuji’ masjid Quba dan orang orang yang sholat di dalamnya serta ‘melaknat’ masjid Dhirar dan para pembangunnya dan Allah bersaksi atas kedustaan mereka dalam sumpahnya kepada Rosulullah ï·º.

Masjid Quba.

Abu Amir Ar-Rahib dan Masjid Dhirar

Sebelum Nabi Muhammad ï·º hijrah ke Madinah, di kota Madinah ada seorang lelaki dari kabilah Khazraj yang dikenal dengan nama Abu Amir Ar-Rahib. Sejak masa Jahiliah dia telah masuk agama Nasrani dan telah membaca ilmu ahli kitab. Ia melakukan ibadahnya di masa Jahiliah, dan ia mempunyai kedudukan yang sangat terhormat di kabilah Khazraj.

Ketika Nabi Muhammad ï·º tiba di Madinah untuk berhijrah, lalu orang-orang muslim berkumpul bersamanya, dan kalimah Islam menjadi tinggi serta Allah memenangkannya dalam Perang Badar, maka Abu Amir Ar-Rahib mulai bersikap oposisi, memusuhi Nabi Muhammad ï·º secara terang-terangan.

Pada mulanya Rosulullah ï·º telah menyerunya untuk menyembah Allah [sebelum ia melarikan diri] dan membacakan Al-Qur’an kepadanya, tetapi ia tetap tidak mau masuk Islam, dan membangkang. Maka Rosulullah ï·º mendoakan kecelakaan bagi Abu Amir Ar-Rahib, semoga dia mati dalam keadaan jauh dari tempat tinggalnya dan terusir. Dikemudian hari do’a Rosulullah ï·º itu dikabulkan Allah.

Detil salah satu menara Masjid Quba
Abu Amir Ar-Rahib kemudian melarikan diri dari Madinah setelah gagal mempengaruhi kaum muslimin Madinah untuk memerangi Rosulullah ï·º, ia kemudian bergabung dengan orang-orang kafir Mekah dari kalangan kaum musyrik Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rosulullah ï·º.

Maka bergabunglah bersamanya orang-orang dari kalangan Arab Badui yang setuju dengan pendapatnya, lalu mereka datang pada tahun terjadinya Perang Uhud. Dalam perang tersebut Abu Amir Ar-Rahib berhasil mencelakai Rosulullah ï·º yang sempat terperosok ke dalam lubang lubang yang dibuat oleh Abu Amir Ar-Rahib

Setelah perang Uhud dan kedudukan kaum muslimin Madinah semakin kokoh, Abu Amir Ar-Rahib semakin marah dan dia pergi menemui Kaisar Romawi, Hiraklius, untuk meminta bantuan memerangi Nabi Muhammad ï·º. Kaisar Romawi memberikan janji dan harapan kepadanya, lalu ia bermukim di kerajaan Romawi.

Diantara kepakan sayap merpati.

Peran Abu Amir Ar-Rahib di Masjid Dhirar

Dari Romawi Abu Amir Ar-Rahib menulis surat kepada segolongan kaumnya dari kalangan Anshar Madinah yang tergabung dalam golongan orang-orang munafik lagi masih ragu kepada Islam. Dia menjanjikan dan memberikan harapan kepada mereka, bahwa kelak dia akan datang kepada mereka dengan membawa pasukan Romawi untuk memerangi Rosulullah ï·º dan mengalahkannya.

Abu Amir Ar-Rahib menganjurkan orang-orangnya untuk membuat suatu benteng yang kelak akan dipakai untuk berlindung sekaligus akan menjadi tempat pengintaian baginya kelak di masa depan bila ia datang kepada mereka. Maka orang-orang Abu Amir Ar-Rahib di Madinah mulai membangun sebuah masjid yang letaknya berdekatan dengan Masjid Quba.

Masjid tersebut baru selesai di saat Sebelum Nabi Muhammad ï·º hendak pergi ke medan perang Tabuk. Lalu para pembangunnya datang menghadap Rosulullah ï·º dan memohon agar beliau sudi melakukan shalat di masjid mereka. Tujuan mereka adalah untuk memperoleh bukti melalui sholatnya Nabi Muhammad ï·º di masjid tersebut, sehingga kedudukan masjid itu diakui dan dikuatkan.

Areal terbuka di tengah tengah bangunan Masjid Quba.
Mereka mengemukakan alasan, bahwa sesungguhnya mereka membangun masjid ini hanyalah untuk orang-orang yang lemah dari kalangan mereka dan orang-orang yang berhalangan di malam yang sangat dingin. Saat itu Nabi Muhammad ï·º menjawab permintaan mereka melalui sabdanya: Sesungguhnya kami sedang dalam perjalanan. Tetapi jika kami kembali, insya Allah.

Turunnya wahyu tentang Masjid Quba dan Masjid Dhirar

Ketika Nabi Muhammad ï·º akan kembali ke Madinah dari medan Tabuk, beliau dan rombogan beristirahat di Zu Awan, sebuah kampung yang jaraknya setengah hari dari Madinah. Sebelumnya di tempat yang sama para pembangun Masjid Dhirar pernah datang kepada Rosulullah ï·º yang saat itu sedang bersiap-siap menuju ke medan Tabuk.

Di tempat itu, Malaikat Jibril a.s. turun dengan membawa berita tentang Masjid Dhirar dan niat para pembangunnya yang hendak menyebarkan kekufuran dan memecah belah persatuan umat Islam. Mereka hendak menyaingi masjid kaum muslim, yaitu Masjid Quba yang sejak semula dibangun dengan landasan takwa.

WC, kamar mandi dan toilet di Masjid Quba.

Dimusnahkannya Masjid Dhirar

Setelah menerima wahyu itu, lalu Rosulullah ï·º memanggil Malik ibnu Dukhsyum (saudara lelaki Bani Salim ibnu Auf) dan Ma’an ibnu Addi atau saudara lelakinya (yaitu Amir ibnu Addi yang juga saudara lelaki Al-Ajian). Lalu beliau Rosulullah ï·º bersabda:

Berangkatlah kamu berdua ke masjid ini yang pemiliknya zalim, dan robohkanlah serta bakarlah masjidnya.

Maka keduanya berangkat dengan langkah-langkah cepat, hingga datang ke daerah Bani Salim ibnu Auf yang merupakan golongan Malik ibnu Dukhsyum. Lalu Malik berkata kepada Ma’an, “Tunggulah aku, aku akan membuatkan api untukmu dari keluargaku.” Lalu Malik masuk menemui keluarganya dan mengambil daun kurma, lalu menyalakan api dengannya.

Setelah itu keduanya berangkat dengan cepat hingga datang ke masjid itu dan memasukinya. Di dalam masjid terdapat orang-orangnya, maka keduanya membakar masjid itu dan merobohkannya, sedangkan orang-orang yang tadi ada di dalamnya bubar keluar berpencar-pencar.

Masjid Quba.
Disebutkan bahwa orang-orang yang membangunnya terdiri atas dua belas orang lelaki, yaitu Khaddam ibnu Khalid dari kalangan Bani Ubaid ibnu Zaid, salah seorang dari Bani Amr ibnu Auf yang dari rumahnya dimulai pembangunan Masjid ini, lalu Sa’labah ibnu Hatib dari Bani Ubaid, Mawali ibnu Umayyah ibnu Yazid, Mut’ib ibnu Qusyair dari kalangan Bani Dabi’ah ibnu Zaid, Abu Habibah ibnu Al-Az’ar dari kalangan Bani Dabi’ah ibnu Zaid.

Ibad ibnu Hanif (saudara Sahl ibnu Hanif) dari kalangan Bani Amr ibnu Auf, Hari sah ibnu Amir dan kedua anak nya (yaitu Majma’ ibnu Harisah dan Zaid ibnu Hari sah), juga Nabtal Al-Haris mereka dari kalangan Bani Dabi’ah, Mukharrij yang dari kalangan Bani Dabi’ah, Yajad ibnu Imran dari kalangan Bani Dabi’ah, dan Wadi’ah ibnu Sabit serta Mawali ibnu Umayyah golongan Abu Lubabah ibnu Abdul Munzir. [Diringkas dari Tafsir Ibnu Katsir surah At-Taubah ayat 107-108].

Ahir Kisah

Ahir kisah dari Masjid Dhirar ini setelah dibakar dan dihancurkan, konon tempatnya berdiri kemudian dijadikan tempat pembuangan sampah oleh penduduk setempat, sedangkan Abu Amir Ar-Rahib menerima takdirnya, dia mati di halaman istana kaisar Romawi di tahun ke 9 atau ke 10 Hijriah, dalam keadaan jauh dari tempat tinggalnya dan terusir, persis sebagaimana do’a Rosulullah ï·º.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga