Tampilkan postingan dengan label Cibarusah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cibarusah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2020

Megahnya Masjid Jami’ Nurul Falah Wibawamulya

MEGAH. Masjid Jami Nurul Falah Tegalpanjang, desa Wibawamulya, kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi.

Ketika pertama kali melintas di depan masjid ini sore hari dibulan Juni tahun 2012, Masjid Jami’ Nurul Falah ini belum semegah bangunan nya saat ini. Ketika itu bangunan masjidnya masih berupa masjid dengan atap limas bersusun dua dan satu lantai saja. Baca artikel ini sampai habis, nanti kamu akan menemukan perbedaan masjid ini sebelum dan sesudah renovasi.

Bangunan masjid yang kini berdiri benar benar masih gress. Tampak begitu megah ditepian ruas jalan irisgasi di kampong Tegal Panjang Desa Wibawamulya, kecamatan Cibarusah. Pembangunannya baru selesai secara keseluruhan dipertengahan tahun 2019 yang lalu setelah menjalani proses pembangunan kembali selama kurang lebih dua tahun.

Masjid Jami Nurul Falah
Kampung Tegal Panjang, Desa Wibawamulya
Kecamatan Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat 17340



Arsitektur masjid ini cukup menawan, mengingatkan pada arsitektur masjid masjid di kawasan kaukasus – Rusia dengan tembok tembok dinding yang massif tinggi besar dan kotak kotak tegas dengan bukaan beranda yang begitu besar ditambah dengan menara segi empat yang menjulang.

Bangunan masjid ini tampak begitu mentereng dan tentu saja sangat menyolok, kontras dengan lingkungan sekitarnya karena bangunannya yang menjulang tinggi sendirian diantara bangunan rumah rumah penduduk dan pesawahan disekitarnya. Masjid Jami’ Nurul Falah ini menjadi masjid terbesar dan termegah di kawasan tersebut.

Fasad depan Masjid Jami' Nurul Falah.

Bila anda berkendara dari arah pertigaan Cigutul di Cibarusah hingga Pasar Pasir Kupang anda hanya menemukan dua masjid yang begitu besar dan megah disepanjang ruas jalan tersebut yakni Masjid Darul Muawanah di kompek pondok Pesantren Darul Muawanah dan Masjid Jami’ Nurul Falah ini.

Di pasar Pasir Kupang anda juga akan menemukan satu lagi masjid baru nan menawan yakni Masjid Jami’ Tiomsah namun ukurannya tak sebesar masjid ini dan hanya dibangun satu lantai saja.

Dibangun dengan dana swadaya masyarakat

Menurut penuturan Pak Halim, salah satu pengurus masjid ini yang sempat kami jumpati bakda sholat asyar di masjid ini. Renovasi besar besaran Masjid Jami’ Nurul Falah ini mulai dilakukan tahun 2017 yang lalu, ditangani oleh arsitek dan tukang dari Purwakarta ditambah dengan tukang dari daerah setempat. Dan seluruh biaya pembangunannya bersumber dari dana swadaya masyarakat setempat.

Masjid Jami' Nurul Falah dari arah selatan.

Masih menurut penuturan beliau, donasi dari masyarakat setempat tidak hanya berupa uang, namun juga berupa material bangunan dan lainnya. Pembangunannya memakan waktu lebih kurang dua tahun dan selesai di pertengahan tahun 2019 yang lalu.

Arsitektur Masjid Jami’ Nurul Falah

Masjid Jami’ Nurul Falah dibangun berlantai dua dengan tangga akses ditempatkan di sisi kiri dan kanan beranda. Ruang utama masjid tidak ada penyekat permanen untuk Jemaah wanita, hanya menggunakan sekat temporer dengan kain. Ada enam pilar beton ditengah tengah ruangan masjid menopang struktur diatasnya.

Menara tunggalnya dibangun di sisi utara. Kamar mandi dan tempat wudhu ditempatkan dibawah bangunan serbaguna di sisi selatan. Lantai bangunan masjid ini memang ditinggikan menyesuaikan dengan permukaan jalan raya didepan-nya.

Masjid Jami' Nurul Falah dan aula serbaguna disampignya.

Permukaan tanahnya memang jauh lebih rendah dibandingkan dengan permukaan jalan raya. Penambahan elevasi lantai bangunan menghasilkan area ground cukup tinggi dibawah bangunan serbaguna yang digunakan sebagai tempat wudhu dan kamar mandi. Sederet anak tangga mengarah dari area wudhu menuju ke pintu selatan masjid.

Ada lima kubah di bagian atap masjid ini terdiri dari satu kubah utama di kelilingi dengan empat kubah pengapit yang lebih kecil di masing masing empat penjuru atap. Ada jendela kaca patri di masing masing empat sudut bangunan penopang kubah menjadi jalan masuk cahaya matahari ke dalam masjid.

Baik kubah utama maupun kubah pengapit nya di cat dengan ornament geometris sedangkan kubah di puncak menaranya dicat dengan warna ke-emasan. Menara masjid ini bertingkat sedangkan warna dominan masjid ini menggunakan warna biru terang dipadu dengan warna hijau, kuning dan putih pada ornamen nya.

Masjid Jami' Nurul Falah sebelum dan sesudah renovasi.
Bangunan menaranya dibagi enam segmen, tiga segmen paling bawah berdenah segi empat, satu segmen diatasnya berdenah segi delapan serta dua segemen paling atas berdenah bundar. Di segmen paling atas dibawah kubah menjadi tempat pengeras suara.

Halaman masjid ini cukup luas untuk parkir kendaraan Jemaah. Sekeliling masjid sudah dilengkapi dengan pagar keliling dan satu gapura yang senada dengan bangunan masjid. Selamat untuk kaum Muslimin Tegalpanjang desa Wibawamulya atas selesainya masjid Jami Nurul Falah semoga masjid ini semakin makmur dengan syiar Islam.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 17 September 2016

Senin, 17 September 2012

Masjid Jami An-Nur Kampung Jati Tonggoh

Updated : 10 Desember 2015
Gelap ::: Masjid Jami An-Nur Kampung Jati Tonggoh, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Suasana nya sudah gelap ketika singgah ke masjid ini. 

Singgah ke masjid ini bersama dengan Arya, pangeran kecilku dalam perjalanan melintasi tempat ini dari Situ Abidin di Bojongmangu menuju pertigaan Cibarusah. Kami sengaja singgah ke masjid ini karena sudah pasti tak akan sempat untuk sholat magrib di rumah yang masih terpaut puluhan kilo dari sini.

di dalam masjid An-Nur Kampung Jati Tonggoh.
Tiba di masjid ini ketika jemaah sholat utama telah usai. jadilah kami berjamaah berdua. bakda magrib tinggal tersisa dua orang jemaah senior di dalam masjid. satu orang khusuk berzikir dan seorang lagi sendirian mengaji bersender di salah satu dari dua tiang di dalam masjid ini.

Lokasi dan Alamat Masjid Jami An Nur

Masjid Jami An-Nur
Kampung Jati Tonggoh, Desa Sirnajati
Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi
Propinsi Jawa Barat - Indonesia




Di tahun 2012 ketika pertama singgah ke masjid ini, saya agak kesulitan menemukan lokasi persis masjid ini di dalam peta Google Maps ataupun Google Earth. Pencitraan satelit tahun 2000 di area ini tidak terlalu jelas. ditambah lagi saya baru pertama kali singgah ke masjid ini jadi agak kesulitan menemukan lokasi pastinya. Penanda yang saya letakkan di peta di atas merupakan perkiraan lokasi. Ketika melintas lagi disana ditahun 2015 google maps sudah mengenali daerah tersebut bahkan lengkap dengan street view nya. Hanya saja, bentuk fisik bangunan masjidnya sama sekali sudah berubah menjadi bentuk yang baru,  lebih modern. ditambah dengan suasana di sekitranya pun sudah berubah. 

Tampak Depan ::: Disebelah kiri foto adalah jalan raya, sebelah kanan foto merupakan pemukiman penduduk. Pintu besar yang terbuka di sebelah kiri adalah pintu utama, pintu disebelah kanan merupakan pintu ke ruang khusus jema'ah wanita. paling kiri adalah area berwudhu.
Masjid ini seperti masjid masjid tatar sunda lain nya dibangun dengan atap limas bersusun. hanya saja tiang penyangga atap di dalam masjidnya bukan empat, tapi dua tiang saja. mirip dengan rancang bangun masjid Jami' Al-Muhajirin RawaBanteng di Cikarang Timur yang juga hanya menggunakan dua tiang penyangga di dalam masjid.

Ekterior Masjid ::: Sepertinya memang harus kembali lagi ke masjid ini suatu hari diwaktu siang untuk mendapatkan gambaran lebih jelas. selain foto foto gelap ini.
Posisi masjid ini membujur segaris dengan ruas jalan raya yang membentang didepannya dari barat ke timur, seperti terlihat pada foto kanan bawah. Sehingga halaman depan masjid ini berada di sisi timur masjid, begitupun dengan satu satunya teras yang ada di masjid ini (foto kiri bawah). Meski gelap dan buta dengan lokasi tanpa GPS, papan nama masjid ini menjelaskan alamatnya dengan detil (foto atas).

Pintu di foto kiri atas adalah pintu ke ruang jemaah wanita, foto kiri bawah adalah salah satu sisi tembok dalam masjid. Kanan atas & tengah : suasana di dalam masjid. foto kiri bawah : teras depan masjid ke arah area berwudhu.
Ada ruang khusus untuk jemaah wanita yang letaknya disisi utara masjid ini bersebelahan dengan area tempat berwudhu. pintu akses ke ruangan ini berada disebelah kanan pintu utama. Halaman masjidnya sudah dipagar dengan dua pintu akses. Masing masing satu pintu menuju jalan raya sementara satu pintu lainnya menuju ke jalan kecil yang membentang disamping masjid ini. 

Updated : 10 Desember 2015

Tahun 2015 saat melintas lagi di depan masjid ini, suasana sudah berubah seluruhnya. Bangunan masjid yang lama sudah bermetamorfosis ke bentuk yang lebih modern, tanah kosong di sebelah nya kini sudah menjelma menjadi komplek Kantor Kepala Desa Sirnajati dan fungsi masjid pun kini pastinya sudah menjadi masjid Jami Desa Sirnajati. Alhamdulillah. 

-----------------------------------------------------

Baca juga Artikel Masjid Masjid Cibarusah Lain-nya


Jumat, 24 Agustus 2012

Jum’atan di Masjid-nya Laskar Hisbullah Fisabilillah di Cibarusah

Masjid Al-Mujahidin Cibarusah ::: Dimasa revolusi kemerdekaan masjid ini dijadikan sebagai markas pelatihan perang pasukan Laskar Hisbullah Fisabilillah, itu sebabnya kini masjid Al-Mujahidin ini dijadikan sebagai “Monumen Sejarah Pusat pelatihan perang Laskar Hizbullah Fi-Sabilillah”.

Jum’at 24 Agustus 2012 Cikarang masih sepi, mungkin lebih dari separoh penghuni kota ini masih di kampung halaman menikmati sisa sisa libur lebaran 1433H. jalanan lengang seperti dua hari ini memang hanya bisa dinikmati sekali dalam setahun. Tapi beberapa perusahaan sudah mulai beraktivitas meski separoh dari karyawan masih menikmati masa masa cuti lebaran. 

Ketika pukul 12.15 keluar dari kantor untuk sholat Jum’at, terlintas ide untuk Jum’atan di Masjid Al-Mujahidin di Cibarusah, maklum sudah lama tidak singgah ke masjid yang di masa perjuangan dulu merupakan pusat latihan perang para pejuang Laskar Hizbullah Fi-Sabilillah. Jarak tempuh kesana sepertinya bisa capai dalam suasana jalanan sepi sekarang ini. dan Bismillah, tarik jabrik . . . mari menuju kesana. 

Tiba di Masjid Al-Mujahidin bertepatan dengan azan pertama berkumandang. Tradisi Sholat Jum’at di Masjid Al-Mujahidin ini dengan dua kali azan sebelum khutbah dilaksanakan. Sudah dapat ditebak tentunya sholat subuh disini pastinya dengan doa qunut di rekaat ke dua-nya. Seluruh ruang di masjid ini benar benar dipadati jemaah sholat Jum’at, wajar bila kemudian DKM berkeinginan untuk memperluas masjid ini dual antai ke atas. 

Masjid Al-Mujahidin 
Kampung Babakan CIbarusah, Desa Cibarusah Kota 
Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi 
Jawa Barat – Indonesia



Alhamdulillah, khatibnya tidak berpanjang panjang, hanya sekitar 15-20 menitan, jadi saya pun tak perlu khawatir terlambat kembali ke kantor. Dan benar saja selesai sholat Jum’at di Masjid ini , pukul 13 kurang 10 menit saya sudah tiba kembali ke kantor, sesuatu yang rasanya mustahil untuk dapat di ulangi lagi di hari biasa saat lalu lintas Cikarang benar benar tenggelam dalam kemacetan yang sudah akut. 

Sudah banyak perubahan di masjid ini sejak terahir berkunjung ke sini beberapa waktu lalu. bangunan di samping masjid sudah rapi dan dipakai sebagai area sholat tambahan. Area termpat wudhunya juga sudah tertata dengan rapi dan bersih. Interior masjid pun tampak lebih cerah, sepertinya baru di cat ulang. 

Pemakaman umum di samping masjid yang berisikan makam makam tua, makam para syuhada kemerdekaan hingga makam muslim setempat sudah begitu rapi, bersih dan tertata. Bahkan semua makam itu saat ini sudah diberi nomor kode masing masing untuk memudahkan pendataannya. Daftar nama mereka yang dimakamkan disana juga terpampang di atas pagar mengarah ke halaman masjid.

Mihrab masjid ini dibangun begitu kokoh. Lambang kesatuan Laskar Hizbullah Fisabilillah terukir dalam warna emas di tengah tengah fasad depan mimbar masjid ini. sementara dua kaligrafi Allah dan Muhammad dalam ukuran sangat  besar mengapit mimbar ini di sisi kanan dan kiri.

Masjid ini memang menyimpang sejarah panjang, sama panjangnya dengan sejarah terbentuknya Cibarusah sendiri yang bermula dari kekalahan pangeran Jayakarta Wikrama dalam perang melawan Belanda di Jayakarta (kini Jakarta) tahun 1619. Klik disini untuk membaca Sejarah lengkap masjid ini di blog bujangmasjid

Pertama kali dibangun oleh putra dari Pangeran Jayakarta Wikrama yang bernama Pangeran Senapati bersamaan dengan pembukaan hutan Jati menjadi perkampungan yang kini kita kenal sebagai Cibarusah. Meski tidak diketahui secara persis tahun berapa peristiwa itu terjadi namun dapat dipastikan bahwa masjid ini sudah berdiri jauh sebelum tahun 1935. 

Hal tersebut dapat dipastikan dari plakat di salah satu tiang masjid ini yang menyebutkan bahwa masjid Al-Mujahidin di renovasi tahun 1935-1937, artinya sebelum tahun 1935 masjid tersebut sudah eksis. Ketika wafat Pangeran Senapati dimakamkan di Cibarusah sedangkan makam Pangeran Jayakarta berada di komplek Masjid Jami’ As-Salafiah Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. 

Monumen Perjuangan 

Dimasa revolusi kemerdekaan masjid ini dijadikan sebagai markas pelatihan perang pasukan Laskar Hisbullah Fi-Sabilillah, itu sebabnya kini masjid Al-Mujahidin dijadikan sebagai “Monumen Sejarah Pusat pelatihan perang Laskar Hizbullah Fi-Sabilillah”. Lambang kebesaran Laskar Hizbulloh Fisabilillah di abadikan di fasad depan masjid seperti di foto di atas dan pada bagian depan Mimbar di dalam masjid. 

Butuh bantuan semua pihak untuk mewujudkan rencana besar renovasi Masjid ini.
Di dinding depan masjid terpampang spanduk ukuran besar yang menjelaskan rencana renovasi besar besaran terhadap Masjid Al-Mujahidin ini. sebuah rencana yang digagas dalam upaya menjadikan masjid ini tidak sekedar sebagai tempat ibadah tapi juga sebagai monumen perjuangan ulama/ummat Islam untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebuah proyek yang tentunya membutuhkan banyak dana untuk mewujudkannya. Panitia pembangunan masjid ini sangat membutuhkan bantuan dari semua pihak guna mewujudkan rencana besar tersebut, termasuk dari anda yang kini membaca artikel ini. Ingin menyumbang ? bisa diantar langsung ke kotak amal di masjid ini, dapat juga dikonsultasikan langsung dengan panitianya di nomor +6221- 89950356 atau komunikasi via email di alamat monumenlaskarhizbulloh.sabilillah@gmail.com.

-----------------------------------------------------

Baca juga Artikel Masjid Masjid Cibarusah Lain-nya


Kamis, 17 Mei 2012

Masjid Al-Baqiyatussholihat (1956), Cibogo - Cibarusah


Di kawasan Cibogo, Cibarusah, Kabupaten Bekasi berdiri sebuah masjid di tengah pondok pesantren Al-Bagqiyatussholihat, sebuah masjid tua dengan nama yang sama dengan nama pondok pesantren tersebut, Masjid Al-Baqiyatussholihat. Masjid ini dibangun oleh KH. Raden Ma’mun Nawawi di tahun 1956. Pesantrennya sendiri sudah berdiri sejak tahun 1938, di masa penjajahan Belanda.

Pondok Pesantren Assalafiyyah Al-Baqiyatussholihat kini di asuh oleh KH. R. Jamaluddin Nawawi yang merupakan putra dari KH. Raden Ma’mun Nawawi, pendiri Ponpes dan Masjid Al-Baqiyatussholihat. Ponpes Al-Baqiyatussholihat, hingga kini masih setia dengan sistem pendidikan pesantren dengan mengkaji kitab kuning sebagaimana pesantren pesantren tradisional pulau Jawa lainnya. Nama KH. Raden Ma’mun Nawawi kini di abadikan sebagai nama jalan raya Cibarusah yang membentang di depan komplek Ponpes ini.

Lokasi dan Alamat Masjid Al-Baqiyatussholihat (1956)

Masjid Al-Baqiyatussholihat
Komplek Pondok Pesantren Assalafiyyah Al-Baqiyatussholihat
Jl. KH. R. Ma’mun Nawawi, Kampung Cibogo RT. 003/001
Desa Sendang Mulya, Kecamatan Cibarusah
Kabupaten Bekasi 17343, Jawa Barat - Indonesia
Telepon : (021) 89952428




Dari Arah Lippo Cikarang ke Cibarusah, Komplek Pondok Pesantren Assalafiyyah Al-Baqiyatussholihat, berada disisi kiri jalan raya Jl. KH. R. Ma’mun Nawawi (jalan raya Cikarang – Cibarusah) di tikungan kampung Cibogo. Gerbang Ponpes ini berseberangan dengan sebuah minimarket.

Sejarah Masjid Al-Baqiyatussholihat

Masjid Al-Baqiyatussholihat dibangun pada pada tanggal 1 Agustus 1956 atau bertepatan dengan bulan Muharram 1376H oleh KH.R.Ma’mun Nawawi, seorang tokoh pejuang Bekasi yang selama revolusi kemerdekaan bahu membahu dengan KH. Noer Ali di Laskar Hisbullah menentang penjajahan Belanda. Cukup menarik menilik sejarah masjid ini dan sang pembangunnya. Gelar Raden pada nama KH. Raden Ma’mun Nawawi, merupakan gelar yang memang beliau peroleh dari garis keturunannya..

Masjid Al-Baqiyatussholihat di Komplek Pondok Pesantren dengan nama yang sama di Kampung Cibogo, CIbarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Beliau adalah putra dari KH. Raden Anwar, ulama Bekasi yang juga pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy’ari. Dalam wawancara dengan Hidayatullah edisi 113, KH.R. Jamaluddin yang merupakan putra dari KH.R.Ma’mun Nawawi menjelaskan bahwa beliau (KH.R. Jamaluddin ) adalah keturunan ke 11 dari Maulana Hasanudin (Sultan Banten Pertama) dan keturunan ke 24 dari Rosulullah.

Dalam sejarah Masjid Jami Al-Mujahidin Cibarusah disebutkan bahwa : kawasan Cibarusah pertama kali dibuka dan dibangun oleh Pangeran Senapati, salah satu putra dari Pangeran Jayakarta yang diperintahkan oleh Pangeran Jayakarta untuk menyingkir dari Jayakarta paska kekalahan pasukan kesultanan terhadap pasukan Belanda. Pangeran Jayakarta sengaja meminta putranya menyingkir sejauh mungkin dari pusat kota untuk menghindari penangkapan oleh pasukan belanda dan untuk menyebar luaskan agama Islam.

Begini bentuk utuh Masjid Al-Baqiyatussholihat dari arah gerbang Pondok Pesantren yang berdiri di tepi jalan KH. Ma'mun Nawawi
Pangeran Jayakarta adalah putra dari Pangeran Ra(Tu) Bagus Angke. Tubagus Angke sendiri adalah menantu dari Sultan Maulana Hasanudin (Pangeran Sabakingking) – Sultan pertama di Kesultanan Banten. Konon di tahun 1619M Pangeran Jayakarta memerintahkan putranya, Pangeran Senapati menyelamatkan diri dari kepungan Belanda, paska kekalahan Sunda Kelapa dalam perang melawan Belanda di bulan April-Mei 1619M, sekaligus membangun pertahanan di kawasan pesisir dan pedalaman.

Perjalanan panjang Pangeran Senapati bersama pasukannya menyusuri pantai utara Jawa, melewati daerah Cabang Bungin, Batujaya, Pebayuran, Rengas Bandung, Lemah Abang, Pasir Konci hingga sampai di sebuah kawasan hutan jati, yang kini dikenal sebagai kecamatan Cibarusah di Kabupaten Bekasi. Keturunan pangeran Senapati dan bangsawan yang pergi bersamanya itu tetap menggunakan gelar kebangsawanan hingga kini.

Nama masjid ini tertulis dengan jelas di fasad masjid yang menghadap ke jalan raya, Masjid Al-Baqiyatussholihat, lengkap dengan tahun pembangunannya.

KH.R.Ma’mun Nawawi dan Ponpes Al-Baqiyatussholihat

Sebagai salah satu pesantren tua di Bekasi, Pesantren Al-Baqiyatussholihat memiliki sejarah yang sangat panjang. Menurut KH.R. Jamaluddin Nawawi (pengelola pesantren saat ini) pesantren ini berdiri karena kondisi sosial masyarakat saat itu (pra kemerdekaan), eksistensi pesantren sangat dibutuhkan karena kondisi sosial masyarakat yang miskin ilmu pengetahuan dan pegangan hidup.

KH. R. Ma'mun Nawawi
Sebagai orang yang berilmu dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan Islam, KH. Raden Anwar yang pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy’ari ini, mengutus anaknya yang bernama Raden Ma’mun Nawawi untuk belajar agama di pesantren. Satu-persatu pesantren disambangi, mulai dari Pesantren KH. Hasyim Asy’ari di Jawa Timur, Pesantren Syekh Ihsan Jampes (Pengarang Kitab Siraj al-Thalibin) di Kediri, hingga Pesantren Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered, Sempur, Bandung. Raden Raden Ma’mun Nawawi kemudian menikah dengan putri Kiayi Tubagus Bakri.

Raden Ma’mun Nawawi juga pernah belajar di Pesantren Syekh Mansyur atau Guru Mansyur, pengarang Sulam al-Nairen di Masjid Al-Mansyur, di Kampung Sawah Lio, Jembatan Lima, Jakarta. Kitab Sulam al-Nairen berisi tentang ilmu falak. Oleh Raden Ma’mun Nawawi kitab ini mampu dipelajari dan dikuasainya selama 40 hari saja. Raden Ma’mun Nawawi memang terkenal cerdas, beliau sudah hafiz (hafal Al-Qur’an saat baru berusia 19 tahun). Dari Jembatan Lima, Jakarta, Raden Ma’mun Nawawi meneruskan pendidikannya ke Makkah al-Mukarramah.

Sepulang dari Makah, Raden Ma’mun Nawawi diminta oleh mertuanya, Tubagus Bakri, untuk mendirikan pesantren di Pandeglang, Banten. Namun, sekitar dua tahun kemudian, beliau diminta oleh ayahnya, KH.Raden Anwar untuk kembali ke Cibogo, Cibarusah, guna  mendirikan pesantren disana. Atas biaya sang ayah, berdirilah Pesantren Al-Baqiyatussholihat pada tahun 1938. Seluruh santri di Pesantren Pandeglang ikut gabung ke Pesantren Al-Baqiyatussholihat ini.

tiga orang santriwati melintas di depan
Masjid Al-Baqiyatussholihat
Pada masa keemasannya, pesantren ini pernah menampung sekitar 1000 santri dalam satu angkatan. Bahkan, pesantren ini sempat terkenal sebagai Pesantren Ilmu Falak (Hisab). Ketika berbicara masalah pesantren ini, maka yang muncul adalah Pesantren Ilmu Falak. Karena itu, ketika pemerintah Bekasi, Bogor, Jakarta dan sekitarnya membutuhkan masalah perhitungan falakiyah, selalu merujuk ke pesantren ini. Sekarang masalah falakiyah juga masih diajarkan di sini.

Kini, pesantren yang berdiri di atas tanah 2995 m2 ini masih tetap eksis dan setia dengan tradisi lamanya, mengajarkan kitab kuning kepada para santri putra dan putrinya, baik ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah), ilmu faraidh (waris), ilmu fikih, falak (hisab), tauhid dan sebagainya. Salah satu santrinya yang berkali-kali tampil di televisi adalah KH. Yahya Anshori di Kalideres. santri lainnya yang masih eksis adalah Kiayi Utsman di Citeureup dan sebagainya.

KH.R.Ma’mun Nawawi meninggal dalam usia 63 tahun (1912-1975). Selama hidupnya beliau pernah menulis nadzaman ilmu falak sebanyak 63 bait dan menghasilkan setidaknya 63 kitab. Sebagian kitabnya dijual di Toko Arafat Bogor, seperti  Kasyful Gumum wal Gumum (tentang doa), Hikayatul Mutaqaddimin (tentang kisah-kisah ulama dahulu), Idho’ul Mubhamat (tentang rumus-rumus akumulasi dari kitab-kitab yg mengandung akronim) dan sebagainya.

Gerbang utama masjid Baqiyatussholihat yang menghadap ke timur, berhadapan dengan bangunan pendopo di depan masjid.
Makam KH.R.Ma’mun Nawawi berada di sekitar pesantren dan seringkali dikunjungi orang baik dari Banten atau Bogor, khususnya pada bulan Maulid. Pada masa hidupnya beliau pernah berjuang bersama KH. Nur Ali (Pahlawan Nasional) dalam gerakan Hizbullah. Dan atas jasanya tersebut, nama beliau dijadikan nama jalan utama yang menghubungkan Cikarang – Cibarusah di depan Kompek Pondok Pesantren ini.

Pondok pesantren Al-Baqiyatussholihat terdiri dari ponpen putri dan putra. Asrama santri putra berada disekitar masji sedangkan asrama putri berada di sebelah timur masjid. Pada hari senin 14 Februari 2005, asrama putri ponpes ini sempat mengalami kebakaran, namun Alhamdulillah tidak mengakibatkan korban jiwa. Santri serta pengasuh tak mengalami cidera akibat musibah yang diduga akibat hubungan pendek arus listrik tersebut. Tanggal 30 September 2011 Gubernur Jabar Ahmad Heryawan didampingi Bupati Bekasi kemarin menyempatkan diri singgah ke Pondok Pesantren Albaqiyatussolihat setelah melihat kerajinan yang dikembangkan di balai latihan di Desa Sindang Mulya Cibarusah.

 Foto Foto Al-Baqiyatussholihat

Gerbang Pondok pesantren di tepi jalan raya, tampak bangunan masjid Al-Baqiyatussholihat di belakang warung kopi.
Beduk tua di masjid Al-Baqiyatussholihat.
Asrama santri :: disebelah kiri adalah bangunan pendopo, Masjid Al-Baqiyatussholihat disebelah kanan foto.
bercengkrama :: dua orang santri sedang bercengkrama di jendela asrama santri putra.
lebih dekat ke gerbang utama, di sisi atas bagian dalam beranda ini dilukis dengan indah nama dan tahun pembangunan masjid ini
Pintu timur Masjid Al-Baqiyatussholihat

Lebih Dekat 

Masjid Al-Baqiyatussholihat dibangun pada 1 Agustus 1956 atau bertepatan dengan bulan Muharram tahun 1376H. tulisan ini terdapat di sisi dalam bagian atas serambi masjid
Interior sisi utara Masjid Al-Baqiyatussholihat 
Mimbar dan Mihrab Masjid Al-Baqiyatussholihat
Add caption
Serambi Masjid Al-Baqiyatussholihat 

Referensi


-----------------------------------------------------

Baca juga Artikel Masjid Masjid Cibarusah Lain-nya