Kamis, 17 Mei 2012

Masjid Al-Baqiyatussholihat (1956), Cibogo - Cibarusah


Di kawasan Cibogo, Cibarusah, Kabupaten Bekasi berdiri sebuah masjid di tengah pondok pesantren Al-Bagqiyatussholihat, sebuah masjid tua dengan nama yang sama dengan nama pondok pesantren tersebut, Masjid Al-Baqiyatussholihat. Masjid ini dibangun oleh KH. Raden Ma’mun Nawawi di tahun 1956. Pesantrennya sendiri sudah berdiri sejak tahun 1938, di masa penjajahan Belanda.

Pondok Pesantren Assalafiyyah Al-Baqiyatussholihat kini di asuh oleh KH. R. Jamaluddin Nawawi yang merupakan putra dari KH. Raden Ma’mun Nawawi, pendiri Ponpes dan Masjid Al-Baqiyatussholihat. Ponpes Al-Baqiyatussholihat, hingga kini masih setia dengan sistem pendidikan pesantren dengan mengkaji kitab kuning sebagaimana pesantren pesantren tradisional pulau Jawa lainnya. Nama KH. Raden Ma’mun Nawawi kini di abadikan sebagai nama jalan raya Cibarusah yang membentang di depan komplek Ponpes ini.

Lokasi dan Alamat Masjid Al-Baqiyatussholihat (1956)

Masjid Al-Baqiyatussholihat
Komplek Pondok Pesantren Assalafiyyah Al-Baqiyatussholihat
Jl. KH. R. Ma’mun Nawawi, Kampung Cibogo RT. 003/001
Desa Sendang Mulya, Kecamatan Cibarusah
Kabupaten Bekasi 17343, Jawa Barat - Indonesia
Telepon : (021) 89952428




Dari Arah Lippo Cikarang ke Cibarusah, Komplek Pondok Pesantren Assalafiyyah Al-Baqiyatussholihat, berada disisi kiri jalan raya Jl. KH. R. Ma’mun Nawawi (jalan raya Cikarang – Cibarusah) di tikungan kampung Cibogo. Gerbang Ponpes ini berseberangan dengan sebuah minimarket.

Sejarah Masjid Al-Baqiyatussholihat

Masjid Al-Baqiyatussholihat dibangun pada pada tanggal 1 Agustus 1956 atau bertepatan dengan bulan Muharram 1376H oleh KH.R.Ma’mun Nawawi, seorang tokoh pejuang Bekasi yang selama revolusi kemerdekaan bahu membahu dengan KH. Noer Ali di Laskar Hisbullah menentang penjajahan Belanda. Cukup menarik menilik sejarah masjid ini dan sang pembangunnya. Gelar Raden pada nama KH. Raden Ma’mun Nawawi, merupakan gelar yang memang beliau peroleh dari garis keturunannya..

Masjid Al-Baqiyatussholihat di Komplek Pondok Pesantren dengan nama yang sama di Kampung Cibogo, CIbarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Beliau adalah putra dari KH. Raden Anwar, ulama Bekasi yang juga pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy’ari. Dalam wawancara dengan Hidayatullah edisi 113, KH.R. Jamaluddin yang merupakan putra dari KH.R.Ma’mun Nawawi menjelaskan bahwa beliau (KH.R. Jamaluddin ) adalah keturunan ke 11 dari Maulana Hasanudin (Sultan Banten Pertama) dan keturunan ke 24 dari Rosulullah.

Dalam sejarah Masjid Jami Al-Mujahidin Cibarusah disebutkan bahwa : kawasan Cibarusah pertama kali dibuka dan dibangun oleh Pangeran Senapati, salah satu putra dari Pangeran Jayakarta yang diperintahkan oleh Pangeran Jayakarta untuk menyingkir dari Jayakarta paska kekalahan pasukan kesultanan terhadap pasukan Belanda. Pangeran Jayakarta sengaja meminta putranya menyingkir sejauh mungkin dari pusat kota untuk menghindari penangkapan oleh pasukan belanda dan untuk menyebar luaskan agama Islam.

Begini bentuk utuh Masjid Al-Baqiyatussholihat dari arah gerbang Pondok Pesantren yang berdiri di tepi jalan KH. Ma'mun Nawawi
Pangeran Jayakarta adalah putra dari Pangeran Ra(Tu) Bagus Angke. Tubagus Angke sendiri adalah menantu dari Sultan Maulana Hasanudin (Pangeran Sabakingking) – Sultan pertama di Kesultanan Banten. Konon di tahun 1619M Pangeran Jayakarta memerintahkan putranya, Pangeran Senapati menyelamatkan diri dari kepungan Belanda, paska kekalahan Sunda Kelapa dalam perang melawan Belanda di bulan April-Mei 1619M, sekaligus membangun pertahanan di kawasan pesisir dan pedalaman.

Perjalanan panjang Pangeran Senapati bersama pasukannya menyusuri pantai utara Jawa, melewati daerah Cabang Bungin, Batujaya, Pebayuran, Rengas Bandung, Lemah Abang, Pasir Konci hingga sampai di sebuah kawasan hutan jati, yang kini dikenal sebagai kecamatan Cibarusah di Kabupaten Bekasi. Keturunan pangeran Senapati dan bangsawan yang pergi bersamanya itu tetap menggunakan gelar kebangsawanan hingga kini.

Nama masjid ini tertulis dengan jelas di fasad masjid yang menghadap ke jalan raya, Masjid Al-Baqiyatussholihat, lengkap dengan tahun pembangunannya.

KH.R.Ma’mun Nawawi dan Ponpes Al-Baqiyatussholihat

Sebagai salah satu pesantren tua di Bekasi, Pesantren Al-Baqiyatussholihat memiliki sejarah yang sangat panjang. Menurut KH.R. Jamaluddin Nawawi (pengelola pesantren saat ini) pesantren ini berdiri karena kondisi sosial masyarakat saat itu (pra kemerdekaan), eksistensi pesantren sangat dibutuhkan karena kondisi sosial masyarakat yang miskin ilmu pengetahuan dan pegangan hidup.

KH. R. Ma'mun Nawawi
Sebagai orang yang berilmu dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan Islam, KH. Raden Anwar yang pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy’ari ini, mengutus anaknya yang bernama Raden Ma’mun Nawawi untuk belajar agama di pesantren. Satu-persatu pesantren disambangi, mulai dari Pesantren KH. Hasyim Asy’ari di Jawa Timur, Pesantren Syekh Ihsan Jampes (Pengarang Kitab Siraj al-Thalibin) di Kediri, hingga Pesantren Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered, Sempur, Bandung. Raden Raden Ma’mun Nawawi kemudian menikah dengan putri Kiayi Tubagus Bakri.

Raden Ma’mun Nawawi juga pernah belajar di Pesantren Syekh Mansyur atau Guru Mansyur, pengarang Sulam al-Nairen di Masjid Al-Mansyur, di Kampung Sawah Lio, Jembatan Lima, Jakarta. Kitab Sulam al-Nairen berisi tentang ilmu falak. Oleh Raden Ma’mun Nawawi kitab ini mampu dipelajari dan dikuasainya selama 40 hari saja. Raden Ma’mun Nawawi memang terkenal cerdas, beliau sudah hafiz (hafal Al-Qur’an saat baru berusia 19 tahun). Dari Jembatan Lima, Jakarta, Raden Ma’mun Nawawi meneruskan pendidikannya ke Makkah al-Mukarramah.

Sepulang dari Makah, Raden Ma’mun Nawawi diminta oleh mertuanya, Tubagus Bakri, untuk mendirikan pesantren di Pandeglang, Banten. Namun, sekitar dua tahun kemudian, beliau diminta oleh ayahnya, KH.Raden Anwar untuk kembali ke Cibogo, Cibarusah, guna  mendirikan pesantren disana. Atas biaya sang ayah, berdirilah Pesantren Al-Baqiyatussholihat pada tahun 1938. Seluruh santri di Pesantren Pandeglang ikut gabung ke Pesantren Al-Baqiyatussholihat ini.

tiga orang santriwati melintas di depan
Masjid Al-Baqiyatussholihat
Pada masa keemasannya, pesantren ini pernah menampung sekitar 1000 santri dalam satu angkatan. Bahkan, pesantren ini sempat terkenal sebagai Pesantren Ilmu Falak (Hisab). Ketika berbicara masalah pesantren ini, maka yang muncul adalah Pesantren Ilmu Falak. Karena itu, ketika pemerintah Bekasi, Bogor, Jakarta dan sekitarnya membutuhkan masalah perhitungan falakiyah, selalu merujuk ke pesantren ini. Sekarang masalah falakiyah juga masih diajarkan di sini.

Kini, pesantren yang berdiri di atas tanah 2995 m2 ini masih tetap eksis dan setia dengan tradisi lamanya, mengajarkan kitab kuning kepada para santri putra dan putrinya, baik ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah), ilmu faraidh (waris), ilmu fikih, falak (hisab), tauhid dan sebagainya. Salah satu santrinya yang berkali-kali tampil di televisi adalah KH. Yahya Anshori di Kalideres. santri lainnya yang masih eksis adalah Kiayi Utsman di Citeureup dan sebagainya.

KH.R.Ma’mun Nawawi meninggal dalam usia 63 tahun (1912-1975). Selama hidupnya beliau pernah menulis nadzaman ilmu falak sebanyak 63 bait dan menghasilkan setidaknya 63 kitab. Sebagian kitabnya dijual di Toko Arafat Bogor, seperti  Kasyful Gumum wal Gumum (tentang doa), Hikayatul Mutaqaddimin (tentang kisah-kisah ulama dahulu), Idho’ul Mubhamat (tentang rumus-rumus akumulasi dari kitab-kitab yg mengandung akronim) dan sebagainya.

Gerbang utama masjid Baqiyatussholihat yang menghadap ke timur, berhadapan dengan bangunan pendopo di depan masjid.
Makam KH.R.Ma’mun Nawawi berada di sekitar pesantren dan seringkali dikunjungi orang baik dari Banten atau Bogor, khususnya pada bulan Maulid. Pada masa hidupnya beliau pernah berjuang bersama KH. Nur Ali (Pahlawan Nasional) dalam gerakan Hizbullah. Dan atas jasanya tersebut, nama beliau dijadikan nama jalan utama yang menghubungkan Cikarang – Cibarusah di depan Kompek Pondok Pesantren ini.

Pondok pesantren Al-Baqiyatussholihat terdiri dari ponpen putri dan putra. Asrama santri putra berada disekitar masji sedangkan asrama putri berada di sebelah timur masjid. Pada hari senin 14 Februari 2005, asrama putri ponpes ini sempat mengalami kebakaran, namun Alhamdulillah tidak mengakibatkan korban jiwa. Santri serta pengasuh tak mengalami cidera akibat musibah yang diduga akibat hubungan pendek arus listrik tersebut. Tanggal 30 September 2011 Gubernur Jabar Ahmad Heryawan didampingi Bupati Bekasi kemarin menyempatkan diri singgah ke Pondok Pesantren Albaqiyatussolihat setelah melihat kerajinan yang dikembangkan di balai latihan di Desa Sindang Mulya Cibarusah.

 Foto Foto Al-Baqiyatussholihat

Gerbang Pondok pesantren di tepi jalan raya, tampak bangunan masjid Al-Baqiyatussholihat di belakang warung kopi.
Beduk tua di masjid Al-Baqiyatussholihat.
Asrama santri :: disebelah kiri adalah bangunan pendopo, Masjid Al-Baqiyatussholihat disebelah kanan foto.
bercengkrama :: dua orang santri sedang bercengkrama di jendela asrama santri putra.
lebih dekat ke gerbang utama, di sisi atas bagian dalam beranda ini dilukis dengan indah nama dan tahun pembangunan masjid ini
Pintu timur Masjid Al-Baqiyatussholihat

Lebih Dekat 

Masjid Al-Baqiyatussholihat dibangun pada 1 Agustus 1956 atau bertepatan dengan bulan Muharram tahun 1376H. tulisan ini terdapat di sisi dalam bagian atas serambi masjid
Interior sisi utara Masjid Al-Baqiyatussholihat 
Mimbar dan Mihrab Masjid Al-Baqiyatussholihat
Add caption
Serambi Masjid Al-Baqiyatussholihat 

Referensi


-----------------------------------------------------

Baca juga Artikel Masjid Masjid Cibarusah Lain-nya