Tampilkan postingan dengan label Berita Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Masjid. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Januari 2016

Masjid Nur Agung Banjar Agung, Tulang Bawang - Lampung

#Masjid Masjid di Jalan Lintas Sumatera
Lama dan baru. Disebelah kanan foto adalah bangunan baru masjid Nur Agung yang sedang dalam proses pembangunan.

Alamat Masjid Nur Agung Banjar Agung

Jl. Lintas Timur Sumatera, Desa Banjar Agung, Kecamatan Banjar Agung
Kabupaten Tulang Bawang, Propinsi Lampung
Koordinat : -4.310969, 105.223013
Lokasi Masjid Nur Agung bersebelahan dengan Kantor Urusan Agama Banjar Agung

Sedang Dibangun 

Masjid Nur Agung Banjar Agung ini sedang dalam proses pembangunan. Dengan lahannya yang cukup luas, proses pembangunan masjid dilakukan dengan benar benar membangun bangunan baru disamping bangunan masjid yang sudah ada saat ini sehingga tidak mengganggu aktivitas peribadatan. Bangunan masjid aslinya menggunakan atap khas Nusantara sedangkan bangunan barunya berwujud masjid berarsitektur modern. 

Gambar Rencana Masjid Nur Agung 

Peta lokasi Masjid


Street View


- - - - - - - - ooo000ooo - - - - - - - -

Sabtu, 13 April 2013

Speaker Masjid, Fitur Yang Terabaikan


Zaman dulu kala ketika di kampungku hanya ada satu masjid Jami' Saja, penduduk yang rumahnya di ujung kampung bisa marah marah bila suara azan dari menara masjid Jami' tak terdengar sampai ke rumah atau ladangnya, pasalnya dia tak keburu siap siap dengan baik untuk sholat Jum'at, berbuka, sahur apalagi imsak.
Saya cukup tergelitik dan mesem mesem dengan satu adegan film nya Haji Rhoma Irama. Ceritanya beliau singgah ke masjid menjelang waktu sholat dan bertemu dengan pengurus masjid yang diperankan Haji Komar. Beliau sempat menanyakan perihal beduk yang ditutup dengan kain terpal terkesan tidak dipakai lagi, pengurus masjid itu menjelaskan bahwa beduk itu memang tidak dipakai lagi karena kata pak Kyai “itu Bid’ah, Nabi tak pernah pakai beduk”.

Rhoma tak berkomentar apapun, tapi jadi benar benar menarik ketika Haji Komar yang siap siap mengumandangkan azan menggunakan speaker, tiba tiba dimatikan oleh  Haji Rhoma. Haji Komar Protes “kok dimatikan ?” lalu dijawab dengan meminjam kalimat Haji Komar sendiri “ini Bid’ah, Nabi tidak pernah pakai Speaker”.

Seputar Pengaturan Pengeras Suara di Masjid sempat menjadi topik panas gara gara Pidato Wapres tentang Pengaturan Azan saat membuka muktamat DMI 27 April tahun 2012 yang lalu. Serangkaian kontroversi merebak beberapa pihak mengkhawatirkan Usulan Wapres Soal Pengaturan Azan tersebut akan Pancing Konflik Horizontal yang lainnya berpendapat bahwa Soal Pengeras Suara di Masjid, Biar Masyarakat Mengatur sedangkan imam masjid Istiqlal dengan pedas mengatakan Soal Azan Wapres, 'Kalau tak Ingin Hidup Pluralistik, Tinggal di Hutan'.

Harap maklum sajalah bila pernyataan Pak Boed bahwa Pengeras Suara Azan Perlu Diatur itu kemudian menuai kontroversi, mengingat posisi beliau yang wapres. Kalaulah yang bicara seperti itu hanya sekelas rakyat biasa tidak akan menuai reaksi seperti itu, paling paling nyaris dikeroyok masa seperti yang terjadi pada Sayed Hasan, warga Aceh yang nyaris di hajar masa gara gara Gugat Pengeras Suara Adzan.

Untuk saya pribadi Pengaturan Penggunaan Mikropon Masjid Perlu Diperhatikan, apalagi sebenarnya pemerintah melalui Dirjen Bimas Islam di tahun 1978 sudah pernah menerbitkan Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara Di Masjid, Langgar Dan Mushalla, sayangnya kurang disosialisasikan dengan baik.

Haruskan speaker di seting sekeras kerasnya, apakah semua aktivitas di masjid harus disuarakan melalui speaker luar, apakah anak anak tak perlu dicegah menggunakan speaker masjid sebagai mainan ? masyakat sendiri yang harus arif.
Tata suara masjid memang lebih banyak menjadi urusan penting gak penting bahkan terabaikan di masyarakat kita, jangankan mengurusi hal itu, untuk membangun masjidnya pun butuh waktu bertahun tahun untuk menyelesaikannya karena kekurangan dana. Rasanya masih menjadi mimpi yang teramat panjang bila mengharapkan masjid masjid kita memiliki tata suara yang sangat baik seperti Fitur Akustik Masjid Salman ITB hingga suara khatib terdengar begitu nyaman ditelinga jemaah paling belakang sekalipun.

Apalagi untuk seperti tata suara di masjid masjid besar dan tua Turki yang akustiknya dirancang dengan cermat bersamaan dengan rancang bangun masjidnya secara keseluruhan, hingga suara robekan kertas di ruang mihrab akan terdengar dengan jelas hingga jemaah di jejeran paling belakang tanpa perlu pengeras suara. Saking rumitnya rancangan bangunan masjid di Turki sampai sampai kesalahan perombakan interior-nya berakibat rusak fitur sistem tata suara alami-nya, seperti rusaknya fitur akustik pada masjid Sulaimaniyah.

Suka atau tidak bila kita berkeliling ke berbagai masjid di tanah air, kadang kala sempat terkaget kaget juga dengan suara speaker di dalam masjid yang di seting dalam volume teramat tinggi mirip tabligh akbar saat khutbah Jum’at.  Bagus memang, karena suara berisik anak anak kecil sampai nyaris tak terdengar sama sekali tertindih kerasnya suara khatib dari speaker, hanya saja rasanya benar benar menjadi tidak nyaman ditelinga.

Belum lagi bila kita perhatikan dengan baik bahwa sistem tata suara di dalam kebanyakan masjid masjid kita memang perlu penataan dengan baik, bukan sekedar terdengar keras dan lantang tapi lebih daripada itu, tujuan penggunaan pengeras suara adalah supaya suara khatib ataupun muazin terdengar dengan baik oleh jema’ah.

Di kampung kami di Cikarang, di beberapa masjid, speaker malah menjadi perangkat yang tidak penting saat sholat berjama’ah kecuali sholat Jum’at, karena imamnya sama sekali tidak menggunakan speaker, jangan kaget bila kemudian anda harus mengikuti jemaah disebelah anda karena suara imamnya yang nyaris tak terdengar. Tradisinya memang begitu.

Suara azan memang harus disuarakan dengan keras dan lantang, namanya juga azan toh. Yang harus pelan dan khusu’ itu berdoa. Hanya saja memang jadi benar benar mengganggu bila suara muazin nya tak layak tayang. Pengurus masjid memang harus bijaksana memilah hal mana yang layak untuk disuarakan dengan speaker luar masjid dan mana yang hanya cukup disuarakan di dalam masjid.

Azan, tidak saja menyuarakan panggilan sholat kepada ummat tapi juga merefresentasikan kemahiran muazin melantunkannya, kebijaksanaan DKM dalam memilih muazin. Dan kita juga harus faham bahwa hanya sedikit saja masjid di tanah air kita ini yang memiliki manajemen professional. Sisanya adalah masjid masjid yang dibangun dan dikelola sendiri oleh masyarakat, Muazin, Imam hingga khatibnya juga dari masyarakat sendiri, sehingga butuh ke-arifan dan kebijaksanaan lebih manakala membicarakan pengaturan tentang speaker masjid yang memang penting gak penting.***

Rabu, 24 Oktober 2012

Mayotte, Prancis yang tak Prancis



Dari sudut pandang manapun Mayotte sama sekali tak terlihat seperti Prancis. Semua orang mengenal Prancis sebagai Negara nya Napoleon Bonaparte, ber-ibukota di Paris dan berpandangan politik Sekuler. Khusus bagi ummat Islam, mendengar nama prancis boleh jadi langsung membayangkan fakta yang kontradiktif.

Bahwa prancis adalah Negara Eropa dengan penduduk Islam terbesar namun gelombang “penistaan terhadap Islam” sempat mencuat ke permukaan sebagai akibat kebijakan pelarangan penggunaan symbol agama di tempat umum, namun justru lebih menyudutkan wanita berjilbab sebagai sasaran empuk. Namun semua fakta itu terjungkir balik di Mayotte yang notabene secara de jure maupun de fakta adalah bagian dari Prancis. Kok Bisa.

Tentu saja bisa. Mayotte adalah salah satu wilayah seberang lautan Prancis, lokasinya berada di Samudera Hindia bagian selatan, tetangga terdekatnya adalah republik kepulauan Comoro yang sama sama berada di selat Mozambik yang memisahkan antara pulau Madagaskar dan benua Afrika.  Luas Mayotte tak lebih dari 374 meter persegi dan 97 persen penduduknya beragama Islam.

Di tahun 1974 referandum yang diselenggarakan di Mayotte untuk menentukan nasib Negara tersebut. Secara meyakinkan penduduk kepulauan tersebut memilih untuk tetap bergabung sebagai bagian dari Prancis. Berbeda dengan tetangganya Commoro yang memilih merdeka dari Prancis. Referendum yang sama dilakukan lagi tahun 2009 lalu dan nyatanya 95.2% penduduknya bersikukuh untuk tetap menjadi bagian dari Prancis.  Maka jadilah Mayotte sebagai bagian dari wilayah seberang lautan Prancis hingga kini, dan menjadi wilayah Uni Eropa dengan lokasi paling jauh dari benua Eropa.

Jadi, dengan fakta bahwa 97% penduduknya beragama Islam, maka wajar bila pemandangan di Mayotte sama sekali tak-prancis. Hampir diseluruh penjuru kota terlihat muslimah berjilbab bahkan bermukena tanpa ada gangguan apapun. Tak ada salju di Mayotte dan tak ada pencakar langit apalagi pusat mode dunia disana. Karena Mayotte memang tidak berada di Eropa tapi di lepas pantai timur Afrika. Jaooooooh banget dari Benua Eropa***.

Juga di posting di multiply

Jumat, 28 September 2012

Masjid Masjid Warisan Muammar Khaddafi (Bagian-2)

Empat Masjid Muammar Khaddafi di empat negara Afrika ::: Kota Dodoma - Tanzania, Kota Freetown - Siera Leone, Kota Bamako - Mali dan kota Kigali - Rwanda

Muammar Khaddafi memang sudah tiada, dunia barat menyebutnya sebagai musuh besar demokrasi, dunia arab menyebutnya sebagai orang afrika dan tak mengakui nya sebagai bagian dari Arab, Media massa ramai ramai menyebutnya sebagai diktator di era modern yang terjungkal, sementara di belahan afrika dia dianggap sebagai seorang pahlawan Besar, Raja tak bermahkota bagi suku suku petualang dan pejuang di Afrika.

Bila dalam posting sebelumnya kita ulas tentang masjid masjid warisan Khaddafi di Bogor, Manila dan Kampala (Uganda) berikut ini kita tampilkan masjid masjid yang dibangun oleh nya di benua Afrika. Tak hanya masjid beliau juga membangun sarana pendidikan dan sarana pendukungnya termasuk beasiswa bagi para mahasiswa muslim dari berbagai Negara untuk kuliah di Libya atas tanggungan pemerintah Libya.

Gaddafi Education Centre and Mosque, Dodoma - Tanzania

Masjid Muammar Khaddafi di Dodoma, Republik Tanzania
Di Tanzania, salah satu republik di Afrika, Muammar Khadafi dikenang dengan sederet jasanya, salah satunya adalah membangun berbagai fasilitas termasuk Pusat Pendidikan dan masjid di kota Dodoma. Gaddafi Education Center and Mosque di kota Dodoma ini dibangun dengan dana sebesar 6 juta dolar, lengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung dan merupakan pilot project di Tanzania. Rencananya setelah proyek ini sukses, Khadafi akan membangun pusat pendidikan dan masjid ultra modern complex di ibukota Tanzania, Kota Dar Es Salam. Namun Khadafi sudah digulingkan dari singgasananya sebelum sempat mewujudkan janjinya kepada rakyat Tanzania.

Masjid Gaddafi di kota Dodoma ini mampu menampung hingga 3000 jemaah sekaligus dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Tanzania, Jakaya Kikwete pada tanggal 16 Juli 2010 yang lalu. Selain membangun masjid dan pusat pendidikan ini, khaddafi juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa Tanzania untuk kuliah di Libya. Sheikh Shabaan, Imam masjid ini pun merupakan lulusan dari universitas Libya.

Gaddafi Mosque, Freetown - Siera Leone

Masjid Muammar Khaddafi di Freetown, Republik Siera Leone
Paska perang saudara di Siera Leon, Khaddafi tampil sebagai pahlawan dengan mengirimkan beberbagai bantuan kemanusian ke Negara di pantai barat Afrika ini. mulai dari bantuan makanan hingga bahan bakar minyak termasuk membantu muslim Siera Leone untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah. Khaddafi juga membantu pemulihan infrastruktur di Negara tersebut. Meski sebelumnya warga Siera Leone sangat mengerti bahwa Khaddafi turut bermain dalam perang saudara tersebut.

Salah satu warisan Khaddafi di Siera Leone adalah Masjid Gaddafi atau Gaddafi Mosque in kota Freetown, Ibukota Siera Leone. Masjid yang berada di dalam komplek Rokupa Estate ini diresmikan pada tanggal 14 Agustus 2009. Bangunan masjid megah dilengkapi dengan plaza terbuka dan penataan landscaping yang cukup apik. Masjid ini mampu menampung hingga lebih dari 5000 jemaah sekaligus. dan seperti halnya masjid masjid yang dibangun Muammar Khaddafi lainnya, jemaah masjid ini juga menyelenggarakan sholat ghoib setelah mendengar kematian Muammar Khaddafi.

Muammar Gaddafi Mosque, Bamako – Republik Mali

Masjid Muammar Khaddafi di Bamako, Republik Mali
Di kota Bamako, Ibukota Republik Mali yang terletak di Afrika Barat, kematian Muammar Khaddafi meninggalkan duka bagi rakyat negeri itu. Di negeri ini mendiang Khaddafi tak segan untuk turun dari mobilnya untuk sekedar menyambut jabatan tangan dari orang orang yang berdiri di pinggir jalan melambaikan tangan padanya. Sosoknya dikenang sebagai tokoh anti imperialisme barat di bumi Afrika.

Di kota Bamako, ibukota Republik Mali yang berdiri di atas gurun pasir, sebuah masjid besar dibangun dengan dana dari pemerintah Libya dibawah Muammar Khaddafi. Uniknya, lokasi masjid ini berdiri benar benar bersebelahan dengan gedung kedutaan besar Amerika Serikat untuk Republik Mali di kota Bamako. Dua bangunan yang dibangun oleh dua seteru abadi. Di Mali, Khaddafi tidak saja membangun masjid tapi infrastruktur kota hingga komplek pemerintahan republik Mali senilai 100 juta dolar itu juga dibangun dari dana petro dolar yang dikucurkan dari Libya.

Muammar Gaddafi Mosque, Kigali – Republik Rwanda

Masjid Muammar Khaddafi di Kigali, Republik Rwanda
Berdiri megah di kawasan Nyamirambo di kota Kigali berseberangan dengan lapangan sepak bola terbesar di kota Kigali, ibukota Republik Rwanda. Masjid Gaddafi's merupakan masjid terbesar di Republik yang sempat mengalami kerusuhan etnis antara suku Hutu dan suku Tutsi beberapa tahun lalu. Masjid Gaddafi di kota Kigali juga berfungsi sebagai Islamic Cultural Centre.

Islam di Rwanda memang sedang populer dan mengalami perkembangan cukup pesat terutama di kota Kigali, pusat pusat keislaman juga bermunculan. Diperkirakan saat ini ada sekitar 20 persen penduduk Rwanda beragama Islam, sebagaimana disampaikan oleh  Mahfoud el-Roinia, direktur dari Islamic Cultural Centre Gaddafi ini dan Isaac Munyakrazi, direktur Sekolah Menengah yang juga dikelola oleh masjid Gaddafi Kigali.

Sumber sumber lain secara umum menyebut muslim di Rwanda sekitar 14%, mengalami lonjakan dari hanya sekitar 7%. Lonjakan ini justru terjadi setelah kerusuhan etnis di tahun 1994 lalu. Beberapa sumber termasuk dari para mualaf menyebutkan bahwa lonjakan pemeluk islam di negeri itu salah satunya karena ketertarikan dari non muslim terhadap Islam. Dan faktanya muslim memang tak terlibat dalam aksi pembantaian etnis dalam kerusuhan tahun 1994 di negeri itu.

Kembali ke bagian-1

Referensi

theafricapaper.com - ramadan-islam-in-rwanda

Masjid Masjid Warisan Muammar Khaddafi

Warisan Muammar Khaddafi ::: Atas : Masjid Muammar Qaddafy di Bukit Az-Zikra, Sentul - Bogor. Kiri Bawah : Gaddafi National Mosque, Kampala - Uganda. Kanan Bawah : Masjid Al-Dahab (Masjid Emas), Manila - Philippina.

Kolonel Muammar Khaaddafi (June 1942 – 20 October 2011) dikenal luas oleh dunia internasional sebagai satu satunya presiden negara di dunia ini  yang naik ke kursi kepresidenan saat masih berpangkat Kolonel.  Naik tahta sebagai kepala Negara Libya setelah berhasil mengkudeta Raja Idris yang sedang berobat ke Turki di tahun 1969, dan ahir hidupnya pun di kudeta oleh begitu banyak orang dan kekuatan termasuk kekuatan asing yang memusuhinya. Muammar Khaaddafi  tewas dalam akumulasi dan kombinasi serangan para pemberontak dan serangan udara NATO di kampung halamannya sendiri pada 20 Oktober 2011 lalu.

Diktator kah Khadafi ? Apakah beliau pahlawan besar atau seorang Musuh besar ?.  jawaban dari pertanyaan itu sangat tergantung dari siapa yang yang menjawab. Lepas dari semua itu, semasa hidupnya Muammar Khaaddafi  meninggalkan warisan beberapa masjid yang tersebar dari pantai barat Afrika hingga ke Sentul – Bogor di Indonesia. Berikut ini saya ulas beberapa diantara masjid masjid warisan Muammar Khaaddafi .

Masjid Muammar Qaddafy Sentul Bogor

Masjid Muammar Qaddafy di Bukit Az-Zikra, Sentul - Bogor
Masjid Muammar Qaddafy di Sentul, Kabupaten Bogor ini, berada di atas bukit di tengah tengah perumahan khusus muslim Bukit Az-Zikra. Masjid dan perumahan ini memang terkait dengan Majelis Zikir Az-Zikra yang di asuh oleh Ustadz Arifin Ilham.  Masjid Muammar Qaddafy Sentul Bogor, ini juga merupakan sebuah Islamic Center bernama Qaddafy Islamic Center atau disingkat QIC. kawasan ini juga dilengkapi dengan sekolah Islam dan sarana pendukung lainnya termasuk bangunan menara setinggi 57 meter yang bisa dikunjungi hingga ke puncak menara menggunakan lift.

Pembangunan komplek QIC ini seluruhnya di danai oleh pemerintah Libya dibawah kepemimpinan Muammar Khaaddafi . Masjid Muammar Qaddafy diresmikan pada hari Ahad, 7 Juni 2009, Peresmian Masjid Muammar Qaddafy itu, dihadiri Wakil Presiden Yusuf Kalla dan istrinya Ny. Mufidah Kalla, serta Sheikh Mahmud H.Reeh, Ulama dari World Islamic Call Society, Tripoli Libya.  Tak lama setelah kematian Muammar Khaaddafi Masjid inipun berganti nama menjadi Masjid Az-Zikra.

Gaddafi  National Mosque -  Kampala, Masjid Nasional Uganda

Gaddafi National Mosque, Kampala - Uganda
Uganda dan Idi Amin, adalah nama nama yang membuat ngeri banyak orang. Uganda dikenal luas dunia internasional justru karena kekejaman presidennya, Idi Amin.  Kekejaman Idi Amin sudah seperti legenda sampai sampai tulisan tentangnya terkesan hiperbola. Semasa berkuasa Idi Amin bermimpi membangun masjid Negara di atas bukit Kampala tua di Ibukota Uganda namun sampai ahirnya Idi Amin terjungkal dari pemerintahannya di tahun 1979 lalu melarikan diri ke Jeddah (Saudi Arabia) hingga wafat tanggal 16 Agustus 2003 dan di makamkan di Mekah, Impian tersebut tak pernah terwujud.

Muammar Khaddafi yang kemudian mewujudkan impian itu, membangun sebuah masjid nasional untuk muslim Uganda di atas bukit Kampala Tua persis dilokasi yang di impikan oleh mendiang Idi Amin.  Masjid Nasional tersebut diresmikan pada tanggal 29 Maret 2008 langsung oleh Muammad Khaddafi yang disambut layaknya seorang Pahlawan Besar di Stadion kota Kampala. Masjid tersebut dinamai sesuai nama Khaddafi dalam dialek setempat “Gaddafi National Mosque”. Paska kematian Khaddafi, tak ada niatan dari pemerintah Uganda untuk mengganti nama Masjid Nasional mereka.

Masjid Al-Dahab Manila, Philippina

Masjid Al-Dahab (Masjid Emas), Manila - Philippina.
Masjid Al-Dahab (masjid emas) berdiri di kawasan Quiapo, pusat perdagangan kota Manila, Ibukota Philippina.  Pembangunan masjid ini sama sekali tidak menggunakan dana dari Muammar Khadafi ataupun pemerintah Libya, tapi di danani sendiri oleh pemerintah Philippina semasa kekuasaan presiden Ferdinant Marcos dan istrinya Imelda Marcos yang terkenal dengan gaya hidup bermewah mewahan itu.

Lalu apa kaitannya dengan Muammar Khaddafi ?. Masjid besar ini dibangun demi menghormati Muammar Khaddafi yang ketika itu berencana akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Philippina. Adalah Imelda Marcos sang first lady yang  mengomando langsung pembangunan masjid ini demi mengejar tenggat waktu,  untuk memastikan masjid ini selesai sebelum kedatangan Khaddafi di Manila tahun 1978.

Rencana kedatangan Khadaffi ke Philippina tersebut tak lain dan tak bukan adalah untuk menjadi mediator antara pemerintah Philippina dengan Para Pejuang dari Front Pembebesan Moro (MLF) yang bertikai di Philipina Selatan. Masjid telah selesai dibangun tapi khaddafi tidak pernah datang ke Philippina. Rezim Marcos sudah lebih dulu terguling oleh gerakan “people power” yang mengguncang Philippina.  Tapi muslim Manila menangguk berkah dari Kharisma Khadaffi yang luar biasa itu hingga kini. ***

Insya Alloh bersambung

Referensi


Kamis, 13 Oktober 2011

Gerakan 1000 Surau Minangkabau Paska Gempa 2009

Masjid Sunur, salah satu Masjid tertua dan bersejarah di Padangpariaman
diperkirakan dibangun tahun 1886M turut hancur akibat gempa tahun 2009.
(foto dari padangekspres)

KPRRS Foundation, organisasi masyarakat lokal Sumatera Barat, mencanangkan gerakan 1000 surau untuk membangun kembali Masjid dan Surau di Minangkabau yang porakporanda paska gempa tahun 2009 silam dan belum mendapatkan perhatian memadai dari pemerintah setempat maupun dari pemerintah pusat. Gerakan yang disebut gerakan 1000 surau ini membutuhkan begitu banyak dana untuk membangun kembali setidaknya 180 Mesjid, 897 Mushala/Surau, 89 TPA-TPSA/MDA yang tersebar di kawasan paparan gempa dua tahun silam.

Latar Belakang


Foto dari KPRRS
30 September 2009 pukul 17:16:30 gempa bumi berkekuatan 7.6 skala richter berada di episentrum 1.397°LS 99.9°BTKoordinat: 1.397°LS 99.9°BT di kedalaman 87 km, telah memporak porandakan propinsi Sumatera Barat. Getaran gempa yang terasa hingga ke Singapura itu menyisakan persoalan yang belum tuntas hingga kini terutama terakit dengan pemulihan kembali tempat tempat ibadah ummat Islam Surau dan Masjid yang menjadi urat nadi kehidupan spiritual masyarakat masyarakat Minangkabau.

Gempa tahun 2009 itu telah merenggut 6234 korban jiwa, 1214 luka berat, 1214 korban luka ringan. Beberapa kota di Sumatera Barat yang mengalami kehancuran infrastruktur mulai dari Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat. Menurut data Satkorlak Penanggulangan Bencara, akibat gempa tersebut 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang dan 78.604 rumah rusak ringan. 

Foto dari KPRRS
Pemulihan paska gempa berjalan lamban, dua tahun paska gempa ratusan surau dan masjid di kawasan yang porak poranda masih teronggok belum tersentuh upaya pemulihan. Pada saat artikel ini di muat gedung pusat pemerintahan kabupaten Pariaman pun sedang dalam proses pembangunan ulang. Total kerugian materil akibat gempa tersebut diperkirakan mencapai 21.5 triliun rupiah. Dibutuhkan upaya lebih bagi percepatan pemulihan kembali bumi Minangkabau paska gempa dasyat tersebut.

Kementerian Agama R.I menyatakan bahwa pemerintah tidak menyediakan dana/anggaran pada APBN untuk pembangunan kembali infrastruktur sarana peribadatan paska gempa bumi 7,9 SR yang meluluh lantakan Sumatera Barat, Begitu pula APBD Provinsi/ Kabupaten/ Kota di Sumatera Barat tidak menyisihkan dana untuk membangun kembali Mesjid/ Mushalla/ Surau/ TPA/ MDA yang runtuh dan rusak paska gempa tersebut


Foto dari KPRRS
Menurut penjelasan KPRRS kondisi tempat ibadah saat ini masih mengkhawatirkan : Anak-anak sudah tidak mengaji karena tempat mengaji mereka sudah runtuh, Sholat Jumat pun dilakukan di tenda darurat/pondok bedeng/tanah lapang yang jika hujan berbasah-basahlah semua jamaah, Azan tidak pernah terdengar lagi paska gempa praktis sholat jamaah pun tidak pernah ada lagi karena Mesjid/Surau mereka sudah luluh lantak.

Komite Pelaksana Refungsionalisasi Rehabilitasi Surau

Percepatan pembangunan kembali sarana ibadah ini sangat dibutuhkan karena paska gempa ummat muslim belum dapat melaksanakan ibadah dengan baik. Praktis aktivitas peribadatan dan sosial di Surau sebagai simbol urang minangkabau sempat terhenti dan stagnan. Dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk membangun ratusan masjid dan mushala di Sumatera Barat.
Foto dari KPRRS

Dilatarbelakangi hal hal tersebut dibentuklah Komite Refungsionalisasi Rehabilitasi Surau (KRRS) di awaki oleh mereka yang mewakafkan dirinya bagi syiar Islam. Dalam suratnya kepada kami, KRRS memohon segala bentuk dukungan dari seluruh ummat islam di saentero dunia baik dukungan moril dan materil serta menyampaikan informasi ini kepada ummat muslim lainnya. 

Tentang Komite Pelaksana Refungsionalisasi Dan Rehabilitasi Surau (KPRRS)

KPRRS merupakan organisasi masyarakat lokal, dibentuk pada tanggal 9 Oktober 2009M bertepatan dengan tanggal 19 Syawal 1430H. Didirikan dengan aktanotaris dari kantor notaris Rina Meilani, SH bernomor 59 2. Tanggal 1 Desember 2009, Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Nomor 005/KPL/I-2010 dari Kantor Kesatuan Bangsa, Politik & Perlindungan Masyarakat (masa berlaku hingga 19 Januari 2012). Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 02.998.021.6.201.000 2. Dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Padang, Surat Keterangan Izin Domisili (SKD) Nomor 17/KG-PDS/SKD/I/2010 dan 016/A4/Kec-PU/2010. 

Foto dari KPRRS
Pengurus lembaga ini terdiri dari presiden organisasi dijabat oleh Rizki M Sikumbang, Ketua Umum dipegang oleh Rizki Mirdani, Sekretaris Jendral : Hifdiah Aini, dan Bendahara depercayakan kepada Lendriawati.

Alamat Komite :  Jalan Nan Tongga Blok A nomor 5, Kampung Gadang, Kecamatan Pariaman Timur, Pariaman, Indonesia 25523.

Telepon : 751 982 6781
Facebook account : http://facebook.com/KPRRS

Bentuk bantuan 

Wakaf dan Infaq, dapat disalurkan ke nomor rekening:

BSM # 2760 009 374
BNI Syariah # 0189 141 311
Bank Nagari Syariah (BPD Sumbar) # 7100 0220 0660 51
Bank Muamalat # 421 0351 622
BCA # 0321 594 491
Mandiri # 111 000 565 0219

Kondisi Masjid Gunung Padang Alai Timur
Padang Pariaman (tempointeraktif.com)
Di mohon untuk Berkenan mengkonfirmasi penyaluran Wakaf dan Infaq ke:

1. e-mail : kpr2s.sumbar@gmail.com, kpr2s@yahoo.co.id
2. Call Center KPRRS : +62-751 827 6781  ,
3. SMS Center : +62 815 3542 6781 
4. Fax : (+62-751) 9 1300
5. Hotline : +62 819 751 1300 
dengan menyertakan: Nama, Jumlah Wakaf/Infaq, dan Nama Bank

Bantuan dalam bentuk fisik lainnya berupa

Al Quran, Perlengkapan Sholat (Sajadah, Kain Sarung dan Mukena, Jilbab/Selendang), Perlengkapan Mengaji anak-anak TPA/TPSA (Baju Koko, Kopiah/Peci, Iqro, Juz’amma, Buku-buku islam, Buku dan Alat Tulis) serta alat kelengkapan interior Mesjid/Mushalla lainnya (Sound System, Meja Mimbar, Jam penunjuk waktu Sholat, Lampu dll)

Referensi

id.wikipedia – gempa bumi sumatera barat 2009
padangekspress.co.id - Gerakan 1.000 Surau Ditabuh

Selasa, 26 Juli 2011

Nulis artikel masjid yuk

Kelemahan sejarah di tanah air yang paling fatal adalah kurangnya literatur tertulis tentang sejarah yang ada. Masyarakat kita terbiasa dengan sejarah tutur, cerita yang disampaikan secara lisan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Sampai sampai menjadi Tutur Tinular atau Babad tanah leluhur yang maksudnya lebih kurang sama dengan sejarah tutur turun temurun.

Seperti kata pepatah lama “memang lidah tak bertulang” apa yang didengar telinga lalu disampaikan lagi tak selalu sama dengan yang di dengar. Setiap orang memiliki cara penyampaian yang berbeda dengan bahasa dan gaya bahasa yang berbeda pula. Lebih parah lagi ketika apa yang di dengar lalu disampaikan lagi itu di tambah dan dikurangi atau disampaikan lagi dalam perspektif dan penafsirannya sendiri.

Maka jadilah beberapa sejarah penting termasuk sejarah masuknya islam ke tanah air hingga kepada sejarah para tokoh tokoh mula mula penyebar Islam, hingga ke sejarah pembangunan masjid pun terkadang tidak cocok antara sumber yang satu dengan yang lain. Tidak cocok antara tarikh yang disebutkan satu sumber dengan sumber lain nya. Tidak cocok antara jalan cerita yang dituturkan sumber satu dan lain nya.

Bila kita berkunjung ke masjid masjid di penjuru tanah air dari masjid lingkungan hingga ke masjid agung, sangat sedikit dan sangat jarang sekali kita menemukan penanda tarikh pembangunan masjid yang kita kunjungi. Adapun kadang kadang tak terawat dengan baik hingga penanggalan yang ada pun sudah tak terbaca.

Menjadi sebuah ironi ketika penulis berkesempatan berkunjung ke sebuah masjid tua bersejarah, justru pemberian penanda pembangunan masjid tersebut pertama kali dibuat oleh pemerintah penjajahan Belanda ketika masjid tersebut di renovasi, lalu kapan persisnya masjid tersebut pertama kali di bangun ?. tak ada sumber satupun yang valid, selain sejarah tutur.

Sepenggal sejarah mungkin tak berarti bagi para pelakunya, tapi menjadi teramat penting bagi generasi berikutnya. Semua yang terjadi saat ini bermula dari masa lalu. Apa yang kita nikmati saat ini tak bisa lepas dari apa yang terjadi dimasa lalu. Begitupun dengan identitas setiap individu, kaum, suku, ras hingga identitas bangsa tak lepas dari perjalanan dan perkembangan sejarah dari masa lalu.

Bagaimana mungkin kita dapat menentukan dan menemukan identitas kita sendiri bila kita tak faham akan masa lalu kita sendiri. bayangkan bagaimana jadinya bila anak anak kita tak pernah tahu bahwa bapak moyangnya adalah para sesepuh pendiri dan pembangun masjid di kampungnya hingga dengan tanpa rasa bersalah dan tanpa beban sedikit pun melakukan tindakan tak semestinya terhadap bangunan masjid, untuk diubah se-enaknya menjadi tempat hiburan misalnya ?. karena menganggap bangunan tersebut tak lebih dari sekedar bangunan biasa.

Itu contoh yang mungkin terlalu berat, tapi tidak kah terpikir bahwa masjid masjid dan bangunan tua lain nya di tanah air akan masuk dalam daftar bangunan/ masjid bersejarah manakala sudah berusia 50 tahun. Saat ini saja diperkirakan ada 10 ribu-an masjid yang sudah masuk dalam katagori tersebut. Bangunan bersejarah dengan sendirinya masuk dalam daftar bangunan yang dilindungi oleh pemerintah.

Dengan sendirinya hal itu turut meringankan beban para pengurus masjid dan jemaahnya dalam menjaga kepastian keberlangsungan bangunan masjid tersebut. Jangan lupa bahwa. Jangan lupa bahwa angka 10 ribu itu bisa jadi jauh lebih besar dari itu bila mampu menelusuri dengan baik literatur pembangunan masjid masjid di tanah air.

Melalui tulisan kecil ini saya mengajak pembaca sekalian untuk memulai dari diri kita sendiri menuliskan sejarah masjid di lingkungan kita sendiri. merunut sejarah nya dengan baik untuk kemudian dibuatkan [paling tidak] plakat pembangunan masjid sebagi oleh oleh bagi generasi mendatang, bahwa para pendahulunya sudah memberikan contoh sebuah masyarakat Islam sudah ada di negeri ini sebelum mereka, bahwa para pendahulunya adalah para pemeluk Islam yang taat, bahwa secara tradisi negeri tempat mereka hidup adalah negeri Islam. Dengan harapan mereka tak kan melupakan itu dan mengikuti para pendahulunya untuk hidup dalam Islam meneruskan syiar-nya ke generasi selanjutnya hingga ahir zaman.

Bila anda menemui kesulitan untuk itu tapi berkeinginan untuk melaksanakannya. Insya Alloh saya siap memandu anda free of charge alias gratis untuk membuat sebuah artikel kecil tentang masjid di sekitar anda. Tak peduli seperti apa bentuk masjid nya, seberapa besar ukurannya. Dan seberapa sedikit atau banyaknya pengetahuan anda tentang masjid tesebut.

Siapa pun anda yang memiliki niat tersebut dapat menghubungi saya melalui beberapa media berikut ini :

Skype : hendra.bin.jailani (setelah jam 5 sore)
Atau PM (private messege) ke akun facebook di : http://www.facebook.com/dragon401

Selasa, 18 November 2008

Masjid Penzberg, Bangunan terbaik di Bavaria

Setelah melakukan inspeksi terhadap lusinan gedung gedung terkenal, emapt anggota panel arsitek veteran menyimpulkan bahwa Islamic Forum di Penzberg, berupa Masjid dan Islamic center, menjadi Pekerjaan arsitektur terbaik yang pernah ada di Bavaria dalam lima tahun terahir.

“pengahargaan ini sangat penting bagi kami, tidak saja sebagai arsitek tapi juga sebagai muslim” ungkap Alen Jasarevic, seorang arsitek muslim asal Bosia kepada Islamonline.net. “Kemi telah membuktikan bahwa muslim memiliki kontribusi mereka sendiri. Kami bangga bahwa masjid tersebut dengan design dan aktivitasnya telah menjadi perhatian ribuan orang”

Dibangun pada tahun 2005, islamic forum memiliki design yang senafas dengan design arsitektur gedung gedung di sekitarnya. Jasarevic menata ruang sholat, ruang komunitas dan ruang administratif serta apartemen dibawah satu atap dengan bentuk L.

Gedung berwarna pasir tersebut dipenuhi oleh dekorasi dari kaca biru dan sebuah menara dengan kolom berdekorasi kaligrafi alqur-an dari ayat yang terkait dengan kewajiban sholat. Pintu masuk nya terdiri dari dua lempeng beton yang menggayut di tembok laksana gerbang yang terbuka mengundang para tetamu untuk masuk beraksara Jerman dan Arab.

Gedung yang berlimpah cahaya itu, memiliki ruang sholat yang indah, perpustakaan besar, dua aula dan ruang kelas untuk belajar. Dibagian dalam, dibuat dalam suasana klasik, rancangan tangga yang terbuka bertabur cahaya siang hari, di bagian kanan-nya terhampar pemandangan terbuka langsung ke ruang sholat.

Arah jatuhnya cahaya yang melalui celah celah terali tangga dan panel panel di dinding sangat menarik perhatian. Motif motif bintang abstrak berisikan kaligrafi 99 asma’ul husna. Di tengah tengah aula terdapat lantai dua. Ruang ini merupakan galeri khusus bagi wanita , sehingga jemaah wanita dan pria tidak akan dapat saling memandang satu sama lainnya.

“anugerah ini merupakan suatu kehormatan bagi kota kami” demikian sambutan walikota Penzberg Pak Hans Mummert saat menerima penghargaan tersebut dalam upacara yang dilaksanakan Jum’at 17 Oktober yang lalu.

Benyamin Idriz ketua dari Islamic Forum, mendiskripsikan anugerah tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelum ini. “ini kali pertama dalam sejarah Jerman bahwa sebuah Masjid dianugerahi sebuah penghargaan” demikian ungkap beliau kepada IslamOnline. “masjid Penzberg dikenali karena arsitekturalnya yang luar biasa demikian juga karena pendidikan, aktivitas sosial dan kultural-nya”

Masjid tersebut telah menyelenggarakan kunjungan bagi kalangan umum dari pemeluk agama lain dan para pelajar untuk berkunjung dan mendapatkan pandangan yang benar tentang Islam dan Muslim. “masjid tersebut juga menyelenggarakan kegiatan religi dan kursus bahasa juga forum forum dan seminar” ungkap Pak Idriz.

“sudah menjadi suatu magnet tersendiri bagi para mahasiswa untuk membuat skripsi membahas Islam dan Muslim” Lebih dari 15 ribu orang jerman sudah mengunjungi masjid tersebut sejak dibuka pada tahun 2005.

“saya sangat terkesan dengan atmosfir spiritual didalam masjid” tulis salah seorang pengunjung non muslim Jerman dalam Buku tamu. “Kunjungan kami ke masjid tersebut memberikan kami persepsi baru tentang Islam dan Muslim serta memberikan penjelasan atas begitu banyak persepsi yang salah” Islamonline

Kamis, 09 Oktober 2008

Kisah Sebuah Masjid di Kota Strasbourg, wilayah Alsace-Moselle, Prancis

Disaat pembangungan masjid menghadapi tantangan luar biasa di seantero Prancis, ada satu wilayah di Negara tersebut yang justru membantu terwujudnya pembangunan masjid untuk mengakomodasi kebutuhan ummat Islam disana yang jumlahnya semakin meningkat.

Adalah wilayah Alsace-Moselle yang menjadi model bagi dialog antar agama yang cukup kental dibandingkan wilayah wilayah lainnya diseluruh Prancis, sebagaimana di sampaikan oleh Fouad Douai yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pembangunan masjid pemerintah di kota Strasbourg, Alsace-Moselle, demikian Islam Online mengutip International Herald Tribune, 7 Oktober yang lalu.

Kenyataan yang sangat luarbiasa di kota tersebut begitu bertentangan dengan kesekuleran Prancis, yang dengan perundangan tahun 1905 sangat tegas melarang negara untuk memberikan bantuan bagi agama manapun, Namun wilayah Alsace-Moselle malah memberikan hak kepada kaum muslimin di wilayah-nya untuk membangun masjid.

Alsace-Moselle pernah dikuasai Jerman dan baru dikembalikan kepada Prancis paska perang dunia pertama berahir, masih memakai perundangan sebelum perundangan tahun 1905 diberlakukan hingga memungkinkan pemerintahan lokal disana memberikan bantuan finansial kepada publik untuk membangun tempat ibadah bahkan memberikan gaji kepada para pegurus-nya.

Selama beberapa dekade wilayah tersebut merupakan wilayah tertutup bagi agama lain selain Katolik Roma, Lutheran, Kalvari dan Yahudi. Baru kemudian pada tahun 1998 Kepala Gereja Katholik Roma, Gereja Lutheran, Gereja Kalvari, dan minoritas Yahudi melayangkan surat kepada pemerintahan setempat sebagai dukungan bagi pembangunan masjid untuk kaum muslimin disana.

Mereka mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang mampu mengembangkan komunitas di wilayah tersebut harus menikmati status yang sama dengan ke empat agama resmi lainnya. Islam merupakan agama terbesar kedua di Alsace-Moselle yang berpenduduk 2,9 juta jiwa. Namun hanya memiliki satu masjid kecil saja di kota Farebersviller, tidak ada satu pun tempat resmi bagi ummat Islam disana untuk melaksanakan peribadatan.

Segera setelah menerima surat dukungan dari para tokoh tersebut, pemerintahan setempat memberikan lahan yang cukup luas di tepian sungai Kota Strabourg untuk pembangunan masjid. Pemerintah kota dan Dewan Wilayah menyumbang 25 persen dari keseluruhan biaya pembangunan masjid dimaksud. Menjadikan masjid tersebut sebagai tempat ibadah resmi yang diakui oleh pemerintah.

Rintangan

Rencana pembangunan masjid tersbut bukan tanpa kendala, Dunia Perpolitikan Prancis begitu hipokratik. Ungkap Douai, yang juga menjabat sebagai kepala organisasi komunitas muslim Alsace-Moselle. Orang orang disana tidak menamakan sesuatu berdasarkan apa yang sebenarnya, tiap kali mereka melihat adanya orang kulit berwarna atau nama nama islam maka anda akan benar benar merasa tertindas. Hal yang paling anyar tentang rencana pembangunan masjid disana di tahun 1998 telah menghadapi debat politik yang sengit.

Roland Ries, yang menjabat sebagai walikota Strasbourg kala itu dan membantu memulai pembangunan masjid baru tersebut harus membayar biaya politik yang sangat mahal akibat keputusannya dengan kehilangan jabatan sebagai walikota, manakala pemerintahan sosialisnya mengalahkan dia dalam pemelihan lokal tahun 2001.

Walikota baru yang berhaluan kanan mengunjungi lokasi proyek pembangunan dan memberikan ijin hanya kepada bangunan yang diperuntukan bagi kegiatan religius dan meolak mengizinkan pembangunan Pusat Study dan Auditorium. Pemerintahan baru juga menolak pemberian menara bagi masjid tersebut. Baru pada tahun 2007 yang lalu pembangunan masjid tersebut ahirnya dimulai. Komunitas muslim disana berjuang keras bagi pendanaan pembangunan dan proses penyelesaian pun menjadi sangat lambat.

“Saya ingin bangunan itu sesegera mungkin diselesaikan” ungkap Ries, yang kembali menduduki jawabatan walikota pada bulan Maret yang lalu dengan dukungan mutlak dari kaum muslimin disana.

Sebuah Pelajaran Berharga

Para pejabat disana percaya bahwa meskipun berkendala, Alsace Moselle selayaknya dijadikan contoh bagi wilayah Prancis lain nya. “Muslim prancis saat ini mewakili agama terbesar kedua di Prancis, begitu juga di Alsace-Moselle” ungkap François Grosdidier anggota legislatif dan sekaligus walikota Woippy kota kecil di wilayah yang sama dengan penduduk 15 ribu jiwa dan sepertiganya adalah warga muslim, Sebuah pengecualian diberikan bagi warga muslim, mereka dipersilahkan (warga untuk membangun masjid di basemen sambil mencari bantuan asing”

Saat ini sudah terdapat 1,700 tempat ibadah bagi kaum muslimin di prancis yang menjadi rumah bagi enam hingga tujuh juta warga muslim. Menjadikan prancis sebagai minoritas muslim terbesar di Eropa. Dari 1,700 tempat tersebut hanya 400 saja yang merupakan masjid yang di akui secara resmi oleh negara sementara sisanya merupakan tempat ibadah sementara di ruang aula, Gimnasium, toko tak terpakai atau lantai basemen sebuah gedung apartemen.

Pak Grosdidier (Walikota kota Woippy) yakin bahwa segera atau nanti hukum Prancis dan para politikus akan sadar akan kewajiban untuk mengakomodasi populasi muslim di Prancis.

“Saya pikir situasi yang kini terjadi tidak akan bertahan lama di negeri ini” “situasi (penolakan terhadap islam) ini tidak akan mampu bertahan lama” imbuhnya.