Tampilkan postingan dengan label Artikel Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Masjid. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

Masjid Jamie An-Nur Majingklak

Masjid Jamie An-Nur Majingklak, Desa Pamotan, Kecamatan Kali Pucang, Kabupaten Pangandaran, Propinsi Jawa Barat.

Dimanakah Majingklak ?

Majingklak adalah nama yang dipakai untuk menyebut satu daerah di pesisir selatan Jawa tepatnya di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Kabupaten pangandaran sendiri dulunya disebut sebagai daerah Ciamis selatan, merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten Ciamis. Nama Majingklak tidak digunakan sebagai nama desa ataupun kecamatan, kini di abadikan sebagai nama pelabuhan penyebarang di desa Pamotan, kecamatan Kalipucang, kabupaten pangandaran, dibawah pengelolaan Balai Pengelolaan Pelabuhan Laut Angkutan Sungai, Danau, dan Penyebrangan Sub Unit Pelabuhan Penyebrangan Majingklak.

Dari arah kantor pelabuhan Majingklak

Secara geografis, majingklak berada ditepian muara sungai Citanduy menghadap ke Segara Anakan. Karena sungai citanduy merupakan perbatasan antara Propinsi Jawa barat dan Jawa tengah menjadikan Majingklak sebagai wilayah jawa barat paling timur di bagian selatan. Pelabuhan penyeberangan Majingklak melayani rute Penyeberangan menyeberangi Segara anakan dari Majingklak – Desa Klaces, kecamatan kampung laut di pulau Nusa Kambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

area parkirnya cukup luas

Akibat parahnya pendangkalan yang terjadi di muara sungai citanduy dan segara anakan, pelabuhan penyeberangan Majingklak tidak lagi melayani penyeberangan dengan kapal besar, hanya perahu motor compreng berkapasitas paling besar sekitar 15 orang saja yang dapat melayari rute penyeberangan disana dan itupun harus mengambil rute memutar untuk memilih perairan yang cukup dalam untuk dapat dilalui.





Masjid Jamie An-Nur Majingklak

Masjid Jamie An-Nur Majingklak bediri megah di tengah desa Pamotan, kecamatan Kalipucang, kabupaten Pangandaran, propinsi Jawa Barat. Lokasinya berdiri tak seberapa jauh dari bibir sungai citanduy dan kubah kubahnya itu terlihat sampai jauh hingga ke segara anakan. Masjid yang dibangun permanen berbahan beton ini dibalut warna kuning diluar maupun di dalam.

kubahnya menyembul diantara atap rumah penduduk, dilihat dari arah demaga Majingklak

Bangunan masjid ini tidak dilengkapi dengan bangunan menara yang terpisah dari bangunan utama. Dua bentuk seperti menara dibangun di atap masjid di sisi kiri dan kanan lengkap dengan kubah dari bahan alumunium di puncaknya. Masjid ini juga tidak dilengkapi dengan kubah utama dalam ukuran besar, namun dibangun bentuk yang sama dengan dua bentuk menara lainnya dengan ukuran yang lebih tinggi.

dua dari tiga kubahnya

Keseluruhan atap masjid merupakan atap cor yang juga memberikan tempat untuk dibuatnya teras di tiga sisi masjid. Di bagian tengah masjid ada empat pilar turut menopang atap masjid. Menara tengah yang berdiri tepat di titik tengah atap masjid memberikan bukaan bagi masuknya cahaya matahari ke dalam ruangan masjid di siang hari.

Kekurangan air bersih

Majingklak dari arah Segara Anakan, tampak dermaganya dan kubah masjid Jamie An-nur dari kejauhan.

Kawasan pelabuhan Majingklak dan sekitarnya ini memang kesulitan air bersih, penduduk setempat harus membeli air bersih untuk semua kebutuhan harian mereka. Penduduk setempat sempat bercerita bahwa mereka sempat membuat sumur bor di lahan masjid untuk keperluan Jemaah tapi air nya asin meski sudah di bor hingga kedalaman 45 meter dan membentur batuan hingga pengeboran dihentikan. 

bagian dalam Masjid Jamie An-Nur, Majingklak

Namun demikian masjid An-Nur Majingklak dan kawasan pelabuhan Majingklak ini memang sangat tenang jauh dari hiruk pikuk, meski suhu udara cukup tinggi. Patut disinggahi bagi para pemancing untuk mencoba tarikan ikan di segara anakan, ataupun bagi para traveler yang ingin menikmati wisata pulau Segara Anakan, Kampung Laut dan aneka sajian wisata di pulau Nusa Kambangan.*** 


Selasa, 14 Mei 2013

Yang Manakah Masjid Tertua di Bumi ?

Dua Masjid Tertua di Bumi. Masjidil Haram di kota Makah Al-Mukarromah, Saudi Arabia dan Masjidil Aqso di kota Al-Quds (Jerusalem), Palestina.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,
“Masjid apakah yang pertama kali ada di muka bumi?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, 
. . . . . . . “Masjidil Haram.” . . . . . . 
Kemudian apa lagi?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, 
. . . . . . . “Masjid al-Aqsha.” . . . . .
Beliau ditanya lagi, “Berapa jarak antara keduanya?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
. . . . . . . .“Empat puluh tahun.” . . . .
(HR. al-Bukhari dan Muslim).


Sumber : Fatawa Rasulullah: Anda Bertanya Rasulullah Menjawab, Tahqiq dan Ta’liq oleh Syaikh Qasim ar-Rifa’i, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Pustaka As-Sunnah, Cetakan Ke-1, 2008. 

Dome of the Rock, Masjid Berkubah Pertama di Dunia

Dome Of The Rock / Kubah Batu. adalah salah satu masjid di dalam komplek Masjidil Aqso di Jerusalem Timur, Palestina. Masjid yang sering disalah arti sebagai Masjidil Aqso ini merupakan Masjid berkubah pertama di dunia sekaligus sebagai Masjid Berkubah emas pertama.

Kubah Batu atau Dome of The Rock adalah salah satu bangunan suci umat Islam. Masjid berkubah pertama itu berada di tengah kompleks Al-Haram asy-Syarif yang terletak di sebelah timur di dalam Kota Lama Yerusalem (Baitul Maqdis).

Masjid itu berkubah keemasan. Sedangkan Masjid Al-Aqsa yang berkubah biru berada pada sisi tenggara Al-Haram asy-Syarif menghadap arah kiblat (kota Mekkah). Pembangunan masjid itu dimulai ketika Yerusalem jatuh ke dalam kekuasaan Islam pada era Khalifah Umar bin Khattab. Tak heran, jika masjid itu disebut Masjid Umar.

Adalah Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang memprakarsai pembangunan Kubah Batu pada tahun 66 H/685 M dan selesai tahun 72 H/691 M. Pembangunan masjid itu sepenuhnya dikerjakan dua orang arsitek Muslim yakni Raja' bin Hayat dari Bitsan dan Yazid bin Salam dari Yerusalem. Keduanya dari Palestina.

Di foto di atas terlihat dengan jelas, bangunan dengan kubah warna emas ditengah komplek tersebut adalah Dome Of The Rock atau Masjid Kubah Batu sedangkan Masjid Al-Aqso adalah Masjid dengan kubah bewarna Abu Abu pada bagian selatan komplek tersebut.
Bangunan Kubah Batu terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama dan kedua tingginya mencapai 35,3 meter. Secara keseluruhan, tinggi masjid itu mencapai 39,3 meter. Keadaan ruang di dalamnya terdiri tiga koridor yang sejajar melingkari batu (sakhrah). Koridor bagian dalam merupakan lantai thawaf yang langsung mengelilingi batu seperti tempat thawaf di Masjidil Haram.

Di dalamnya dipenuhi ukiran-ukiran model Bizantium. Di dalamnya terdapat mihrab-mihrab besar jumlahnya 13 buah dan masing-masing mihrab terdiri dari 104 mihrab kecil. Untuk memasukinya ada empat pintu gerbang besar yang masing-masing dilengkapi atap.

Bentuk kubahnya banyak dipengaruhi arsitektur Bizantium. Sejarawan Al-Maqdisi menuturkan bahwa biaya pembangunan masjid itu mencapai 100 ribu koin emas dinar. Di dalam masjid itu terdapat batu atau sakhrah berukuran 56 x 42 kaki. Di bawah sakhrah terdapat gua segi empat yang luasnya 4,5 meter x 4,5 meter dan tingginya 1,5 meter.

Pada atap gua terdapat lubang seluas satu meter. Batu tersebut disebut sakhrah mukadassah (batu suci). Di batu tersebut Nabi Muhammad melakukan mi'raj dan sebagai saksi peristiwa tersebut maka dibangunlah Kubah Sakhrah di atasnya. Menurut literatur Islam, nilai kesucian sakhrah sama dengan Hajar Aswad (batu hitam).***



Sabtu, 13 April 2013

Speaker Masjid, Fitur Yang Terabaikan


Zaman dulu kala ketika di kampungku hanya ada satu masjid Jami' Saja, penduduk yang rumahnya di ujung kampung bisa marah marah bila suara azan dari menara masjid Jami' tak terdengar sampai ke rumah atau ladangnya, pasalnya dia tak keburu siap siap dengan baik untuk sholat Jum'at, berbuka, sahur apalagi imsak.
Saya cukup tergelitik dan mesem mesem dengan satu adegan film nya Haji Rhoma Irama. Ceritanya beliau singgah ke masjid menjelang waktu sholat dan bertemu dengan pengurus masjid yang diperankan Haji Komar. Beliau sempat menanyakan perihal beduk yang ditutup dengan kain terpal terkesan tidak dipakai lagi, pengurus masjid itu menjelaskan bahwa beduk itu memang tidak dipakai lagi karena kata pak Kyai “itu Bid’ah, Nabi tak pernah pakai beduk”.

Rhoma tak berkomentar apapun, tapi jadi benar benar menarik ketika Haji Komar yang siap siap mengumandangkan azan menggunakan speaker, tiba tiba dimatikan oleh  Haji Rhoma. Haji Komar Protes “kok dimatikan ?” lalu dijawab dengan meminjam kalimat Haji Komar sendiri “ini Bid’ah, Nabi tidak pernah pakai Speaker”.

Seputar Pengaturan Pengeras Suara di Masjid sempat menjadi topik panas gara gara Pidato Wapres tentang Pengaturan Azan saat membuka muktamat DMI 27 April tahun 2012 yang lalu. Serangkaian kontroversi merebak beberapa pihak mengkhawatirkan Usulan Wapres Soal Pengaturan Azan tersebut akan Pancing Konflik Horizontal yang lainnya berpendapat bahwa Soal Pengeras Suara di Masjid, Biar Masyarakat Mengatur sedangkan imam masjid Istiqlal dengan pedas mengatakan Soal Azan Wapres, 'Kalau tak Ingin Hidup Pluralistik, Tinggal di Hutan'.

Harap maklum sajalah bila pernyataan Pak Boed bahwa Pengeras Suara Azan Perlu Diatur itu kemudian menuai kontroversi, mengingat posisi beliau yang wapres. Kalaulah yang bicara seperti itu hanya sekelas rakyat biasa tidak akan menuai reaksi seperti itu, paling paling nyaris dikeroyok masa seperti yang terjadi pada Sayed Hasan, warga Aceh yang nyaris di hajar masa gara gara Gugat Pengeras Suara Adzan.

Untuk saya pribadi Pengaturan Penggunaan Mikropon Masjid Perlu Diperhatikan, apalagi sebenarnya pemerintah melalui Dirjen Bimas Islam di tahun 1978 sudah pernah menerbitkan Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara Di Masjid, Langgar Dan Mushalla, sayangnya kurang disosialisasikan dengan baik.

Haruskan speaker di seting sekeras kerasnya, apakah semua aktivitas di masjid harus disuarakan melalui speaker luar, apakah anak anak tak perlu dicegah menggunakan speaker masjid sebagai mainan ? masyakat sendiri yang harus arif.
Tata suara masjid memang lebih banyak menjadi urusan penting gak penting bahkan terabaikan di masyarakat kita, jangankan mengurusi hal itu, untuk membangun masjidnya pun butuh waktu bertahun tahun untuk menyelesaikannya karena kekurangan dana. Rasanya masih menjadi mimpi yang teramat panjang bila mengharapkan masjid masjid kita memiliki tata suara yang sangat baik seperti Fitur Akustik Masjid Salman ITB hingga suara khatib terdengar begitu nyaman ditelinga jemaah paling belakang sekalipun.

Apalagi untuk seperti tata suara di masjid masjid besar dan tua Turki yang akustiknya dirancang dengan cermat bersamaan dengan rancang bangun masjidnya secara keseluruhan, hingga suara robekan kertas di ruang mihrab akan terdengar dengan jelas hingga jemaah di jejeran paling belakang tanpa perlu pengeras suara. Saking rumitnya rancangan bangunan masjid di Turki sampai sampai kesalahan perombakan interior-nya berakibat rusak fitur sistem tata suara alami-nya, seperti rusaknya fitur akustik pada masjid Sulaimaniyah.

Suka atau tidak bila kita berkeliling ke berbagai masjid di tanah air, kadang kala sempat terkaget kaget juga dengan suara speaker di dalam masjid yang di seting dalam volume teramat tinggi mirip tabligh akbar saat khutbah Jum’at.  Bagus memang, karena suara berisik anak anak kecil sampai nyaris tak terdengar sama sekali tertindih kerasnya suara khatib dari speaker, hanya saja rasanya benar benar menjadi tidak nyaman ditelinga.

Belum lagi bila kita perhatikan dengan baik bahwa sistem tata suara di dalam kebanyakan masjid masjid kita memang perlu penataan dengan baik, bukan sekedar terdengar keras dan lantang tapi lebih daripada itu, tujuan penggunaan pengeras suara adalah supaya suara khatib ataupun muazin terdengar dengan baik oleh jema’ah.

Di kampung kami di Cikarang, di beberapa masjid, speaker malah menjadi perangkat yang tidak penting saat sholat berjama’ah kecuali sholat Jum’at, karena imamnya sama sekali tidak menggunakan speaker, jangan kaget bila kemudian anda harus mengikuti jemaah disebelah anda karena suara imamnya yang nyaris tak terdengar. Tradisinya memang begitu.

Suara azan memang harus disuarakan dengan keras dan lantang, namanya juga azan toh. Yang harus pelan dan khusu’ itu berdoa. Hanya saja memang jadi benar benar mengganggu bila suara muazin nya tak layak tayang. Pengurus masjid memang harus bijaksana memilah hal mana yang layak untuk disuarakan dengan speaker luar masjid dan mana yang hanya cukup disuarakan di dalam masjid.

Azan, tidak saja menyuarakan panggilan sholat kepada ummat tapi juga merefresentasikan kemahiran muazin melantunkannya, kebijaksanaan DKM dalam memilih muazin. Dan kita juga harus faham bahwa hanya sedikit saja masjid di tanah air kita ini yang memiliki manajemen professional. Sisanya adalah masjid masjid yang dibangun dan dikelola sendiri oleh masyarakat, Muazin, Imam hingga khatibnya juga dari masyarakat sendiri, sehingga butuh ke-arifan dan kebijaksanaan lebih manakala membicarakan pengaturan tentang speaker masjid yang memang penting gak penting.***