Jumat, 12 April 2013

Masjid Jami’ Babussalam Gelumbang

MASJID MASJID DI TANAH BELIDA

Setidaknya sampai ahir tahun 2010 Masjid Jami' Babussalam Gelumbang masih berbentuk seperti pada foto kiri. dan foto sebelah kanan adalah foto Masjid Jami' Babussalam beberapa bulan yang lalu saat mendekati penyelesaian ahir.

Gelumbang adalah nama Kelurahan sekaligus nama kecamatan di dalam wilayah kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Lokasinya terpaut 58 km dari Kilometer Nol di bundaran air mancur di depan Masjid Sultan dan jembatan Ampera di Pusat kota Palembang, tapi justru begitu jauh sampai 119 KM dari kota Muara Enim selaku Ibukota Kabupaten.

Wajar bila kemudian merebak keinginan dari masyarakat setempat untuk membentuk Kabupaten sendiri terlepas dari Kabupaten Muara Enim. Status Gelumbang sendiri sudah lama sekali berubah menjadi kelurahan dengan lurah yang ditunjuk langsung bukan dipilih, menggantikan Status lamanya sebagai sebuah desa.

Masjid Jami’ Babussalam atau biasa disebut Masjid Babussalam saja, dulunya merupakan satu satunya masjid bagi tiga kampung di Kelurahan Gelumbang bersama dua Langgar, yakni Langgar Nurul Iman di Kampung II dan satu Langgar lagi kampung III. Tidak ada langgar di kampung I karena sudah ada Masjid Jami’.

Begitu jauh dari Ibukota Kabupaten. 
Seiring dengan perkembangan zaman, penduduk semakin membludak, penghuni makin padat ditambah lagi dengan munculnya wacana untuk menjadi kabupaten mandiri membuat Desa yang dulunya sepi, kini mulai tumpek plek dengan pemukiman warganya yang semakin heterogen tidak lagi melulu dihuni oleh Urang Belide (Orang Belida) seperti pada masa sebelumnya. Kebutuhan akan masjid dan langgar-pun meningkat dan kemudian berdirilah beberapa masjid di kawasan kawasan pemukiman baru.

Sampai sejauh ini saya masih belum juga menemukan data pasti kapan pertama kali masjid ini dibangun. Saat masih kecil dulu masjid ini masih berupa masjid permanen berbentuk masjid tradisional dengan atap bersusun tiga mirip dengan Masjid Agung Sultan di kota Palembang namun dalam bentuk yang lebih sederhana. Tapi siapa yang membangunnya dan kapan dia mulai dibangun ? saya belum tahu.

Saya masih duduk di kelas satu SD di tahun 1978 ketika masjid tersebut dibongkar total untuk dibangun ulang karena beberapa alasan, diantaranya adalah karena kerusakan struktur atap yang sudah begitu parah, kebocoran saat hujan terjadi disana sini. Bukan hal aneh bila sedang berada di dalam masjid kita juga akan kehujanan serbuk kayu yang berterbangan di rungan dari lubang lubang tempat kumbang kumbang kayu bersarang, belum lagi bila kumbangnya sedang buang air. Wuah.

Tunggu saja foto terbarunya ya.
Alasan lainnya adalah karena arah kiblatnya yang melenceng. Setelah bangunan baru berdiri teratak masjid lamanya yang melenceng ke kiri masih bisa terlihat disebelah kiri bangunan masjid baru. Tak ada yang tersisa dari bangunan masjid lama kecuali menaranya yang kemudian dibuat lebih tinggi. Proses pembangunan Masjid beton yang dibangun kemudian itu tidak berjalan mulus selama berpuluh tahun.

Interiornya tak pernah tersentuh pengerjaan finishing, bila melongok ke plafon masjid masih akan terlihat bekas bekas papan cor yang belum dirapikan, begitupun dengan jejeran tiang tiangnya. Ya, seluruh atap masjid nya memang di cor karena tadinya direncanakan sebagai masjid berlantai dua tapi kemudian lantai atasnya batal digunakan setelah menyadari struktur fondasinya yang tidak layak untuk itu.



Tahun 2010 tokoh tokoh masyarakat setempat bermufakat untuk merobohkan lagi bangunan masjid yang dibangun sejak tahun 1978 itu dan menggantiya dengan bangunan masjid dua yang lebih refresentatif sebagai masjid Jami’ di calon Ibukota kabupaten baru itu. kabar baguspun datang dengan digusurnya Kantor Kades yang tadinya berdiri di depan masjid ini dan lahannya dijadikan halaman depan masjid.

Berita baik berikutnya juga datang dari rumah disebelah masjid yang kemudian dijual oleh pemiliknya dan dibeli oleh pengurus masjid dengan dana dari si penjual sendiri, Hah aneh ya ?. Tapi konon katanya memang begitu adanya. lahan bekas rumah itu kini digunakan untuk menambah luas bangunan masjid di sebelah kiri (selatan).

Dan kini sebuah bangunan masjid yang sama sekali baru sudah berdiri megah di Simpang Empat kelurahan Gelumbang dengan tetap mempertahankan nama lamanya. Simpang Empat itu memang pusatnya Gelumbang, orang disana biasa menyebutnya dengan istilah “Tengah Laman” alias tengah tengah kampung. Bila suatu hari anda kebetulan melintas disana silahkan mampir ke masjid tempat saya dulu belajar mengeja hurup Alif Ba Ta.***