Tampilkan postingan dengan label Masjid di Cirebon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Cirebon. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 November 2014

[FOTO] Masjid Jami Al-Barokah Matangaji

Panorama masjid Jami' Al-Barokah Matangaji. disebelah kiri adalah gedung kantor Kuwu Matangaji sedangkan disebelah kanan foto adalah gedung PAUD dan Taman Kanak kanak.
Sebatang menara tunggal berdiri di depan masjid Al-Barokah Matangaji.
dari depan gedung PAUD dan TK
NURUL HUDA nama PAUD dan TK nya 
Beranda Masjid, ada dua lapis beranda hasil dari dua kali perluasan
Beranda kedua
ini nama masjidnya. "Masjid Jami; Al-Barokah"
dari beranda menatap ke beranda terluar 
di dalam masjid
ornamen di atap masjid
ujung menara Masjid Jami' Al-Barokah Matangaji
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Jumat, 31 Oktober 2014

Masjid Jami Al-Barokah Matangaji

Masjid Jami' Al-Barokah Matangaji
Matangaji adalah desa di kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Desa yang namanya berkaitan dengan salah satu sultan Kasepuhan Cirebon, bukan karena beliau lahir disana tapi karena beliau pernah melakukan perjalanan dan mengajar mengaji murid murid nya hingga matang di tempat ini.

Adalah Sultan Sepuh Shafiudin, sultan ke 5 yang berkuasa di kraton kasepuhan setelah kesultanan Cirebon terbagi mejadi dua Keraton yakni Kraton Kasepuhan dan Kraton Kanoman. Beliau melakukan perjalanan meninggalkan Kraton melakukan dakwah di daerah Sumber sampai ahirnya tiba di Matangaji, mendirikan semacam pesantren dan mengajar mengaji disana.

Beliau menekankan kepada murid muridnya untuk belajar mengaji hingga benar benar matang, matang mengaji atau matangaji. Istilah itu yang kemudian menjadi nama bagi daerah tempat beliau mengajar tersebut hingga saat ini. Sultan Shafiudin dimakamkan di komplek pemakaman kesultanan Cirebon di Astana Gunung Jati.

Mesjid Al Barokah Matangaji
Matangaji, Kec. Sumber, Cirebon, Jawa Barat 45611




Lokasi desa matangaji ini memang terpencil di ketinggian dengan udara tak terlalu menyengat sepanjang hari, tak seperti di pusat kota Cirebon yang panas. Desa yang tertata dengan apik dan asri. Jalanan cor, pohon pohon rindang, pemukiman yang tertata, bersih dan jauh dari kekumuhan. Sepanjang perjalanan di desa ini kami tak menemukan rumah penduduk yang masih semi permanen.

Rata rata bangunan rumah penduduk disini sudah dibangun permanen dengan material semen dan batu bata. Beberapa diantaranya bahkan menggunakan batu alam. Dilihat dari langgam bangunannya sepertinya bangunan bangunan rumah penduduk disini sudah dibangun permanen setidaknya sejak penghujung era 70-an hingga awal 80-an. Saya menarik kesimpulan sederhana bahwa penduduk desa ini cukup makmur secara merata.

Di tengah desa Matangaji saat ini berdiri sebuah masjid megah. Nama yang tertulis beraksara arab di teras depan bagian dalamnya terbaca Masjid Jami’ Al-Barokah. Nama yang indah bukan. Nama yang mendoakan kebarokahan bagi siapapun yang sholat disini dan bagi masyarakat Matangaji khususnya. 

panorama Masjid Jami' Al-Barokah Matangaji, sebelah kiri foto adalah gedung kantor kuwu Matangaji, sebelah kanan foto adalah gedung sekolah PAUD dan TK.
Sebagai masjid Jami’ lokasinya memang berdekatan dengan kantor Kuwu Matangaji, berhadapan dengan bangunan penunjang aktifitas desa lainnya termasuk menara penampung air PDAM yang memasok air bersih untuk warga desa bersumber langsung dari alam. Disebelah utara masjid ini berdiri bangunan sekolah milik yayasan Nurul Huda yang mengelola pendidikan anak usia dini (PAUD) dan Taman kanak Kanak. 

Bangunan masjid Al-Barokah Matangaji ini sudah berbentuk masjid moderen dilengkapi dengan kubah utama dan beberapa ornamen menara kecil berkubah di bagian atapnya. Bangunannya terdiri dari tiga bagian, bisa jadi tiga bagian ini juga mencerminkan tiga kali proses pembangunan-nya.

Sisi depan Masjid Jami' Al-Barokah Matangaji. anda bisa melihat nama masjidnya terukir dengan huruf arab.
Bangunan utama masjid berdenah segi empat dengan satu tiang penyangga di tengah ruang masjid yang kemudian di apit oleh empat sokoguru. Langgam sokuguru dan bentuk kusen jendela dan pintu masjid ini seperti senada dan dibangun di era yang sama dengan rumah rumah penduduk disana diantara penghujung 70-an hingga awal 80-an.

Masjid ini dilengkapi tiga pintu akses. Pintu utamanya menghadap ke timur (halaman masjid), pintu utara menghubungkan ke area berwudhu, toilet dan tangga akses ke atap masjid. Dan pintu selatan ke teras samping menghadap ke jalan di samping masjid. Ruang mihrabnya sederhana dilengkapi mimbar khatib berbentuk podium.

 Interior Masjid Jami' Al-Barokah Matangaji
Ada dua lapis teras yang sepertinya dibangun di masa yang berbeda. Teras bagian dalam dilengkapi dengan beranda di sisi depan masjid yang dibagian atasnya ditulis nama masjid ini. kemudian ditambahkan lagi teras bagian luar. Penambahan seperti ini memang lumrah terjadi di masjid masjid tanah air untuk keperluan untuk memperluas masjid. Pasokan air berlimpah, dan rasanya sangat sejuk.

Masjid Jami’ Al-Barokah dilengkapi dengan bangunan menara tunggal di depan masjid. Sepertinya dibangun belakangan lama setelah masjid berdiri atau setidaknya menara lamanya di renovasi hingga menjadi seperti menara-nya saat ini. menara ini dilengkapi dengan tangga hingga kepuncaknya.

Mushola Al-Ikhlas di Blok Si Petir
Selain Masjid Jami’ Al-Barokah ini, memasuki desa Matangaji kita akan menjumpai satu bangunan Mushola yang sedang direnovasi total untuk diperluas dan dipermegah. Namanya Mushola Al-Ikhlas di blok Si Petir, namanya sih Mushola tapi ukurannya terlihat cukup besar untuk sebuah mushola.

Selain itu masih ada bangunan masjid besar yang juga sedang dalam tahap renovasi total di Blok Pedaleman. Masjid yang cukup besar dan indah dengan latar belakang gunung Ciremai. Hanya saja kami tak sempat singgah ke masjid dan mushola tersebut. Blok Pedaleman sejarahnya dulu merupakan tempat para Dalem Keraton Kesultanan Cirebon beristirahat hingga ahirnya disebut Pedaleman hingga saat ini.*** 

menikmati senja di halaman masjid Pedaleman
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Senin, 13 Mei 2013

Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Berkunjung ke Masjid Agung San Cipta Rasa Cirebon yang merupakan warisan kejayaan Kesultanan Cirebon, kita akan disuguhi segudang keindahan dari masa lalu. Salah satunya adalah keindahan ukiran pada mihrabnya yang dibangun menggunakan batu pualam warna putih berukir yang sangat indah namun sepi dari ukiran kaligrafi.

Ukuran mihrab masjid ini relatif kecil dibandingkan dengan ukuran masjidnya yang kini bahkan sudah ditambah dengan empat pendopo di kiri, kanan dan depannya. Ukuran mihrab ini hanya cukup untuk satu orang imam saja. Menilik ukuran tersebut tanpaknya tak jauh berbeda dengan ukuran 8 pintu sampingnya yang dibuat hanya cukup untuk laluan satu orang, dan itupun harus menunduk karena dibangun hanya setinggi sekitar satu meter saja.

Ukuran mihrab yang kecil itu seakan mengingatkan siapapun yang menjadi imam di masjid ini bahwa dia sendirian dalam mengemban tugas dan amanahnya dalam memimpin jemaah yang berjejer di belakangnya. Bahwa pemimpin ummat harus amanah, memiliki ilmu yang mumpuni, memiliki kemampuan kepemimpinan dan mampu bertindak tegas dalam mengikuti aturan agama tanpa kecuali.

Ukiran pada Mahkota Mihrab Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon
Mihrab masjid Agung Sang Cipta Rasa dalam proses pembangunannya melibatkan sunan kalijaga yang mengukir dua pilar di kiri dan kanan ruang sempit tersebut. Ukiran pada dua pilar ini berbentuk kelopak bunga yang masih kuncup. Sedangkan ukiran pada mahkota mihrab berbentuk ukiran floral yang indah dan berpusat pada ukiran bunga matahari yang sedang mekar di bagian paling puncak.

Ukiran bunga matahari ini memiliki banyak makna, seperti Islam yang hadir menerangi tanah arab yang saat Islam lahir, dunia arab sedang tenggelam dalam kegelapan jahiliyah. Seperti ajaran Islam yang membawa ummatnya dari kegelapan ke jalan yang terang. Dibalik itu lambang bunga matahari itu mengingatkan kita pada kebesaran kerajaan Majapahit yang pernah berjaya di Nusantara. Dan lambang Majapahit dikenal dengan nama Surya Majapahit karena bentuknya yang memang mirip dengan matahari.

Sumber sumber sejarah memang menyebutkan bahwa pembangunan masjid Agung Sang Cipta Rasa melibatkan Raden Sepat dan pasukannya. Beliau adalah panglima pasukan Majapahit yang tadinya ditugasi untuk menhancurkan kesultanan Demak yang baru berdiri dengan Raden Fatah sebagai sultan pertamanya. Namun penyerbuan tersebut mengalami kegagalan dan justru membawa Raden Sepat ke dalam pangkuan Islam berikut seluruh anggota Pasukannya.

Kiri : Ukiran Bunga Matahari di Mihrab Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Kanan : Surya Majapahit
Sekitar 200 orang anggota pasukan Majapahit dibawah pimpinan Raden Sepat tersebut diperintahkan oleh Raden Fatah berangkat ke Cirebon guna membantu Sunan Gunung Jati dalam proses pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibawah koordinasi Sunan Kalijaga yang bertindak sebagai kontraktor pembangunan masjid dimaksud.

Bergabungnya berbagai etnis dan latar belakang dalam proses pembangunan masjid ini memberikan kekayaan arsitektur tersendiri yang membentuk masjid Agung Sang Cipta Rasa yang kini kita lihat. Pembauran itu juga dapat kita lihat pada Mihrab masjid ini. selain ukiran floral di mihrab ini juga dilengkapi dengan dua ukiran geometris pada dua sisinya.

Ada tiga tegel lantai yang dipasang secara khusus di area mihrab ini masing masing oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan tentu saja Sunan Kalijaga selaku kontraktor. Tiga tegel tersebut melambangkan Iman, Islam dan Ikhsan. Mihrab masjid ini hanya satu dari bagian integral masjid Agung Sang Cipta Rasa yang mewakili kejayaan Kesultanan Cirebon pada masanya.**

Selasa, 07 Mei 2013

Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan


Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Konon Masjid ini dibangun sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak.
Menurut satu riwayat tutur menyebutkan bahwa pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang berlokasi di depan Keraton Kasepuhan Kota Cirebon, merupakan pasangan dari Masjid Agung Demak. Pada waktu pembangunan Masjid Agung Demak dimasa Raden Fatah tahun 1477 Sunan Gunung Jati memohon ijin untuk membuat pasangannya di Cirebon.

Karena merupakan masjid yang sepasang maka, kedua masjid ini memiliki wataknya masing masing. Bila masjid Agung Demak berwatak Maskulin dengan tampilannya yang gagah, maka masjid Agung Sang Cipta Rasa ini berwatak feminim. Bila atap Masjid Agung Demak dibangun berbentuk piramida bersusun tiga maka Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dibangun dengan atap limas persegi panjang bersusun tiga untuk mewakili watak feminim.

Masjid Sepasang. Bisa temukan kemiripannya ?. sejarah tutur menyebutkan bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Bila Masjid Agung Demak dibangun dengan watak maskulin maka bangunan Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon dibangun dengan watak Feminim.
Diceritakan juga bahwa para wali pada saat masjid ini selesai didirikan berjamaah sholat Maghrib disini dan kemudian Sholat Subuh di Masjid Demak. Sementara versi yang lain bahwa masjid ini dibangun hanya dalam waktu satu malam, karena pada waktu ke esokan harinya sudah dipakai untuk sholat subuh. Cerita tutur yang sulit dicerna akal bila mengingat jarak antara kedua masjid ini bila ditarik garis lurus hampir 230 km.

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dibangun tahun 1478 atau setahun setelah Masjid Agung Demak. Atau bersamaan dengan didirikannya Kesultanan Cirebon dengan Sultan pertamanya Sunan Gunung Jati. Gagasan pembangunannya datang dari Putri Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana, Permaisuri dan juga sepupu Sunan Gunung Jati, karena Pangeran Cakrabuana sendiri adalah Uwak (kakak dari Ibu) Sunan Gunung Jati.

Proses pembangunan melibatkan para wali dengan Sunan Kalijaga sebagai kontraktor utama, sedangkan arsiteknya ditangani oleh Raden Sepat, seorang mantan panglima Majapahit yang kemudian ber-Islam berikut seluruh sisa pasukannya paska kekalahan dalam penyerbuan untuk menumbangkan Kesultanan Demak yang baru berdiri.

Sebagai masjid tua yang sama sama dibangun oleh Para Wali, baik Masjid Agung Demak maupun Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon sama sama menjadi objek wisata religi utama di tanah Jawa bersama masjid masjid dan makam makam para wali lainnya. ***


Jumat, 03 Mei 2013

Ada Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

KIRI : ukiran bunga matahari di mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. KANAN : Surya Majapahit

Islam melarang penggunaan ukiran dan gambar manusia dan binatang dan bentuk mahluk hidup lainnya kecuali tumbuhan. Terutama di dalam masjid dan mushola. Karenanya, meski mimbar masjid Agung Sang Ciptarasa di Cirebon ini dipenuhi dengan ukiran ukiran nan indah yang dipatrikan ke batu pualam putih, tak satupun bentuk mahluk hidup disana.

Ukiran ukiran indah itu bermuara ke sebuah ukiran seperti bunga matahari di bagian puncak mihrab. Entah hanya sebuah kebetulan atau memang disengaja, bentuk bunga matahari itu sebelumnya pernah digunakan oleh kerajaan Majapahit sebagai lambang negara dengan nama Surya Majapahit.

Sedikit nukilan sejarah menyebutkan bahwa pembangunan masjid Agung Cirebon ini diprakarsai oleh Putri Pakungwati yang tak lain adalah Permaisuri dari Sunan Gunung Jati, melibatkan beberapa tokoh wali songo. Menariknya lagi proses pembangunan tersebut (konon) juga melibatkan Raden Sepat dan sisa sisa pasukannya.

Raden Sepat adalah panglima pasukan majapahit terahir yang menyerbu ke Demak pada saat kesultanan Demak baru berdiri. Penyerbuan yang justru kepada berislamnya Raden Sepat beserta sisa pasukannya. Selain kemampuan perang, Raden Sepat memiliki kemampuan seni bangunan yang mumpuni, beliau yang merancang Masjid Agung Demak.

Dikemudian hari ketika Cirebon akan membangun sebuah Masjid Agung, Sultan Demak mengutus beliau ke Cirebon untuk membantu pembangunan masjid dimaksud. Bisa jadi, sisa anggota pasukan beliau yang kemudian mengukir mimbar ini, mengabadikan lambang Majapahit tersebut dalam bentuk bunga matahari. Wallohua’lam.***