Jumat, 02 September 2011

Masjid Nur Al-Anwar, Karya Mulya, Batujaya, Karawang

Masjid Nur Al-Anwar, Karya Mulya, Batujaya, Karawang

Batujaya, nama sebuah desa sekaligus kecamatan di wilayah kabupaten Karawang, Jawa Barat sempat menjadi buah bibir media nasional dengan ditemukannya bangunan candi yang muncul ke permukaan di pesawahan kawasan tersebut. Reruntuhan candi dari bahan batu bata merah itu kini dikelola dan sedikit demi sedikit sudah di restorasi oleh pihak terkait dan kawasan tersebut sudah dijadikan salah satu objek wisata oleh pemkab Karawang. Lokasinya yang sejalur dengan Pantai Wisata Pakis dan objek wisata sejarah perjuangan kemerdekaan Rengas Dengklok membuat kawasan ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal terutama di hari hari libur nasional.

Sepanjang jalan dari Rengas Dengklok hingga ke kawasan Batu Jaya ini berdiri puluhan masjid masjid indah berusia tua yang kebanyakan merupakan bagian dari sebuah yayasan pendidikan Islam (pondok pesantren). Masjid masjid ini memiliki keunikan nya sendiri sendiri dari segi arsitektur. Arsitektural masjid yang mencerminkan budaya Indonesia.

Kami berkesempatan singgah salah satu masjid masjid tersebut dalam perjalanan melewati kawasan tersebut untuk menunaikan ibadah sholat asyar. Sebuah masjid di dalam kawasan pondok pesantren di tepian kali irigasi yang membentang disisi jalan penghubung dari Rengas Dengklok hingga ke pantai utara Karawang.

Lokasi Masjid Nur Al-Anwar

Masjid Nur Al-Anwar ini berada dalam komplek pondok pesantren Daarul Ma’arif, desa Karya Mulya, Kecamatan Batu Jaya, Kabupaten Karawang.  Lokasinya berada persis ditepian kali irigasi sepanjang jalur tersebut. Membuatnya begitu mudah untuk dicapai dan mudah pula untuk ditemukan. Menara tunggalnya itu sudah terlihat dari kejauhan sebelum mencapai kawasan ini.


View Masjid Nur Al-Anwar in a larger map

Pengelolaan Masjid

Pengelolaan masjid ini berada dibawah Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Pendidikan Islam, Pondok Pesantren Daarul Ma’arif (YAPI DAMA) yang dibentuk atas akte notaris nomor : 14/YS/N/1989/PN KRW. Sedangkan pengelolaan sehari hari masjid Nur Al-Anwar ini ditangani langsung oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nur Al-Anwar

Ditepian Kali Irigasi
Layaknya sebagai masjid pondok pesantren kegiatan Ramadhan di masjid ini cukup meriah. Dari jadwal kuliah ramadhan yang ditempel di ruang mihrab masjid, pengisi kultum setiap tarawih di masjid ini semuanya berpendidikan minimal S1. Mereka mengisi kultum di masjid ini secara bergiliran selama bulan suci Ramadhan.

Arsitektural Masjid Nur Al-Anwar

Dari luar masjid ini tampak seperti berlantai dua. Namun ketika memasuki masjid ini kita akan sadari bahwa masjid ini hanya satu lantai saja. Masjid yang dibangun dengan bahan beton bertulang ini beratap joglo bersusun tiga. Atap paling atas merupakan atap beton yang dilengkapi dengan kubah blendok dari bahan alumuium.  Di puncak kubah ini ditempatkan lafaz Allah yang terlihat berkilau dibawah matahari senja.

Sebuah bangunan menara dibangun terpisah dari bangunan utama masjid di pojok timur laut masjid atau pas berada ditengah tengah komplek ponpes ini. Menara tunggal dari beton dalam balutan dominasi warna hikau dan putih ini dibangun bertingkat lima. Mencerminkan lima rukun Islam. Pengeras suara di pasang di tingkat ke tiga menara ini. kami berkesempatan naik ke menara ini meski hanya sampai ke tingkat kedua karena tangga beton yang tersedia hanya sampai ke tingkat tersebut. Di puncak menara ditempatkan kubah berwarna emas lengkap dengan lafaz Allah dibagian tertinggi.

Bila melihat pilar pilar di teras masjid, pilar pilar seperti ini sepertinya memang banyak digunakan dan popular di era tahun 80-an. Bisa jadi masjid ini dibangun di era tersebut, bila merujuk kepada akte notaris pendirian yayasan pendidikan tempat masjid ini berlokasi bisa jadi masjid ini memang dibangun pada era 80-an.

Dibagian dalam masjid berdiri kokoh empat tiang utama menyanggah struktur atap. Balok balok beton penyangga atap di cat warna putih. Senada dengan warna plafon masjid yang di tempelkan langsung pada bagian bawah atap tidak dengan membuat plafon mendatar memberikan keleluasaan sirkulasi udara di dalam masjid.

Atap paling atas yang dibangun dari bahan beton di tambahkan jendela jendela kaca di sekelilingnya sebagai tempat masuknya cahaya matahari ke dalam ruang masjid. Diantara jendela jendela jendela tersebut ditempatkan kisi kisi sebagai ventilasi udara. Pembangunan struktur atap puncak masjid memang harus extra hati hati. Penenpatan jendela terbuka di puncak atap masjid memang dapat memberikan sirkulasi udara yang baik namun beresiko pada kotoran burung yang lalu lalang bahkan bersarang ditempat tersebut. Namun bila keseluruhan atap puncak tersebut ditutup dengan kaca, akan mengganggun sirkulasi udara di dalam masjid.

dari lantai 3 menara masjid
Di masjid Nur Al-Anwar ini dibangun dengan menggunakan jendela kaca yang dipadu dengan kisi kisi dari kayu sehingga memungkinkan sirkulasi udara tetap berfungsi namun tidak beresiko menjadi tempat persinggahan burung burung kecil di tempat tersebut.

Keseluruhan lantai masjid dan tembok sisi mihrab ditutup dengan keramik bewarna cerah senada dengan warna cat masjid. Tiga buah pintu akses ditempatkan di tiga sisi bangunan masjid. Dan tiga sisi masjid ini dilengkapi dengan teras beratap beton lengkap dengan pilar pilar yang tadi sudah di singgung di awal tulisan lengkap dengan lengkungan berukir menghubungkan masing masing pilar.

Tempat wudhu berada di sisi selatan masjid atau disisi yang bersebelahan dengan kali irigasi dengan pasokan air yang melimpah. Meski lokasi masjid ini berada diseberang kali iriigasi namun lokasinya tepat berada di sisi jembatan penghubung desa Karya Mulya dengan ruas jalan utama Rengas Dengklok Batujaya sehingga memudahkan akses menuju ke Masjid megah ini.

Dari menara masjid dapat dilihat dengan jelas bentuk atap masjid ini
Dari sisi utara
dari sisi timur (halaman depan masjid)
Interior Masjid
Ornamen Pilar masjid, khas era 80-an