Minggu, 17 Juli 2016

Masjid Jamie Wali Limbung, Temanggung

Masjid Jami Wali Limbung

Nama masjid tua satu ini memang unik, Masjid Jamie Wali Limbung di desa Medari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Wali Limbung yang menjadi nama masjid ini merupakan gelar bagi seorang ulama besar penyebar Islam di daerah tersebut yang dikenal dengan nama Sayid Abdullah atau Syekh Abdullah. Konon beliau berasal dari tanah arab dan mendirikan masjid tersebut di tahun 1662. Siapa sebenarnya Sayid Abdullah ? warga setempat pun hingga kini masih belum mendapatkan informasi yang jelas.

Jl Raya Temanggung-Weleri 
Desa Medari, Kecamatan Ngadirejo
Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia
koordinat -7.255728, 110.070593



Meski telah berumur sangat tua, masjid Jami Wali Limbung ini masih terawat dan terjaga keasliannya. Kendati telah direnovasi tiga kali (tahun 1901, 1957, dan 1982), bentuk aslinya dipertahankan. Terutama, tiang penyangga, tempat imam, serta kerangka atap dari kayu asli tanpa paku. Kayu kayu yang menjadi struktur bangunan masjid ini hanya dirakit dengan lubang penyambung yang kurang rapi. Namun, kendati tampak rapuh, rakitan itu tak pernah berubah selama ratusan tahun.

Pada hari tertentu, khususnya Jumat Pahing, banyak penziarah datang ke makam itu. Mereka adalah warga sekitar serta dari berbagai kota, seperti Cirebon, Demak, Kendal, dan Banjarnegara. Selain masjid, Syekh Sayid juga meninggalkan keranda dari kayu. Keranda itu sekarang masih dipakai untuk membawa jenazah ke pemakaman bila ada penduduk meninggal dunia meskipun keranda tersebut sudah berumur sekitar 338 tahun namun masih utuh dan bisa dimanfaatkan.

Interior Masjid Jami Wali Limbung dengan jejeran pilar pilar kayu nya

Upaya Menguak Sejarah Syekh Sayid Abdullah

Ada dua versi hikayat tentang Syekh Sayid Abdullah yang berkembang di masayarakat setempat. Hikayat yang paling populer menyebutkan bahwa Wali Limbung adalah orang Jawa, putra dari Sultan Agung penguasa Mataram Islam. Ketika terjadi konflik antara Mataram dengan VOC, Mataram memutuskan untuk menyerang Belanda di Batavia, Sultan Agung ikut berangkat dan mengajak istrinya yang ternyata sedang hamil.

Perang yang berlangsung berbulan bulan, kandungan sang Istri juga semakin besar. Sultan Agung memerintahkan salah satu Patihnya untuk mengantar pulang Istri beliau pulang ke Mataram. Ketika sampai di daerah Temanggung, istri Sultan sudah tidak kuat lagi berjalan karena sudah dekat waktunya melahirkan sampai sampai tubuh beliau Limbung. dari sanalah kemudian muncul nama Limbung yang kemudian melekat kepada Wali Limbung.

Mimbar yang masih asli
Konon Nama asli beliau adalah Klono Jiwo (Jiwa yang berkelana). Klono Jiwo akhirnya tetap tinggal di sana bersama ibunya dan ayah angkatnya, yaitu sang Patih yang membawa ibunya dalam perjalanan pulang. Sang Patih tersebut kemudian mendirikan pondok pesantren yang kini dikenal Pondok Kiai Parak. Sementara itu, Wali Limbung ketika dewasa juga menjadi seorang tokoh pengembang Islam di sana, ia mendirikan pondok pesantren yang sekarang dikenal dengan Pondok Kiai Parak Tsani.

Sedangkan versi kedua menyebutkan bahwa Wali Limbung merupakan salah satu anggota dari rombongan syekh Maulana Malik Ibrahim yang datang ke tanah jawa untuk menyebarkan agama islam. Ia mendarat pertama di gresik pada tahun 1379 M. Kedua versi hikayat tersebut sama sama sulit untuk di verifikasi kebenarannya. Karenanya tokoh masyarkat disana berupaya menguak sejarah sebenarnya dari Wali Limbung.

Beranda masjid
Salah satu upaya menguak sejarah Sayid Abdullah pengurus masjid dan tokoh tokoh desa Medari mengadakan haul yang diselenggarakan makam Syekh Sayid Abdullah yang tidak jauh dari Masjid Jami Wali Limbung. penyelenggaraan pertama dilaksanakan menjelang bulan Ramadhan tahun 2002, Haul kedua pada 5 Oktober 2003. Haul dilaksanakan dengan mengundang ulama dari berbagai kota di Jawa. Dengan harapan, dari mereka bisa terkuak sejarah keberadaan Syekh Sayid.

Selain dengan mengundang para ulama, panitia juga akan melakukan studi banding ke berbagai kota yang kemungkinan berkait dengan penyebaran agama Islam oleh Syekh Sayid. Kota-kota itu antara lain Cirebon, Demak, Kudus, serta beberapa daerah di Jatim. para tokoh dan masyarakat disana sangat berharap bantuan dari semua pihak yang mengetahui sejarah Syekh Sayid Abdullah, untuk mengungkap sejarah beliau yang masih belum diketahui dengan jelas hingga kini.

Dalam acara Haul tersebut juga dilaksanakan acara sunatan massal diikuti 15 anak, festival rebana diikuti 22 grup dari berbagai daerah, pawai dokar, drum band, dan pengajian. Ke-15 anak yang akan disunat diarak keliling kampung. Hampir sebagian warga menyaksikan di pinggir jalan yang dilalui arak-arakan. Begitu ramainya, arus lalu lintas antara Parakan dan Ngadirejo pun macet. (foto dari Teguh Santoso, narasi oleh Hadiwijaya).***

Prasati renovasi dan perluasan
-------------------------------

Baca Juga Masjid di Jawa Tengah Lainnya