Sabtu, 25 Februari 2017

Mushola Al-Azharia Dusun V Burai

Mushola Al-Azharia dilihat dari pertigaan dusun V Desa Burai

Mushola Al-Azharia merupakan salah satu dari beberapa tempat ibadah muslim di Desa Burai, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Lokasinya berada di Dusun V, dan akan dengan mudah ditemui oleh siapapun yang masuk ke desa Burai dari arah jembatan pesona Tanjung Senai karena lokasinya yang berada tak jauh dari pertigaan jalan raya di tengah Desa Burai.

Lokasi masjid ini juga berseberangan dengan rumah dari kakek dan karib kerabat penulis yang memang berasal dari sana, sayangnya rumah datuk kami itu sudah lama tak dihuni, karib kerabat yang masih tinggal disana sudah memiliki tempat tinggalnya masing masing bersebelahan dengan rumah tersebut yang kini juga merupakan salah satu motor penggerak aktivitas di Mushola Al-Azharia ini.



Bangunan Musholanya cukup unik, berupa rumah panggung dari kayu, sama seperti kebanyakan rumah rumah warga disana. hanya saja pada bagian atapnya dibangun berupa atap limasa (segitiga) bersusun sebagaimana layaknya bangunan bangunan masjid tradisional Indonesia pada umumnya. :: Singgah kesini seolah terbayangkan bagaimana mendiang H. Muhammad Sabil (datuk kami) Sholat disini bersama muslim Burai lainnya.::: 

Lebih unik lagi pada bagian tangganya yang sudah dibangun dengan bahan bata dan semen, dalam istilah setempat biasa disebut dengan istilah tangga batu. ada dua tangga di masjid ini, satu tangga di bagian depan menghadap ke jalan raya berupa tangga melingkar yang memang merupakan trend pada masanya, seperti halnya dengan tangga di gedung museum Sulatan Mahmud Badaruddin II di tepian Sungai Musi di Kota Palembang yang dulunya merupakan Kediaman Redisen Belanda.

Tangga depannya yang khas berupa "tangga batu" yang berbentuk melingkar

Tangga kedua berada di samping bangunan, juga merupakan tangga batu namun bentuknya biasa tidak berupa tangga melingkar. Tangga samping ini lebih berfungsi sebagai akses menuju ke sungai Kelekar yang berada di belakang Mushola. Desa Burai ini merupakan salah satu desa yang berada di tepian Sungai Kelekar dan kehidupan masayarakatnya sejak awal berbasis ke Sungai, termasuk untuk keperluan Mandi, cuci dan sebagainya.

Desa Burai ini juga merupakan salah satu desa yang cukup tua, sudah ada sejak masa kesultanan Palembang. Bahkan pada masa perang antara Kesultanan Palembang melawan pendudukan Belanda, Desa Burai ini menjadi basis pertahanan terahir di sisi selatan bagi pasukan Kesultanan Palembang, karenanya nama desa ini disebut dengan Desa Burai yang berasal dari kata “Buri” yang bermakna harfiah “Belakang”.

Beranda Mushola Al-Azharia

Warga desa ini begitu banyak yang merantau ke berbagai daerah di Indonesia, kami adalah salah satunya yang merupakan keturunan dari warga asli desa ini yang kini tinggal di pulau Jawa. Di hari hari besar Islam terutama Hari Raya Idul Fitri, Desa ini begitu semarak dengan berbondong bondong nya para perantau pulang mudik, termasuk para perantau yang tinggal di kota Palembang dan sekitarnya.

Lebaran menjadi momen reuni keluarga besar yang "kembali" atau "pulang mudik" dari perantauan. Reuni yang teramat penting mengingat bahwa generasi berikutnya terutama yang tidak lahir dan tinggal di Burai akan kehilangan akar asal muasalnya bila tidak diperkenalkan lagi oleh para orang tua dan sesepuhnya dengan kampung asal dan sanak family disana.***

Baca Juga