Kamis, 28 Januari 2016

Masjid Darussalam Payabakal Gelumbang

MASJID MASJID DI TANAH BELIDA

Tahun 2013 Sedang renovasi. Foto ini adalah koleksi foto tahun 2013 yang baru sempat di posting 

Payabakal adalah salah satu desa di Kecamatan Gelumbang Kabupaten Muara Enim Propinsi Sumatera Selatan. Penduduk desa Payabakal ber-etnis Belida, dalam Bahasa sehari hari nama desa ini biasa disebut dengan PayabEkal. Paya memiliki makna yang sama dengan Rawang yang berarti rawa rawa, Bakal atau BEkal (hurup E nya dilafalkan seperti hurup E pada kata Ember) bermakna Cikal Bakal. Entahlah kenapa desa ini dinamai demikian, mungkin dulunya disanalah peradaban bermula, karena di jaman dulu sebelum ada moda transportasi darat karena memang belum ada sarana jalan yang memadai, lalu lintas manusia dan barang semata mata mengandalkan moda angkutan sungai.  Dari sungai ke rawa rawa dari rawa rawa naik ke daratan.

Sort Story about Payabakal

Jarak antara Desa Payabakal ke Kelurahan Gelumbang sebagai ibukota kecamatan tidaklah terlalu jauh.  Hingga tahun 1990-an anak anak di desa ini yang sudah lulus SD harus melanjutkan sekolah ke kelurahan Gelumbang karena belum tersedianya SMP di desa mereka, sebagian dari anak anak tersebut pulang pergi dari kampung mereka sebagian lagi indekos di rumah rumah penduduk di Kelurahan Gelumbang. Anda bisa bayangkan anak anak yang baru lulus SD sudah harus pisah dari orang tua demi melanjutkan pendidikan, atau harus menggenjot sepeda sejak subuh buta untuk berangkat sekolah. Di masa itu meski jaraknya tidak terlalu jauh namun karena begitu buruknya kondisi jalan raya dan tidak tersedianya moda angkutan umum membuat mereka harus berangkat naik sepeda sejak dini dari rumah mereka agar tidak terlambat tiba disekolah.  Dan kondisi jalan akan jauh lebih buruk lagi bila hujan tiba apatah lagi bisa musim hujan.

Hanya melintas. Belum sempat singgah.
Anak anak Desa Payabakal di masa itu termasuk lebih beruntung dibandingkan dengan anak anak dari desa yang lebih terpencil dari ibukota kecamatan, tidak ada pilihan bagi mereka untuk melanjutkan sekolah selain harus indekos. Wilayah kecamatan Gelumbang dimasa itu luasnya berkali kali lipat dari saat ini dengan hanya satu gedung SMP, seberapa luaskah wilayah kecamatan-nya ?, anda bisa membayangkan bila satu kecamatan Gelumbang itu kini sudah dimekarkan menjadi 6 kecamatan atau setara dengan ukuran luas rata rata satu kabupaten Di pulau Jawa.

Sebagian besar penduduk desa Payabakal bermata pencaharian sebagai petani karet, penduduk desa ini dan desa desa lainnya (termasuk desa Sigam yang masjid nya sudah sajikan diposting sebelumnya) sempat menikmati manisnya “duit getah” atau uang hasil penjualan getah karet ketika pasaran karet dunia sedang booming sehingga harga karet meroket, dimasa itu tak sulit bagi sebagian orang tua untuk membelikan sepeda motor baru untuk anak anak mereka sekolah sehingga tidak perlu lagi menggenjot sepeda sejak pagi buta. Namun ketika harga karet merosot dan terus melorot, roda perekonomian-pun kembali lesu.

Merombak menara

Masjid Darussalam Payabakal

Saya belum sempat singgah ke Masjid ini, foto foto yang saya tampilkan adalah foto foto tahun 2013 yang lalu ketika melintas disana sambil menikmati suasana sore malalui jalanannya yang tak lagi berlumpur seperti masa yang dulu, sekalian menapak tilas masa lalu. Pastinya saat ini bangunan masjidnya sudah berubah, paling tidak renovasi pada menaranya semestinya sudah selesai dan sudah tampil lebih indah. Siapapun diantara anda yang membaca tulisan ini dan memiliki update terbaru tentang masjid ini dan sudi untuk berbagi, kami persilahkan untuk berbagi di kolom komentar atau ber-email ke bujanglanang@gmail.com.  

Masjid Darussalam Payabakal di Google Map


Foto satelit Desa Payabakal sudah muncul di google maps tahun 2016 seperti terlihat di atas. Tampak desa Payabakal yang tidak terlalu luas masih hijau royo royo kebun karet disekitarnya. Posisi Masjid Darussalam (tanda balon merah) ada disisi jalan utama yang menghubungkan Desa Payabakal dengan Kelurahan Gelumbang di sebelah timur dan Desa Kartamulia disebelah barat.

Nih ujung menaranya yang sedang dirombak
Tembok nama hasil KKN mahasiwa mahasiswi Universitas Sriwijaya.
  
----------ZZZ----------

Baca Juga