Minggu, 12 Mei 2013

Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Berkunjung ke Masjid Agung San Cipta Rasa Cirebon yang merupakan warisan kejayaan Kesultanan Cirebon, kita akan disuguhi segudang keindahan dari masa lalu. Salah satunya adalah keindahan ukiran pada mihrabnya yang dibangun menggunakan batu pualam warna putih berukir yang sangat indah namun sepi dari ukiran kaligrafi.

Ukuran mihrab masjid ini relatif kecil dibandingkan dengan ukuran masjidnya yang kini bahkan sudah ditambah dengan empat pendopo di kiri, kanan dan depannya. Ukuran mihrab ini hanya cukup untuk satu orang imam saja. Menilik ukuran tersebut tanpaknya tak jauh berbeda dengan ukuran 8 pintu sampingnya yang dibuat hanya cukup untuk laluan satu orang, dan itupun harus menunduk karena dibangun hanya setinggi sekitar satu meter saja.

Ukuran mihrab yang kecil itu seakan mengingatkan siapapun yang menjadi imam di masjid ini bahwa dia sendirian dalam mengemban tugas dan amanahnya dalam memimpin jemaah yang berjejer di belakangnya. Bahwa pemimpin ummat harus amanah, memiliki ilmu yang mumpuni, memiliki kemampuan kepemimpinan dan mampu bertindak tegas dalam mengikuti aturan agama tanpa kecuali.

Ukiran pada Mahkota Mihrab Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon
Mihrab masjid Agung Sang Cipta Rasa dalam proses pembangunannya melibatkan sunan kalijaga yang mengukir dua pilar di kiri dan kanan ruang sempit tersebut. Ukiran pada dua pilar ini berbentuk kelopak bunga yang masih kuncup. Sedangkan ukiran pada mahkota mihrab berbentuk ukiran floral yang indah dan berpusat pada ukiran bunga matahari yang sedang mekar di bagian paling puncak.

Ukiran bunga matahari ini memiliki banyak makna, seperti Islam yang hadir menerangi tanah arab yang saat Islam lahir, dunia arab sedang tenggelam dalam kegelapan jahiliyah. Seperti ajaran Islam yang membawa ummatnya dari kegelapan ke jalan yang terang. Dibalik itu lambang bunga matahari itu mengingatkan kita pada kebesaran kerajaan Majapahit yang pernah berjaya di Nusantara. Dan lambang Majapahit dikenal dengan nama Surya Majapahit karena bentuknya yang memang mirip dengan matahari.

Sumber sumber sejarah memang menyebutkan bahwa pembangunan masjid Agung Sang Cipta Rasa melibatkan Raden Sepat dan pasukannya. Beliau adalah panglima pasukan Majapahit yang tadinya ditugasi untuk menhancurkan kesultanan Demak yang baru berdiri dengan Raden Fatah sebagai sultan pertamanya. Namun penyerbuan tersebut mengalami kegagalan dan justru membawa Raden Sepat ke dalam pangkuan Islam berikut seluruh anggota Pasukannya.

Kiri : Ukiran Bunga Matahari di Mihrab Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Kanan : Surya Majapahit
Sekitar 200 orang anggota pasukan Majapahit dibawah pimpinan Raden Sepat tersebut diperintahkan oleh Raden Fatah berangkat ke Cirebon guna membantu Sunan Gunung Jati dalam proses pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibawah koordinasi Sunan Kalijaga yang bertindak sebagai kontraktor pembangunan masjid dimaksud.

Bergabungnya berbagai etnis dan latar belakang dalam proses pembangunan masjid ini memberikan kekayaan arsitektur tersendiri yang membentuk masjid Agung Sang Cipta Rasa yang kini kita lihat. Pembauran itu juga dapat kita lihat pada Mihrab masjid ini. selain ukiran floral di mihrab ini juga dilengkapi dengan dua ukiran geometris pada dua sisinya.

Ada tiga tegel lantai yang dipasang secara khusus di area mihrab ini masing masing oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan tentu saja Sunan Kalijaga selaku kontraktor. Tiga tegel tersebut melambangkan Iman, Islam dan Ikhsan. Mihrab masjid ini hanya satu dari bagian integral masjid Agung Sang Cipta Rasa yang mewakili kejayaan Kesultanan Cirebon pada masanya.**