Kamis, 02 Mei 2013

Ada Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

KIRI : ukiran bunga matahari di mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. KANAN : Surya Majapahit

Islam melarang penggunaan ukiran dan gambar manusia dan binatang dan bentuk mahluk hidup lainnya kecuali tumbuhan. Terutama di dalam masjid dan mushola. Karenanya, meski mimbar masjid Agung Sang Ciptarasa di Cirebon ini dipenuhi dengan ukiran ukiran nan indah yang dipatrikan ke batu pualam putih, tak satupun bentuk mahluk hidup disana.

Ukiran ukiran indah itu bermuara ke sebuah ukiran seperti bunga matahari di bagian puncak mihrab. Entah hanya sebuah kebetulan atau memang disengaja, bentuk bunga matahari itu sebelumnya pernah digunakan oleh kerajaan Majapahit sebagai lambang negara dengan nama Surya Majapahit.

Sedikit nukilan sejarah menyebutkan bahwa pembangunan masjid Agung Cirebon ini diprakarsai oleh Putri Pakungwati yang tak lain adalah Permaisuri dari Sunan Gunung Jati, melibatkan beberapa tokoh wali songo. Menariknya lagi proses pembangunan tersebut (konon) juga melibatkan Raden Sepat dan sisa sisa pasukannya.

Raden Sepat adalah panglima pasukan majapahit terahir yang menyerbu ke Demak pada saat kesultanan Demak baru berdiri. Penyerbuan yang justru kepada berislamnya Raden Sepat beserta sisa pasukannya. Selain kemampuan perang, Raden Sepat memiliki kemampuan seni bangunan yang mumpuni, beliau yang merancang Masjid Agung Demak.

Dikemudian hari ketika Cirebon akan membangun sebuah Masjid Agung, Sultan Demak mengutus beliau ke Cirebon untuk membantu pembangunan masjid dimaksud. Bisa jadi, sisa anggota pasukan beliau yang kemudian mengukir mimbar ini, mengabadikan lambang Majapahit tersebut dalam bentuk bunga matahari. Wallohua’lam.***