Rabu, 20 Februari 2013

Masjid Baitul Mushthafa MM2100

Masjid Baitul Mushthafa Kawasan Industri MM2100
Kota Perindustrian MM2100 (MM2100 Industrial Town) atau lebih dikenal dengan Kawasan Industri MM2100 merupakan kawasan Industri terpadu yang dikembangkan dan dikelola oleh PT. Megalopolis Manunggal Industrial Development (MMID), didirikan tahun 1990 oleh dua perusahaan terkemuka masing masing Marubeni Corporation dari Jepang dan Manunggal Group Indonesia. Kawasan Industri ini kini menjadi rumah bagi setidaknya 170 perusahaan manufaktur menjadikannya sebagai salah satu kawasan industry terkemuka di tanah air.

Sejak dibukanya kawasan tersebut sebagai kawasan industri terpadu, sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan sarana kecuali bangunan masjid, yang baru dibangun sekitar 16 tahun kemudian, setelah melalui perjuangan panjang dari jemaah muslim disana dan setelah PT. MMID dikomandani oleh presiden direktur baru yang mendapatkan hidayahnya tak lama setelah menjabat sebagai presdir di perusahaan tersebut.

Lobi Utama Masjid Baitul Mushthafa
Adalah Mr.  Yoshihiro Kobi, Presiden Direktur MMID yang belum lama menjabat sebagai petinggi di perusahaan tersebut ditahun 2006, mengikrarkan diri memeluk Islam dengan dipandu oleh DR. Hidayat Nur Wahid, MA (yang ketika itu menjabat sebagai ketua MPR RI) sesaat setelah beliau menjadi imam dan khatib sholat Jum’at di Masjid AHM yang berlokasi persis di depan lokasi Masjid Baitul Mushthafa ini, setelah sebelumnya DR. HNW melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Baitul Mushthafa.

Ketika proyek pembangunan Masjid Baitul Mushthafa ini selesai dibangun di tahun 2006 lalu, peresmiannya pun kembali dilakukan oleh DR. Hidayat Nur Wahid bersama dengan Mr. Yoshihiro Yobi serta para petinggi PT. MMID, panitia pembangunan dan para jemaah. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti.

Lokasi dan Alamat Masjid Baitul Mushthafa

            Masjid Baitul Mushthafa
kawasan industri MM 2100
Jalan Kalimantan Blok. DD.
Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi
Propinsi Jawa Barat
Telepon : 021-89981911


View Masjid Baitul Mushthafa MM2100 in a larger map

Sejarah Masjid Baitul Mushthafa

Masjid Baitul Mushthafa adalah Masjid pertama yang dibangun untuk umum sebagai titik orientasi visual (landmark spiritual) dari kawasan industri MM2100 guna melayani kepentingan ibadah kaum muslimin di kawasan industri dan masyarakat lingkungan  sekitar kawasan Industri MM2100, Sebagai Pusat Kegiatan Islam (Islamic Centre) dan Kegiatan Sosial (Sosial Centre) masyarakat kawasan dan lingkungan sekitar kawasan MM2100. Proses pembangunan masjid ini dimotori oleh Mr. Yoshihiro Kobi Utsman, selaku Presiden direktur PT. MM 2100 dan H. Yahya Winaryo selaku Direktur PT. MM 2100.

Berdiri di atas lahan seluas 3,5 hektar (35 ribu meter persegi), proses pembangunannya dimulai dengan peletakan batu pertama oleh ketua MPR-RI (waktu itu) . M. Hidayat Nur Wahid, MA. pada tanggal 19 Mei 2006. Dan keseluruhan bangunan masjid dan pendukung utamanya selesai dibangun dan diresmikan pada tanggal 15 Desember 2006 juga oleh M. Hidayat Nur Wahid, MA.

dibawah kubah utama
Proses pembangunan dilanjutkan ke tahap kedua dengan pembangunan sarana Manasik Haji dan Umroh. Peletakan batu pertama pembangunan fasilitas tersebut dilaksanakan peletakan batu pertamanya dilaksanakan 15 Desember 2009 dan diresmikan pada tanggal 15 Desember 2010 oleh Menteri Agama RI, Drs. H. Surya Dharma Ali, MSI.

Pengurus Masjid Baitul Mushthafa

Masjid Baitul Mushthafa ini dikelola oleh Yayasan Baitul Mushthafa , dengan susunan DKM-nya langsung dibawah binaan Mr. Yoshihiro Kobi Utsman, selaku Presiden direktur PT. MM 2100 dan H. Yahya Winaryo selaku Direktur PT. MM 2100. Ketua DKM dijabat oleh Darwoto, Imam Masjid, H. Khairuddin, Bendahara : Hj. Musthiheni dan sekretaris H. Rusdam Ahmadi. Bagi yang ingin menyalurkan infaq, sodaqoh dan lainnya dapat disalurkan melalui rekening atas nama Yayasan Baitul Mushthafa di di Bank Mandiri Cibitung nomor rekening 156-00-0033988-9.

Peresmian Masjid Baitul Mushthafa Oleh Dr. Hidayat Nur Wahid didampingi Mr. Yoshihiro Kobi Ustman, H. Yahya Winaryo dan Bpk. Darwoto (ketua DKM).

Aktivitas Masjid Baitul Mushthafa

Masjid ini cukup meriah dengan berbagai aktivitas mulai dari aktivitas rutin hingga ke aktivitas yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi yang mengambil tempat di masjid ini termasuk salah satunya aktivitas Malam Pembinaan Iman Dan Taqwa (Mabit) seperti yang diselenggarakan oleh tiga DPC PKS, penyembelihan hewan Qurban hingga pelepasan jemaah calon haji. Fasilitas fasilitas yang ada di masjid ini dapat dipakai untuk umum dengan berkoordinasi dengan pengurus masjid.***

Interior Masjid Baitul Mushthafa
Fasilitas Manasik Haji di masjid Baitul Mushthafa
kiri : Mr. Yoshihiro Kobi Ustman, presdir Kawasan Industri MM2100, kanan atas Bpk. H. Yahya Winaryo,  Direktur Kawasan Industri MM2100 selaku pembina DKM Masjid Baitul Mushthafa dan kanan bawah : bpk. Darwoto, ketua DKM Masjid Baitul Mushthafa.

Minggu, 17 Februari 2013

Masjid Jamik Miftahul Jannah, Burai

di tepian sungai Kelekar. Masjid Jamik Miftahul Jannah di Desa Burai ini berada persis ditepian sungai Kelekar.

Burai, adalah nama sebuah desa di wilayah kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Propinsi Sumatera Selatan. Konon kata Burai berasal dari kata Buritan, atau Buri, yang artinya bagian belakang, ujung atau terahir. Dinamai demikian karena disebutkan bahwa wilayah ini merupakan salah satu wilayah pertahanan terahir pasukan kesultanan Palembang dalam perang melawan penjajah.

Desa yang cukup luas ditepian Sungai Kelekar ini memiliki sebuah komplek pemakaman tua yang membentang luas, sudah terlihat sejak kita pertama kali masuk ke desa ini. Sebelum dibangunnya jembatan yang melintasi sungai Kelekar dari Tanjung Baru (Sendawar) menuju ke Desa Burai, Burai benar benar menjadi sebuah desa ujung aspal seperti penggalan lagunya Iwan Fals. Aspal jalanan memang berahir di desa ini, habis, setelah itu silahkan lanjutkan perjalanan menggunakan angkutan air.




Lokasi Desa Burai di peta lama

Namun sejak selesainya pembangunan jembatan tersebut, desa ini lebih mudah dijangkau melalui Desa Tanjung Baru. Terutama bagi mereka yang tinggal di sekitaran kota Prabumulih dan Palembang tidak perlu lagi melakukan perjalanan darat melambung melalui Tanjung Batu atau Muara Meranjat untuk menuju kesana.

Saya pribadi memang memiliki keterikatan sendiri dengan desa ini meski tidak dilahirkan dan dibesarkan disana juga tidak pernah menetap disana, namun dari desa ini Almarhum kakekku berasal. Makam beliau juga berada disana dibawah lindungan pohon pohon besar tak jauh dari tugu peringatan dipertigan sebelum memasuki pemukiman warga.

Papan Nama Masjid.
Dan ternyata memang sudah lama sekali saya tidak kesana, terahir kali singgah kesana untuk bersilaturrahim dengan sanak family juga berziarah ke makam para leluhur, bertepatan dihari Jum’at sempat menunaikan sholat Jum’at di Masjid Jamik Miftahul Jannah yang lokasinya persis berada ditepian Sungai kelekar yang melintasi desa ini. saat itu putri pertamaku baru berumur sekitar 10 atau 11 bulan dan kini sudah duduk di bangku SMA. Selembar foto bersama di depan pintu masuk Masjid Jamik Miftahul Jannah mengingatkanku pada momen itu. Setidaknya sudah sekitar 15 tahunan yang lalu.

Wajar bila saat ini tampilan luar masjid ini sudah banyak berubah terutama sudah ditambahkan teras di bagian di tiga sisinya. Salah satu sisi masjid yang menghadap ke sungai kelekar dilengkapi dengan tangga dan sebuah gazebo yang dihubungkan dengan sebuah jembatan panjang. Pada saat air pasang gazebo ini berada di dalam sungai, jemaah yang hendak berwudhu tinggak turun sedikit ke anak tangga menuju sungai kelekar dan berwudhu disana.

Air sungai kelekar ini sendiri memang terasa sedikit asin tidak seperti air sungai biasa. Semasa kecil dulu paling senang main air sampai basah lalu mandi di tangga depan salah satu rumah kakekku yang berada persis di atas sungai ini pada saat air pasang, sehingga separo dari tangga depannya berada di dalam air. Tak perlu repot ke menuju sungai untuk mandi karena air sungainya sudah menghampiri hingga ke tangga depan rumah. Sekian tahun berlalu, giliran putriku yang kegirangan mandi ditempat yang sama.

Add caption
Pada umumnya masyarakat di desa Burai dan kabupaten Ogan Komerint Ilir (OKI) yang kini sudah dipecah dua menjadi Kabupaten OKI sendiri dan Kabupaten Ogan Ilir merupakan masyarakat yang agamis. Pondok pesantren dapat ditemui hampir disetiap desa. Masjid masjid Jamik yang ada juga cukup terawat dan ramai jemaah.

Bangunan Masjid Miftahul Janaah di desa Burai ini juga tak jauh berbeda dengan masjid masjid yang umumnya kita jumpai di tanah Jawa dan Nusantara lainnya. Berupa bangunan masjid beratap limas, namun dengan sedikit sentuhan Thionghoa dengan beberapa taji di ujung ujung atapnya. 

Family Day in Burai 1998
Bedanya di ujung atap masjid ini sudah tidak lagi di hias dengan ornamen berbentuk daun simbar dan sebuah gada tunggal tapi sudah menggunakan sebuah kubah bawang logam berukuran kecil. Masjid ini juga dilengkapi dengan sebuah menara.

Tradisi Jum’atan di Masjid ini juga sama persis seperti tradisi di masjid masjid tua di Sumater Selatan lainnya dan juga tradisi Jum;atan di tanah Jawa. Prosesi sholat Jum;at dimulai dengan lantunan suara muazin yang menyuarakan sholawat sambil memegang sebuah tombak yang kemudian dipindahtangankan ke Khatib yang perlahan menuju mimbar. Muazin kemudian melantunkan azan pertama. Azan kedua dilantunkan sebagai pengantar khutbah. ***

Gazebo di belakang Masjid Jamik Miftahul Jannah, Burai, ditepian Sungai Kelekar.