Kamis, 10 Januari 2013

Istri ? di Masjid Agung Bandung

Bentuk terahir Masjid Agung Bandung sebelum di rombak habis menjadi bentuknya saat ini dengan dua menara tinggi dan nama serta fungsinya pun berubah tidak lagi sebagai Masjid Agung Bandung tapi menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.

Ada yang masih ingat foto masjid di atas ???. Yups. . . itu foto Masjid Agung Bandung sebelum dirombak total menjadi bentuknya saat ini. Terahir aku melihat bangunan Masjid ini dalam bentuk sperti itu, di penghujung era 90-an sebelum beranjak meninggalkan kota kembang itu.

kali ini bukan masjid nya yang akan kututurkan tapi tentang ku suatu siang di masjid ini. Sudah lama sekali tentunya, itu masa masa awal tinggal di Kota Bandung dan sama sekali belum mengerti bahasa Sunda.  kala itu Kakak perempuanku sudah lebih dulu menetap di kota ini, bahasa Sunda nya sudah sangat baik, dan Dia aktif di Organisasi Remaja Masjid Agung ini.

Hari itu aku sengaja ke Alun Alun Bandung yang jadi Ikon nya kota Bandung waktu itu. Bukan alun alunya yang menjadi tujuan utama tapi justru ke masjid ini untuk menjemput kakak perempuanku yang sedang mengikuti pengajian rutin di masjid ini. 

Waktu tiba ku di masjid ini terbilang tepat waktu, tiba disana bertepatan dengan para akhwat mulai ramai keluar dari masjid sepertinya acara pengajiannya sudah usai, artinya aku tak perlu menunggu lama. Di depan Masjid ada meja panitia, disana ada dua akhwat cantik berkerudung sedang duduk disitu.

Kufikir, daripada pusing nyari kakak ku diantara begitu banyak ahkwat yang nyaris sulit membedakannya satu persatu dalam busana muslim seperti itu wajah mereka tampak serupa semuanya, bikin pusing melototin nya satu satu untuk menemukan kakakku.

Assalamualaikum, permisi, maaf pengajiannya sudah selesai ya ? tanya ku sesopan mungkin. maklumlah sesuai pesan pamanku bahwa orang Bandung itu sangat sopan dan halus tutur katanya, jangan sampai seperti di kampung kita ya !. jadi akupun berusaha menyesuaikan diri.

Benar saja mereka berdua spontan menyambut ucapan salamku dengan senyum ramah. Wa'alaikum salam, iya barusan selesai, ada yang bisa saya bantu Dek ? sahut akhwat yang pertama.

Aku : begini..... saya mau jemput kakak saya, dia ikutan pengajian disini hari ini, tapi agak bingung nyarinya.

Akhwat 1 : Ouw begitu ya, kakaknya, istri ?. (dengan nada bertanya)

Aku : (mendadak bingung) hmmm, maaf saya nyari kakak saya, saya belum nikah.... (sahutku.... pasang wajah bingung)

Ahwat 1&2 : (sontak saja dua dua pasang wajah tersenyum geli, dan aku tambah bingung, ini dua akhwat mau ngerjain atau gimana ya ? fikir ku)

Ahwat-2 (masih dengan senyam senyum, dia ikutan bertanya) begini dek, maksudnya . . . . kakaknya yang mau dijemput itu, istri...kan ?....

Aku : (tambah bingung & mumet, aneh ini cewek berjilbab, dua duanya kok ngeyel ya ?). "Maaaaaaf banget, yang saya mau jemput itu kakak saya, bukan istri, kan tadi saya udah bilang, saya belum nikaaaaahhhhh" (jawab ku dengan tampang sejujur mungkin, gak percaya'an amat sih)

Kali ini mereka berdua bukan sekedar senyum tapi sepertinya sudah mules nahan tawa yang sudah mau meleduk dan dua duanya saling pandang kebingungan. Ini benar benar aneh, aku kan nanya kakak ku, kenapa ditanya istri ya ?. Sekarang mereka dua duanya malah kebingungan (eit tanya kEnapa iNi ?).


Ditengah suasana kami bertiga yang sama sama bingung, kulihat kakak ku sekelebetan keluar dari pintu masjid, daripada keterusan bingung, kontan saja teriak memanggil kakak ku. "Ayuk !....". Sontak dia nengok dan melangkah ke arah kami bertiga yang masih berbingung bingung ria.

Udah lama nunggu ya ? sapa kakakku (dalam bahasa Belida), Dan aneh bin ajaibnya lagi, itu akhwat dua duanya langsung bergumam "oouow, nyari Teh Ayuk Toh !"  tapi masih bersisa roman muka 'bingung-bingung-lucunya' itu. 

Ahwat-2 : "katanya ngejemput kakaknya, kok manggil nama ?. Hayoooo pacarnya Teh Ayuk Ya . . . . . ? ngaku hayooooooo"

Aku : "ha... ??? manggil nama ??? 

Iyya..., ini adek-ku, aseli deh.... sahut kakak ku dan dia melanjutkan " #$?P%$#@&* ??? (dan Aku pun roaming alias gak ngerti dan gak ingat entah mereka bertiga ngomong apa) yang pasti sejenak kemudian tiga tiganya tertawa geli. Sebelum kemudian kami berdua pamitan pulang.


Masjid Agung Bandung saat ini.
Di perjalanan pulang giliran aku yang tertawa sendiri huahahahahah. Ampuuun dah, bodohny aku. TernyaTTa, "Istri" yang mereka sebut tadi itu artinya "perempuan" dalam bahasa sunda, bukan istri yang pasangannya suami. Pantesan tadi mereka senyam senyum sampai mules nahan tawa dan kebingungan berdua.

Lalu kenapa pula mereka memanggil kakak ku dengan panggilan Teh Ayuk, kakak ku itu namanya Astuti bukan Ayuk. Ayuk itu kan artinya Kakak (perempuan) dalam bahasa kampung-ku. Nah, itu rupanya karena anak anak Risma Masjid Agung Bandung itu kan dari berbagai kalangan termasuk anak anak remaja dari Sumatera Selatan dan Sekitarnya yang terbiasa memanggil Ayuk untuk yang lebih tua. 

itu teman teman Kakaku-pun ikutan panggil Ayuk, karena mungkin dikira nya itu nama aliasnya barangkali. Karena tak sopan panggil nama, maka ditambahlah kata Teteh di depan nya, dan jadilah mereka memanggil kakakku Teteh AYuk

Hadeuh. Punten lah pokoknamah.

Masjid Al-Hidayah, Lembah Hijau – Lippo Cikarang


Masjid Al-Hidayah Lembah Hijau - Lippo Cikarang.
Lembah Hijau adalah salah satu nama komplek perumahan di kawasan yang dikelola oleh Lippo Cikarang. Di komplek perumahan satu ini masjid nya memang sedikti unik dalam hal pemilihan lokasi. Tempat dimana masjid ini berdiri berada diantara komplek Lembah Hijau dan kawasan Industri. Boleh jadi dulu pada saat pemilihan lokasi ini turut mempertimbangkan kepentingan muslim/muslimah yang berkerja di kawasan tersebut.

Masjid Al-Hidayah dari arah Lembah Hijau
Masjid ini berdiri di lahan ujung bangunan pabrik yang elevasinya lebih tinggi dari kawasan lembah Hijau, karenanya dari arah lemah hijau, untuk menuju masjid ini harus menaiki jejeran anak tangga yang lumayan tinggi, tapi tidak perlu mendaki tangga bila menuju kesini dari arah berlawanan atau dari arah kawasan pabrik yang ada disana. Disebelah masjid ini berdiri Sekolah Islam Al-Hidayah.


View Masjid Al-Hidayah in a larger map

Merujuk kepada situs milik sekolah tersebut, disebutkan bahwa “Al-Hidayah Islamic School (AHIS) dikelola dan dikembangkan oleh Yayasan Al-Hidayah Lembah Hijau, yang merupakan wadah bagi jamaah Masjid Al-Hidayah untuk mengembangkan Pendidikan dan Dakwah Islam, khususnya di wilayah Lippo CIkarang. Demi terwujudnya masyarakat madani yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam”.

Masjid Al-Hidayah Lembah Hijau dari arah pintu gerbang yang berada di kawasan industri
Maknanya tentu saja bahwa sekolah tersebut merupakan bagian dari Masjid Al-Hidayah ini, dan baik sekolah maupun Masjid berada dibawah pengelolaan Yayasan Al-Hidayah Lembah Hijau. Saat ini sekolah Islam Al-Hidayah ini menyelenggarakan pendidikan tingkat Taman Kanak Kanak sejak tahun 2007 lalu dan Sekolah  Dasar Islam Terpadu.

puncak atap Masjid Al-Hidaya Lembah Hijau
Arsitektur masjid ini  cukup unik terutama pada bagian atapnya yang tak biasa itu. tak ada kubah ataupun atap bersusun tiga. Hanya berbentuk segi empat dan diasalah diletakkan pengeras suara untuk menyuarakan azan, karena bangunannya juga tidak dilengkapi dengan menara.

Puncak atap Masjid Al-Hidayah
Bagian puncak atapnya yang tak biasa ini memang unik dan tak biasa. Bagian itu memang memiliki fungsi yang sama dengan celah yang tercipta diantara tunpukan atap pada masjid dengan atap bersusun seperti yang banyak kita temui. celah celah ini yang menjadi celah masuknya udara dan cahaya matahari sebagai penerangan alami ke dalam masjid.

Interior Masjid Al-Hidayah
interir masjidnya sederhana saja, minimalis dengan banyak bukaan. Ketiga sisi-nya dibiarkan terbuka, memberikan ruang bagi udara luar masuk ke dalam ruangan masjid. Dihari Jum'at penurus masjid memasang tenda di halaman samping dan halaman yang mengarah ke Lembah Hijau untuk menampung jemaah yang membludak. Dan Biasanya  di hari Jum'at, pengurus masjid juga menyediakan air minum dalam kemasan gratis bagi jemaah. 

Toilet dan tempat wudhu

Melihat fisik bangunannya sepertinya bangunan masjid ini sudah dipersiapkan sejak awal untuk dibangun bertingkat. Pada bagian kiri dan kanan bangunan ini sudah disiapkan tangga permanen untuk menuju ke lantai atas.
Papan nama masjid dari arah Lembah Hijau
Bangunan masjid yang dirancang terbuka
-----------------------------------------------------

Baca juga Artikel Masjid Masjid Lippo Cikarang Dan EJIP Lain-nya


Rabu, 09 Januari 2013

Masjid Unik di Pantai Ngobaran, DIY

Masjid di Pantai Ngobaran yang menghadap ke laut selatan


Di Pantai Ngobaran, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, terdapat sebuah bangunan kuno nan unik. Namanya Masjid Aolia, yang erat hubungannya dengan pengaruh kepercayaan Islam di masa lampau.

Ngobaran adalah salah satu nama pantai yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Pantai ini kurang lebih berjarak sekitar 65 km dari Kota Yogyakarta, dengan lama perjalanan sekitar 2 jam menggunakan kendaraan.

Akses menuju pantai ini cukup mudah, jalannya sudah diaspal dengan baik walaupun ada beberapa titik kerusakan sebelum memasuki wilayah pantai. Untuk mencapainya, kita bisa melalui jalur Imogiri-Panggang atau dengan menyusuri Jalan Wonosari.

Kalau memilih Jalan Wonosari, patokan utamanya adalah memilih persimpangan ke kanan di pertigaan Lapangan Gading (lapangan terbang di Gunungkidul). Sedikit hambatan yang mungkin akan dijumpai adalah kurangnya petunjuk jalan menuju pantai ini sehingga kadang kita harus menggunakan “GPS tradisional” alias bertanya kepada warga sekitar agar tidak nyasar.

Masjid Aolia di Pantai Ngobaran, Bantul.
Jalan masuk menuju Pantai Ngobaran memang kecil, bergelombang, juga sedikit becek. Tapi jangan kuatir, jalanan ini bisa dimasuki kendaraan roda empat. Keunikan utama dari pantai ini adalah nuansa multikultural yang tampak jelas dengan adanya berbagai bangunan peribadatan dari beberapa kepercayaan.

Menurut warga sekitar, setidaknya terdapat 4 tempat peribadatan dari kepercayaan yang berbeda yaitu Hindu, Kejawan, Kejawen, dan Islam. Bangunan yg menurut saya paling unik adalah Masjid Aolia, yaitu masjid yang mihrab alias tempat imamnya mengarah ke selatan, ke laut lepas. Namun yang pasti, walaupun arah masjidnya ke selatan, warga sekitar yang melakukan sholat disana tetap mendirikan sholat dengan menghadap ke kiblat.

Menurut cerita dari warga sekitar, hal itu tidak lepas dari pengaruh kepercayaan kepada Prabu Brawijaya V.

Asal-usul nama pantai ini pun sangat erat hubungannya dengan Prabu Brawijaya. Ceritanya berawal pada jaman Prabu Brawijaya V yang merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit. Pada saat itu, popularitas Kerajaan Demak dibawah pemerintahan Raden Patah yang juga adalah anak kesayangan Brawijaya sedang menanjak. Pengikut aliran Kejawan merujuk pada salah satu putra Prabu Brawijaya V yang bernama Bondhan Kejawan.

Kejawan sendiri sangat dekat tautannya dengan aliran Kejawen yang ada. Lokasi peribadatan dari kepercayaan Kejawan berada di sebuah joglo dekat masjid, sedangkan pengikut Kejawen mendirikan sebuah bangunan di atas bukit karang. Menurut legenda setempat, Brawijaya tidaklah mati melainkan muksa. Sang Prabu dipercaya melakukan upacara muksa dengan cara membakar diri. Kobaran api dari upacara muksa itulah yang menjadikan nama pantai ini Ngobaran.

Sumber : Ardi Rimbawan

Sabtu, 05 Januari 2013

Masjid Al-Hidayah - Kasuari, Cikarang Baru


Masjid Al-Hidayah di Jalan Kasuari Vi, Cikarang Baru
Masjid Al-Hidayah adalah salah satu dari sekian banyak masjid yang berada di dalam komplek perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Kabupaten Bekasi. Masjid ini berada di kawasan Jalan Kasuari  tak jauh dari (calon bekas) Pasimal alias Pasar Siang Malam. Di samping Pasimal sendiri berdiri kokoh Masjid Nurul Islam yang baru selesai di renovasi tahun lalu. Di komplek perumahan di seberang Masjid Nurul Islam juga berdiri Masjid Darussalam di Jalan Kedasih IV.

Masjid Al-Hidayah ini berdiri di jalan Kasuari VI Cikarang Baru. Bila anda masuk ke dalam kawasan industry Jababeka II, setelah melewati patung kuda di bundaran plaza JB, baik lurus ataupun berbelok disanan anda akan menjumpai pabrik PT. Mattel di Jababeka II, lurus sampai menemukan Rumah Sakit Harapan Internasional di perempatan, setelah Rumah Sakit ada jejeran Ruko Roxi. Ruas jalan Kasuari VI berada di sisi kiri jalan utama persis diantara Ruko Roxi dan Pasimal. Masuk ke jalan tersebut, Masjid Al-Hidayah ada disebelah kiri jalan diantara jejeran rumah penduduk.


View Masjid Al-Hidayah in a larger map

Masjid Al-hidayah dibangun berlantai dua, lantai atas ini lebih tepat disebut sebagai mezanin atau Balkoni yang dibangun di atas ruang utama, sebagai area sholat khusus jemaah wanita. Area tersebut disanggah dengan beberapa tiang beton. Area sholat utama berada di lantai dasar untuk jemaah pria. Keseluruhan ruang dalam masjid ini dibangun cukup tinggi, bagian atasnya tidakl diberi plafon dan dibiarkan terbuka dengan dirapikan pada sisi dalam atapnya.

Masjid Al-Hidayah dikelola oleh Yayasan Al-Hidayah yang dibentuk oleh warga muslim setempat. Yayasan ini tidak hanya mengelola masjid tapi juga sudah membentuk lembaga Amil Zakat dengan nama Pondol Z@k@t. selain itu di samping masjid juga sudah berdiri dan beroperasi gedung sekolah Islam untuk anak anak.

Bangunan utama masjidnya sendiri dibangun dengan tap limas bersusun tiga sama seperti beberapa masjid di dalam komplek Perumahan Cikarang Baru lainnya. Dinding ruang utamanya di dominasi oleh jendela jendela kaca ukuran besar untuk memberikan pencahayaan alami ke dalam masjid. sedangkan bagian terasnya di hias dengan bukaan bentuk bentuk kubah.

Karena lokasinya yang berada di dalam komplek perumahan, tidak seperti Masjid Nurul Islam yang berada di sisi jalan raya. Suasana di Masjid Al-Hidayah relative lebih tenang dan hening. Nyaman untuk sholat atau singgah sejenak untuk sekedar melepas lelah.

Exterior Masjid

 

Interior Masjid


--------------------------------

Masjid di Lokasi Yang Berdekatan