Sabtu, 14 April 2012

Kisah Mualaf Ranu Pane : Bikin Mushola, Lalu Masuk Islam


Masjid di Ranu Pane (foto : pedomannusantara)

Orang islam bikin mushola itu biasa, tapi bagaimana orang Hindu yang bikin mushola ?. rasanya memang agak aneh tapi kisah ini memang benar benar terjadi di desa Ranu Pani atau Ranu Pane, sebuah desa nan indah di kaki gunung Semeru (3.767 mdpl), gunung tertinggi di tanah Jawa. Ranu Pane adalah desa perhentian terahir bagi para pendaki yang hendak menuju puncak semeru atau biasa disebut Mahameru di wilayah kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang.

Ranu Pane begitu popular di kalangan para pendaki gunung, sebuah desa kecil yang teramat indah dengan dua danaunya yang menawan ::: danau Ranu Pane dan danau Ranu Regolo::: awalnya seluruh penduduknya beragama Hindu. Islam menyentuh wilayah ini dari para pendaki yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Salah satu dari pendaki itu menuliskan pengalamannya berkenalan dengan warga Ranu Pane yang pertama kali masuk Islam dengan kisah nya yang luar bisa, saya nukilkan untuk anda berikut ini.


View Masjid Desa Ranu Pane in a larger map


Hingga datanglah tahun 1972. Pak Kasimin, yang waktu itu masih beragama Hindu, berniat membangun musholla. Tentu saja niatnya ini banyak menuai penentangan. Bahkan, sekelompok orang berniat mengeroyoknya. Tapi Pak Kasimin tidak putus asa. Dia pun menemui Camat Senduro (bernama Heru Purnomo) untuk minta surat ijin pendirian mushalla. Untuk keperluan itu, dia harus berjalan kaki mendaki bukit meneruni lembah dari jam 5 pagi (berangkat) hingga jam 4 sore (kembali pulang)!

Di kantor camat, Pak Kasimin mendapat pertanyaan berat. “Pak Kasimin ini agamanya apa?”, begitu tanya Sang camat. “Hindu, Pak”, jawabnya. “Lha kalau Pak Kasimin beragama hindu, untuk apa membangun mushalla?!” tandas Sang camat. Tapi, Pak Kasimin sudah menyiapkan alasan. Dia bilang, banyak temannya dari manca desa (mungkin yang dimaksud adalah para pendaki semeru) yang beragama Islam, yang sewaktu-waktu bisa datang ke Ranu Pani.

Pak kasimin (foto : nadhiv)
Singkat cerita, surat ijin pun akhirnya bisa dikantongi Pak Kasimin. Mushalla pun siap didirikan. Ada yang mengharukan (sangat-sangat mengharukan!) saat Pak Camat di kemudian hari datang ke Ranu Pani untuk menyaksikan dimulainya pembangunan mushalla. Di hadapan warga desa, Pak Camat bertanya kepada Pak Kasimin.

“Pak Kasimin, setelah mushalla ini nanti berdiri, apa yang akan Pak Kasimin lakukan?” dengan mantap, Pak Kasimin menjawab, “Masuk islam, Pak!”.

Jawaban Pak Kasimin itu disambut tepuk riuh para penduduk desa. Dan subhaanallah, setelah mushalla benar-benar berdiri (yang ukurannya cuma 3×3 meter), tidak hanya Pak Kasimin yang masuk Islam tetapi juga seluruh warga desa, tanpa terkecuali, termasuk mereka yang tadinya hendak mengeroyok pak kasimin atas niatnya mendirikan mushalla. Allaahu akbar!

Mushalla mungil itu tentu saja tidak cukup untuk dipakai jumatan. Maka pada tahun 1982, dengan bantuan dana sebesar 3 juta rupiah dari Mantri Kentang, Mantri kentang ini bernama Pak Syamsi, beliau adalah [menurut Pak Kasimin] kakak kandung Adnan Buyung Nasution. Tahun 1983, Bupati Lumajang menghibahkan dana sebesar 10 juta rupiah untuk pemugaran masjid. Warga desa juga berhasil mengumpulkan uang sebanyak 3 juta rupiah sebagai tambahan. Kini, masjid itu telah kokoh berdiri di Ranu Pane. ******

Ini dia danau Ranu Pane (foto : yangpentingnyoba)
Memang hidayah datangnya tak disangka sangka dengan cara yang tak terduga duga. Saat ini, mayoritas penduduk Ranu Pani yang merupakan suku Tengger mayoritas penduduk memeluk agama Islam. Selain agama Islam masyarakat desa Ranu Pani juga masih memeluk agama Hindu Tengger dan agama Kristen. Menurut Thomas (45 tahun) kepala desa Ranu Pani bahwa penduduk di desanya berjumalah 1290 jiwa dengan pemeluk agama islam sebesar 250 kepala keluarga, pemeluk Hindu Tengger 100 kepala keluarga dan pemeluk kristen sejumlah 7 kepala keluarga.


Sumber

nadhiv.wordpress.com - sehari-di-ranu-pani