Minggu, 25 September 2011

Masjid Jami’ Darussalam, Kampung Rawa Gebang

Masjid Jami' Darussalam, Rawagebang, Desa Tanjungbaru, Cikarang Timur

Sabtu sore 24 September 2011, ba’da Asyar, berdua dengan putriku menikmati sore di pesawahan kampung Rawagebang, desa Tanjungbaru, Cikarang Timur. Tak jauh di rumah tapi lumayan jauh deh kalau harus jalan kaki. Di tengah sawah membentang matahari mulai redup, anak anak sekolah berseragam SMA bersliweran naik motor mungkin baru pulang sekolah, ada juga pak tani modern yg sedang sibuk membajak sawah dengan kebo peminum bensin alias traktor, diantara pesawahan yang sebagian sudah dipanen meninggalkan sisa sisa batang padi yang sudah dipangkas diantara rekahan tanah yang mongering dan hijaunya daun daun padi dari petakan sawah yang sudah ditanami ulang oleh pemiliknya.

Dulu sekali ketika pertama melewati areal ini sore hari, jalanannya masih berupa tanah merah dan rerumputan di pematang sawah. Lalu kunjungan berikutnya sudah berupa jalan beton, tinggal jembatannya yang masih berupa jembatan bambu yang bergoyang ketika dilewati. Dan kemaren itu ketika kami kesana lagi, jalanan betonnya sudah mulai menghilang lagi temakan waktu. Tapi Alhamdulillah jembatan bambunya sudah tak ada lagi berganti dengan jembatan beton permanen.

Masjid Jami' Darussalam di tengah komplek Yayasan Perguruan Islam Darussalam
disbelah kiri dan kanan masjid adalah bangunan gedung sekolah milik yayasan.
Jalanan ini membawa kami ke kampung Rawagebang, aku baru ingat sesuatu, sekarang ini masih bulan syawal dan tak lama lagi bulan haji, pantas saja sepanjang jalan yang kami lewati ada beberapa keluarga yang sedang melaksanakan hajatan pernikahan putra putri mereka. Termasuk di Kampung Rawagebang ini.

Hanya beberapa menit menjelang magrib, dikejauhan terlihat bangunan masjid tua di tengah kampung di tepi jalan. Mampir deh, sekalian sholat magrib. Masjid ini bernama masjid Jami; Darussalam. Nama itu kutemukan di papan jadwal khutbah jum’at yang digantung di dinding bagian dalam masjid. Tak ada plang atau papan nama masjid.

Lokasi dan Alamat Masjid Jami’ Darussalam

Kampung Rawa Gebang, Desa Tanjung Baru
Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi
Jawa Barat




Masjid Darussalam ini berada di dalam komplek Yayasan Perguruan Islam Darussalam (YAPISDA). Yayasan ini mengelola pendidikan dari tingkatan Taman Kanak kanak, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Pondok Pesantren dan Majelis Ta’lim. Namun pondok pesantren Darussalam berada di lokasi yang berbeda. Salah satu gedung sekolah di komplek ini tampak sedang direnovasi untuk di tambah lantai dua. Gedung kantor yayasan berada di tengah tengah kompek menghadap ke halaman masjid.

Masjid ini berada di sisi timur jalan raya, sehingga tidak memungkinkan untuk meletakkan pintu utama masjid di sisi bangunan yang menghadap ke jalan raya karena sisi itu terdapat mihrab. Pekarangan masjid ini berada di sisi utara, yang juga merupakan pekarangan sekolah YAPISDA. Sedangkan disisi selatan masjid tersisa sedikit lahan kecil disisi kolam besar yang sepertinya bekas galian pabrik bata.

Arsitektural Masjid Jami Darussalam

Masjid Jami’ Darussalam dibangun dalam arsitektural Asli Indonesia dengan atap limas bersusun tiga. Struktur atap ditopang dengan empat sokoguru di dalam masjid. Diantara susunan atap memberikan ruang untuk membuat jendela jendela kecil untuk keperluan pencahayaan ruang dalam masjid di siang hari. Yang cukup menarik adalah mimbar masjid ini. tidak seperti masjid kebanyakan yang membuat mimbar dari kayu berukir atau dengan menyediakan podium kecil untuk keperluan khutbah jum’at. Tapi mimbar di masjid ini dibuat berbentuk podium permanen dari beton.

Interior Masjid Jami' Darussalam
Tak ada Mukena ? Sebentar saya carikan !

Yang pertama kucari ketika masuk ke dalam masjid adalah “mukena(*)” untuk putriku. Tapi aku tak menemukan satupun mukena disana. Beruntung aku berpapasan dengan pengurus masjid yang baru selesai azan, Namanya kang Alifudin, kusampaikan padanya bahwa aku butuh mukena, (untuk putriku tentunya). . .“mukena ? waduh gak ada pak !, sebentar saya cari in”…..  dan dia bergegas pergi, entah kemana, karena aku juga bergegas ke tempat berwudhu.

Selepas berwudhu aku kembali ke teras depan masjid yang menghadap ke pekarangan, dan dari kejauhan terlihat kang Alif bergegas ke arah masjid dengan mukena di tangan nya, sepertinya dia lari ke rumah untuk meminjam mukena adik atau kakak perempuannya atau mukena ibunya barangkali. Alhamdulillah, selalu ada jalan keluar untuk beribadah. Selepas sholat, aku cari Kang Alif untuk sekedar menyampaikan terima kasih atas bantuannya sekaligus berkenalan dan pamitan. Haturnuhun kang Alif.

Foto Foto Masjid Darussalam Rawagebang

Salah satu hiklmah singgah ke masjid menjelang magrib adalah ; bisa memotret masjid di dua situasi sekaligus, malam dan siang. Walau kadang sedikit terburu buru dalam waktu yang sempit.

Masjid Jami' Darussalam diantara gedung sekolah YAPISDA
Khusu'
Kantor Pengelola YAPISDA
Mihrab dan mimbar Masjid Jami' Darussalam
Plafon di bawah atap limas 
Masjid Jami' Darussalam di malam hari

Masjid Besar Al-Hidayah, Cibitung Kaum


Sesuai dengan namanya sebagai masjid besar, masjid Besar Alhidayah ini memang memiliki ukuran yang cukup besar. Masjid berlantai dua ini berada di sisi ruas jalan raya yang menghubungkan CIbitung – Cikarang.

Alamat dan lokasi Masjid Besar Al-Hidayah

Jalan Imam Bonjol, Cibitung Kaum, Desa Telaga Asih
Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi
Jawa Barat


Aku dan putriku sengaja singgah ke masjid ini hari sabtu 17 September 2011 lalu di sore hari ahir pekan yang cerah. Matahari senja yang mulai menukik ke peraduan terlihat bersinar tepat di belakang menara masjid ini. menara besar dan tinggi ini dibangun belakangan setelah bangunan masjid fase pertama selesai. Sudah lama sekali tak singgah ke masjid ini, terahir aku kesana ketika menghadiri takbligh akbar bersama Ustadz Arifin Ilham yang diselenggarakan di masjid ini tiga atau empat tahun lalu.

Masjid Besar Al-Hidayah, Cibitung Kaum, Cikarang Barat
Masjid Al-Hidayah memang terus melanjutkan pembangunannya. Saat ini pengurus masjid terus melanjutkan perluasan masjid ke sisi utara. Oh iya, arah kiblat masjid ini hampir sejajar dengan ruas jalan, pintu gerbang masuk ke areal masjid langsung mengarah ke halaman masjid yang berada di sisi timur  seorang petugas parkir berbaju koko dengan setia duduk disana di depan kotak infak parkir tanpa tarip terbuat dari pelat logam.

Bangunan induk yang sekarang sudah berdiri terdiri dari bangunan beton berlantai dua dengan void di bagian depan. Lantai atas ini biasa dipakai untuk menampung jemaah sholat Jum’at dan dua hari raya serta acara acara ke agamaan termasuk takbligh akbar yang rutin diselenggarakan di masjid ini dengan mengundang da’i terkenal ibukota.

Masjid Besar Al-Hidayah di merahnya matahari senja
Seperti beberapa waktu lalu sebelum Romadhon pengurus masjid menyelenggarakan takbligh akbar dengan mengundang Ustadz Ahmad Al-Habsy (sahabatnya Ustadz Jefri Albukhory). Ustadz asli Palembang ini dalam acara tersebut di damping Zainal Muttaqin. Dan seperti biasa masjid ini selalu dipadati oleh jemaah dari berbagai penjuru di setiap kegiatan yang diselenggarakannya.

Arsitektur Masjid Besar Al-Hidayah

Masjid Besar Al-Hidayah dibangund alam arsitektural masjid modern dengan mengadopsi rancang bangun masjid universal. Anda tahu, siapapun yang ditanya bentuk masjid akan selalu saja mendeskripsikannya dengan bangunan berkubah besar dengan sebuah menara tinggi. Masjid Besar Al-Hidayah ini pun dibangun dengan kubah besar di bangunan utamanya, kubah dengan warna hijau seperti layaknya masjid Nabi di Madinah. Bangunan menara besarnya itu terlihat menjulang dari atap atap bangunan disekitarnya.

Di sisi selatan bangunan utama sedang berlangsung pembangunan tahap dua. Bangunan tambahan yang luasnya lebih kurang sama besar dengan bangunan utama. Bangunan tambahan inipun dibangun berlantai dua. Lantai dasarnya sudah dapat digunakan, lantai keramik sudah terpasang dengan rapi. Sedangkan lantai duanya masih membutuhkan dana yang cukup besar untuk menyelesaikan proses pembangunannya.

Tempat wudhu disediakan di sebelah bangunan tambahan ini. tempat wudhu untuk jemaah pria berbentuk koridor memanjang. Air wudhu tidak dialirkan langsung ke kran kran air yang terpasang disana tapi kran kran air untuk berwudhu tersebut sebenarnya dipasang di sebuah bak air beton yang memanjang sepanjang koridor tersebut. Tempat wudhu untuk jemaah wanita disediakan di bangunan terpisah. Hal ini tentunya memberikan kenyamanan lebih bagi jemaah wanita di masjid ini.

Area sholat untuk wanita di hari hari biasa pun di sediakan di tempat terpisah yang sudah dipartisi. Satu pintu khusus wanita disediakan disisi utara tak jauh dari tempat wudhu. di area sholat wanita ini juga disediakan mukena untuk jemaah wanita yang kebetulan tidak membawa perlengkapan tersebut ketika singgah kesini untuk sholat.

Lantai ruang dalam masjid diitutup dengan keramik bewarna putih. Dan hampir keseluruhan ruang dalam masjid ini bewarna putih kecuali plafonnya yang sedikit diberi warna bitu laut. Enam tiang utama menyanggah lantai dua masjid ini ditambah beberapa tiang tiang tambahan di bagian belakang untuk menopang lantai dua.

Bila diperhatikan pilar pilar masjid ini yang menopang lengkungan lengkungan besar teras nya tampak begitu tebal seperti yang biasa terdapat di bangunan bangunan peninggalan Belanda. meski begitu dari bentuk kusen jendela dan pintu bangunan utama sepertinya bangunan yang kini berdiri bukanlah dari era itu. Di samping area tempat berwudhu terdapat dua kolam ikan lengkap dengan pancurannya, memberikan keindahan dan suasana tersendiri di masjid ini. bayangkan ! anda berwudhu diantara bunyi gemericik air, menghadirkan sedikit suasana tenang laksana dipedesaan.  

Listrik pun Padam 

Ba’da sholat magrib, sebelum beranjak pulang aku dan putriku santai sejenak di teras masjid ini yang cukup lega bersandar di tiang tiang pilarnya itu. Di halaman nya berjejer pedangan makanan yang memang dizinkan beroperasi disana oleh pengurus masjid. Aku pilih pesan siomay, sambil asyik memperhatikan puluhan anak anak kecil yang sedang belajar mengaja di sisi utara dengan segala tingkah mereka yang lucu. Sedang asik asiknya tiba tiba, Jbret ! listrik mendadak padam. Puluhan anak anak kecil itu pun berteriak panik, para gurunya sibuk menenangkan. Suasana masjid yang begini besar mendadak gelap gulita. Beberapa waktu di tunggu tunggu tapi listrik tak kunjung menyala lagi. Pengajian pun ditutup lebih cepat malam itu. Sempat juga ngedumel dalam hati, sudah 66 tahun merdeka, kok padam listrik masih saja terjadi ya ?. hmm.

Foto Foto Masjid Besar Al-Hidayah, Cibitung Kaum

Interior Masjid Besar Al-Hidayah
Senjakala di Masjid Besar Al-Hidayah
Bangunan baru yang belum selesai di sisi utara bangunan utama
Kolam ikan kecil di samping tempat berwudhu
Jendela Masjid Besar Al-Hidayah yang menghadap ke jalan raya
Mimbar dan Mihrab Masjid Besar Al-Hidayah

Selasa, 20 September 2011

Masjid Jami’ Nurul Hidayah, Masjid Liga Muslim di Cikarang Utara


Masjid Nurul Hidayah ini dulunya merupakan sebuah bangunan masjid kecil di lokasinya sekarang ini. sejak Ramadhan 1432H (Agustus 2011) lalu, warga muslim disana sudah bisa menikmati sebuah masjid megah yang baru berdiri dan masih gress dengan balutan warna hijau ini. proses pembangunan masjid ini memakan waktu selama 8 bulan.

Lokasi masjid

Masjid Nurul Hidayah berada disisi ruas jalan utama yang menghubungkan Lemah Abang ke Jababeka (Cikarang Baru). Dari gerbang 5 Jababeka kea rah utara dan tak jauh dari RUmah Sakit Annisa kea rah selatan. Secara administratip masuk kedalam wilayah Desa Simpangan, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat.






Bantuan Liga Muslim Sedunia

Sesuai dengan plakat pembangunan masjid yang dipasang di dinding masjid sisi barat (sisi mihrab) bagian luar menghadap ke halaman depan, disebutkan bahwa masjid ini dibangun dengan dana bantuan dari Liga Muslim Sedunia / World Muslim League / Rabithah ‘Alam Islami. Liga Muslim Sedunia merupakan organisasi nirlaba yang berpusat di Saudi Arabia.

Berdasarkan plakat pembangunan masjid tersebut, masjid ini diberi nama “Masjid Al-Amir Saud Bin Kholid Al-Saud”. Namun pengurus dan jemaah masjid lebih memilih untuk menggunakan nama lama masjid ini “Masjid Nurul Hidayah “.

Kubah dan menara masjid Nurul Hidayah
Arsitektural Masjid

Dari segi arsitektur, masjid Nurul Hidayah memang dibangun dengan arsitektur Timur Tengah, bentuk masjid yang dikenal secara universal. Lengkap dengan menara dan kubah di tengah tengah atap cor nya. Sisi mihrab masjid Nurul Hidayah menghadap ke jalan raya sehingga pintu masuk ke masjdi ini dengan sendirinya pintu masuk ke masjid tidak berada di sisi yang menghadap ke jalan raya. Pintu utara menjadi pintu utama masuk ke masjid ini. sedangkan pintu selatan langsung terhubung dengan tempat berwudhu sedangkan pintu timur berada di halaman belakang masjid yang berdekatan dengan pemakaman.

Ketiga pintu utama masjid ini menggunakan pintu geser dari kaca bewarna gelap dengan rangka allumunium. Dan masing masing 6 jendela di tiap sisi masjid ini juga menggunakan kaca gelap dan rangka allumunium. Keseluruhan jendela kaca ini dilengkapi dengan bukaan permanen di bagian atasnya untuk ventilasi. Sedangkan jendelanya sendiri memang dirancang bukan sebagai jendela yang bisa dibuka tutup.

Interior Masjid Nurul Hidayah
Masjid Nurul Hidayah dilengkapi dengan satu bangunan menara khas Arab Saudi. Menara ini tidak dibangun terpisah dari masjid tapi dibangun menyatu dengan bangunan utama masjid di pojok atap sisi barat laut atau di sisi kiri bila kita berdiri di gerbang menuju halaman depan masjid. Menara dan kubah hijau masjid ini terlihat begitu dominan diantara bangunan bangunan sekitarnya. Bahkan pagar dan gerbang masjid inipun di cat dengan warna yang sama.

Saat dalam proses finishing Ramadhan lalu
Di dalam masjid berdiri kokoh empat sokoguru beton menopang atap masjid. Dibawah kubah masjid ditempatkan jendela jendela kecil menggunakan kaca warna warni. Di sisi dalam bangunan kubah ini dilukis dengan lukisan langit biru dan kumpulan awan. Lukisan seperti ini sepertinya memang sedang menjadi trend masjid masjid baru tanah air, sejak masjid mewah Dian Al-Mahri (Masjid Kubah Emas) menggunakan lukisan tersebut di bawah kubah utamanya.

Dan di bawah kubah ini sudah barang tentu dipasang lampu gantung sebagai pelengkap interior masjid. Meski lampu gantung ini jarang dinyalakan untuk penghematan energy. Namun kehadirannya memberikan keindahan tersendiri bagi interior masjid. Meski dibangun dengan dana bantuan Liga Muslim Dunia namun kepengurusan dan pengelolaan masjid ini tetap dipegang oleh para tokoh masyarakat setempat.

4 September 2011 yang lalu ketika kami singah kesana untuk menunaikan sholat magrib, di masjid ini diselenggarakan sholat jenazah bagi salah satu pengurus masjid ini dan sepuh di sana yang wafat sore harinya, di sholatkan di masjid ini bakda Isya dan dimakamkan malam itu juga dipemakaman keluarga yang lokasinya bersebelahan dengan Rumah Sakit An-Nisa. Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Alloh Swt dan beliau mendapatkan tempat bersama sama orang shalih. Amin.

Foto Foto Masjid Nurul Hidayah

dari balik pintu utama sebelah timur
Lampu gantung di tengah masjid
Awal September 2011
Mihrab dan mimbar majsid Nurul Hidayah
Tempat wudhu masjid Nurul Hidayah
Masjid Jami' Nurul Hidayah dilihat dari arah jalan raya

Jumat, 16 September 2011

Masjid Jami' Nurul Ikhlash, Pilar Barat, Cikarang Utara

Masjid Jami' Nurul ikhlash, Pilar Barat - Cikarang Utara
Ada satu hal yang sangat menarik dari masjid ini. bukan lokasinya. Bukan pula kemegahannya.  Tapi perhatikan prasasti pembangunan masjid yang ditempatkan di depan masjid. Disebutkan disana bahwa masjid Nurul Ikhlas ini diresmikan oleh Menteri Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah RI, H. Adi Sasono SH. Pada tanggal 13 September 1998M bertepatan dengan Jumadil Ula 1419H. Cukup menarik, mengingat lokasi masjid ini bukanlah masjid yang berdiri di sisi jalan raya utama. Tapi berada di dalam gang atau jalan kecil di kawasan Pilar Barat, CIkarang Utara, Kabupaten Bekasi.

Alamat dan Lokasi Masjid Nurul Ikhlash

Jl. Dr. Setia Budi, Pilar Barat
Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi 17530
Jawa Barat  


Jalan Pilar Barat / Dr. Setia Budi, ini bermuara ke Jalan Gatot Subroto yang membentang dari pasar CIkarang hingga ke pertigaan pilar (Jalan Ki Hajar Dewantara). Masjid ini bukan satu satunya bangunan masjid di dalam gang pilar barat. tak jauh dari masjid ini juga berdiri sebuah masjid dengan atap limas bernama Masjid Jamie Attaufiq Walhidayah,  dan lebih ke utara sedang di renovasi total sebuah Mushola yang cukup indah, Mushola Al-Ridho.

Masjid Jami' Nurul Ikhlash, Pilar Barat. dari arah jalan Jend. Gatot Subroto, Cikarang
Masjid Nurul Ikhlash dibangun berlantai dua dengan ruang terbuka di sisi mihrab. Tangga beton menuju lantai dua dibangun disisi selatan masjid. Tangga ini cukup menyita perhatian karena lokasinya yang berada di akses utama ke dalam masjid. Disisi selatan ini juga ditempatkan keran keran tempat wudhu tak jauh dari bangunan tangga.

area berwudhu di sisi selatan masjid, ramai dengan anak anak menjelang beduk
magrib. mereka ramai belajar mengaji ba'da magrib.
Tempat wudhu lainnya berada di belakang masjid (sisi timur) terhubung langsung dengan serambi belakang masjid, dan disi kanan (sisi selatan). Di sisi belakang masjid ini juga merupakan komplek pemakaman muslim.  Unik juga tempat wudhu di sisi belakang masjid ini karena keran keran airnya yang ditempatkan di tiang tiang koridor yang menghubungkan toilet ke serambi.

Pagi hari ke arah masjid Jami' Nurul Ikhlash dari jembatan pilar
Lapangan parkir masjid ini memang cukup sempit hanya cukup untuk beberapa kendaraan roda dua. Tapi tersedia lahan cukup luas di pekarangan kediaman pimpinan cabang gerakan pemuda Anshor NU yang berada tepat berhadap hadapan dengan masjid ini.

Foto Foto Masjid Jami' Nurul Ikhlash Pilar Barat

kubah dan lantai dua Masjid Nurul ikhlash pilar barat
Interior masjid Nurul Ikhlash Pilar Barat, dengan mimbar dan Mihrab mungilnya
fasad masjid Nurul Ikhlash dari arah Jalan Gatot Subroto, Cikarang
Lebih dekat ke kubah masjid Nurul Ikhlas Pilar Barat
teras depan masjid Nurul Ikhlas yang sebenarnya berada di sisi Selatan masjid.

Wajah Baru Masjid Nurul Ikhlash

Wajah Baru Masjid Jami' Nurul Ikhlash Pilar Barat di bulan Desember 2015, masjid ini sudah dilengkapi dengan satu bangunan menara yang menjulang dengan kubah berwarna kuning ke-ermasan.

UPDATED : 2 JANUARI 2016

-----------ooo000ooo---------------

Baca juga Artikel Masjid Masjid Cikarang Utara Lain nya


Rabu, 14 September 2011

Masjid Jamie Al-Falah, Pasir Gombong, Cikarang Utara

Masjid Jamie Al-Falah, Pasir Gombong.

Berada tak jauh dari gerbang utama kawasan industry Jababeka I dan II masjid ini berdiri anggun dalam balutan warna kuning gading. Berada di sisi ruas jalan CIkarang – Cibarusah masjid ini dapat dengan mudah ditemukan lokasinya.

Lokasi dan alamat persisnya adalah sebagai berikut :

Jl. Industri Kampung Gombong Pandan
RT/RW 04/06 Desa Pasir Gombong. Kecamatan Cikarang Utara
Kabupaten Bekasi 17530. Jawa Barat.



Dulu, ketika masih bekerja di salah satu perusahaan asing yang beroperasi di Jababeka, setiap kali sholat Jum’at di masjid ini kami selalu saja kebagian tempat di sisi jalan raya yang ditutup separuh untuk keperluan jemaah. Ditambah lagi kondisi jalan raya di depan masjid ini ketika itu belum serapi sekarang yang sudah di beton dan sudah diberi separator permanen.

Masjid Jamie Al-Falah di malam hari
Dari pencitraan satelit tanggal 27 Juli 2003, di google earth dan google maps, masjid ini masih berupa bangunan lama berupa bangunan biasa seperti bangunan rumah dengan atap genteng.  Bentuknya dulu memang seperti itu. Jemaah sholat jum’at meluber kemana mana memenuhi pekarangan hingga teras teras rumah disekitarnya hingga ke jalan raya.

Kini. Masjid Jamie Al-Falah sudah bermetamarfosis menjadi sebuah masjid berlantai dua yang begitu megah dan Indah dengan arsitektur Masjid universal meski tanpa bangunan menara tinggi yang dibangun terpisah dari bangunan masjid.  Dua menara nya dibangun menyatu dengan bangunan masjid. Lengkap dengan kubah utama berwarna hijau tua dibagian tengah atap beton masjid ini.

Lantai dua masjid ini dilengkapi dengan beranda di sisi depan dan sisi selatan. Memberikan ruang bagi jemaah untuk menikmati suasana sekitar masjid dari lantai dua. De depan masjid di sisi jalan raya masih tersisa sedikit lahan parkir bagi jemaah yang berkendara dan kebetulan berada disana saat waktu sholat tiba.

Tempat wudhu dan toilet berada di sisi utara (disisi kanan pada saat masuk ke pekarangan masjid).   Tangga menuju ke lantai dua diletakkan di pojok kiri dan kanan depan masjid. Lantai dua masjid ini memang nyaris tak terpakai di hari hari biasa kecuali di hari Jum’at dan peringatan hari hari besar Islam.

DKM masjid Jamie Al-Falah Pasir Gombong saat ini diketuai oleh H. Itang, Bendahara nya dipegang oleh H. Abdur Rochim dan sekretaris dipercayakan kepada H. Ahmad. Kas masjid ini terbilang lumayan, laporan keuangan masjid pada bulan Maret 2011 lalu, saldo sebesar Rp. 63 juta. Dengan pengeluaran rutin sebesar Rp.6 jutaan sudah termasuk gaji pegawai.

Exterior Masjid Jamie Al-Falah, Pasir Gombong


Interior Masjid Al-Falah, Pasir Gombong