Rabu, 31 Agustus 2011

Masjid Ummar Bin Khattab, Jonggol. Kabupaten Bogor


Sisi Utara Masjid Umar Bin Khattab
Kami singgah ke masjid ini dalam perjalanan pulang dari Cigentis – Karawang, dan sengaja menempuh perjalanan pulang ke rumah tidak melewati jalur waktu kami berangkat ke sana, tapi memutar lewat Cariu sekalian menikmati pemandangan sore kawasan Cariu. Pas menjelang magrib tiba di masjid ini, istirahat disana sekalian sholat magrib sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Cikarang lewat Cibarusah.

Lokasi Masjid Umar Bin Khattab

Masjid Umar Bin Khattab ini berada di segitiga emas Jonggol. Di lokasi yang sama sudah berdiri SPBU Pertamina dan beberapa mini market. Tempat ini memang cukup strategis berada di lokasi pertigaan jonggol dari Cibarusah – Jonggol dan Cibarusah – Cariu.




Sejarah pendirian Masjid Umar Bin Khattab

Berdasarkan prasasti pembangunan masjid yang di pasang di tembok dekat pintu masuk sisi utara masjid, Masjid Umar Bin Khattab dibangun dengan dana bantuan dari Salim Oneid Al Zahmi, seorang muslim dari Fujairah, Uni Emirat Arab, dengan wali amanat Moddy Komaruddin dan Ir. Malik Muuhammad Basyarahil. Selesai dibangun pada tanggal 7 Jumadil Tsani 1431H bertepatan dengan tanggal 21 Mei 2010M yang lalu. Atau baru genap berusia setahun pada saat kami singgah ke masjid ini.

Arsitektural Masjid Umar Bin Khattab

Meski dibangun dengan dana bantuan dari Arab, namun arsitektural masjid ini sama sekali tidak mencerminkan arsitektural arab selain menara segi empat yang menjulang melengkapi bangunan masjid ini. Di atas menara masjid inilah diletakkan pengeras suara di empat sisi nya.

Menara masjid ini dibangun menempel dengan bangunan utama masjid, di sudut barat laut. Warna abu abu mendominasi menara masjid ini. bagian atas menara masjid ini  di hias dengan kepingan keramik warna gelap. Sementara di bagian puncak menara dipasang ornamen berbentuk bulatan berjumlah  tiga buah melambangkan Iman, Islam, Ikhsan. Di puncak menara dipasang lafaz Allah Tuhan semesta alam. Ornamen yang sama juga dipasang di puncak atap bangunan utama masjid.

Menara Segi empat
Bangunan utama masjid ini justru menggunakan atap joglo atau atau limas bersusun yang merupakan ciri khas masjid masjid tradisional Indonesia, meski dibangun dengan dana dari timur tengah. Dua pintu utama masjid di sisi utara dan selatan dilengkapi dengan teras kecil, dengan bukaan berlengkung. Secara keseluruhan bila tak melihat bangunan menara dan lafaz Allah yang diletakkan di puncak menara dan puncak atap masjid, mungkin agak sulit mengenali bahwa bangunan ini adalah bangunan masjid.

Ruang Sholat khusus jemaah wanita

Jemaah pria dan wanita di pisahkan dalam ruang yang berbeda, ruang khusus jemaah wanita berada di sisi timur masjid berdekatan dengan tempat berwudhlu. Dinding masjid ini secar keseluruhan dibangun massif tanpa ornament. Jendela jendela di sisi utara dan selatan menggunakan kaca berwarna gelap. Jendela yang juga tanpa ornamen apapun. Jendela berbentuk persegi sederhana tanpa lengkungan seperti yang biasa kita temukan di masjid masjid pada umumnya.

Sisi Utara
Meski menggunakan atap limas masjid ini tidak menggunakan 4 sokoguru dibagian tengah masjid sebagai penyanggah struktur atap. Keseluruhan beban atap ditumpukan kepada tiang keliling dan dinding bangunan.Teknologi material bangunan masa kini yang sudah menggunakan struktur atap baja ringan namun kuat dan kokoh memang memungkinkan untuk meniadakan tiang 4 sokoguru di tengah ruang masjid untuk memberikan kesan lega di dalam masjid.

Langit langit ruang sholat utama di hias dengan gipsum berornamen sederhana. System pencahayaan dan tata suara di dalam masjid yang masih baru ini terbilang baik. Pencahayaan nya tidak terlalu redup dan tidak menyilaukan.  Begitu juga dengan tata suara nya tidak terlalu keras namun cukup jelas terdengar. Urusan tata suara masjid memang kadang kadang luput dari perhatian pengurus masjid.

sisi timur masjid dari arah mini market
Sekedar catatan, terkait dengan tata suara bangunan masjid, beberapa pengurus masjid kadangkala hanya berpikir untuk menghasilkan suara yang lantang tanpa mempertimbangkan kenyamaan pendengarnya. Pengeras suara yang terlalu keras menghasilkan suara khutbah jum’at layaknya sebuah takbligh akbar di dalam ruang masjid, alih alih memberikan ke khusu’an tapi malah membuat tidak nyaman telinga jemaah. Sebaliknya suara yang terlalu kecil lebih merepotkan lagi bagi jemaah yang lokasinya jauh dari pengeras suara.

Ketika kami singgah ke masjid ini untuk sholat Magrib, Alhamdulillah masjid ini cukup ramai jemaahnya. Jadi,  bagi anda yang sedang melintas di jalur tersebut, masjid ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk disinggahi untuk menunaikan ibadah sholat.

Interior Masjid
Sisi Selatan Masjid Umar Bin Khattab
Pintu Selatan Masjid Umar Bin Khattab