Senin, 24 Januari 2011

Hindari Abrasi, Masjid Enam Kali Digeser

Warga Dusun Sungai Langir Kecamatan Tanah Grogot resah, setiap tahun garis pantai mereka terkikis empat meter oleh pergerakan air laut. Pelan tapi pasti, abrasi akan semakin mendekat ke pemukiman penduduk, tetap bertahan sama artinya mereka harus menanggung resiko kehilangan tempat tinggal.

Resiko itulah yang memaksa warga Dusun Sungai Langir menggeser lokasi masjid mereka menjauh dari garis pantai, dan upaya yang dilakukan oleh warga itu sudah dilakukan enam kali sejak tahun 1961. Hal ini seperti disampaikan Mustofa, pengurus salah satu organisasi kemanusiaan di Kabupaten Paser, Senin (24/1/2011).

Menurut warga Kelurahan Tanah Grogot ini, dua tahun yang lalu ia sempat singgah disana, kebetulan saat itu hari Jumat ia melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid Dusun Sungai Langir. Di mimbar tempat khotib menyampaikan tausiyah, ia melihat tulisan yang membentuk angka sebanyak empat digit.

"Saya penasaran, jadi usai salat Jumat saya tanyakan kepada salah satu warga, dan dijawab kalau angka 1961 merupakan tahun dimana masjid itu mulai dibangun. Kemudian beberapa hari yang lalu, saya kembali dapat kesempatan berkunjung kesana, bedanya saya hanya melihat masjid dari perahu yang saya tumpangi," kata Mustofa.
  
Karena penasaran dengan perbedaan posisi masjid saat kunjungan pertamanya, Mustofa mencoba menggali informasi dari warga Dusun Sungai Langir. "Dua tahun yang lalu masjid agak jauh dari rumah penduduk, sekarang mundur mendekati rumah penduduk, saya penasaran dan bertanya kepada orangtua yang duduk disebelah saya," kenangnya.

Dari penjelasan itu, lanjut Mustofa, ia jadi tahu kalau masjid itu mundur untuk mengindari abrasi, dan pergeseran lokasi masjid itu sudah dilakukan enam kali sejak masjid mulai dibangun. Hanya saja, posisi masjid itu sekarang sudah dekat dengan rumah penduduk, tetapi abrasi juga akan terus mendekati masjid dan perumahan penduduk.


Persoalan yang dialami warga Dusun Sungai Langir ini menurut Mustofa, perlu mendapat perhatian dari Pemkab Paser, terutama instansi terkait. Oleh karena itu, pada sebuah kesempatan ia sudah menyampaikan masalah warga Dusun Sungai Langir kepada Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Paser.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Paser Drs Sudiyanto mengatakan dalam waktu dekat akan berkunjung ke Desa Sungai Langir untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan, sehingga apa langkah antisipasi dari persoalan ini bisa diusulkan ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN).

"Abrasi ini merupakan ancaman terhadap penduduk disana jadi perlu ada kegiatan untuk mengantisipasi bencana tersebut. Apa bentuk kegiatannya? Itu akan kita ketahui dari hasil survei, setelah itu baru kita usulkan ke BPBN, mudah-mudahan kegiatannya disetujui untuk dibiayai APBN," harapnya. (*)