Jumat, 27 Agustus 2010

Saat Masjid Al-Aqsha Dibakar, 41 Tahun Lalu

21 Agustus 2010, tepat 41 tahun sudah sejak seorang Yahudi Australia, Dennis Michael, membakar Masjid Al-Aqsha, dengan dukungan penuh kelompok-kelompok pemukim Yahudi di kota Al-Quds.


Api yang disulut tepat 41 tahun lalu sudah padam, tapi hingga kini penjajahan atas Masjid Al-Aqsha, penembakan atas kaum Muslimin dan bangsa Arab di Palestina, pembuatan galian-galian terowongan yang diniatkan untuk meruntuhkannya, pengepungan masjid tersebut dengan pendirian sekitar 100 rumah-rumah “ibadah” dan pusat-pusat kegiatan agama Yahudi, masih terus berlanjut.


Pada 21 Agustus 1969, segera setelah Michael menyulut api di dalam Masjid Al-Aqsha, api pun membubung tinggi menjilat-jilat bagian-bagian masjid yang terbuat dari kayu, dinding dan mimbar Shalahuddin Al Ayyubi, salah satu mimbar yang terdapat di dalam Masjid Al-Aqsha.


Mimbar bersejarah tersebut diletakkan di sana oleh pemimpin dan pahlawan umat Islam, Shalahuddin Al Ayyubi, untuk berkhutbah pada hari kemenangan Islam di bawah kepemimpinannya yang sekaligus merupakan hari pembebasan Baitul Maqdis (Al-Quds).


Tak hanya Masjid Al-Aqsha yang menjadi korban kebejatan Michael dan para pemukim Yahudi itu. Masjid Umar bin Al Khaththab, Mihrab Zakaria dan sebidang tanah di mana terdapat 43 makam yang membujur dari bagian utara ke selatan di dalam kawasan Masjid Al-Aqsha pun menjadi sasaran api.


Bersamaan dengan itu penjajah Zionis berusaha keras merealisasikan ambisinya, membangun apa yang mereka klaim sebagai kuil mereka di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsha. Dalam proses merealisasikan “mimpi” itu, penjajah Zionis secara bertahap melakukan proses yahudisasi serta terus “menancapkan kukunya” di Masjid Al-Aqsha.


Syaikh Kamal Al-Khatib, wakil ketua Gerakan Islam di Tanah Palestina 1948, dalam kesempatan peringatan peristiwa itu menegaskan bahwa “api” yang berkobar 41 tahun yang lalu itu belum padam sampai sekarang.


Penggalian-penggalian terowongan di bawah masjid tersebut untuk meruntuhkannya dari bawah, blokade, serangan-serangan serta pelarangan mengunjungi Masjid Al-Aqsha yang diberlakukan penjajah Zionis Israel masih berlangsung hingga saat ini.


Syaikh Kamal juga menegaskan bahwa peringatan peristiwa memilukan tersebut bukan untuk menangisi nasib umat Islam karena peristiwa itu, akan tetapi untuk semakin menguatkan tekad perjuangan. Beliau menekankan bahwa “api” yang terus-menerus disulut Zionis terhadap Masjid Al-Aqsha sampai sekarang ini akan segera dipadamkan –insya-Allah- dengan tangan-tangan kaum muslimin sendiri.


Ia menambahkan, “Rakyat Palestina sangat mengerti jalan hidup mereka sendiri dan mengetahui ke mana mereka harus melangkah. Sungguh kami sekarang ini telah melihat fajar baru yang sedang menyingsing dalam kehidupan kami. Di balik pintu-pintu Masjid Al-Aqsha yang penuh berkah itu sekarang ini ada putra-putra Palestina yang memiliki loyalitas tinggi terhadap agama yang karena merekalah akan terus terpelihara kemuliaan Masjid Al-Aqsha.”


Republika

Rabu, 25 Agustus 2010

Israel Akan Hentikan Kapal Bantuan Tujuan Gaza

PBB (ANTARA News) - Israel hari Jumat menyatakan kepada PBB bahwa mereka memiliki hak menggunakan kekerasan untuk menghentikan kapal bantuan yang berusaha mencapai Jalur Gaza.

Dalam sepucuk surat kepada Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon, Duta Besar Israel untuk PBB Gabriela Shalev mengatakan, niat kapal barang Mariam berbendera Bolivia yang seluruh penumpang dan awaknya wanita "adalah melanggar blokade laut yang diberlakukan terhadap Gaza".

Menurut duta besar itu, Israel juga memiliki informasi bahwa sebuah kapal lain, Naji al-Ali, berencana berangkat dari sebuah pelabuhan Lebanon dengan tujuan melanggar blokade itu.

"Israel memiliki hak sesuai dengan hukum internasional untuk menggunakan semua cara yang diperlukan untuk mencegah kapal-kapal ini melanggar blokade laut tersebut," kata Shalev.

Ia mengatakan, "Tindakan konfrontasional semacam itu oleh penyelenggara serta mereka yang menawarkan persetujuan sangat menyulitkan dan membutuhkan perhatian masyarakat internasional."

Israel mendapat kecaman internasional menyangkut penahanan 31 Mei terhadap armada enam kapal bantuan yang menuju wilayah Palestina itu ketika pasukan komando Israel menembak mati sembilan aktivis Turki.

Mariam, sebuah kapal barang berbendera Bolivia yang semula bernama Junia Star, berencana berangkat dari Lebanon utara menuju Siprus pada Minggu pukul 22.00 waktu setempat (Senin pukul 02.00 WIB) pada bagian pertama rencana pelayarannya menuju Gaza, kata penyelenggara Samar al-Hajj, Kamis.

Kapal yang membawa bantuan itu akan berusaha menerobos blokade Israel yang telah berlangsung empat tahun. Lebih dari 50 aktivis wanita Lebanon dan asing berada di kapal itu, termasuk penyanyi pop lokal May Hariri.

Naji al-Ali, sebuah kapal lain Lebanon yang diatur oleh wartawan, juga telah mengumumkan akan berlayar ke Gaza melalui Siprus namun belum mendapat izin dari pihak berwenang Lebanon.
(M014/A038) 21-08-2010 02:20:38

Kamis, 19 Agustus 2010

Arab Kurangi Bantuan Dana ke Palestina

Ramallah (ANTARA News) - Negara-negara Arab mengurangi bantuan keuangan kepada Pemerintah Palestina tahun ini, kata data Palestina yang dilihat Reuters, dan PBB memperingatkan kemungkinan akan terjadi  krisis keuangan Palestina.

"Negara-negara Arab tidak membayar. Kami mendesak mereka memenuhi janji bantuan keuangan mereka," kata Saleh Rafat, anggota komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina yang mengutarakan masalah itu,Kamis.

Para pejabat pemerintah Arab yang dihubungi Reuters menolak memberi komentar mengenai masalah itu.

Kegagalan sejumlah negara Arab yang kaya untuk membayar bantuan itu membuat marah pemerintah-pemerintah Barat, yang adalah penyumbang-penyumbang besar ke wilayah-wilayah Palestina dan menyebabkan para pejabat di Tepi Barat bingung menyangkut anggaran.

Sejumlah pejabat Palestina memperkirakan negara-negara Arab mungkin menahan dana itu untuk berusaha membujuk faksi-faksi Palestina yang menguasai Tepi Barat, dan Hamas yang menguasai Jalur Gaza untuk berdamai kembali.

Data Kementerian Keuangan Palestina yang diperlihatkan pada Reuters Pemerintah Palestina menerima 583,5 juta dolat untuk dukungan anggaran sejauh ini tahun 2010. Hanya 22 persen berasal dari donor-donor Arab , sisanya dari donor-donor internasional termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Dalam tiga tahun belakangan ini,sebagian besar negara Arab setiap tahun membayar 525,9 juta dolar sumbangan tahun 2008. Negara-negara Teluk pengekspor minyak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah penyumbang Arab utama sejak tahun 2007. Tetapi pada tahun 2010, kedua negara itu mengurangi sumbangan mereka ketimbang sebelumnya.

Tahun ini Arab Saudi hanya memberikan 30,6 juta dolar Agustus dibanding tahun 2009 sejumlah 241,1 juta dolar, Uni Emirat Arab, yang menyumbang 173,9 juta dolar tahun 2009 belum membayar.

Sebuah laporan PBB pekan ini mengatakan Pemerintah Palestina "akan menghadapi krisis likuiditas serius pada September dan akan mengalami kesulitan membayar gaji Agutsus " karena bantuan yang berkurang. Para pejabat Pemerintah Palestina mengatakan gaji Agustus sudah terjamin.

Bantuan keuangan adalah untuk membayar gaji 148.000 karyawan pemerintah Palestina temasuk 67.000 orang di Jalur Gaza, yang gaji-gaji itu mendukung ekonomi Gaza yang diblokade Israel sejak kelompok Hamas menguasai wilayah itu.

Para pembuat kebijakan Palestina mengatakan dukungan donor adalah salah satu dari mesin-mesin utama pertumbuhan ekonomi di Tepi Barat yang mencapai delapan persen tahun ini.

Perdana Menteri Salam Fayyad melalui rencana dua tahun untuk membangun institusi-institusi bagi sebuah negara Palestina mendatang , baru-baru ini memperingatkan "kesulitan keuangan yang serius " dan mengatakan Pemerintah Palestina menghadapi"kekurangan besar dalam bantuan dari luar".

Para diplomat Uni Eropa menyatakan kekecewaan mereka atas apa yang mereka anggap kegagalan sejumah negara Arab memenuhi janji mereka yang dibuat dalan konferensi donor di Paris tahun 2007.

"Eropa dan AS memenuhi komitmen kami, tetapi negara-negara Arab tertentu tidak menepati janji mereka, yang ini adalah satu masalah," kata seorang diplomat senior di sebuah ibu kota negara Barat kepada Reuters. Ketika ditanya kenapa hal ini terjadi, ia mengatakan: "Tanyakan pada mereka."




Minggu, 15 Agustus 2010

Tentara Zionis Paksa Warga Minum Disaat Puasa


Al-Quds – Infopalestina: Anggota dewan Knesset dari fraksi Arab Thalib Shani, Ahad (15/8) meminta penyelidkan terhadap kasus pelanggaran yang dilakukan tentara Zionis di perlintasan Qalandia segera digelar. Ia menyebutkan, pemaksaan terhadap pemuda Palestina yang sedang berpuasa agar minum, kalau tidak akan dibunuh, merupakan pelanggaran berat HAM.
Shani mengatakan, tindakan serdadu Zionis tersebut sudah keluar dari kewajaran. Ia telah melanggar semua garis merah tentang HAM. Ia menegaskan pentingnya memberikan batas-batas kepada tentara di pelrintasan yang biasa melakukan aksi anti ras dan penganiayaan terhadap warga Palestina.
Shani minta serdadu yang melakukan hal tersebut segera diadili. Ia meminta perlintasan seperti ini harus segera dihilangkan, selain mengeluarkan serdadu Zionis sang penjajah dari kota-kota Palestina. Penjajahan harus segera diakhiri.

Jumat, 13 Agustus 2010

Israel Nyatakan Rumah-Rumah Warga Palestina Ilegal


Dewan Kota Israel mengeluarkan surat perintah untuk menghentikan semua kegiatan pembangunan rumah warga Palestina di Tulkarem, utara Tepi Barat. Israel menilai rumah-rumah itu ilegal karena didirikan di Area C yang berada di bawah kontrol rezim Zionis Israel dan tidak memiliki izin pembangunan yang dikeluarkan oleh otoritas Israel.

Menurut pejabat kota Tulkarem, ada 17 rumah, satu pabrik dan satu bengkel yang menerima surat perintah itu. Dewan Kota Israel juga memerintahkan pembangunan taman kota dihentikan karena dianggap pembangunan ilegal.

"Bangunan-bangunan itu berada di sisi timur kota dan jauh dari tembok pembatas Israel yang selalu dijadikan alasan oleh rezim Zionis untuk melarang warga Palestina membuat bangunan apapun di dekat tembok itu," demikian laporan Ma'an, kantor berita Palestina

Warga kota Tulkarem menganggap surat perintah penghentian pembangunan rumah mereka tidak adil dan membawa kasus ini ke pengadilan. Mereka menyewa dua pengacara untuk mengajukan gugatan hukum terhadap Dewan Kota. Israel menetapkan prosedur lewat pengadilan sebagai strategi untuk melarang warga Palestina membangun rumah atau bangunan lainnay di dekat tembok pemisah.
Dewan Kota Israel mengeluarkan surat perintah itu ketika pembangunan sebagian besar rumah sudah selesai dan siap dihuni pemiliknya bulan Ramadan ini. Tapi dengan adanya surat perintah itu, mereka terancam kehilangan rumah yang sudah hampir jadi itu.

PBB mencatat dalam satu bulan belakangan ini, rezim Israel sudah mengeluarkan perintah penghancuran 104 rumah, penghancuran bangunan untuk tempat penyemaian bibit tanaman perkebunan dan rumah-rumah kaca di kawasan Tulkarem yang masuk dalam wilayah C dibawah kontrol Israel. Israel menggunakan alasan bahwa bangunan dan tempat-tempat itu tidak memiliki ijin mendirikan bangunan dari otoritas Israel.

Soucer : eramuslim

Imam Masjidil Haram: Menyingkirkan Blokade di Gaza Fardhu Kifayah

Voa-Islam.com - Mekah Imam dan khatib Masjidil Haram, Syekh Saleh bin Muhammad Al Thalib menegaskan dalam khotbah Jumat kemarin, bahwa orang-orang Arab dan muslimin harus menyadari bahwa blokade yang dikenakan ke atas Gaza bukan blokade kepada rakyat Gaza saja, tetapi merupakan blokade atas martabat dan kehendak umat Islam, dan merupakan tantangan bagi setiap orang yang merdeka di seluruh dunia. 
Syekh Saleh mengatakan bahwa menyingkirkan blokade  dari rakyat Gaza hukumnya fardhu kifayah atas umat Islam, dan merupakan amanah di pundak setiap orang merdeka dan terhormat di dunia ini, dan hendaklah umat tidak berhemat dalam usahanya untuk itu dan mengerahkan seluruh kekuatan politiknya untuk mengangkat ketidakadilan dan menyingkirkan blokade dan mengakhiri penjajahan,beliau mencatat bahwa rela dengan kondisi seperti ini berarti mengumumkan percepatan hukuman dari Allah, dan tanda kelemahan iman.

Syekh mengatakan: Tidak ada yang bisa melupakan pemandangan blokade di Palestina dan penjajahan yang berkelanjutan dan penentangan yang terang-terangan terhadap setiap prinsip dan undang-undang, ketika para pembunuh menolak untuk berhenti melakukan pembunuhan, hari demi hari mereka menegaskan kepada dunia nyata seperti yang disebutkan Al-Quran bahwa mereka manusia yang paling memusuhi orang-orang yang beriman.

Dia menambahkan: Kita harus berhenti sejenak untuk mencatat apresiasi kita kepada orang yang merdeka di seluruh dunia dan masyarakat yang mulia dari setiap etnis yang terbebas dari belenggu media Zionis dan penyesatan dunia untuk mengumumkan penolakan mereka terhadap ketidakadilan dan kutukan mereka terhadap serangan itu dan tuntutan mereka untuk menyingkirkan blokade dari keluarga kita di Gaza, barangkali itu awal dari kebangkitan umat yang mengecam ketidakadilan yang berkepanjangan.

Syeikh Alu Thalib menggesa seluruh rakyat Palestina untuk mempersiapkan sarana kemenangan mereka dan berusaha memperoleh kepercayaan dunia dengan menyatukan kalimat dan barisan mereka setelah jujur kepada Allah Rabb mereka"