Sabtu, 31 Oktober 2009

Bahrain mau putus hubungan dengan israel

Parlemen Bahrain pada hari selasa lalu telah memberikan pengesahan ahir terhadap undang undang pemutusan hubungan dengan Israel. Hal ini akan mempersulit para pemimpin Negara Negara teluk arab dalam upaya menjembatani pembicaraan damai dengan Israel.

“Siapapun yang melakukan komunikasi atau pembicaraan resmi dengan para pejabat israel atau berpergian ke israel akan di kenakan denda....dan/atau hukuman penjara selama tiga hingga tahun” ucap anggota parlemen Jalal Fairooz dari blok Shiite Al-wefaq, kelompok oposisi yang menjadi penggerak dai balik keputusan itu.

"Motivasi nya adalah bahwa langkah-langkah yang diambil oleh negara-negara tertentu untuk memungkinkan diadakan pembicaraan tertentu dengan para pejabat Israel. Delegasi Israel telah berhasil untuk berpartisipasi dalam peristiwa-peristiwa di negara-negara Arab tanpa perjanjian dengan Israel."

Para diplomat dan pengamat mengatakan bahwa pemerintah negara negara arab mendapat tekanan dari pemerintahan presiden Barack Obama untuk membuat langkah langkah normalisasi hubungan dalam upaca mendukung israel masuk ke dalam pembicaraan damai dengan Palestina.

Namun sentimen yang kini populer justru menentang langkah langkah tersebut. Seorang penulis mesir menghadapai tindakan disiplin dari ikatan wartawan akibat tindakannya melakukan pertemuan dengan Dubes israel di Kairo.

Putra mahkota Bahrain Pangeran Sheikh Salman bin Hamad bin Isa al-Khalifa menulis di harian Washington Post pada bulan Juli bahwa arab tidak pernah melakukan komunikasi yang cukup secara langsung dengan Israel.

Khalifa mengapatakan bahwa pemimpin arab “mengatakan cerita kita lebih secara langsung kepada orang orang israel melalui media mereka” dan menekankan dukungan kepada yang mereka sebut “inisiatif arab’, yang mana menjanjikan normalisasi hubungan antara israel dan dunia arab sebagai pertukaran bagi terbentuknya negara Palestina.

Pejabat Bahrain melakukan kunjungan ke isrel pada bulan juli dalam kapasitas resmi pertama kali untuk menjemput lima warga mereka yang dideportasi oleh israel setelah ditangkap dalam perjalanan kapal menembus blokade israel atas gaza.

Parlemen Bahrain memang memiliki kekuatan yang sangat kecil dan semua berkas keputusan harus melalui sebuah majelis tinggi yang anggotanya dipilih langsung oleh raja. Kekuasaan tertinggi dipegang oleh keluarga kerajaan.

Hanya Mesir, Yordania dan Mauritania anggota liga atab yang sudah secara resmi mengikat hubungan dengan Israel.

(Alarabiya and Agencies)